Kaluna mengangkat pandangannya, matanya yang lelah bertemu dengan mata ayahnya yang penuh perhitungan. Dia merasa terjepit di antara dua kekuatan besar. Genggaman protektif Andrian dan tuntutan ayahnya.
Dia menoleh ke samping, menatap Andrian, mencari persetujuan atau setidaknya isyarat. Ada ketegasan tak terucap di mata Kaluna, seolah meminta agar Andrian memahami bahwa ini adalah tugas yang tidak bisa dia hindari.
Andrian menangkap sinyal itu. Dia melihat betapa beratnya beban yang dipikul Kaluna saat berhadapan dengan Ken Aji. Dia juga menyadari bahwa menolak permintaan Ken Aji secara terbuka di depan tamu hanya akan merusak citra mereka.
"Tentu saja, Tuan Kinan," ujar Andrian dengan nada yang terkontrol.
Dengan sedikit menghela napas yang tidak terdeteksi, Andrian melepaskan lengannya dari pinggang Kaluna. Tetapi tangannya sempat menyentuh punggung Kaluna sebagai isyarat dukungan.
Andrian melangkah mundur beberapa langkah. Dia mengambil posisi di dekat pilar besar. Pura-pura sibuk membalas pesan di ponselnya, namun matanya secara berkala tetap mengawasi Kaluna dengan intensitas penuh.
Ken Aji menatap putrinya. Keheningan singkat itu terasa lebih berat daripada kebisingan di aula utama.
"Ayah tidak akan basa-basi yang akan membuatmu bosan, Kaluna," ujar Ken Aji, suaranya pelan dan langsung ke intinya, sesuai dengan karakter putrinya.
"Ayah hanya... berterima kasih, karena malam ini kau tetap memberikan hak Ayah sebagai ayahmu, untuk mendampingimu di altar pernikahan," lanjutnya, kata-kata itu terdengar canggung dan asing di lidahnya.
Dia berhenti sejenak, mengamati reaksi Kaluna yang wajahnya kini kembali datar, menutupi emosi.
"Ayah tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf," gumam Ken Aji, pandangannya beralih ke kegelapan malam, menghindari kontak mata Kaluna. "Tapi Kaluna harus percaya, semua yang Ayah lakukan dulu... itu adalah hanya untuk yang terbaik untukmu."
Ada nada pertahanan diri dalam suaranya, sebuah pembenaran atas tindakan masa lalunya yang jelas telah melukai Kaluna.
Kaluna menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengangkatnya lagi. Tatapannya kini dipenuhi kesedihan yang dalam namun juga ketegasan.
"Ayah tidak perlu membahas luka lama," jawab Kaluna, suaranya sangat tenang, hampir tanpa emosi, yang justru menunjukkan seberapa dalam luka itu tertanam.
"Jika luka itu diungkap lagi, Ayah tidak akan bisa memaafkan, bahkan melihat diri Ayah sendiri di cermin," lanjut Kaluna, nada suaranya mengisyaratkan betapa parahnya penderitaan yang pernah dia alami di masa lalu.
Itu adalah sebuah tuduhan tanpa kata-kata keras, sebuah pengakuan bahwa tindakan Ken Aji di masa lalu telah menyebabkan penderitaan yang begitu menyakitkan, hingga Ken Aji tidak akan sanggup menghadapinya sendiri.
Ken Aji terdiam, rahangnya sedikit mengeras, menerima pukulan emosional yang halus dari putrinya. Permintaan maafnya, atau setidaknya pembenarannya, langsung dibungkam oleh Kaluna yang menolak membiarkan luka lama itu diungkit lagi.
Kaluna melangkah cepat menuju Andrian, memangkas jarak yang memisahkan mereka. Wajahnya yang tegang segera dia ganti dengan senyum samar saat dia mendekati suaminya.
"Lama sekali percakapannya," komentar Andrian, suaranya tenang, namun matanya memancarkan interogasi dingin.
Dia meletakkan ponselnya ke saku jasnya dan segera melingkarkan lengan di pinggang Kaluna, menariknya erat ke sisi tubuhnya. Isyarat kepemilikan yang ditujukan jelas untuk Ken Aji, meskipun sang ayah sudah pergi.
"Hanya... ucapan terima kasih," jawab Kaluna, berusaha terdengar ringan.
“Terimakasih?” Andrian mengangkat alis.
"Terimakasih karena aku tidak melupakan haknya sebagai seorang ayah," bisik Kaluna, suaranya mengandung sedikit kepahitan.
Andrian menunduk, bibirnya mendekat ke telinga Kaluna, suaranya serendah deru mesin mewah. "Dan apa tanggapanmu, Nyonya Sugara?"
"Untuk apa kau mengetahuinya?" balas Kaluna, sorot matanya tajam.
Andrian tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum puas seorang strategis. Dia tahu dan menghargai cara Kaluna menggunakan status barunya sebagai perisai, bahkan terhadap ayahnya sendiri.
Pesta pernikahan yang megah dan penuh drama itu akhirnya mencapai penghujungnya.
Di ruang tunggu VIP yang tenang, tempat hanya ada keluarga inti, Kaluna duduk kelelahan. Gaun pengantinnya yang basah di bagian bawah kini terasa berat. Andrian berdiri di sampingnya, memegang segelas air untuk Kaluna.
Maulidah mendekati Kaluna. Wajahnya berseri-seri, matanya menunjukkan rasa bangga yang mendalam.
