Lebih Dari Sekedar Teman Lama

Penulis Yoonna
27 October 2025

Setelah putaran menyalami tamu mulai mereda dan suasana resepsi sedikit lebih sepi, Kaluna mendapati dirinya ditarik menjauh dari kerumunan. Dia menoleh dan mendapati Raka berdiri di sana, tatapannya dipenuhi kehangatan dan kekhawatiran yang mendalam.

Wajah Raka berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu hias yang temaram. Tanpa kata, dia langsung menarik Kaluna ke dalam pelukan erat. Pelukan yang terasa familiar dan sangat menenangkan, mengingatkannya pada masa lalu yang lebih sederhana.

Merasakan kehangatan dan dukungan yang tulus itu, bendungan air mata Kaluna yang dia tahan sepanjang malam pun pecah. Dia menangis terisak dalam pelukan Raka, menyembunyikan wajahnya di bahu sahabatnya.

“Raka… Aku… aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Hatiku sangat bimbang,” rintih Kaluna, suaranya bergetar.

Dia melepaskan diri sejenak, menatap Raka dengan mata sembap yang dipenuhi kebingungan. Gaun putihnya yang kotor terasa seperti simbol kekacauan batinnya.

“Aku sudah menikah, Raka. Tapi Tuan Sugara itu… kenapa dia berubah? Kenapa dia membelaku, dia memujiku di depan semua orang, dia bersikap seolah dia benar-benar menginginkanku.” Kaluna menarik napas panjang.

“Aku sungguh takut, Aku takut kalah dalam permainanku sendiri, Raka,” ujar Kaluna meremas jas Raka.

Raka menyeka air mata di pipi Kaluna dengan ibu jarinya. Tatapan matanya yang lembut berubah menjadi tegas, penuh janji dan perlindungan.

“Dengar, Kaluna,” kata Raka dengan suara rendah dan pasti. “Jangan pusingkan perubahan orang lain, fokus pada dirimu. Kau berhak bahagia, apa pun rencana suamimu. Dan jika dia menyakitimu, dia harus berhadapan denganku.”

Raka menarik napas, lalu berbisik, nadanya terdengar serius dan penuh kuasa.

“Saat waktunya tiba, dan orang-orang ini tahu siapa Raka sebenarnya, tidak akan ada satu pun dari mereka, yang akan berani mengganggu apalagi menyakitimu. Kau aman. Aku akan selalu menjadi perlindunganmu, gadis kecilku,” ujar Raka semakin mengeratkan pelukannya pada Kaluna.

Kaluna terdiam, kata-kata Raka tidak hanya menenangkan. Tetapi juga terasa seperti sebuah janji rahasia yang akan mengguncang dunia di sekitar mereka. Dia tahu, Raka menyembunyikan sebuah kekuatan besar yang siap dia gunakan untuk melindunginya.

Andrian berdiri agak jauh, matanya yang tajam menembus kerumunan dan terpaku pada Kaluna dan Raka. Pemandangan itu, yaitu istrinya yang menangis dalam pelukan pria lain, menimbulkan sensasi dingin yang tidak menyenangkan di ulu hatinya.

Itu adalah kecemburuan yang murni, sesuatu yang sudah lama tidak dia rasakan, atau yang dia yakini telah dia matikan.

“Mengapa kau menjadi sangat bergantung padanya, seolah dia adalah jangkar satu-satunya di tengah badai emosi?” batin Andrian.

Dia melihat keintiman batin mereka yang begitu jelas, sebuah kedekatan yang tidak akan pernah dia miliki dengan Kaluna.

Genggaman tangan Andrian di gelas sampanye-nya mengerat, hampir memecahkan kristal itu. Dorongan naluriah untuk melangkah, memisahkan mereka, dan menegaskan kepemilikannya sebagai suami, sangat kuat.

Namun, pikiran dinginnya segera mengambil alih.

“Tidak,” batin Andrian keras.

Andrian menekan emosi panas itu, memaksanya kembali ke peti es di dalam dadanya.

"Aku dan Kaluna bukanlah pasangan yang harus melibatkan perasaan cemburu." Kalimat itu terulang seperti mantra.

Hubungan ini adalah langkah dari rencana-rencananya yang besar, sebuah aliansi bisnis yang terikat dengan janji balas dendam.

Andrian tahu betul peran Raka dalam hidup Kaluna, dia adalah penyelamat, pelindung, dan satu-satunya sandaran emosional Kaluna dari masa lalu. Dia menyadari bahwa melibatkan emosi cemburu hanya akan mengacaukan rencananya dan membuat Kaluna menjauh.

Dia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa pernikahannya akan menjadi instrumen balas dendam, bukan wadah untuk gejolak hati yang rapuh.

