Setelah sarapan, suasana di Cassavanos sedikit berubah. Andrian sudah bersiap untuk pergi ke kantor, pikirannya masih dipenuhi bayangan Kaluna yang begitu efisien pagi itu.
Dia melirik Kaluna yang tampak santai setelah tugas paginya selesai, hampir seperti tidak ada hal luar biasa yang terjadi.
"Aku akan pergi sekarang, ada rapat penting pagi ini," ujar Andrian sebelum melangkah keluar.
Kaluna hanya mengangguk kecil.
Andrian menaiki tangga, meninggalkan Kaluna sendirian di ruang tengah yang luas.
Kaluna yang merasa canggung dengan kebebasan yang tiba-tiba, memutuskan untuk sedikit menjelajahi bagian lain dari rumah itu. Dia berjalan tanpa tujuan, mengagumi detail arsitektur dan interior yang megah.
Kakinya membawanya menyusuri sebuah koridor yang lebih sepi, hingga dia tiba di depan sebuah pintu ganda besar yang sedikit terbuka.
“Apa itu sebuah studio?” tanya Kaluna pada dirinya sendiri saat memandang ke ruangan yang pintunya terbuka sedikit.
Dari celah itu, Kaluna bisa melihat kanvas-kanvas besar bersandar di dinding, dan bau cat minyak yang khas menyeruak keluar. Rasa penasaran membawanya masuk.
Itu adalah sebuah studio lukis. Jendela besar memungkinkan cahaya matahari masuk dengan sempurna, menerangi puluhan lukisan yang bertebaran di mana-mana.
Kaluna melangkah perlahan, matanya menyapu setiap kanvas. Hampir semua lukisan memiliki gaya yang sama. Abstrak, dengan sapuan kuas yang tebal dan coretan tinta yang terlihat sembarangan. Namun, semakin dia mengamati, semakin dia merasakan ada yang berbeda di setiap lukisan. Ada emosi yang mendalam tersembunyi di balik kekacauan visual itu.
“Aneh, Rayyan melukis hal yang sama setiap harinya. Apa ini ada hubungannya dengan kehidupannya sendiri?” gumam Kaluna, masih mengamati lukisan-lukisan itu.
Dia berhenti di depan sebuah kanvas besar yang didominasi warna gelap. Coretan tinta hitam dan merah tampak seperti goresan kasar. Tapi, saat Kaluna memiringkan kepalanya, dia mulai melihat figur-figur wajah.
Beberapa wajah, samar-samar, tersembunyi di balik lapisan-lapisan cat. Mereka seperti hantu-hantu yang mencoba keluar dari kekacauan. Ada kesedihan, kemarahan, dan kerinduan yang tersembunyi di sana.
Kaluna mengulurkan tangannya, hampir menyentuh permukaan kanvas yang kasar itu, ingin merasakan tekstur dan memastikan apa yang dia lihat. Namun, sebelum ujung jarinya menyentuh cat, sebuah tangan dengan cepat menyambar pergelangan tangannya.
"Jangan disentuh!"
Suara Rayyan terdengar berat dan tegas, sangat berbeda dari nada bercandanya selama ini. Kaluna tersentak.
Dia berbalik, mendapati Rayyan berdiri di sana, matanya menatapnya dengan ekspresi serius yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Kekakuan dan ketegangan di wajah Rayyan membuat Kaluna gugup.
Rayyan tidak melonggarkan cengkeramannya, tetapi ekspresi tegang di wajahnya perlahan melunak. Perlahan, dia mengangkat tangan Kaluna yang hampir menyentuh kanvas.
"Catnya belum kering, kau akan mengotori tanganmu," ujar Rayyan, suaranya kini kembali ke nada yang lebih terkontrol, meskipun masih tanpa jejak canda.
Mendengar Rayyan hanya mengkhawatirkan cat dan tangannya, Kaluna menarik napas lega. Ketegangan yang mencekiknya seketika menguap, digantikan oleh sedikit rasa malu karena ketahuan melanggar batas.
Kaluna menatap punggung tangannya yang terkena noda cat, malah menyembunyikan tawa tidak enak.
"Maafkan aku, aku merusak lukisanmu," kata Kaluna.
Rayyan melepaskan pergelangan tangan Kaluna. Dia mundur selangkah, pandangannya kembali ke lukisan yang tadi diamati Kaluna. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana trainingnya.
"Lain kali, ketuklah pintu," jawab Rayyan.
Dia membiarkan kalimatnya menggantung sejenak, lalu matanya kembali beralih ke Kaluna. Kali ini, dia terlihat penasaran.
"Kakak ipar, apa yang kau cari di sana?" tanyanya, menunjuk ke kanvas dengan dagunya.
Kaluna menatap balik kanvas itu. "Aku hanya... mengagumi. Lukisanmu sangat ekspresif, Rayyan. Kelihatan seperti coretan tinta biasa, tapi kalau dilihat lebih dekat..."
“Apa yang kau lihat?” tanya Rayyan tak sabar.
Dia ragu-ragu sejenak. "Aku melihat ada wajah-wajah di dalamnya. Tersembunyi di balik kekacauan itu. Siapa mereka?"
Rayyan mendengus pelan, senyum sinisnya muncul lagi, tetapi hanya setengah. Itu terlihat lebih seperti mekanisme pertahanan daripada candaan.
"Itu hanya coretan emosi, Kakak Ipar. Jangan terlalu banyak menganalisis sampah," ujar Rayyan, acuh.
"Sampah yang memiliki konsistensi yang sama di seluruh ruangan? Semua lukisan ini, meskipun berbeda warna dan sapuan, mengandung figur-figur yang sama. Kenapa harus menyembunyikannya jika itu hanya coretan emosi?" balas Kaluna lembut, tetapi matanya tetap tajam.
