Tugas Nyonya Rumah

Penulis Yoonna
27 October 2025

Kaluna menyadari bola panas itu diarahkan padanya. Rayyan tidak membela diri, melainkan justru memberikan hint, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi.

"Jika itu menyangkut fine art," ujar Kaluna lembut, menatap lurus ke arah Alivia, "maka harga diri sebuah mahakarya tidak dinilai dari angka di cek, melainkan dari nilai anomali yang dibawanya. Sesuatu yang terlalu terorganisir, Ibu, seringkali tidak bernilai tinggi."

Martin menajamkan mata. Maulidah tersenyum samar di balik cangkir tehnya. Perkataan Kaluna, yang kedengarannya seperti filosofi seni, sejatinya adalah serangan balik terhadap Martin dan Alivia yang selalu mengutamakan keteraturan dan kontrol.

Andrian, yang seharusnya membela keputusannya di hadapan Martin, justru terdiam. Dia mencermati Kaluna. Dia menyadari Kaluna tidak hanya melindunginya dari serangan Alivia, tetapi juga sedang mengirimkan pesan pribadi kepadanya, sebuah pengakuan bahwa dia telah melihat dan memahami anomali dalam permainannya.

"Dia bahkan membaca permainan jauh lebih cepat daripada yang kukira," gumam Andrian.

"Cukup," Maulidah akhirnya angkat bicara, nadanya penuh otoritas. "Kita tidak akan membahas laporan audit di meja makan. Martin, simpan laci kerjamu. Andrian, kau tahu apa yang harus kau lakukan."

Maulidah mengalihkan pandangannya ke Kaluna. "Kaluna, kami sudah mengatur agar kau bertemu dengan kepala pelayan besok pagi untuk menyusun ulang jadwal dan menu harian. Rumah ini, secara tradisi adalah tanggung jawab Nyonya rumah."

Ini adalah ujian kedua dari Maulidah, secara resmi menyerahkan otoritas domestik, suatu hal yang selama ini dipegang erat oleh Alivia.

Alivia tersentak. "Ibu! Itu... itu pekerjaan yang besar. Kaluna baru saja tiba. Biar aku yang melanjutkan, setidaknya untuk beberapa bulan..."

"Alivia," potong Maulidah dingin, "posisi adalah posisi. Kaluna adalah Nyonya Muda. Dia harus belajar mengendalikan rumah ini secepat mungkin. Tugasmu sekarang adalah fokus pada yayasan amal keluarga. Diana bisa membantumu."

Semua mata keluarga Cassavanos masih terpaku pada Andrian dan Kaluna, menunggu interaksi pasangan baru itu. Namun, keheningan tersebut segera pecah oleh suara Diana.

"Maaf, Ibu," ujar Diana, suaranya tenang namun bernada final, matanya sedikit melirik sekilas ke arah Alivia yang baru saja dipangkas otoritasnya. "Aku tidak bisa memenuhi permintaan itu."

Maulidah, yang baru saja menggunakan otoritasnya untuk menenangkan situasi dan mengatur kekuasaan, kini menoleh dengan ekspresi terkejut dan sedikit sedih.

"Maksudmu?" tanya Maulidah, nadanya melembut, kehilangan sebagian ketegasannya yang tadi.

Diana menghela napas, gesturnya menunjukkan rasa hormat, tetapi keputusannya teguh.

"Aku bukan tidak mau membantu, Ibu. Tapi aku tidak bisa berlama-lama di Jakarta. Aku harus segera kembali ke luar kota. Ada banyak pekerjaan yang menanti," ujar Diana.

Andrian memandang ibunya dengan kening berkerut. Rayyan hanya bersandar di kursinya, mengamati reaksi Maulidah.

"Yayasan amal itu adalah sebuah pekerjaan yang besar," bujuk Maulidah, kini nada suaranya terdengar putus asa. "Kau punya pengalaman di sana. Alivia butuh bimbingan. Bukankah lebih baik jika kau... kembali ke rumah ini untuk sementara?"

