Andrian terbangun dengan terkejut saat alarmnya berbunyi. Hal pertama yang dia sadari adalah keheningan yang asing dan sisi tempat tidur Kaluna yang dingin. Dia segera bangkit, pikiran semalam tentang Kaluna yang terbebani langsung menyerangnya.
”Dia pasti panik, dia pasti kesulitan, dia pasti tidak tahu harus mulai dari mana!” batin Andrian.
Dia segera mengenakan pakaiannya seadanya dan keluar dari kamar. Dia bergegas menuruni tangga utama, mengabaikan estetika arsitektur Cassavanos yang megah. Matanya menyapu ruang tamu, perpustakaan, hingga ruang keluarga. Kosong.
Kepanikan Andrian semakin jelas saat dia tiba di ruang makan formal. Seluruh keluarga sudah duduk di tempat masing-masing.
Martin dan Alivia tampak formal. Rayyan tersenyum sinis. Maulidah, yang duduk di ujung meja kehormatan, memandangnya dengan senyum geli yang tidak bisa dia sembunyikan.
"Andrian? Ada apa?" tanya Maulidah, suaranya tenang, tetapi matanya menahan tawa.
Kepanikan Andrian terbaca jelas. Dia terlihat tegang, seolah sedang mencari dokumen penting yang hilang sebelum rapat dewan.
"Pagi, Oma. Kaluna… ya, aku... hanya memastikan dia baik-baik saja," jawab Andrian, berusaha terdengar santai, padahal pandangannya masih berputar mencari Kaluna.
"Dia baik-baik saja," balas Maulidah, senyumnya semakin lebar. "Dia tidak tersesat di rumah ini, tenanglah."
Maulidah kemudian mengarahkan dagunya ke belakang. "Dia ada di posisinya. Sejak pukul lima pagi, kurasa."
Andrian mengikuti arah tunjuk Maulidah. Itu adalah koridor yang mengarah ke area servis dan dapur utama yang biasanya tersembunyi.
Di sana, di dalam ruang yang seharusnya ramai dan tegang dengan persiapan jamuan sarapan besar, dia melihat Kaluna.
Kaluna berdiri di tengah dapur, sama sekali tidak terlihat panik. Dia mengenakan setelan sederhana berwarna nude yang elegan, tetapi di pinggangnya terlilit celemek bersih.
“Kaluna,” ujar Andrian yang maju selangkah untuk memperjelas pandangannya.
Dia sedang berbicara santai, namun tegas, kepada beberapa kepala pelayan dan koki yang mengelilinginya.
""Kalian punya persediaan yang cukup, bukan? Aku sudah memeriksa inventory sebelum subuh. Ya, saus hollandaise hari ini dibuat dengan teknik double boiler yang lebih lambat, aku tidak ingin ada emulsi yang pecah," ujar Kaluna, tangannya dengan luwes menunjuk beberapa bahan.
Dia berbalik, memeriksa kerapian penataan buah. "Dan pastikan semua piringnya hangat sebelum dihidangkan. Aku ingin presentasi yang sempurna."
Kaluna terlihat benar-benar berada di habitatnya. Dia bukan hanya mengatur, dia mengendalikan dengan efisiensi yang memukau dan santai, seolah mengurus rumah tangga Cassavanos sebesar itu hanyalah menyiapkan bekal piknik.
Andrian berdiri terpaku di ambang pintu ruang makan, menyaksikan pemandangan yang benar-benar tidak terduga itu. Kekhawatirannya langsung menguap, digantikan oleh kebingungan dan kekaguman.
Maulidah menepuk kursi kosong di sebelah Rayyan, memberikan isyarat kepada Andrian.
"Sudah cukup mengamati, Tuan Muda," ujar Maulidah geli. "Mari bergabung. Nyonya Rumahmu sedang bertugas."
Andrian akhirnya duduk, pikirannya masih penuh dengan gambaran Kaluna yang mengendalikan dapur.
Tepat saat dia duduk, Kaluna berjalan keluar dari koridor dapur, melepas celemeknya dengan satu gerakan luwes, dan melangkah ke ruang makan.
"Selamat pagi, Oma, semuanya," sapa Kaluna dengan suara jelas.
Namun, yang pertama disajikan ke meja bukanlah hidangan, melainkan sebuah perubahan mendasar.
Dia berdiri di ujung meja sejenak, di samping Kepala Pelayan, pria yang baru bertemu dengannya beberapa jam yang lalu.
Kepala Pelayan itu memegang papan catatan dengan ekspresi formal, tetapi ada kilatan kekaguman yang tersembunyi di matanya.
"Aku minta maaf jika harus mengambil sedikit waktu Anda sebelum sarapan," ujar Kaluna. "Tapi per pagi ini, rumah ini akan berjalan di bawah sedikit penyesuaian."
Dia kemudian menunjuk ke arah tumpukan dokumen yang sudah tertata rapi di samping piring Maulidah.
"Oma, itu adalah Laporan Efisiensi Staf dan Anggaran Domestik Kuartal Ketiga yang telah saya tinjau dalam beberapa jam tadi malam, dibantu oleh Kepala Pelayan. Dengan penyesuaian kecil, kita bisa memangkas anggaran yang tidak perlu sebesar lima belas persen tanpa mengurangi kualitas, hanya dengan sedikit optimalisasi jadwal dan manajemen stok."