"Kaluna, kau telah melewati malam yang luar biasa. Kau telah menunjukkan siapa dirimu yang sebenarnya, seorang wanita dengan hati yang murni," kata Maulidah lembut, mengusap bahu Kaluna.
Diana, yang duduk di sebelah Maulidah, ikut mengangguk setuju. "Aku tidak pernah sebahagia ini, Kaluna. Kau anugerah sejati."
Kemudian, Maulidah menatap cucunya, Andrian.
"Andrian, dengarkan Oma. Meskipun kalian sudah menikah dan engtah apa rencana kalian nanti, Oma punya sebuah permintaan," ujar Maulidah.
Andrian mengangkat alisnya. "Permintaan apa, Oma?"
Kemudian, Maulidah menatap Andrian. "Oma ingin kalian berdua tinggal di rumah Cassavanos untuk sementara waktu. Beberapa minggu saja."
Andrian mengerutkan keningnya. "Tidak perlu, Oma. Apartemenku sudah cukup nyaman. Lagipula, aku ingin Kaluna terbiasa dengan lingkungan yang independen dari intrik keluarga."
Maulidah menggelengkan kepala. "Justru karena intrik itu, kalian harus di bawah pengawasan Oma. Seluruh kota sedang membicarakan keajaiban yang dibuat Kaluna. Akan ada banyak pihak yang akan memanfaatkan keadaan ini. Di dalam rumah Cassavanos, mereka akan tahu bahwa Kaluna di bawah perlindungan otoritas tertinggi.”
Andrian hendak membantah lagi, dia tidak suka privasinya diganggu dan sangat menghargai kebebasannya dari aturan klan.
Namun, sebelum Andrian membuka mulut, Kaluna dengan cepat menyela, senyum misterius terukir di bibirnya.
"Saya setuju dengan Oma," ujar Kaluna lembut.
"Suatu kehormatan bagi saya untuk tinggal bersama Anda. Saya ingin belajar banyak tentang tradisi keluarga Cassavanos. Dan hanya di rumah ini saya bisa melakukannya. Saya akan merasa lebih tenang di bawah perlindungan Oma," sambungnya.
Andrian menatap istrinya, terkejut. Dia tahu Kaluna sangat menghargai privasinya, lalu mengapa sekarang dia malah dengan mudah menyerahkan kebebasannya?
"Kaluna, kita sudah bicara—" Andrian memulai, mencoba mengajaknya berdiskusi.
Kaluna memberikan Andrian senyum manis yang dipenuhi isyarat, mata mereka bertemu.
Andrian terdiam. Dia menangkap kilatan strategis di mata Kaluna, dan dia tahu Kaluna tidak melakukan apa pun tanpa alasan yang kuat. Jika Kaluna menyetujui, pasti ada manfaat tersembunyi yang dia incar.
"Baiklah, Oma. Jika Kaluna sendiri yang memintanya," kata Andrian, mengalah dengan nada sedikit enggan.
Di dalam limosin dalam perjalanan menuju Kediaman Cassavanos, Andrian segera menuntut penjelasan.
"Apa maksudmu, Kaluna? Kau tahu betapa aku membenci tinggal di rumah itu. Kenapa kau setuju? Kau membela hak-hakmu sendiri dengan ganas, lalu kau menyerahkan kebebasanmu semudah itu?" tanya Andrian, suaranya pelan namun tegas.
Kaluna menyandarkan kepalanya, memejamkan mata sejenak, lalu menatap Andrian lurus-lurus. Tatapannya kini tidak mengandung tujuan yang dingin dan serius.
“Kau tidak akan mengerti,” ujar Kaluna singkat.
Andrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata Kaluna dalam kegelapan mobil. Senyum yang dingin dan cerdas perlahan muncul di bibirnya.
"Jangan memaksaku berteriak atas segala teka-tekimu itu, Nona Kaluna," ujar Andrian tersinggung.
"Baiklah, kau tahu? Aku memilih tinggal di sana bukan untuk mendapatkan perlindungan, Tuan Sugara,” ujar Kaluna.
“Aku berniat untuk menjadi menantu Cassavanos yang sempurna,” sambungnya.
“Itu tidak termasuk dalam daftar permainan kita, Kaluna,” sanggah Andrian.
“Kita terpaksa memasukkannya ke daftar, ini semua karena ulahmu,” serang Kaluna.
“Ulahku?” tanya Andrian, bingung.
“Kau bertingkah seolah-olah kita saling mencintai, lalu membuat seluruh keluargamu memujaku. Bagaimana aku bisa menyakiti hati Oma?” jawab Kaluna.
Andrian meraih tangan Kaluna dan mencium punggung tangannya, lebih tulus dan penuh makna daripada ciuman apa pun yang dia berikan di hadapan para tamu.
"Kau… aku tidak menyangka, kau bisa memikirkan ini," bisik Andrian, matanya berkilat.
Mereka tiba di gerbang Cassavanos. Kaluna tahu, rumah mewah itu adalah labirin yang harus dia pecahkan. Dia telah memasuki sarang singa, dan dia siap menjadi pemburu.
“Aku datang Tuan Ferdinan, aku akan mencari kebenaran di rumahmu. Kebenaran yang mungkin sudah terkubur bersama jasadmu selama puluhan tahun. Tunggu hitungan mundur dariku, kita akan mulai permainan ini sekarang. Yang pertama, Nyonya Maulidah!” batin Kaluna saat limosin Andrian mulai memasuki gerbang Cassavanos.