Ancaman Leluhur

Penulis Yoonna
29 October 2025

Andrian menarik Kaluna keluar dari pecahan vas yang berserakan. Dia membimbingnya ke kursi kulit terdekat, sementara Leon menyinari ruangan dengan senternya, matanya waspada mencari celah atau petunjuk.

“Tenang, Kaluna. Kau aman,” ujar Andrian.

Suaranya kini kembali dikendalikan, namun ketegasan baru menyelimutinya. Dia memegang bahu Kaluna, memastikan istrinya stabil.

Kaluna masih terengah-engah. “Pelayan itu... dia bilang kau yang menyuruhku ke sini, Tuan Sugara. Dia bilang kau sudah pulang.”

Wajah Andrian mengeras. Dia berbalik ke arah Leon.

“Leon, cari tahu siapa pelayan yang bertugas di tangga utama tadi. Segera!” pinta Andrian.

“Siap, Tuan Muda,” jawab Leon cepat, suaranya bergema di kegelapan.

Dia berbalik dan berlari keluar ruangan, menggunakan senternya untuk memandu langkah.

Dia menyapu pandangannya ke pecahan vas Tiongkok kuno di lantai. Itu bukan hanya kerugian finansial, tapi sebuah penghinaan dan ancaman.

“Pecahan vas itu akan membuat seluruh rumah panik, tapi itu hanyalah gangguan. Tujuannya adalah membuat Kaluna terperangkap dan ketakutan,” batin Andrian.

Andrian berdiri dan berjalan ke pintu yang baru saja ia dobrak. Ia menyentuh retakan di kayu jati itu, rahangnya mengeras.

Tepat pada saat itu, lampu di seluruh Cassavanos tiba-tiba menyala kembali dengan sentakan yang keras.

Cklik!

Di ambang pintu, Leon kembali dengan wajah pucat.

“Tuan Muda,” lapornya, terengah-engah. “Saya sudah periksa. Pelayan yang bertugas di sana bernama Liana. Tapi dia... dia sudah melarikan diri dari gerbang belakang.”

“Kurang ajar!” kata Andrian mengepalkan tangannya di kusen pintu.

Andrian dan Kaluna bertatapan. Ancaman itu nyata, terorganisir, dan kini telah melarikan diri ke dalam bayangan.

“Tapi, Oma ingin kau menemuinya di ruang keluarga prihal vas bunga itu, Tuan Muda,” ujar Leon lagi.

Andrian mengangguk dan berkata, “Baiklah, Leon, kau antar Kaluna ke kamar, aku akan menemui Oma.”

Andrian berjalan cepat menuju ruang keluarga. Lampu yang baru menyala kembali menerangi ruangan, menampakkan Maulidah yang duduk di sofa dengan wajah pucat dan tegang. Tetapi tidak menunjukkan kemarahan yang membara.

“Oma,” sapa Andrian.

Maulidah menghela napas panjang dan berat. Dia tidak menatap mata Andrian, melainkan menatap lantai di depannya.

“Apa yang terjadi, Andrian? Suara keras apa itu?” tanya Maulidah, suaranya terdengar lelah dan penuh beban, bukan amarah.

Andrian bergegas mendekat. “Kaluna terjebak, Oma. Dia dikunci di Perpustakaan Timur dan listrik diputus. Dia panik dan tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu. Dia menghancurkan… vas porselen di sana.”

Mendengar kata-kata itu, Maulidah menutup matanya sejenak, bahunya merosot. Dia mengembuskan napas lagi, kali ini jauh lebih dalam, seolah sedang membuang beban yang sangat berat.

“Vas bunga itu… peninggalan leluhur tertua di keluarga Cassavanos,” bisik Maulidah, suaranya parau. “Bukan karena harganya, Andrian. Tapi karena kekuatannya. Vas itu menyimpan roh dan restu dari Pendiri Cassavanos.”

Dia akhirnya menatap Andrian, matanya dipenuhi ketakutan yang dingin.

“Menghancurkannya… Andrian, itu bisa mendatangkan kutukan besar bagi seluruh keluarga. Leluhur akan tersinggung, Andrian. Leluhur akan sangat marah,” kata Maulidah, menekankan setiap kata.

Wajah Andrian yang tadinya fokus pada ancaman eksternal, kini mendapati dirinya menghadapi ketakutan yang jauh lebih dalam dan irasional.

“Kutukan? Itu takhayul, Oma. Kaluna tidak sengaja. Dia korban jebakan!” sangkal Andrian.

“Tidak ada kata tidak sengaja dalam hal warisan leluhur! Dia harus dihukum, Andrian. Sebelum energi amarah leluhur menyebar di rumah ini,” sanggah Maulidah, kini suaranya meninggi sedikit.

