bab 43 Warna Tersembunyi di Rumah Cassavanos

Penulis Yoonna
27 October 2025

Pintu kamar mandi terbuka dan Kaluna keluar. Dia mengenakan gaun sutra panjang berwarna emerald green yang mewah. Wajahnya yang memerah sudah pulih sepenuhnya, digantikan oleh ekspresi tenang dan terukur.

Andrian yang masih berdiri di dekat pintu kamar mandi, terpaku. Ketegangan fisik dari kontak bibir yang baru saja terjadi masih terasa nyata. Tetapi, Kaluna telah kembali membangun bentengnya.

"Aku sudah siap. Mari kita turun," ujar Kaluna, suaranya kini kembali normal, seolah tidak ada yang terjadi beberapa menit yang lalu.

Andrian hanya mengangguk, mengambil napas dalam-dalam untuk mengusir badai emosi yang baru saja menghantamnya. Dia harus kembali mengenakan topeng sang Tuan Sugara yang dingin dan terorganisir sebelum bertemu keluarganya.

Mereka menuruni tangga utama yang megah. Lampu kristal di lobi memantulkan cahaya ke marmer lantai. Menciptakan suasana formal yang dingin.

“Tuan Muda, Nyonya,” sapa beberapa pelayan yang menunggu di ujung tangga.

Pemandangan yang menyambut mereka adalah meja makan panjang yang sudah terisi. Maulidah duduk di kepala meja, mengawasi semua orang dengan mata tajam. Di sampingnya, duduklah Martin yang berwajah serius dan membawa aura bisnis yang kaku.

Terlihat juga Diana yang tersenyum lebar. Dan disebelahnya Alivia, dengan senyum yang dipaksakan dan mata yang tampak gelisah.

"Akhirnya. Selamat datang, Kaluna. Gaun itu cocok sekali denganmu. Duduklah," sapa Maulidah, nadanya penuh persetujuan.

Andrian menarik kursi untuk Kaluna di sampingnya, lalu dia duduk. Mereka baru saja menduduki tempat masing-masing ketika sebuah bayangan melintas di ambang pintu ruang makan.

“Apa aku terlambat?” Rayyan muncul.

Seluruh ruangan seolah membeku. Ini adalah sebuah anomali. Rayyan, sang seniman penyendiri yang selalu menghindari keramaian keluarga, kini berdiri di ambang pintu ruang makan. Untuk pertama kalinya berniat bergabung dalam jamuan keluarga.

Alivia tertegun, raut wajahnya berubah menjadi campuran terkejut dan panik, nyaris tidak bisa dia sembunyikan. Jantungnya berdebar kencang. Dia selalu memproyeksikan Rayyan sebagai sosok yang eksentrik, tidak stabil, dan harus tetap terasing dari interaksi sosial keluarga.

“Ini adalah citra yang kubangun dengan susah payah untuk mengendalikan posisi dalam warisan keluarga. Dan kini Kaluna, si orang baru, seolah merusak itu dalam hitungan jam,” batin Alivia.

Rayyan, dengan langkah pelan namun pasti, berjalan lurus menuju kursi kosong di samping Kaluna. Dia menarik kursi itu, duduk dengan santai, lalu menoleh ke arah Kaluna.

"Aku mencari warna, dan kurasa warnanya ada di sini," bisik Rayyan kepada Kaluna, senyum tipis tersungging di bibirnya, sebuah ekspresi yang jarang sekali terlihat.

Alivia tersentak. Maulidah menatap Rayyan dengan tatapan tajam.

"Rayyan," tegur Maulidah, nadanya mengandung peringatan, meski ada sedikit senyum tipis di bibirnya.

“Kenapa Oma? Aku hanya ingin berbicara dengan kakak iparku,” singgung Rayyan.

Kaluna hanya tersenyum tipis pada Rayyan, menerima godaan itu dengan tenang. Dia menoleh ke Maulidah.

"Tidak apa-apa, Oma. Aku sudah bilang, kami berbicara bahasa yang sama. Mungkin Rayyan hanya ingin menunjukkan paletnya padaku," kata Kaluna dengan nada ringan, namun mengandung makna tersembunyi.

Andrian, yang duduk di sisi lain Kaluna, merasakan gelombang kejutan dan kecurigaan. Rayyan, adiknya yang paling terasing, kini terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada istrinya. Itu bukan bagian dari rencananya.

Martin berdeham. "Kau terlihat... berbeda, Tuan Muda. Biasanya kau akan langsung berada di ruang kerjamu setelah pulang," sindirnya.

"Aku hanya ingin memastikan istri merasa diterima di sini," balas Andrian datar.

Dia memotong sepotong daging dengan gerakan presisi, menghindari kontak mata.

Alivia, masih berusaha mengendalikan kegelisahannya, mencoba memancing.

