Lampu-lampu mansion Cassavanos yang megah bersinar terang saat limosin Andrian melaju melewati gerbang. Bangunan itu tampak seperti istana dongeng
Ketika mereka melangkah memasuki foyer luas yang dipenuhi marmer dan lukisan-lukisan klasik, Kaluna dapat merasakan atmosfer yang berbeda dari rumah-rumah mewah yang pernah dia kunjungi. Ada keheningan yang menghormati usia dan sejarah, namun juga terasa sedikit berat.
Maulidah menyambut mereka dengan senyum hangat, diikuti oleh Diana dan yang lainnya.
"Selamat datang di rumah, cucu menantuku," sapa Maulidah, matanya berbinar.
Andrian membalas dengan anggukan hormat, sementara Kaluna tersenyum.
"Terima kasih, Oma," kata Kaluna.
Andrian membimbing Kaluna menuju kamar yang telah disiapkan untuk mereka. Langkah kaki mereka di atas marmer memecah keheningan lobi.
Lampu kristal utama diredupkan, menyisakan pencahayaan lembut yang menyorot karya seni. Di sudut ruangan, tersembunyi sebagian di balik pilar Korintus yang menjulang, ada sebuah easel dan bangku kanvas.
Seorang pria muda sedang berdiri di sana, sepenuhnya tenggelam dalam pekerjaannya. Pria itu adalah Rayyan, adik tiri Andrian mengenakan pakaian yang jauh dari formalitas, kemeja longgar yang tampak berlumuran cat samar, dan celana kargo yang santai. Dia memegang kuas kecil, matanya fokus pada kanvas yang samar-samar menampilkan pemandangan abstrak yang gelap.
Dia bergerak dengan keheningan yang total, seolah dirinya sendiri hanyut dalam palet warna dan tekstur.
"Rayyan," sapa Andrian.
Ada sedikit nada kesal dalam suaranya, mungkin karena melihat adik tirinya itu kembali menyepi alih-alih menyambut mereka.
Rayyan tidak menoleh. Kuasnya terus bergerak, menciptakan garis-garis tipis pada kanvas. Dia tidak mengangkat kepalanya, tidak memberikan jeda, bahkan tidak memberikan isyarat bahwa dia mendengar. Dia sepenuhnya berada di dunia lukisannya.
Kaluna mengamati. Dia melihat ketidakpedulian yang murni. Ini bukan sikap menantang, ini adalah keadaan pikiran. Rayyan tidak memutuskan untuk mengabaikan mereka, dia hanya tidak tertarik pada mereka.
Andrian berjalan mendekat, kini berdiri tepat di belakang Rayyan.
"Sedang sibuk? Kau tidak ingin tahu siapa yang datang?" tanya Andrian.
Rayyan akhirnya berhenti bergerak, tetapi hanya untuk membasahi kuasnya dengan cairan pelarut. Dia masih menghadap kanvas.
"Aku tahu, kakakku dan istrinya, kan?" jawab Rayyan, suaranya pelan dan rendah, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
Kaluna tersenyum tipis. Ini lebih baik dari apapun. Rayyan tidak memiliki filter.
Andrian menghela napas, frustrasi. "Ya, ini adalah Kaluna, istriku."
Rayyan menyapukan kuas, mencampurkan warna pada paletnya. Tanpa menoleh, dia bergumam, "Ya, aku tahu."
"Kau bahkan tidak mau berbalik untuk melihatnya?" tanya Andrian, sedikit tersinggung atas nama Kaluna.
Rayyan meletakkan kuasnya. Dia baru berbalik setelah pekerjaannya selesai, ekspresinya kosong. Matanya yang gelap memandang Kaluna, tetapi tatapan itu tidak menembus.
Dia hanya melihat sosok seorang wanita dalam gaun pengantin lusuh yang mengganggu konsentrasinya.
"Selamat datang," katanya, kata itu keluar tanpa emosi, seperti formalitas yang terpaksa.
Kaluna melangkah maju, sama sekali tidak canggung dengan sifat dingin Rayyan.
"Terima kasih atas ucapan selamat datang yang hangat, Rayyan," balas Kaluna, nadanya manis, seolah keadaan seperti ini memang sudah sering dia temui. "Lukisanmu terlihat... menarik. Tema apa yang kau angkat?"
Rayyan menatap Kaluna sejenak, lalu kembali ke kanvasnya.
"Kebisingan," jawabnya singkat.
"Kebisingan?" Kaluna penasaran.
"Ya. Kebisingan yang harus disaring. Ini adalah pekerjaan yang sulit." Rayyan kembali meraih kuas.
Kalimatnya ambigu, antara menggambarkan proses seni atau menggambarkan keluarganya sendiri.