Diana menggeleng pelan.

"Sejak Alivia masuk ke keluarga Cassavanos, aku sudah memutuskan untuk tidak lagi ada urusan dengan keluarga ini, Ibu. Kehadiranku di sini, hanya untuk pernikahan putraku," katanya, sebuah pengakuan yang menyakitkan.

Maulidah menarik napas dalam-dalam. Wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam.

Dia sangat berharap bahwa momen pernikahan Andrian akan menjadi jembatan bagi Diana untuk kembali. Namun, dia juga tidak punya hak untuk menahan Diana jika itu adalah keputusan hatinya. Apalagi, saat ini Ferdinan sudah tiada.

"Baiklah, Nak," kata Maulidah lirih, menatap Diana dengan mata berkaca-kaca. "Jika itu yang kau mau. Kami akan selalu merindukanmu di sini."

Tiba-tiba, Alivia, yang baru saja mengalami kekalahan telak di tangan Kaluna dan Maulidah, tersenyum samar. Senyuman itu bukan senyuman sedih, melainkan senyuman licik yang hanya ditujukan pada dirinya sendiri.

“Dasar sombong,” hujat Alivia di dalam hati, menatap Diana yang terlihat begitu bebas.

Suasana kembali dingin. Maulidah kembali ke maksud pembicaraan.

Dia melirik Kaluna dan bertanya, “Bagaimana, Kaluna?”

Kaluna menatap ke arah Maulidah, kemudian mengalihkan pandanggannya pada Alivia yang kini tampak hancur.

Ini adalah kekalahan telak Alivia. Kaluna menerima tongkat estafet kekuasaan domestik tanpa perlu meminta.

"Aku akan melakukan yang terbaik, Oma," jawab Kaluna, dengan anggukan penuh percaya diri, seolah mengatur rumah tangga Cassavanos yang besar hanyalah masalah kecil.

Saat jamuan makan selesai, Andrian bangkit. Sebelum sempat berbicara, Rayyan lebih dulu berdiri, membungkuk ke arah Kaluna.

"Terima kasih atas inspirasinya, Kakak Ipar. Aku menantikan warna-warna yang akan kau bawa ke rumah ini," ujar Rayyan, meninggalkan senyum misterius.

Andrian menarik napas. Dia menoleh ke Kaluna. Semua mata keluarga tertuju pada pasangan baru itu.

Andrian menarik Kaluna menjauh dari ruang makan yang penuh tatapan dan langsung membawanya kembali ke kamar mereka. Sebuah ruangan mewah yang terasa asing bagi Kaluna dan terlalu formal bagi Andrian.

Begitu pintu tertutup, memutus mereka dari sisa keluarga Cassavanos, Andrian segera melepaskan lengan Kaluna dan berbalik menghadapnya. Wajahnya menunjukkan kombinasi frustrasi dan kekhawatiran.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Andrian, suaranya pelan namun intens, berusaha menjaga ketenangan setelah ketegangan yang dia rasakan.

Kaluna menatapnya dengan tenang, sedikit tersenyum misterius. Dia melangkah menuju jendela besar, memandang lampu-lampu kota yang berkelip.

"Aku hanya melakukan apa yang perlu kulakukan," jawab Kaluna.

Kaluna kemudian melangkah menjauh, menuju lemari untuk menyiapkan pakaian tidurnya. Meninggalkan Andrian yang berdiri terpaku, merasa semakin tidak mengerti, tapi juga semakin tertarik pada istrinya ini.

"Melakukan apa yang perlu? Kau mengambil langkah terlalu jauh, Kaluna!" protes Andrian, kini melangkah mendekatinya.

"Aku serius, Kaluna," ulang Andrian, nadanya sedikit lebih tegas, menarik perhatian Kaluna dari lemari. "Yang pertama adalah Rayyan. Kau tahu? Dia hanya... seorang anak kecil yang tak pernah berubah menjadi dewasa. Dia hanya hidup untuk kesenangan pribadinya."

