Terjebak Pernikahan dengan CEO Misterius - Malam Tanpa Ujung - Bab 19

Penulis Rei_Moira
09 September 2025

“Kau harus siap menanggungnya jika benar-benar menginginkanku.” Dalam, suara Kael mengunci logika Aurora dengan penuh kesadaran.

Deru napas yang semakin cepat, seakan menjadi jawaban. Aurora tak menjawab, hanya menggigit bibir bawahnya—menatap Kael lebih dalam.

Saat rengkuhan Kael semakin rapat, tak ada lagi kesempatan untuk mundur. Ketika Aurora telah membuka jalan menuju hal terdalam pada dirinya, saat itulah ia jatuh ke dasar pesona Kael tanpa perlu dipaksa.

Sesapan menyentuh bibir Aurora perlahan—lembut, basah. Semua hal yang beberapa terakhir ini mereka tahan, saat ini tak ada sekat yang perlu dipertahankan. Kael menarik tubuh Aurora, menggulingnya perlahan sampai berganti posisi.

Dalam sekejap, Aurora telah duduk di atas pria dengan sejuta rahasia itu. Sesapan yang sempat terputus, kembali disambar menjadi lumatan penuh desah. Tubuh mereka tak berjarak, kulit yang telah polos bersentuh—dipenuhi desiran tak tertahankan.

“Kau tak bisa lari dariku setelah ini,” geram Kael rendah.

Erangan mengiringi jawaban Aurora. “Dan aku tidak berniat untuk kabur.”

Aurora mengejang saat Kael mulai memainkan peran. Ritme mereka pelan, menjajaki tiap jengkal lekuk tanpa ada canggung. Semuanya melebur dalam satu kata; hasrat.


Ketukan pelan membuka mata Aurora. Awalnya pelan, mungkin suara benda jatuh, atau Kael yang sedang mengambil sesuatu. Matanya kembali terpejam, tapi dengan cepat menyadari jika tangan Kael masih melingkar di perutnya. Embusan halus menerpa tengkuk, pria itu terlelap.

Sementara di luar, ketukan pelan terdengar semakin agresif. Tubuhnya berjingkat saat suara pecah membuyarkan hening. Di sisinya, Kael terbangun. Sontak menyilangkan tangannya di hadapan Aurora.

“Kau dengar itu?” bisik Aurora dengan suara tidak stabil.

Kael mengangguk. Selimut yang tadi menyelimuti, sekarang terdorong ke ujung kasur, sebagian terjuntai di lantai—teronggok begitu saja.

“Stay di sini, Rora.”

Tak ada penekanan dalam suara itu, tapi cukup menjelaskan jika Kael tegas meminta Aurora tidak mengikutinya. Pria itu bergerak perlahan, dengan tangan waspada—mempersiapkan kuda-kuda.

Dan tepat saat itu, ketika Kael membuka pintu, seorang pria dengan masker hitam dan topi melesak dalam keluar dari kamar Aurora. Pisau lipat di tangan kanan, ujung runcingnya mengilat terkena pantulan remang malam.

“Kau memulai masalah dengan orang yang salah.” Kael melangkah pelan, kontras dengan sorot matanya yang tajam dan waspada.

“Aku hanya menjalankan perintah!” Langkah kaki yang terlihat ragu, mundur beberapa langkah ketika Kael semakin dekat. Seolah pria itu mengetahui bahwa Kael adalah ancaman.

“Bukankah sudah jelas siapa pemegang kuasa di kerajaan Vireaux? Dan kau masih nekat menantangku?”

“Sudah kukatakan aku hanya menjalankan perintah!”

Pria itu mengayunkan pisau lipat secara acak pada Kael, seakan semua pelatihan untuk menjadi pembunuh bayaran selama ini hanyalah sebuah teori. Sementara Kael dengan cepat menangkis setiap ayunan dan mengunci lengan pria itu dengan gerakan cepat.

Pisau lipat terjatuh, menciptakan bunyi klang nyaring, tepat ketika Aurora berlari panik dari kamar.

“Kael!”

Kael mendesis, lalu menyikut kencang rahang pria itu sampai terkapar di lantai. Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti Aurora. Dan kini ia telah mengikat lengan pria itu ke belakang dengan tali jubah tidurnya.

“Panggil Luther sekarang, Rora. Ada yang harus dibereskan malam ini juga.” Suara serak Kael segera menggerakkan langkah Aurora.

“A-aku telpon sekarang juga!” ucap Rora panik.

Tak berapa lama, Luther datang dengan kaus polos dan celana jogger. Rambutnya berantakan, sangat berbeda dengan penampilan biasanya yang selalu dilihat oleh Aurora. Namun, sikap dan sorot mata yang selalu menjadi ciri khasnya tetap ada. Bahkan malam ini, terlihat lebih dingin saat menarik paksa pria bermasker itu keluar penthouse.

