Andrian bersandar pada Leon saat mereka bergegas menaiki tangga. Darah masih menetes dari sayatan di telapak tangannya, meninggalkan jejak samar di karpet mewah.
Leon bergerak cepat, fokus pada pertolongan pertama, tetapi pikiran Andrian hanya tertuju pada satu tempat, Kaluna.
"Tuan Muda, izinkan saya mengobati luka ini dulu," bisik Leon cemas, sambil mencoba memperlambat langkah Andrian di lorong kamar.
"Tidak ada waktu, aku harus bicara dengannya sekarang," jawab Andrian tegas, suaranya serak namun penuh perintah.
Leon tahu argumennya sia-sia. Pengorbanan yang baru saja dilakukan Andrian adalah bukti betapa pentingnya Kaluna bagi tuannya.
Leon hanya bisa menekan luka itu dengan sapu tangan hingga mereka tiba di depan pintu kamar utama.
Andrian menarik diri dari papahan Leon, berdiri tegak di depan pintu. Dia mengabaikan rasa sakit yang berdenyut di tangannya.
"Leon, tunggulah di ujung lorong," perintah Andrian.
"Tapi Tuan Muda, luka Tuan—"
"Tunggu saja!" potong Andrian, tatapannya menyiratkan tidak ada bantahan.
Leon menghela napas, mengangguk hormat. Dia mundur ke tempat yang bisa mengawasi pintu tanpa mengganggu.
Andrian mengangkat tangan kanannya dan mengetuk pintu dengan pelan, sangat pelan, seolah takut mengagetkan Kaluna.
"Kaluna, kumohon, buka pintunya," panggilnya, suaranya kini kembali lembut, jauh dari arogansi Tuan Sugara yang biasa ia tunjukkan.
Kembali lagi, yang Andrian dapatkan hanya keheningan. Tapi kali ini, Andrian tidak mendesak. Dia hanya berdiri di sana, menunggu. Dia membiarkan keheningan yang berbicara.
Beberapa saat kemudian, terdengar bunyi kunci diputar pelan dari dalam. Pintu itu terbuka sedikit, hanya menyisakan celah sempit.
Kaluna berdiri di baliknya, wajahnya pucat dan sembab karena menangis, matanya dipenuhi keraguan dan ketakutan.
"Mau apa lagi kau ke sini?" tanya Kaluna dingin.
Andrian mendorong pintu itu sedikit lebih lebar, Kaluna tidak mencegahnya.
Telapak tangan kanan Andrian dibalut asal-asalan oleh Leon dengan sapu tangan putih yang kini sudah basah dan bernoda merah pekat. Darah itu menetes ke pergelangan tangannya, menuntut penanganan medis segera.
"Aku minta maaf," ujar Andrian.
"Minta maaf untuk apa?" tanya Kaluna.
"Untuk semuanya. Aku minta maaf karena aku tidak ada di sana dan membiarkanmu sendirian," jawab Andrian, menatap langsung ke mata Kaluna.
Kaluna masih merasa marah, takut, dan syok. Dia hanya bisa menatap pria itu dengan pandangan hampa.
"Pergilah, Tuan Sugara. Aku ingin sendirian," pinta Kaluna.
Hati Andrian mencelos, tetapi dia mengangguk mengerti. Dia tahu dia tidak bisa memaksa Kaluna lagi.
"Aku akan kembali nanti," kata Andrian, suaranya rendah.
Andrian berbalik dan melangkah keluar. Begitu dia menutup pintu, Leon segera menghampirinya. Andrian bersandar pada Leon, membiarkan ajudannya itu memapah dan membawanya untuk mendapatkan pertolongan pertama.
"Tuan Muda, mengapa tidak memberitahunya yang sebenarnya?” tanya Leon pelan.
Andrian menghela napas, tidak menanggapi pertanyaan Leon.
Di dalam kamar, Kaluna berjalan gontai menuju ranjang.
Tiba-tiba, mata Kaluna menangkap sesuatu di lantai marmer dekat pintu. Noda merah gelap.
Dia membungkuk, menyentuh noda itu. Itu adalah darah segar.
“Tuan Sugara, apa yang baru saja kau lakukan?” tanya Kaluna di dalam hati.
Ketakutan yang baru, yang jauh lebih nyata, menyengatnya. Dia tidak membuang waktu. Kaluna langsung membuka pintu kamar dan berlari keluar.
Kaluna melihat mereka di ujung lorong. Leon sedang memapah Andrian, yang terlihat semakin memucat, menuju lift terdekat.
"Tuan Sugara!" seru Kaluna, suaranya dipenuhi kepanikan.
Andrian menoleh, terkejut melihat Kaluna keluar dari kamar.
"Leon! Lepaskan aku," pinta Andrian, berusaha melepaskan diri dari papahan Leon.