"Tentu saja, kami semua sangat menyambut Kaluna. Apalagi, tadi kudengar kau sempat berbicara lama dengan Rayyan di lobi, ya? Itu sungguh luar biasa. Rayyan jarang sekali mau berinteraksi, apalagi dengan... orang asing," ujar Alivia, menekankan kata asing dengan nada manis yang menusuk.

Dia jelas ingin menekan Kaluna, dan juga memperkuat citra Rayyan sebagai sosok terasing.

Kaluna menoleh perlahan ke arah Alivia, senyum strategis kembali bermain di bibirnya.

"Aku hanya membantunya menemukan palet yang tidak terlihat. Maaf ibu, kami berbicara bahasa yang mungkin agak... bising bagi sebagian orang," jawab Kaluna ringan, mengambil garpu.

Rayyan, yang mendengarkan, mengangguk kecil, seolah mengonfirmasi perkataan Kaluna. Sebuah gestur yang kembali membuat Alivia semakin gelisah dan Martin terdiam.

Keheningan kembali menyelimuti meja makan, terasa lebih dingin dan kini penuh intrik yang tak terduga. Kaluna baru saja menunjukkan bahwa dia tidak hanya diterima oleh Maulidah, tetapi juga memiliki koneksi langsung dengan Rayyan, orang yang paling sulit dijangkau dalam keluarga itu.

Andrian membungkuk sedikit, mendekatkan mulutnya ke telinga Kaluna. Suaranya sangat rendah agar tidak terdengar oleh yang lainnya.

"Kuakui kau hebat, Kaluna. Tapi menurutku, Kijang Emas mandiri tidak butuh sekutu untuk berjuang," bisik Andrian, nadanya adalah campuran dari kekaguman yang enggan dan kecurigaan yang mendalam.

Jantung Kaluna berdebar samar, bukan karena kata-kata pujian itu, melainkan karena kedekatan fisik Andrian yang tiba-tiba, mengingatkannya pada kejadian di ambang pintu kamar mandi tadi. Namun, dia dengan cepat mengendalikan getaran tersebut.

Kaluna tidak menoleh, matanya tetap tertuju pada hidangan di depannya, tetapi dia membalas bisikan Andrian dengan suara yang sama pelannya, dingin, dan tajam.

"Kijang Emas mungkin tidak butuh sekutu, tapi kau perlu rival untuk kukalahkan, Tuan Sugara,” balas Kaluna, senyum tipis kembali menghiasi bibirnya.

Andrian menarik diri dari telinga Kaluna, ekspresinya kaku. Kata-kata Kaluna menamparnya. Itu bukan ancaman untuk bekerja sama, bukan pula janji kesetiaan, melainkan sebuah deklarasi perang kompetitif di dalam rumah tangganya sendiri.

Dia telah membawa masuk seorang bidak yang kini menganggapnya sebagai lawan paling berharga.

Dia menatap Kaluna dengan intens, campuran antara kemarahan karena ditantang dan kekaguman karena keberaniannya. Dia adalah seorang pebisnis ulung, tetapi Kaluna adalah negosiator yang jauh lebih berbahaya dalam konteks pribadi ini.

Keheningan yang dingin dan sarat intrik itu pecah oleh bunyi dentingan sendok Martin yang memukul piring dengan keras.

"Baiklah. Mari kita kembali ke tujuan utama pertemuan ini," ujar Martin, suaranya berusaha keras untuk kembali memegang kendali atas situasi yang baru saja disabotase oleh Rayyan dan Kaluna.

"Andrian, kami telah menyiapkan laporan lengkap tentang audit keuangan perusahaan dalam dua bulan terakhir. Ada beberapa investasi yang dilakukan, kami perlu kejelasan..."

Andrian mengangguk datar, memotong pembericaraan Martin. "Aku sudah melihat ringkasannya. Tidak ada yang tidak bisa dijelaskan, Paman."

"Oh, tentu saja ada," sela Alivia dengan nada manis yang dibuat-buat, "terutama terkait pengalihan dana ke sebuah perusahaan start-up teknologi yang bergerak di bidang fine art. Rayyan, apakah ini ada hubungannya dengan palet baru yang kamu sebutkan tadi?"

Semua mata tertuju pada Rayyan. Alivia sedang mencoba menyeret Rayyan, dan secara tidak langsung Kaluna, ke dalam masalah bisnis serius.

Rayyan menyesap airnya dengan santai. "Mengapa repot, Ibu? Aku hanya seorang seniman. Tanyakan pada Kakak, dia yang memiliki tanda tangan di setiap cek perusahaan," jawabnya, kemudian menoleh ke Kaluna.

Rayyan memberikan jawaban yang memang diinginkan oleh Alivia. Tapi, tiba-tiba Rayyan memberikann ketegangan yang lain.

"Kau tahu, Kakak ipar, warna terbaik adalah warna yang tersembunyi, yang hanya bisa dilihat oleh mata yang teliti," ujar Rayyan melemparnya pada Kaluna.