Rayyan terdiam. Ekspresi santai yang biasa dia kenakan kini benar-benar hilang, digantikan oleh kekosongan yang dingin.
Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu membalikkan kanvas besar itu ke dinding dengan satu gerakan cepat, seolah ingin menyembunyikannya dari pandangan Kaluna dan dunia.
"Beberapa hal, sebaiknya tetap tersembunyi," ujar Rayyan datar, tanpa menoleh.
“Kau tidak akan melihat dunia jika terus bersembunyi,” sanggah Kaluna tidak mau kalah.
Keheningan kembali melingkupi mereka, tetapi kali ini, keheningan itu dipenuhi oleh rahasia yang baru saja tersentuh.
Rayyan masih membelakangi Kaluna, lukisan yang baru saja ia balikkan seolah menjadi dinding tak kasat mata di antara mereka.
Namun, setelah beberapa saat dalam keheningan yang tegang, dia kembali berbalik. Kali ini, tatapannya tidak lagi dingin, melainkan... penuh tantangan.
“Jadi kau benar-benar melihatnya?” tanya Rayyan.
Tanpa menunggu jawaban, Rayyan kembali menarik tangan Kaluna. Genggamannya lembut, tetapi menariknya dengan pasti menuju bagian lain studio, ke arah sebuah kanvas raksasa yang tertutup kain putih lusuh.
Kanvas itu jauh lebih besar dari lukisan-lukisan lainnya, seolah menyembunyikan sesuatu yang istimewa.nDengan gerakan dramatis, Rayyan menarik kain putih itu hingga terlepas sepenuhnya, memperlihatkan sebuah lukisan yang luar biasa.
Wajah Kaluna terpaku menatap karya di depannya. Lukisan itu, seperti yang lain, dipenuhi dengan sapuan tebal warna gelap dan coretan-coretan acak, namun ada intensitas yang jauh lebih besar di sini.
"Ini, adalah karya terbaik yang kumiliki. Coba kau rasakan, Kakak Ipar. Pesan apa yang tersirat di dalamnya?" ujar Rayyan, suaranya terdengar serius dan penuh kebanggaan yang jarang dia tunjukkan.
Kaluna melangkah mendekat, matanya menyipit, berusaha menembus lapisan cat. Seperti gambar-gambar sebelumnya, sebuah figur wajah muncul dari kekacauan, tetapi kali ini, wajah itu jauh lebih jelas, lebih menyayat hati.
Wajah seorang anak laki-laki, bibirnya terbuka lebar dalam sebuah teriakan tanpa suara. Matanya dipenuhi ketakutan dan keputusasaan, seolah menahan beban yang tak tertahankan di pundaknya.
"Dia... dia, sepertinya, dia menginginkan sebuah kebebasan?” Kaluna bergumam pelan, hampir tidak terdengar.
Rayyan tersenyum dan mengangguk pelan. Selama ini belum ada yang benar-benar memahami arti dari lukisannya.
Dia mengajak Kaluna berjalan sedikit ke samping lukisan itu. Di dinding di sebelah kanvas raksasa itu, dengan huruf-huruf tebal berwarna putih yang kontras dengan cat gelap, tertulis sebuah kalimat,
"SET ME FREE"
Kaluna membaca tulisan itu, lalu kembali menatap wajah anak laki-laki yang berteriak di lukisan. Sebuah pemahaman baru terlintas di benaknya. Ini bukan sekadar lukisan abstrak, ini adalah sebuah jeritan hati, sebuah permohonan yang terukir dalam cat dan kanvas.
Tepat pada saat Kaluna dan Rayyan berdiri dalam keheningan yang sarat makna di depan lukisan itu, pintu studio tiba-tiba terbuka.
Andrian berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan kantor yang rapi, dengan Leon yang berdiri satu langkah di belakangnya.
“Benar dugaanku, dia ada di sini,” gumam Andrian nyaris tak terdengar oleh leon.
Melihat Kaluna dan Rayyan berdiri begitu dekat, menatap kanvas besar dengan ekspresi serius yang tidak biasa, Andrian menarik napas dalam-dalam.
Leon, yang sudah beberapa hari absen dari drama keluarga Cassavanos, berbisik kaget. "Apa aku tidak salah lihat, Tuan Muda? Tuan Rayyan sedang berbicara... dengan Nyonya Kaluna?"
Andrian menyesuaikan dasinya, matanya terpaku pada interaksi intens antara adik dan istrinya. Wajahnya menampilkan campuran kejengkelan dan kekesalan yang terkontrol.
"Iya, Leon," jawab Andrian datar, suaranya mengandung sarkasme yang tajam.
"Mereka menjadi sekutu sejak awal bertemu. Mungkin saat ini mereka sedang merencanakan sesuatu untuk membakarku hidup-hidup," sambung Andrian.
Leon tersenyum tipis, memahami betul humor gelap majikannya.
Andrian melangkah maju, kehadirannya yang formal langsung mengisi studio. Memecah keintiman yang tercipta di antara Kaluna dan Rayyan.
"Aku akan pergi ke Sugara Group sekarang," ujar Andrian pada Kaluna dengan nada yang profesional dan sedikit dingin.
Kaluna mengangguk patuh pada Andrian, lalu berbalik dan mengikuti langkah suaminya keluar dari studio.
Namun, Pikirannya masih terpaku sepenuhnya pada lukisan Rayyan.
Siapa anak laki-laki itu? Kenapa dia terlihat begitu tertekan, berteriak tanpa suara di balik lapisan cat tebal, di tengah kemewahan hidup keluarga Cassavanos?
Ataukah... Rayyan adalah anak laki-laki itu?