“Hukuman apa?” tanya Andrian, nada suaranya berubah panik.

Dia tidak takut pada takhayul, tetapi dia tahu bahwa hukuman yang ekstrem dari Maulidah dapat melukai Kaluna secara fisik.

Maulidah memajukan tubuhnya, berbisik dengan nada yang menakutkan.

“Dipatahkan jari-jarinya.”

Andrian tersentak mundur selangkah. Darahnya terasa membeku.

“Apa?! Dipatahkan? Oma, itu gila! Kaluna tidak sengaja memecahkannya!” raung Andrian.

Kepanikan kini benar-benar tidak terkontrol. Ancaman fisik terhadap Kaluna, yang datang dari keluarganya sendiri, terasa lebih menakutkan daripada sabotase listrik.

“Hanya itu cara untuk menunjukkan pada leluhur bahwa kita menghormati kemarahan mereka dan bahwa perbuatan itu telah ditebus. Hukuman setimpal, Andrian. Hukuman yang meninggalkan jejak permanen!” tegas Maulidah, matanya mendesak dan kaku.

Andrian mengepalkan tangannya. “Tidak akan. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya, Oma. Aku akan mengurusnya dengan cara yang lain. Aku akan melakukan ritual persembahan termahal yang pernah ada di keluarga ini!”

Dia menyadari bahwa dia tidak bisa berdebat lama-lama. Maulidah akan menggunakan ketakutan akan kutukan ini untuk menyerang Kaluna.

Andrian menatap Maulidah dengan tatapan yang penuh ancaman dan perlindungan.

“Aku akan menemui Kaluna. Jangan ada yang mendekatinya sampai aku memutuskan hukuman apa yang pantas untuk ditebus pada leluhur!” ancam Andrian.

Andrian berbalik dan pergi, meninggalkan Maulidah yang kini tersenyum tipis di tengah kepucatannya. Dia telah berhasil menciptakan konflik yang jauh lebih besar dan mengancam bagi Kaluna di mata Andrian.

Begitu punggung Andrian menghilang dari pandangan, meninggalkan ruang keluarga dengan langkah cepat menuju kamar Kaluna, ketegangan di wajah Maulidah langsung lenyap. Ekspresi seriusnya berganti menjadi senyum tipis yang penuh perhitungan.

Alivia, yang selama ini berdiri sedikit menjauh, kini mengikuti langkah Andrian. Senyum licik dan puas tersungging di bibirnya. Rencana ini, jelas, adalah sesuatu yang dia nikmati.

“Ibu!” seru Martin dengan suara tertahan.

Martin yang juga berada di sana terperanjat kaget. Dia bergegas mendekati Maulidah, matanya membulat.

“Hukuman mematahkan jari? Apa itu tidak berlebihan? Maaf ibu, aku pernah membaca kitab perawatan warisan leluhur. Di sana disebutkan, hukuman untuk kerusakan tidak disengaja tidak akan sampai seberat itu!” kata Martin.

Maulidah hanya tersenyum tipis, sorot matanya tajam dan cerdas.

“Tentu saja tidak seberat itu, Martin,” jawab Maulidah dengan nada meremehkan. “Aku sengaja mempermainkan hati Andrian.”

“Mempermainkan hati Tuan Muda?” ujar Martin, tidak mengerti.

Maulidah hanya tersenyum tipis, sorot matanya kini cerdas dan penuh perhitungan. Dia memandang Martin, memancarkan aura seorang ahli strategi.

“Cinta Andrian pada Kaluna harus diuji, Martin. Perasaan Andrian harus dipancing untuk keluar,” lanjut Maulidah.

Martin terlihat masih ragu dan cemas. “Tapi, Ibu, itu terlalu jauh. Andrian terlihat benar-benar ketakutan. Dia mungkin melakukan sesuatu yang drastis. Dia tidak takut pada takhayul, tapi dia takut Kaluna terluka,” katanya.

Maulidah menyeringai puas.

“Kita akan lihat apa yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan Kaluna dari hukuman Leluhur,” ujar Maulidah dengan penuh intrik.

“Dengan begitu, kita akan bisa melihat bagaimana kekuatan cinta mereka yang sebenarnya. Apakah itu cukup kuat untuk melawan seluruh tradisi Cassavanos, atau hanya sekadar gairah sesaat,” sambungnya.

Dia menatap ke arah tangga, ke tempat Andrian baru saja bergegas naik.

“Aku sudah melemparkan kuncinya, musuh luar dan ancaman Leluhur. Sekarang giliran Andrian yang harus membuktikan dirinya. Kita tunggu dan lihat bagaimana dia mengatasi dua ancaman dalam semalam,” pungkas Maulidah.