Dansa Kedua Sugara Couple

Penulis Yoonna
27 October 2025

Lengan Kaluna terasa dingin di bawah genggaman Andrian, namun genggamannya sangat tegas. Mereka berdua melangkah menjauhi Marisa dan Kajayanti yang tertinggal.

Keheningan yang sempat terjadi kini pecah oleh suara bisik-bisik yang jauh lebih heboh dari sebelumnya.

"Astaga, apa yang Nyonya Muda itu katakan pada gadis itu?" bisik seorang sosialita kepada temannya, matanya melebar.

"Aku tidak tahu, tapi wajahnya langsung pucat! Dia seperti melihat hantu!" jawab temannya, tertawa tertahan.

"Itu baru menantu Cassavanos! Dia tidak hanya cantik, dia juga punya taring!" timpal seorang pengusaha.

Andrian dan Kaluna berjalan lurus menuju tengah aula, tempat musik kembali dimainkan. Mereka mengabaikan pandangan sinis Marisa dan tatapan ketakutan Kajayanti.

Andrian merasa aura di sekitar Kaluna telah berubah, dia kini memancarkan kekuatan tenang, layaknya seorang ratu yang baru saja menegaskan wilayahnya.

Maulidah dan Diana segera menghampiri mereka.

"Kau luar biasa, Nak!" bisik Maulidah, memeluk Kaluna singkat.

Kaluna membalas pujian itu dengan senyum manis, berpura-pura seolah tidak ada yang terjadi.

Diana menggenggam tangan Kaluna. "Lihat putraku, Andrian, dia tidak hanya membela menantuku ini, tapi dia juga memujinya di depan semua orang."

Andrian memutar matanya sedikit, namun senyumnya tidak hilang.

Diana menggapai Kaluna. Dengan gerakan penuh kasih sayang, dia menyentuh pipi Kaluna yang sedikit memerah karena kelelahan dan kebahagiaan.

"Kau benar-benar luar biasa. Apa yang kau lakukan tadi bukan hanya tentang keberanian, itu tentang hati," ujar Diana, suaranya dipenuhi emosi.

"Hati Kaluna sangat lembut dan tulus. Bagaimana kau bisa berinteraksi dengan angsa-angsa itu? Seolah-olah kau berbicara dengan mereka dan mereka mengerti setiap isyaratmu, bagaimana kau melakukannya?" tanya Diana setengah tidak percaya.

Kaluna tersenyum tipis, menggenggam tangan Diana yang berada di pipinya.

"Terima kasih, ibu. Aku… aku hanya berusaha menenangkan mereka. Aku tahu mereka takut dan bingung, sama seperti para tamu."

Kaluna menarik napas sejenak, tatapannya menyapu angsa-angsa yang tertidur di sungai buatan.

"Tapi menenangkan mereka sampai mereka menari di udara dan tertidur dalam hitungan detik? Itu melampaui kemampuan penjinak hewan mana pun," desak Diana, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang besar.

Kaluna menundukkan kepalanya sejenak, seolah menimbang-nimbang jawabannya. Dia memutuskan untuk memberikan jawaban yang ambigu, tetapi tetap jujur pada perasaannya.

"Aku juga tidak mengerti, aku hanya mengikuti kata hatiku. Ketika kekacauan terjadi, satu-satunya cara menghentikannya adalah dengan menawarkan kedamaian yang sesungguhnya," jawab Kaluna, dengan tatapan yang kembali misterius.

Diana menatapnya tanpa berkedip, terdiam. Kalimat itu terdengar seperti mantra kuno. Diana sadar, Kaluna adalah misteri yang jauh lebih dalam dari yang dia bayangkan.

"Kau benar, Kaluna. Kau benar," gumam Diana, mengangguk perlahan. "Kau adalah anugerah untuk keluarga ini, Nak. Anugerah kedamaian."

Andrian, yang berdiri di samping Kaluna, mendengarkan percakapan itu. Dia tidak mengatakan apa-apa, tetapi dia memperhatikan bagaimana Kaluna menjawab dengan hati-hati.

Di mata Andrian, kata-kata Kaluna ungkapan puitis yang sempurna untuk menutupi kemampuannya dari mata publik. Dan dia menyukai cara Kaluna bermain.

Andrian melingkarkan lengannya di bahu Kaluna, menarik istrinya mendekat dengan rasa bangga.

"Sekarang, Ibu tahu, ‘kan, alasan dibalik kompensasi dengan vendor-vendor itu?" kata Andrian, suaranya mengandung nada penegasan yang jarang dia tunjukkan,

Diana, yang masih terpukau oleh jawaban Kaluna, kini menatap Andrian dengan rasa kagum yang baru. Dia tahu Andrian adalah pria yang sangat perhitungan.

Mendengar Andrian berbicara tentang Kaluna, dengan catatan pengorbanan finansial seperti itu, jutru dia telah menempatkan Kaluna jauh di atas nilai uang. Ini adalahsebuah pengakuan terbesar.

"Andrian... Kau telah menemukan permata yang langka, Nak."" gumam Diana, suaranya tercekat.

Air mata kebahagiaan kini benar-benar muncul di matanya.

Kaluna hanya bisa menatap mata Andrian, sedikit terkejut dengan pembelaan dan pengakuan terbuka yang begitu besar di depan Diana. Dia membalas genggaman tangan Andrian, merasakan kehangatan yang menjalar.

