Andrian melangkah cepat menyusuri lorong berkarpet tebal menuju kamar utama. Pikirannya kalut. Ancaman dari luar yang membuat Kaluna terjebak dan ketakutan, kini diperparah dengan ancaman takhayul yang lebih absurd namun berpotensi fatal dari Maulidah.
“Kenapa akhir-akhir ini begitu banyak ancaman? Aku harus berbicara dengan Kaluna, menenangkannya, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun bahaya yang bisa menyentuhnya.” Andrian membatin.
Setibanya di depan pintu kamar utama, Andrian mengangkat tangannya, hendak mengetuk. Namun, dia ragu sejenak. Apa yang harus dia katakan? Bagaimana dia bisa menjelaskan semua ini?
Dia akhirnya mengetuk, pelan pada awalnya, lalu sedikit lebih kuat.
"Kaluna? Ini aku," ujarnya pelan.
Tidak ada jawaban. Keheningan dari dalam kamar terasa menusuk. Andrian mencoba lagi.
"Kaluna, buka pintunya. Kita perlu bicara," pinta Andrian.
Masih tidak ada respons. Andrian merasakan gelombang kepanikan merayapi dirinya.
Kaluna pasti sangat ketakutan dan mungkin marah kepadanya karena telah berada dalam situasi berbahaya ini.
"Kaluna! Kumohon, buka pintunya," suaranya sedikit memohon. "Aku di sini untuk melindungimu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Tiba-tiba, suara Kaluna terdengar dari balik pintu, samar dan bergetar, namun penuh tekad. "Pergi, Tuan Sugara! Aku tidak ingin bicara denganmu!"
Andrian terkesiap. "Kaluna, jangan bicara begitu. Ada banyak hal yang terjadi, dan aku harus meluruskan semuanya."
"Apa yang harus diluruskan? Bahwa pelayanmu menjebakku karena kau menyuruhku ke sana? Atau bahwa aku hampir mati ketakutan karena semua ini?! Pergi!" teriak Kaluna, suaranya kini terdengar lebih jelas, diselimuti amarah dan ketakutan.
Andrian bersandar di pintu, merasakan dinginnya kayu jati itu menembus setelannya.
Dia tahu ini tidak akan mudah. Kaluna terluka, bukan hanya fisik tapi juga mental. Dia telah melewati batasnya, tidak seharusnya dia meninggalkan Kaluna sendiri.
Tak lama kemudian, sebuah bayangan muncul di ujung lorong. Leon berjalan mendekat, langkahnya hati-hati, membawa aura profesionalitas yang tebal. Dia berdiri, menunggu dengan sabar.
"Tuan Muda," panggil Leon dengan suara rendah. "Nyonya Kaluna sedang tidak baik. Tidak akan berguna jika Tuan terus memaksanya. Dia mengunci kamar rapat-rapat sejak aku mengantarnya tadi."
Andrian tidak menjawab. Dia perlahan bangkit berdiri. Kekalahan atau keputusasaan bukanlah pilihan.
Maulidah sedang menunggu, ancaman dari luar masih berkeliaran, dan yang terpenting, Kaluna di dalam kamar sedang terluka.
Dia menoleh ke arah Leon, matanya kembali menyala dengan tekad yang dingin.
"Pastikan dia makan malam. Kirimkan hidangan paling ringan ke depan pintu kamarnya. Pastikan tidak ada satu pun orang selain kau dan orang kepercayaan yang mencoba bicara dengannya," pinta Andrian.
"Siap, Tuan Muda. Tapi... Kau akan ke mana?" tanya Leon, menyadari perubahan mendadak dalam ekspresi tuannya, dari frustrasi menjadi fokus yang tajam.
Andrian melirik pintu kamar Kaluna sekali lagi, seolah mengucapkan janji yang tak terucapkan.
"Aku akan turun, untuk menebus kesalahanku pada leluhur Cassavanos," jawab Andrian, suaranya berat dan penuh gema.
Leon tersentak. Dia tahu itu bukan hanya tentang takhayul, itu adalah perlawanan terbuka terhadap kekuasaan Maulidah.
Andrian tidak menunggu jawaban. Dia berbalik dan melangkah cepat menuju tangga utama. Malam itu, ia tidak hanya akan mencari musuh yang mengunci Kaluna, tetapi juga melawan tradisi kuno demi melindungi wanita yang dicintainya.
Leon yang menyadari niat nekat Andrian untuk menebus kesalahan di tengah emosi yang meluap, segera berlari mengejarnya. Sambil berlari, dia mengangkat tangan ke telinganya, menekan earpiece kecil yang tersembunyi.
"Dengar," bisik Leon cepat ke mikrofon. "Siapkan hidangan paling ringan, kirim ke pintu kamar utama. Tidak ada yang boleh mengganggu Nyonya Kaluna. Laksanakan secepatnya, ini darurat!"
Setelah menyelesaikan panggilan, Leon mempercepat langkahnya dan berhasil menyusul Andrian tepat di puncak tangga utama.
"Tuan Muda! Saya tahu Tuan sedang marah, tapi tindakan tergesa-gesa bisa menjadi boomerang," panggil Leon, suaranya sedikit terengah.
Andrian tidak menghentikan langkahnya menuruni tangga. Aura dinginnya terasa seperti es.