Kaluna menutup pintu lemari, menatap Andrian dengan tatapan yang menunjukkan pemahaman yang dalam.

"Rayyan mencari hiburan? Bagus. Dan untuk apa yang kau sebut anak kecil yang tak pernah dewasa, ada hal yang tak kau lihat dari dirinya,” ujar Kaluna.

“Apa itu?” tanya Andrian skeptis.

“Rayyan mungkin tidak peduli pada aturan atau etika keluarga, tapi dia pasti menghormati kekuatan. Jika aku membuktikan bahwa aku tidak hanya kompeten, tetapi juga indispensable dalam rumah ini, dia akan mengubah permainannya dari pengganggu menjadi... pengagum," jelas Kaluna, sementara Andrian malah menjadi semakin bingung.

Andrian menghela napas, gestur tangannya menunjukkan kekhawatiran yang tulus.

"Lalu, untuk permintaan Oma." Andrian berhenti sejenak, memandang Kaluna lurus-lurus.

Andrian mendekat, suaranya sedikit melembut, mengungkapkan kekhawatiran di balik protesnya.

"Kau tahu tugas Nyonya Muda di rumah sebesar ini? Itu bukan sekadar mengatur menu, Kaluna. Itu adalah mengendalikan seluruh sistem domestik yang dijalankan oleh belasan staf dengan tradisi ketat puluhan tahun! Kau akan terbebani oleh itu," kata Andrian.

Kaluna berbalik, kini jarak mereka hanya beberapa langkah. Dia mendongak, menatap mata Andrian dengan pandangan yang penuh percaya diri. Seolah kekhawatiran Andrian hanyalah masalah sepele.

"Kau khawatir," ujar Kaluna, nada suaranya bukan pertanyaan melainkan penegasan.

"Aku serius, Kaluna," balas Andrian.

Gadis itu tertawa kecil, suara tawanya memecah ketegangan di ruangan.

"Mari kita lihat situasinya dari sudut pandang yang berbeda, Tuan Sugara. Oma bukan memberiku beban, tapi dia memberiku kendali. Bukankah utu konyol, jika aku menolaknya?" kata Kaluna.

Dia melangkah maju, tangannya dengan berani menyentuh jas Andrian.

"Memang, tatanan di rumah ini masih menggunakan sistem yang kaku dan sudah tua. Tapi, sesuatu yang terlalu terorganisir, seringkali tidak bernilai tinggi, bukan?"

Kaluna menarik napas, matanya berbinar penuh antisipasi. Dia tersenyum, senyuman yang begitu meyakinkan, membuat Andrian terdiam.

"...itu hanyalah masalah kecil yang bisa diselesaikan sebelum waktu sarapan. Kita lihat saja besok pagi, Tuan Muda," tantang Kaluna, suaranya penuh keyakinan.

Kaluna melirik jam dinding, menunjukkan waktu yang sudah larut.

"Sekarang, bisakah kita hentikan kekhawatiran ini? Aku butuh istirahat. Aku harus tampil prima untuk memukau mata seluruh keluarga di jamuan sarapan."

Andrian menatap Kaluna lama. Ada keangkuhan yang nyata dalam diri gadis itu, tetapi yang lebih menonjol adalah keyakinan yang tak tergoyahkan.

"Baiklah," kata Andrian akhirnya, menyerah, dia melepaskan napas panjang.

Andrian menyematkan rambut Kaluna yang terurai kedepan ke belakang telinganya.

"Jika kau butuh bantuan, bahkan untuk hal sekecil apa pun, katakan padaku. Jangan mencoba melakukan semuanya sendiri," ujarnya mengingatkan.

"Aku akan ingat," jawab Kaluna. "Tapi aku ragu jika aku akan membutuhkannya."