Kaluna menuruni tangga utama Cassavanos, rambutnya diikat acak dan dia mengenakan gaun malam sederhana.
Setelah meninggalkan studio Rayyan, pikirannya terus berputar pada lukisan SET ME FREE milik Rayyan. Tapi, dia berusaha keras mengalihkan fokusnya pada persiapan makan malam.
Di lantai bawah, dia bertemu dengan seorang pelayan yang berdiri menunggunya di dasar tangga.
“Apakah hidangan utama sudah bisa disajikan?” tanya Kaluna lembut, matanya menyapu tata letak meja makan.
Wanita itu menunduk hormat. “Sudah, Nyonya. Tapi... ada pesan dari Tuan Muda.”
Kaluna menoleh, alisnya terangkat sedikit. “Pesan apa?”
“Tuan Muda sudah pulang dan sedang menunggu Nyonya. Beliau berpesan agar Nyonya tidak perlu repot mengurus makan malam. Beliau meminta Nyonya segera menemuinya di Perpustakaan Timur,” ujar pelayan, suaranya sedikit berbisik.
Kaluna merasakan sedikit kerutan di perutnya. Perpustakaan Timur adalah ruangan yang jarang digunakan, terpencil, dan terasa formal. Andrian biasanya hanya menunggunya di ruang tamu atau ruang makan.
“Baiklah,” kata Kaluna, berusaha terdengar tenang meskipun detak jantungnya sedikit lebih cepat.
Dia berjalan menyusuri lorong yang panjang dan tenang. Setiap langkah sepatu haknya di lantai marmer terasa menggema. Lorong itu membawanya ke bagian rumah yang lebih tua, tempat cahaya remang-remang dari lampu dinding kuningan memberikan kesan misterius.
Dia tiba di depan pintu kayu jati gelap berukir. Kaluna mengangkat tangan, bersiap mengetuk, namun ragu.
Kaluna memberanikan diri, memegang kenop pintu kuningan yang dingin, memutarnya, dan mendorong pintu itu perlahan.
“Tuan Sugara?” panggil Kaluna saat melangkah masuk.
Aroma kertas tua, kulit, dan debu tua menyambutnya. Perpustakaan itu gelap, hanya diterangi oleh sedikit cahaya dari lampu kuno yang sudah usang. Rak-rak buku setinggi langit-langit yang dipenuhi volume-volume usang terasa mengintimidasi.
Ruangan itu kosong.
Kursi kulit tinggi di belakang meja mahoni besar kosong. Tidak ada setelan kantor yang tergantung, tidak ada tumpukan dokumen. Hanya keheningan yang tebal dan dingin.
“Tuan Sugara? Apa ini lelucon?” tanya Kaluna lagi, suaranya kini sedikit lebih keras, bergema di antara deretan buku.
Tepat saat dia melangkah maju, berencana mencari tombol lampu, suara berat dari belakangnya membuat Kaluna tersentak.
Brak!
Pintu kayu jati tebal itu tertutup dengan keras, memecah keheningan yang memekakkan telinga. Suara itu begitu tiba-tiba dan keras, seolah didorong oleh seseorang.
Kaluna berbalik dengan cepat. Ia melihat ke arah pintu, yang kini tertutup rapat.
“Siapa di sana?! Tuan Sugara, jangan bercanda!” seru Kaluna, berjalan cepat menuju pintu.
Dia meraih kenopnya dan memutarnya, tetapi kenop itu tidak bergerak. Pintu itu terkunci.
“Tuan Sugara! Aku tahu kau ada di suatu tempat! Hentikan lelucon ini!” Kaluna berteriak, meninju permukaan kayu yang keras itu.
Tidak ada jawaban. Tidak ada langkah kak, tidak ada suara Andrian yang dingin. Hanya keheningan perpustakaan yang kini terasa seperti jebakan.
Jantung Kaluna berdebar kencang. Ini bukan lelucon. Ini adalah perangkap. Dia memaksa dirinya mundur selangkah, mencoba berpikir jernih.
“Siapa yang mengunci pintunya? Kenapa?” batin Kaluna bertanya-tanya.
Firasat buruk yang menjalar di perutnya kini menjadi ketakutan yang nyata. Dia harus keluar.
Kaluna bergegas mencari saklar lampu, meraba dinding di sebelah pintu. Setelah beberapa saat panik, jemarinya menemukan tombol itu dan menekannya. Lampu gantung kristal di tengah ruangan menyala, menerangi seluruh perpustakaan.
Mata Kaluna menyapu ruangan itu dengan cepat. Tidak ada orang. Tidak ada pintu tersembunyi.
“Sial! Ada yang menjebakku di sini!” batin Kaluna lagi.
Tepat ketika kegelapan mulai merayap di luar jendela Cassavanos dan hidangan makan malam sudah tertata rapi di meja. Suara deru mesin mobil mewah Andrian terdengar di halaman.
Pintu utama terbuka. Andrian melangkah masuk, didampingi oleh Leon. Berbeda dengan pagi hari, aura Andrian kini dipenuhi kelelahan setelah hari yang panjang di Sugara Group. Tetapi tatapan matanya tetap tajam, mencari sosok yang dia perintahkan untuk menunggunya.
“Leon, pastikan semua data kontrak Sugara Group aman. Aku tidak mau ada kebocoran,” ujar Andrian sambil melepas jasnya, menyerahkannya kepada seorang pelayan yang sigap menyambut.
“Siap, Tuan Muda,” jawab Leon.
Andrian melirik ke ruang makan. Piring dan gelas sudah tersusun, tetapi ruang tengah dan ruang makan terasa terlalu sepi. Dia tidak melihat Kaluna.