Kaluna berlari mendekat. Dia melihat luka terbuka yang terbalut selembar kain di tangan Andrian.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Kaluna, suaranya gemetar. Ia meraih tangan Andrian.
Kaluna langsung memegang tangan Andrian yang terluka, merasakan kehangatan yang kontras dengan dinginnya marmer Cassavanos. Andrian hanya mampu menatap matanya.
“Kaluna, aku…”
Belum sempat Andrian menjawab pertanyaan atau meyakinkan Kaluna lebih jauh, tubuhnya tiba-tiba terasa mati rasa. Pandangannya kabur.
Dengan tarikan napas terakhir yang berat, tubuh Andrian ambruk ke lantai.
Beruntung, Leon berada di sampingnya. Dengan refleks cepat, Leon menahan tubuh tuannya, mencegah Andrian terbentur keras di lantai marmer.
"Tuan Muda!" seru Leon panik, berusaha menopang beban Andrian yang berat.
Kaluna menjerit kecil. Kepanikannya kembali, namun kini fokusnya adalah menyelamatkan Andrian.
"Leon! Cepat! Bawa dia ke kamar! Kita harus menghentikan pendarahannya!" perintah Kaluna, suaranya tegas meskipun tangannya gemetar.
Kaluna segera membantu Leon memapah Andrian. Mereka berdua, bekerja sama dalam kepanikan yang terkoordinasi, membawa tubuh Andrian yang pingsan melewati ambang pintu kamar utama.
Leon dengan hati-hati membaringkan Andrian di ranjang besar. Wajah Andrian yang biasanya dominan kini tampak pucat pasi. Luka di tangannya terlihat semakin buruk.
"Leon, cepat! Cari kotak P3K!" pinta Kaluna, berlutut di samping tempat tidur.
"Sudah saya siapkan, Nona!" jawab Leon, yang kini bergegas mengambil perlengkapan itu.
Kaluna segera menyobek balutan kain kotor di tangan Andrian. Begitu melihat sayatan yang dalam dan lebar itu, dia tersentak.
Ini bukan hanya luka kecil; ini adalah tindakan yang disengaja dan brutal. Entah apa yang terjadi pada hatinya. Air mata yang baru saja dia hentikan kini kembali mengalir.
Leon kembali dengan kotak P3K.
"Kita harus bersihkan lukanya, Nona. Tapi sebaiknya kita panggil dokter..." ujar Leon.
"Tidak, Leon!" potong Kaluna, menatap Leon dengan mata memohon.
"Kita akan terlambat jika menunggu dokter. Tuan Sugara sudah sangat lemah. Aku akan yang mengobatinya," susul Kaluna.
Leon ragu sejenak, melihat betapa parahnya luka Andrian. Namun, dia melihat tekad untuk melindungi yang kuat di mata Kaluna.
"Baik, Nona," ujar Leon mempercayakan Andrian pada istrinya itu.
Kaluna mengangguk. Dia meraih antiseptik dan memulai tugasnya. Hatinya hancur melihat pria yang baru saja mempertaruhkan dirinya demi keselamatannya, kini terbaring tak sadarkan diri di depannya.
Leon melihat luka itu, lalu ke wajah Andrian yang pucat. Kaluna benar, waktu adalah hal yang krusial.
"Nona, luka Tuan Muda sangat dalam. Saya khawatir..." Leon memulai, tapi Kaluna memotongnya dengan cepat, tangannya sudah memegang botol antiseptik.
"Benar, Leon. Kita harus segera menghentikan pendarahan dan membersihkannya, sekarang juga," ucap Kaluna, matanya tajam dan fokus, mengabaikan ketakutannya sendiri.
Dia meraih kain steril dan mulai menekan luka itu dengan kuat.
"Aku pernah tinggal di asrama kesehatan ketika di luar negeri, aku belajar sedikit ilmu medis dasar dari para suster di sana. Aku bisa mengatasi ini," kata Kaluna, meyakinkan Leon dengan suara yang stabil meskipun tangannya gemetar.
Leon menarik napas dalam. Risiko membiarkan Kaluna menangani luka fatal ini sangat besar, tetapi menunggu dokter lebih berisiko bagi nyawa Andrian. Kepercayaan yang tiba-tiba dia rasakan pada tekad Kaluna membuatnya mengangguk.
Tiba-tiba, saat masih focus dengan luka Andrian, mata Kaluna terbelalak. Ada sesuatu yang salah.
Darah Andrian membeku dengan cara yang aneh, dan kulit di sekitar sayatan tampak menghitam. Ini bukan reaksi dari luka biasa.
"Leon!" panggil Kaluna tanpa menoleh, suaranya dipenuhi urgensi yang mencekam.
"Lihat ini," kata Kaluna, menunjuk area gelap di sekitar luka. "Ini bukan hanya pendarahan. Ada racun!"