"Aku melakukan apa yang harus kulakukan, Leon. Orang-orang di rumah ini sedang menunggu kesempatan untuk menyerang Kaluna," ujarnya.
"Tapi Tuan Muda," Leon bersikeras, mengikuti Andrian langkah demi langkah.
Andrian berhenti sejenak di tengah tangga, menoleh ke arah Leon. Tatapan matanya menunjukkan bahwa ia sepenuhnya menyadari risikonya, namun ia tidak punya pilihan.
Andrian kembali berjalan turun.
“Aku tidak peduli jika harus mengorbankan reputasiku atau menghabiskan seluruh asetku untuk ritual konyol ini, yang penting Kaluna tetap aman,” ujar Andrian bersikeras.
Leon hanya bisa mengangguk pasrah. Dia begitu Mengkhawatirkan konsekuensi dari keputusan impulsif tuannya ini, sambil tetap mengikuti Andrian menuju ruang keluarga tempat Maulidah menunggu.
Andrian tiba di ambang pintu ruang keluarga, kembali ke hadapan Maulidah yang masih duduk tegak di sofa.
Di dekatnya, Alivia duduk dengan senyum puas yang tipis, menikmati drama yang sedang berlangsung. Sementara Martin duduk berhadapan dengan mereka, tampak tegang dan cemas, jelas terganggu oleh rencana kejam ibunya.
Pandangan Andrian langsung tertuju pada Maulidah, mengabaikan yang lain.
"Oma," sapa Andrian datar, berjalan masuk ke tengah ruangan. "Aku sudah memikirkannya."
Maulidah memajukan sedikit tubuhnya.
"Bagus, Andrian. Kau telah sadar akan keseriusan masalah ini. Kesalahan fatal yang telah istrimu lakukan. Kau tahu apa hukumannya," jawab Maulidah.
“Kaluna adalah istriku. Dia tinggal di sini karena aku. Karena hal itu, semua kesalahannya, seharusnya menjadi tanggung jawabku. Segala kerugian yang disebabkan olehnya adalah kewajibanku untuk memperbaikinya," ujar Andrian.
Dia maju selangkah, menatap Maulidah lurus-lurus.
"Jadi, jika Oma berkenan, izinkan aku menebus kesalahanku ini," kata Andrian lagi.
Maulidah belum sempat merespons, tapi Andrian langsung berbalik cepat ke arah Leon yang berdiri tegang di ambang pintu. Dengan gerakan kilat, Andrian menarik sebilah belati kecil yang terselip di sabuk Leon.
Sebelum ada yang sempat bereaksi, Andrian telah membalik belati itu dan tanpa ragu, menyayat telapak tangannya sendiri dengan ujung tajamnya. Darah merah pekat langsung mengucur deras dari buku-buku jarinya, menetes ke lantai marmer ruang keluarga yang mewah.
Tangan Andrian gemetar, namun raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit. Mata tajamnya tetap tertuju pada Maulidah.
"Apa ini cukup untuk menebus kesalahan Kaluna, Oma?" tanya Andrian, suaranya rendah dan penuh tantangan.
Melihat pemandangan brutal dan pengorbanan fisik yang dilakukan Andrian, Alivia langsung bangkit dari kursinya. Kepuasan licik di wajahnya seketika lenyap, digantikan oleh kepanikan dan kemarahan yang tulus.
"Andrian, cukup! Kenapa kau lakukan ini, Nak? Ibu! Apa Ibu tidak punya perasaan?!" seru Alivia, suaranya memprotes dengan histeris.
"Putra mahkota yang amat kita sayangi dalam keluarga Cassavanos harus menderita karena hal sepele seperti vas bunga?" kata Alivia lagi.
Maulidah terperanjat. Dia benar-benar tidak menyangka Andrian akan bertindak seekstrem itu.
Rencananya hanyalah gertakan untuk menguji, bukan untuk melihat darah cucunya sendiri tertumpah. Ekspresinya yang tadinya penuh perhitungan kini digantikan oleh kejutan dan kekhawatiran seorang nenek.
Maulidah segera bangkit, bergegas mendekati Andrian.
"Sudah cukup, Nak! "Jangan sakiti dirimu lagi. Aku tidak akan lagi membahas masalah vas bunga itu," kata Maulidah, suaranya kini dipenuhi rasa khawatir dan kasih sayang yang mendalam, menyentuh tangan Andrian yang berlumuran darah.
Dia memegang wajah Andrian dengan lembut, matanya menunjukkan rasa sakit yang nyata.
"Cintamu untuk Kaluna sudah lebih dari cukup untuk membayar semuanya," bisik Maulidah, suaranya hampir tak terdengar.
Pengorbanan Andrian telah melampaui semua ekspektasinya, dan bahkan meluluhkan hatinya yang keras.
Maulidah memberi isyarat kepada Leon dengan mata. Leon segera bergerak cepat mengambil kotak P3K dari salah satu laci.
"Pergilah, Leon. Obati Tuan Muda. Dan kau, Andrian," Maulidah memegang erat tangan Andrian yang terluka, "Naiklah ke atas. Jaga istrimu baik-baik!”
Andrian hanya menatap Maulidah sejenak, dia tersenyum, mengangguk singkat, dan berbalik.
Leon dengan cepat memapahnya, membawanya keluar dari ruang keluarga yang kini terasa berat dengan bau darah dan pengorbanan yang dilakukan demi cinta.