“Luther tinggal di sini juga?” Ekor mata Aurora masih melirik pintu yang baru saja tertutup.

“Unit di lantai tepat di bawah tempat ini adalah milik Luther. Anggap saja rumah dinas.” Kael mendekat, mendekap Aurora. “Maaf telah menyeretmu ke situasi berbahaya.”

Debaran kencang dalam dada Aurora seakan tak mengenal waktu. Seharusnya dalam situasi ini, ia merasakan panik, shock, atau trauma. Bukan malah… ingin mencium bibir Kael sekali lagi.

“Bukan kau yang membawaku, tapi aku yang mengajukan diri. Justru aku khawatir denganmu.” Aurora melepas pelukan Kael, kedua tangannya merengkuh lembut rahang tegas itu. “Kau baik-baik saja? Aku takut sekali kau kenapa-napa tadi.”

Kael tak segera menjawab. Ia menghela napasnya dalam, dahinya membentur pelan dahi Aurora—sesaat hanya terdiam.

“Kau tidak perlu mencemaskanku. Hal seperti ini adalah suatu yang biasa buatku. Justru aku takut kau berubah pikiran setelah melihat sisi gelapku tadi.”

Sorot mata pria itu tampak jujur. Ada ketakutan yang membayang, tapi tetap berusaha tegas hanya karena ia adalah Kael Vireaux.

“Kau bilang gitu sisi gelap? Yang benar saja,” ucap Aurora. “Kau membuatku berdebar. Seperti tokoh film action yang keluar dari film. Keren sekali.”

Mau tidak mau, Kael tertawa. Tunggu… tertawa? Hanya karena ucapan itu? Sungguh bukan Kael sekali. Ia pun terkejut karena merasa dinding tebalnya semakin hari semakin rapuh.

“Sepertinya cara berpikirmu sedikit bermasalah. Wanita lain akan menangis dan trauma melihat seperti itu. Bantalmu koyak, kasur dibabat habis… dan kau mengabaikannya?” Sebelah mata Kael menyipit.

Well… tentu saja Aurora takut. Ia bahkan sempat tak bergerak beberapa detik saat melihat keadaan kamarnya. Jika saja tadi ia memaksa untuk tetap tidur di kamarnya sendiri, sudah dipastikan situasinya akan berubah.

Mungkin… saat ini ia sedang dalam perjalanan berpindah ke alam lain.

“Aku tidak mengabaikannya. Aku juga takut.” Aurora tidak berbohong. “Tapi aku bisa mengatasinya dengan cukup baik. Karena kau ada di sini. Kurasa aku akan selalu aman selama aku ada di sisimu.”

Kael mengusap wajahnya, frustrasi. Nyatanya, ucapannya pada Luther waktu itu tak sanggup ia jalani. Alih-alih merasa bahwa Aurora memang umpan terbaik untuk menjerat Bastien, kini ia menjadi rapuh dan ragu saat maut hampir merenggut wanita itu darinya.

“Kurasa kau berbakat jadi cenayang,” ucap Aurora lagi, membuyarkan pikiran Kael.

“Sorry?” ulang Kael.

“Cenayang.” Aurora masih menautkan kedua tangannya di pinggang Kael. “Tadi kita sempat berdebat tentang aku yang harus tidur di kamarmu, kan? Dan pria itu datang—”

“Tak akan kubiarkan siapa pun menyentuhmu, Rora.” Geraman rendah menyertai. “Aku harus segera membawamu ke tempat yang aman.”

“Hei, aku baik-baik saja. Pria itu juga sudah diurus Luther, kan?”

“Kau kira hanya ada satu pembunuh bayaran yang ada di Vireaux Group?” Kael tampak gusar. “Tempat ini tidak aman lagi. Bahkan mereka bisa masuk sampai kamarmu.”

“Berapa orang yang tahu password pintu penthouse ini?” tanya Aurora.

Alis kael bertaut. “Hanya kau dan Luther.”

“Tak ada lagi?” Aurora mengerutkan keningnya.

“Tidak ada.”

“Hmm…” Aurora melepas tangannya dari pinggang Kael. Gerakannya perlahan duduk di sofa. “Bukankah aneh jika pria itu bisa masuk begitu saja tanpa tahu password pintu tempat ini? Tidak ada kerusakan di pintu, dia pasti masuk dengan cara normal.”

Kael memeriksa pintunya. Benar. Tidak ada tanda-tanda kerusakan karena pintu dibuka paksa. Detik selanjutnya ia kembali ke posisi semula, lalu menatap Aurora tajam. “Besok kita keluar dari tempat ini.”