“Di mana Kaluna?” tanya Andrian datar, berjalan menuju ruang tengah.
Saat itu, Maulidah muncul dari arah dapur, terlihat sedang mengatur beberapa bunga di vas.
“Oma, di mana Kaluna?” tanya Andrian, nada suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, menunjukkan ketidaksabaran.
“Kaluna… Oma pikir Kaluna sedang sibuk mempersiapkan makan malam, tapi dia belum turun sejak tadi,” sahut Maulidah.
Wajah Andrian yang biasanya tenang kini berubah. Sebuah kilatan kekhawatiran yang jarang muncul melintas di matanya. Pesan yang dia kirimkan adalah agar Kaluna menunggunya di rumah, bukan menghilang.
Tiba-tiba, dia teringat kejadian di studio Rayyan pagi tadi. Rayyan, lukisan, dan rahasia yang tersembunyi. Kekhawatiran itu berubah menjadi firasat buruk.
“Leon!” panggil Andrian, suaranya kini mengandung nada panik yang terkontrol.
“Ya, Tuan Muda?” Leon segera mendekat.
“Cari Kaluna sekarang juga. Periksa semua ruangan di rumah ini. Mulai dari kamar utama, studio Rayyan, sampai ruang bawah tanah!” perintah Andrian dengan suara tegas dan cepat.
Andrian berjalan cepat menuju tangga, sementara Maulidah dan pelayan lain terlihat panik di belakangnya.
Andrian berhenti sejenak, memegang rail tangga. Dia mencoba mengingat setiap ruangan terpencil di Cassavanos.
Wajah Andrian seketika mengeras. Perpustakaan Timur. Ruangan yang kotor dan jarang dikunjungi. Sebuah tempat yang sempurna untuk menyembunyikan sesuatu.
“Leon, kita ke Perpustakaan Timur. Sekarang!”
Andrian dan Leon bergegas menuju lorong yang gelap, tempat Perpustakaan Timur berada, meninggalkan Maulidah dan staf lainnya dalam kebingungan dan kepanikan.
Andrian dan Leon berlari menyusuri koridor yang remang-remang. Tepat saat mereka berbelok di tikungan terakhir menuju pintu kayu jati berukir, seluruh rumah Cassavanos tiba-tiba diselimuti kegelapan total.
Jlepp!
Lampu di lorong, lampu di ruang tengah, dan semua penerangan di rumah itu padam serentak. Kegelapan pekat menyergap, hanya menyisakan sedikit siluet dari jendela luar yang tertutup tirai.
“Kenapa listriknya padam?” ujar Andrian dengan nada yang meninggi.
Kepanikan Andrian kini tidak lagi terkontrol. Ini bukan sekadar lelucon, ini adalah sabotase.
“Sistem listrik utama mati. Seseorang memutusnya dari luar, Tuan Muda,” ujar Leon cepat, sambil mengeluarkan senter kecil dari saku jasnya. Cahaya senter itu menyapu lorong, bergerak cepat menuju Perpustakaan Timur.
“Cepat, Leon! Dia ada di dalam!” raung Andrian, mengabaikan fakta pemadaman listrik. Yang penting baginya sekarang adalah Kaluna.
Di dalam Perpustakaan Timur, Kaluna terus memeriksa keadaan di bawah cahaya samar dari jendela. Dia terus mencari jalan keluar ketika kegelapan total tiba-tiba menyelimuti ruangan.
Jlepp!
Ruangan itu seketika tenggelam dalam kegelapan. Kaluna yang sudah tegang karena terkunci, menjerit kecil. Kepanikan membuatnya refleks mundur selangkah.
Dalam kegelapan, dia kehilangan pijakan dan tangannya menggapai-gapai. Sialnya, sikunya menyentuh sesuatu yang besar dan berat di sudut meja.
“Pranggg!”
Sebuah suara nyaring dan memekakkan telinga menggema di seluruh ruangan sepi itu. Vas porselen Tiongkok yang besar, dihiasi ukiran naga, yang merupakan salah satu peninggalan paling berharga keluarga Cassavanos, jatuh ke lantai marmer dan pecah berkeping-keping.
Kaluna membeku, dikelilingi oleh pecahan keramik dan ketakutan yang mencekiknya.
Suara pecahan vas yang keras dan khas itu langsung menembus dinding tebal dan terdengar jelas hingga ke lorong.
Andrian, yang baru saja tiba di depan pintu perpustakaan, tertegun. Marah bercampur panik, Andrian tahu waktu telah habis. Kaluna dalam bahaya.
“Kaluna!” teriak Andrian.
Dia tidak membuang waktu untuk mencari kunci. Dia mengambil jarak, dan dengan kekuatan penuh, Andrian menendang pintu kayu jati itu tepat di dekat gagang kuncinya.
Brak!
Pintu itu berderak dan langsung terbuka paksa, meninggalkan retakan besar di dekat engsel.
Andrian menerobos masuk, senter Leon menyinari ruangan yang gelap. Mereka melihat siluet Kaluna berdiri membeku di tengah tumpukan pecahan vas, wajahnya pucat karena ketakutan.
“Kaluna!” panggil Andrian, nadanya lega karena Kaluna selamat, namun bercampur amarah melihat kekacauan yang terjadi.
Kaluna tidak bergerak. Andrian langsung memeluknya. Kaluna terkejut dan takut.
“Seseorang menjebak dan mengunciku di sini,” bisik Kaluna, suaranya parau.
Andrian tidak memperhatikan pecahan vas itu lagi. dia berusahan menenangkan Kaluna. Wajah Andrian mengeras, ekspresi terkejut dan marah berpadu.