Andrian menarik Kaluna menjauh. "Ayo. Jangan buang waktumu dengannya. Dia tidak pernah tertarik pada apa pun di luar dirinya sendiri."
Kaluna mengangguk, tetapi matanya kembali menatap Rayyan, yang kini sudah tenggelam lagi dalam dunia kanvasnya.
"Sayang sekali," bisik Kaluna pada Andrian. "Dia adalah satu-satunya orang di rumah ini yang tampak paling jujur. Dia tidak peduli dengan uang, kekuasaan, atau bahkan etiket. Dia hanya tertarik pada karyanya."
"Dia anomali yang harus diabaikan," tukas Andrian.
"Atau," sela Kaluna, senyum strategis kembali di bibirnya.
Kaluna tidak melanjutkan perkataanya, tapi malah berbalik lagi ke arah Rayyan.
"Tunggu dulu, Rayyan. Kau bilang tadi kebisingan? Apa itu artinya…" ulang Kaluna, langkahnya terhenti.
Kaluna tidak tertarik mengikuti Andrian ke atas tangga. Matanya tertuju pada kanvas Rayyan, lalu beralih ke pria itu sendiri.
Rayyan mengangkat bahu, tetapi kali ini gerakannya tidak defensif. Dia mengambil kuas lain, yang lebih kecil.
"Ya. Terlalu banyak data yang tidak relevan, warna-warna yang terlalu terang, emosi yang meledak-ledak. Semuanya saling menindas," sahut Rayyan sambil terus menggores kanvas itu dengan warna-warna pekat.
Kaluna melangkah lebih dekat ke arah Rayyan. Mengabaikan tarikan Andrian yang kini terhenti di tengah tangga. Andrian bingung dengan interaksi yang tak terduga ini.
"Dan kau mencoba menyaringnya menjadi... apa?" tanya Kaluna.
Rayyan berhenti melukis sejenak, sesuatu yang belum pernah ia lakukan ketika dia sedang fokus. Dia memutar kuasnya di antara jari-jarinya.
"Menjadi titik fokus," jawab Rayyan, suaranya kini terdengar seperti bisikan yang bersemangat, sebuah nada yang sangat asing bagi Andrian.
"Pusat dari badai. Di mana semua gerakan yang kacau itu bertemu, menciptakan satu titik keheningan mutlak," sambung Rayyan.
Kaluna mengangguk pelan, seolah ini adalah bahasa yang dia pahami sepenuhnya.
"Aku mengerti, kau tidak melukis apa yang kau lihat. Kau melukis apa yang kau rasakan dari kekacauan di sekitarmu," kata Kaluna, berhati-hati.
Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibir Rayyan. Itu bukan senyum keramahan, melainkan pengakuan atas pemahaman.
"Kau mengerti," kata Rayyan. "Orang-orang di rumah ini, semuanya sibuk menjadi sesuatu. Membangun citra, menciptakan drama. Itu adalah kebisingan yang mengganggu."
Kaluna mengambil langkah mundur, pandangannya beralih ke lukisan-lukisan berbingkai emas di dinding yang menggambarkan leluhur Cassavanos.
"Kau tahu, ada keindahan dalam kebisingan. Itu menunjukkan bahwa ada kehidupan, ada pertarungan. Jika kau menghilangkan semua kebisingan, yang tersisa hanyalah kematian," koreksi Kaluna.
Rayyan menatap Kaluna sepenuhnya. Kedua matanya yang biasanya kosong kini memancarkan intensitas yang tajam. Dia menyandarkan tangannya pada easel-nya, seolah dia baru saja menemukan objek yang sama menariknya dengan kanvas.
"Bicara lagi," tuntut Rayyan.
Ini bukan permintaan, melainkan perintah yang bersemangat.
"Kebanyakan orang, melukis untuk melarikan diri dari kenyataan. Mereka melukis mimpi, atau keindahan yang mudah dicerna. Tapi kau, kau melukis inti dari kenyataan itu sendiri, konflik, kekacauan. Kau ingin mengendalikan kekacauan itu dengan kuasmu, ya!" lanjut Kaluna, suaranya tenang dan terukur.
Rayyan terdiam. Ekspresi acuh tak acuhnya telah hilang, digantikan oleh pemikiran yang dalam.
Andrian, yang seharusnya marah karena Kaluna mengabaikannya, kini hanya bisa berdiri membeku. Wajahnya menunjukkan keterkejutan murni.
"Dia... dia sedang berbicara dengan Rayyan? Dan itu sampai lebih dari dua kalimat? Dia membuat cerita?" bisik Andrian, lebih kepada dirinya sendiri daripada siapa pun.
Andrian menyentuh pelipisnya. Dalam sejarah keluarga, Rayyan adalah sosok yang secara konsisten menolak interaksi. Kunjungan wajibnya ke rumah ini selalu dihabiskan dalam isolasi total di studionya.