Seluruh ruangan terdiam. Meninjau laporan keuangan rumah tangga dalam semalam, dan memangkas anggaran belasan persen? Itu lebih efisien daripada kinerja Martin di kantornya.
Wajah Alivia berubah pucat pasi, menatap tumpukan kertas itu seolah-olah itu adalah senjata yang diarahkan padanya.
"Dan ini," lanjut Kaluna, membalik kertas di papan Kepala Pelayan. "Adalah daftar menu harian untuk seminggu ke depan, disusun berdasarkan kebutuhan medis dan preferensi yang diamati kepala pelayan kami, dengan penekanan pada bahan-bahan lokal yang lebih segar." Kaluna mengakhiri pengumumannya, dan memandang lurus ke arah Maulidah.
"Dan mengenai menu sarapan hari ini," lanjut Kaluna, memecah keheningan yang lama. "Aku meminta disajikan menu klasik kesukaan almarhum Tuan Ferdinan. Kuharap ini bisa membawa suasana hangat pagi ini."
Maulidah akhirnya tersenyum. Itu adalah senyum yang lebar dan tulus, senyum yang sudah lama tidak dilihat oleh anggota keluarga. Menunjukkan persetujuan dan kebanggaan.
Pilihan menu itu, sebuah penghormatan pada Mendiang Ferdinan, putra kesayangannya. Menyentuh hati Maulidah dengan sempurna.
"Silakan duduk, Nyonya Muda," ujar Maulidah, suaranya dipenuhi kebanggaan. "Sarapan disajikan sekarang."
Kaluna mengambil tempat duduknya di samping Andrian.
Alivia terbelalak. Bahkan Martin, seorang auditor sejatipun terkejut. Rencana mereka untuk melihat Kaluna kewalahan hancur dalam sepuluh menit.
Rayyan, yang tadinya bersiap untuk mengamati dan mengkritik, kini menyandarkan punggung ke kursinya. Dia tersenyum lebar. Bukan senyum anak kecil, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan pertunjukan yang jauh lebih menarik dari yang dia duga.
Rayyan memiringkan kepalanya sedikit ke arah Kaluna, menyambutnya sebagai pemain yang sepadan.
“Kakak ipar, kau luar biasa! Nampaknya aku akan gemuk dalam waktu beberapa hari setelah ini,” puji Rayyan pada Kaluna.
Melihat reaksi Rayyan, maulidah kembali menampilkan senyum lebarnya.
Andrian, di sisi lain, menatap Kaluna dengan campuran kekaguman yang mulai bercampur dengan rasa tak percaya. Dia tidak menyangka Kaluna akan seefisien ini. Benar-benar di luar dugaan.
Kaluna melirik Andrian sekilas, matanya berkata, "Aku akan ingat. Tapi aku ragu aku akan membutuhkannya."
Sarapan pagi itu berjalan dengan suasana yang jauh lebih hangat daripada malam sebelumnya. Sebagian besar berkat pilihan menu Kaluna dan efisiensinya yang mengejutkan.
Semua orang, bahkan Martin dan Alivia menyantap sarapan dengan puas, meskipun dengan ekspresi yang berbeda-beda. Rayyan sesekali melirik Kaluna, senyum anak kecilnya kini digantikan oleh senyum seorang kritikus yang terhibur.
Setelah piring-piring dibersihkan dan hanya menyisakan cangkir teh serta kopi, Maulidah memandang Andrian.
"Tuan Muda," ujar Maulidah, nadanya santai, tetapi penuh makna, "Oma tidak melihat Leon sejak kemarin. Ke mana dia?"
Leon adalah tangan kanan Andrian, seorang asisten pribadi sekaligus manajer operasional kepercayaannya, dan ketidakhadirannya di tengah acara penting keluarga adalah hal yang jarang terjadi.
Andrian tenang, menyesap kopinya. "Oh, Aku memberinya waktu untuk beristirahat di apartemen, Oma. Dia memegang terlalu banyak peran selama beberapa minggu terakhir."
Maulidah terkekeh, senyumnya kali ini penuh godaan. Dia melirik sekilas ke arah Kaluna, yang sedang sibuk berbicara dengan Kepala Pelayan tentang penataan bunga di ruang tengah.
"Ku pikir," goda Maulidah, "kau sudah memecat Leon karena kau sudah memiliki Kaluna untuk mengatur seluruh hidupmu, baik di rumah maupun di kantor."
Senyum tipis muncul di wajah Andrian. Dia tahu Maulidah sedang menggodanya, membandingkan efisiensi Kaluna yang baru terlihat dengan peran Leon yang sudah lama tak tergantikan.
Namun, jawaban Andrian datang tanpa ragu, dengan nada yang menunjukkan keakraban mendalam dengan asistennya.
"Mana mungkin aku bisa tanpa Leon, Oma," jawab Andrian tegas, dan cepat.
Maulidah mengangguk, mengakhiri candaannya. "Baiklah. Pastikan dia benar-benar beristirahat. Beri tahu dia, dia dirindukan di meja ini."
Andrian mengangguk, lalu pandangannya beralih ke Kaluna. Seolah ingin memastikan bahwa penegasan tentang Leon tadi tidak menyinggungnya.