Dengan senyum profesional yang terkontrol sempurna, dia melangkah mendekat.

“Tuan Praka,” sapa Andrian saat mata raka menemu matanya yang memancarkan peringatan.

Andrian memaksa otot-otot wajahnya untuk rileks, menarik napas panjang dan lambat. Dia hanya menatap dingin pada Raka, membiarkan kebenciannya terhadap siapapun yang mencoba mengganggu kendali atas Kaluna membeku.

Raka menoleh. Meskipun dia tahu Andrian melihat semuanya, dia tidak menunjukkan rasa bersalah. Justru, dia membalas tatapan Andrian sejenak dengan sorot mata yang mengandung pengertian rahasia.

Kemudian, Raka melepaskan pelukannya dari Kaluna. Dia memegang kedua sisi wajah Kaluna dengan kelembutan yang sangat akrab, memaksa Kaluna menatap matanya.

"Kembalilah pada suamimu, Kaluna. Jadilah istri yang baik selama permainan ini berlangsung," ujar Raka dengan suara pelan namun tegas, seolah ia memiliki kendali penuh atas peran yang tengah dibawa Kaluna dalam pernikahan ini.

Kaluna hanya bisa mengangguk pelan, air mata yang tersisa masih membasahi pipinya. Kata-kata Raka adalah pengingat yang menyakitkan. Apa pun kehangatan yang dia rasakan dari Andrian, pernikahan ini tetaplah sebuah misi.

Raka tersenyum tipis pada Kaluna, sebuah senyum yang seolah mengatakan, “Aku tahu kau terluka, tapi kau harus melakukannya.’’ Lalu, ia melepaskan wajah Kaluna, melangkah mundur sedikit, dan menatap Andrian.

"Aku harus pergi sekarang. Jaga istrimu baik-baik, Andrian," ucap Raka, nadanya tenang namun terselip otoritas yang aneh, seolah dia mewariskan Kaluna untuk waktu terbatas.

Andrian hanya mengangguk tipis, senyumnya sedikit menegang. Dia melihat bagaimana Raka memperlakukan Kaluna, dan dia tidak suka dominasi implisit dalam ucapan Raka. Namun, dia memilih untuk tidak bereaksi.

Raka berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Andrian dan Kaluna dalam keheningan yang canggung. Dengan sebuah pesan tersirat yang menusuk, Andrian mungkin suami Kaluna, tetapi Raka-lah yang memegang kendali atas alur permainan Kaluna.

Andrian menatap kepergian Raka, matanya menyipit. Sikap Raka yang mendikte peran Kaluna, dia memilih untuk mengabaikannya sementara. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Kaluna, menariknya erat ke pelukannya.

"Ayo Nyonya Sugara, Kau terlihat sangat kedinginan," bisik Andrian, suaranya lebih gelap dari biasanya.

Kaluna kembali pada peran Nyonya Sugara yang anggun, menolak membahas apa pun. Sementara Andrian, meskipun dipenuhi rasa penasaran yang mengganggu, dia terpaksa mengikutinya. Mereka kembali melangkah, memainkan peran mereka di depan para tamu.

Tiba-tiba, langkah mereka terhenti. Bayangan tinggi dan berwibawa jatuh di depan mereka. Andrian mendongak, matanya yang tajam langsung beradu dengan tatapan yang sama dinginnya.

Di hadapan mereka, berdiri tegak Ken Aji.

Ayah Kaluna itu mengenakan setelan jas tuxedo klasik, namun auranya yang berat dan dingin mendominasi area di sekitar mereka, menghentikan bisik-bisik yang tersisa. Wajah Ken Aji adalah topeng datar, sulit dibaca, tetapi ada kilatan perhitungan yang cepat di matanya saat dia menyapu pandangan dari Kaluna ke Andrian.

"Tuan Muda," sapa Ken Aji, suaranya rendah dan penuh kekuasaan.

"Tuan Kinan," balas Andrian.

Nadanya hormat namun tanpa kehangatan. Genggamannya pada pinggang Kaluna sedikit mengerat, seolah menegaskan kepemilikannya di hadapan ayah mertuanya, dan musuh bebuyutannya.

Ken Aji mengabaikan Andrian dan mengalihkan tatapannya sepenuhnya pada Kaluna. Mata Kaluna yang baru saja ditenangkan oleh Raka, kini terlihat kembali tegang.

"Kaluna,” kata Ken Aji.

Ada jeda singkat yang terasa sangat panjang. Ken Aji mengangkat tangan, bukan untuk memeluk atau membelai, melainkan hanya untuk menyentuh sehelai bulu angsa yang tersangkut di gaun Kaluna.

“Apa kita bisa berbicara sebentar?" tanya Ken Aji, tidak ada nada bangga, hanya pengamatan yang tajam.