Angsa-angsa yang tadinya mengelilingi Kaluna di lantai, kini mengepakkan sayap mereka, membentuk formasi elegan di udara. Mereka terbang memutari Kaluna, seolah mengiringi tarian penutupnya, menciptakan kanopi hidup yang indah. Bulu-bulu putih mereka memantulkan cahaya temaram, menghasilkan efek visual yang luar biasa.
Suara tarikan napas kolektif terdengar dari para tamu.
Semua orang berkata, "Wow!"
Ini bukan lagi kekacauan, ini adalah pertunjukan seni yang tak terbayangkan.
Kaluna mengakhiri putarannya, berhenti dengan pose yang anggun. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, seperti seorang konduktor yang memimpin orkestra. Dia menahan posisi itu sesaat, menikmati momen keajaiban yang dia ciptakan.
Kemudian, dengan gerakan yang lembut namun penuh makna, Kaluna menutup gerakannya dengan tangannya yang dia lempar ke arah sungai buatan itu. Itu adalah isyarat yang sederhana, namun dipahami oleh unggas-unggas itu.
Angsa-angsa itu mengikutinya.
Diana berdiri, wajahnya berseri-seri, matanya dipenuhi kebanggaan. Di menatap Andrian dengan tatapan yang mengatakan, "Aku benar, dia memang wanita luar biasa."
Mereka terbang dari udara, menukik turun dengan elegan menuju sungai buatan. Mereka mendarat di sungai satu per satu, tanpa cipratan keras, dan segera setelah itu, mereka menata diri mereka.
Dalam hitungan detik, angsa-angsa yang tadinya mengamuk, kini kembali tenang, melipat leher mereka, dan akhirnya tertidur dengan damai di atas air.
“Putri Ken Aji ini, bagaimana mungkin? Dia benar-benar simbol kedamaian yang kucari,” gumam Maulidah yang berdecak takjub.
Keheningan melanda area resepsi, diikuti oleh tepuk tangan meriah yang menggelegar, jauh lebih heboh daripada saat Andrian mengucapkan ijab kabul. Kaluna tersenyum, lalu membungkuk sopan, meskipun dia sendiri kehabisan napas dan gaunnya sedikit kotor.
Marisa dan Kajayanti benar-benar bungkam, kekalahan tergambar jelas di wajah mereka. Kekacauan yang seharusnya menjadi aib besar telah diubah menjadi momen paling berkesan dalam sejarah pernikahan elit.
Andrian melangkah cepat ke arah Kaluna, meraih tangannya, dan mencium punggung tangannya dengan tulus.
"Aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya. Tapi Kaluna, kuakui bahwa kau telah mengalahkanku berkali-kali," bisik Andrian, suaranya dipenuhi ketulusan yang langka.
Kaluna hanya mengangkat bahu kecilnya, senyum misterius terukir di bibirnya.
Andrian menatap mata Kaluna. Di bawah tatapan angsa-angsa yang kini tenang, dia merasa seperti dirinya sendiri yang juga sedang dijinakkan oleh gadis yang baru beberapa jam menjadi istrinya itu.
Andrian menggenggam tangan Kaluna erat, seolah tak ingin melepaskannya. Dia kemudian langsung memeluk Kaluna, diiringi tepukan memukau sekali lagi dari para tamu yang menyaksikan interaksi manis itu.
"Ayo," ajak Andrian sembari mengajak Kaluna kembali mulai melangkah.
Setelah pertunjukan ajaib itu, Andrian tahu bahwa mereka tak bisa berlama-lama menyendiri. Para tamu masih menunggu, diselimuti rasa ingin tahu dan kekaguman.
Mereka kembali melangkah ke area resepsi utama. Meskipun kru sudah bergerak cepat, lantai masih terlihat basah dan beberapa hiasan sedikit berantakan. Namun, tak ada yang mempedulikan kekacauan. Semua mata tertuju pada pengantin baru yang berjalan anggun, Kaluna dengan gaunnya yang sedikit kotor, dan Andrian yang tampak lebih santai dari biasanya.
Saat pasangan itu mencapai tengah ruangan, tepuk tangan kembali meledak. Kali ini, tepukan tangan itu lebih hangat, lebih tulus, bukan hanya sekadar basa-basi elit.
"Nyonya Muda benar-benar luar biasa!" seru seorang pengusaha tua, wajahnya berseri-seri.
"Itu adalah tarian paling berkesan yang pernah saya saksikan. Sebuah keajaiban sejati!" susul yang lainnya.
"Benar sekali, Tuan Sugara! Istrimu adalah ratu sejati! Dia mengubah krisis menjadi pemandangan paling memesona," timpal seorang sosialita, matanya dipenuhi kekaguman.
Para tamu bergiliran memberi selamat, memuji Kaluna tanpa henti.
Namun, di antara kerumunan yang memuji, dua suara bernada tajam dan sinis menusuk keheningan.
"Sebuah keajaiban? Astaga, ini memalukan!" cibir Marisa dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh banyak orang.
Dia berjalan maju, tangannya di pinggang. Tatapannya menghina dari ujung rambut hingga ujung kaki Kaluna.