Tiba-tiba, Leon, Nakula, dan Bobi muncul di sisi Andrian. Mereka bertiga terlihat menahan tawa.

"Tuan Besar, izinkan kami menjamin keamanan angsa-angsa itu dari sekarang," ujar Leon, sambil menahan bahu Nakula yang hampir tertawa terbahak-bahak.

"Kami khawatir Tuan Ratu Angsa akan benar-benar mengirim pasukan unggas untuk merobek gaun mahal Tuan Putri Pengganggu," timpal Nakula, yang akhirnya tertawa lepas, diikuti oleh Bobi.

Kaluna hanya menggelengkan kepala, tertawa kecil melihat tingkah mereka.

"Kalian ini, keterlaluan," ujar Kaluna.

Momen hangat itu segera berakhir ketika pembawa acara mengumumkan bahwa tiba saatnya untuk berdansa. Andrian mengulurkan tangannya kepada Kaluna.

"Dansa, Nyonya Kaluna Sugara?" tanyanya, matanya dipenuhi kilau misterius.

"Yang kedua kalinya?" balas Kaluna,

Kaluna menyunggingkan sedikit senyumnya. Mengingat sekilas saat awal dia bertemu dengan Andrian. Dia meletakkan tangannya di tangan Andrian.

“Dalam kedudukan yang berbeda,” ujar Andrian.

Andrian menarik Kaluna ke pelukannya. Tangan kanannya melingkari pinggang Kaluna, tangan kirinya menggenggam tangan Kaluna. Mereka mulai bergerak pelan mengikuti alunan musik yang romantis.

“Kuharap, Kau tidak sedang mengatur sekenario untuk membidikku untuk yang ke dua kalinya, Tuan Sugara,” sindir Kaluna.

Andrian menatap mata Kaluna dalam-dalam, ekspresinya menjadi jauh lebih lembut daripada sebelumnya. Semua keraguan, semua kecurigaan yang selama ini dia miliki tentang Kaluna, perlahan mulai sirna.

Gadis yang dinikahinya karena sebuah rencana bisnis, ternyata adalah bom waktu yang indah dan tidak terduga.

"Bagaimana kalau yang kubidik sekali ini adalah hatimu, Nyonya Sugara?" goda Andrian, suaranya rendah dan tulus.

Kaluna merasakan pipinya sedikit memanas mendengar ketulusan langka itu. Dia tersenyum, senyum yang kali ini benar-benar tulus dan bebas dari misteri.

"Kau hanya akan membuang-buang waktu karena ini, Tuan Sugara," balasnya lembut.

Andrian menarik Kaluna, mendekapnya erat dan menempelkan dagunya di atas bahu Kaluna. Dansa itu berakhir seiring tepukan tangan semua orang.

Andrian membiarkan lengannya tetap melingkari bahu Kaluna, menikmati momen pengakuan dan kebanggaan. Senyumnya tampak tulus di luar, tetapi di balik mata tajamnya, sebuah pemikiran dingin dan penuh perhitungan tengah berputar.

Andrian membatin, “Ken Aji, kehancuranmu sudah terjadi secara perlahan. Kau telah kehilangan aset atas putrimu yang sangat berharga ini. Dia memberi nama yang besar untuk Sugara dan Cassavanos, tapi dia akan melupakan Ken Aji. Kurebut dia seperti kau merebut nyawa ayahku dariku. Semua orang di sini sudah menjadi saksi, dia adalah milik Sugara. Putri Ken Aji ini akan kubuat menjadi Nyonya Sugara sejati, dan warisanmu hanya akan menjadi kenangan yang memudar.”

Tatapan Andrian berali, menyapu kerumunan para tamu elit yang kini memuji nama Sugara berkat Kaluna. Kepuasan itu begitu dalam, jauh lebih memuaskan daripada keuntungan bisnis apa pun. Rencana balas dendamnya kini telah naik ke level yang sama sekali baru. Dia tidak hanya merusak bisnis Ken Aji, dia mengambil bagian paling berharga dari hidupnya, lalu membawanya ke puncak kejayaan di sisinya, di bawah nama klan Sugara.

Ia mencondongkan tubuhnya ke telinga Kaluna, bisikannya lembut, namun penuh otoritas.

“Terimakasih, Nyonya Sugara!” bisik Andrian seraya mencium kening Kaluna dari belakang.

"Dan untuk Kajayanti... lagi-lagi kau melakukan kesalahan dengan mengusik angsa-angsa itu untuk menyudutkan Kaluna. Kau… akan tahu bagaimana phoenik di belakang Kijang Emas ini akan menyemburkan apinya ke wajahmu," batin Andrian sekali lagi.

Andrian memejamkan mata sejenak, sebuah tawa tanpa suara keluar dari mulutnya. Dia mengerti. Kaluna bukan hanya berhasil menghentikan kekacauan, dia berhasil mengungkap dan mengancam pelaku di baliknya tanpa perlu menuduh secara terbuka. Sebuah manuver yang sangat elegan dan kejam.

Mereka berdua berjalan menghampiri dan melanjutkan putaran menyalami tamu, meninggalkan kesan keajaiban dan kekuatan yang tak terlupakan. Malam pernikahan itu bukan lagi tentang penyatuan dua keluarga elit. Itu adalah deklarasi kekuatan Kaluna dan awal dari permainan balas dendam Andrian yang kejam namun sangat terencana.