"Menari dengan unggas di hari pernikahanmu? Itu bukan keajaiban, itu adalah tindakan gila dan tidak berkelas. Ini adalah pernikahan elit, bukan sirkus jalanan! Lihat gaunmu, Nona Kaluna, itu kotor dan basah. Kau membuat aib di depan para kolega bisnis Tuan Muda!" desis Marisa, rahangnya mengeras.
Di sampingnya, Kajayanti menambahkan dengan nada menghakimi, "Angsa-angsa itu memang lepas, yang berarti ini pertanda buruk! Dan dia malah menari!”
Wajah Maulidah dan Diana seketika menegang, siap membela Kaluna. Leon, Nakula, dan Bobi yang berdiri di dekatnya terlihat ingin melompat maju, tetapi mereka tertahan oleh tatapan mata Andrian.
Andrian tidak terpengaruh sedikit pun. Dia hanya menarik Kaluna lebih dekat ke sisinya. Dia memandang Marisa dan Kajayanti dengan tatapan dingin dan tajam seolah bisa membekukan air.
"Gaun istriku mungkin kotor karena air, tapi perilakunya jauh lebih murni dan terhormat daripada lidah kalian berdua," ujar Andrian dengan suara rendah, tenang, namun penuh otoritas.
Dia mengeratkan genggaman pada Kaluna dan tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Kami baru saja menyaksikan betapa cepatnya kepanikan bisa menyebar di antara orang-orang terhormat ini. Dan istriku, Nyonya Kaluna Sugara, tidak hanya menghentikan kepanikan itu, dia mengubahnya menjadi momen tak terlupakan. Kami tidak membutuhkan permintaan maaf. Kami menerima pujian atas kreativitasnya," bela Andrian lagi.
“Mereka berdua ada benarnya, Andrian! Kekacauan ini, karena ambisinya yang aneh itu. Harusnya dia panik dan meminta maaf, bukan bertingkah seperti penyihir hutan." Mendukung Marisa dan Kajayanti, Alivia ikut mencibir Kaluna.
Andrian mengangkat tangan Kaluna, menunjukkan noda di gaun itu. "Gaun ini bukanlah noda aib, ini adalah bukti bahwa istriku adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang mampu menjinakkan kekacauan. Sebuah kualitas yang, sayangnya, tidak dimiliki semua orang."
Kaluna tersenyum tipis, mendengar pembelaan Andrian yang begitu tegas. Namun, di dunia elit ini, diplomasi terkadang lebih tajam dari serangan langsung. Dia melepaskan tangan Andrian sejenak, melangkah maju sedikit, dan membungkuk sopan ke arah kerumunan, termasuk ke arah Marisa dan Kajayanti.
"Saya mohon maaf," ujar Kaluna dengan suara lembut namun terdengar jelas, menciptakan keheningan seketika. "Mungkin tidakan saya terlihat tidak pantas atau memalukan di mata sebagian orang, terutama dalam pernikahan yang begitu terhormat. Saya benar-benar minta maaf jika saya telah melukai mata Anda dengan gaun saya yang kotor ini, atau dengan tarian saya bersama angsa-angsa."
Para tamu menatapnya dengan rasa iba bercampur kekaguman. Mereka menghargai kerendahan hatinya, tetapi Kajayanti dan Marisa menyeringai penuh kemenangan, mengira Kaluna akhirnya menyerah pada tekanan mereka.
"Setidaknya kau menyadari di mana tempatmu, Nona Kaluna," cibir Marisa, puas.
Namun, saat Kaluna menegakkan tubuhnya, senyumnya menghilang. Digantikan oleh tatapan mata yang jernih dan tajam, sebuah kilatan peringatan. Dia mengabaikan Marisa sepenuhnya dan menoleh, matanya terpaku lurus ke mata Kajayanti.
"Nona Kajayanti, yang begitu berkelas, cantik dan Anggun," kata Kaluna, suaranya kini berbisik namun terasa mengancam, hanya terdengar jelas oleh Kajayanti dan orang-orang terdekat mereka, termasuk Andrian yang berdiri tepat di belakangnya.
Wajah Kajayanti seketika pucat, seolah rahasia kotornya baru saja terungkap. Kaluna tersenyum, senyum yang kali ini jauh dari lembut, lebih mirip peringatan predator.
"Ini pesta, nikmati saja alurnya dan jangan ganggu angsa-angsaku lagi. Jika Nona Kajayanti berani mengusik ketengan mereka sekali lagi, maka aku, sebagai Ratu para Angsa itu, tidak akan menari lagi untuk menidurkan mereka.”
Kaluna sedikit memajukan dagunya, matanya berkilat.
“Aku akan membuat mereka mengejarmu, dan merobek gaun mahalmu itu!" tegas Kaluna dengan nada santai yang menyamarkan sebuah ancaman.
Kaluna menahan pandangannya sesaat, memastikan pesannya tersampaikan sepenuhnya. Kajayanti terdiam, lidahnya kelu, rasa takut terlihat jelas di matanya.
Kemudian, tanpa menunggu jawaban, Kaluna berbalik dan kembali meraih lengan Andrian.
Marisa terdiam, wajahnya merah padam karena terhina di depan banyak orang. Kajayanti mundur selangkah, terintimidasi oleh kemarahan Andrian dan Kaluna yang tersembunyi.