Penawar Racun untuk Tuan Muda

Penulis Yoonna
29 October 2025

Leon mendekat. Wajahnya yang tegang seketika menjadi pucat pasi. Dia meraih tangan Andrian, memeriksa luka itu.

"Ya Tuhan! Belati itu... sebenarnya… belati itu milikku, Nona!" Leon tersentak mundur, menyadari fakta yang mengerikan.

“Apa?” tanya Kaluna dengan emosi yang memuncak.

"Aku melumuri belati itu dengan racun yang bereaksi cepat untuk berjaga-jaga, Nona! Aku tidak sempat memberitahu Tuan Muda. Aku tidak menyangka Tuan Muda akan mengambilnya untuk melukai dirinya," ungkap Leon dengan lemas dan menyesal.

Kaluna menatap Leon, amarahnya lenyap digantikan oleh kepanikan.

"Aku tidak akan bertanya mengapa belatimu bisa melukai Tuan Sugara, Leon. Tapi racun itu… racun apa yang kau gunakan? Cepat jelaskan!" desak Kaluna.

"Itu Neurotoxicum Basiliscum, Nona. Penawarnya... aku lupa," Leon berpikir keras.

"Cepat, Leon! Pergilah ke dapur! Cari daun basil tua, sedikit rimpang kunyit yang sudah dijemur, dan bunga lavender. Tadi pagi aku sempat melihat semuanya disimpan di lemari rempah! Cepat!" perintah Kaluna, mengingat-ingat pelajaran medis lamanya.

"Minta pelayan untuk segera menumbuk halus bahan-bahan itu. Cepat Leon! Kita tidak punya banyak waktu!" teriak Kaluna.

Leon, kini panik dan merasa bersalah, segera berlari keluar dari kamar.

Saat Leon berlari di lorong, dia tidak menyadari bahwa di lantai bawah, Maulidah merasakan firasat buruk. Aura kemenangan tipis yang dia rasakan setelah pengakuan cinta Andrian tiba-tiba sirna, digantikan oleh kegelisahan yang tajam.

“Ayo Alivia, aku menghkawatirkan Andrian!” ujar Maulidah.

Maulidah, bersama Alivia yang masih menggerutu, segera berjalan cepat menuju ke kamar utama.

Tepat ketika Maulidah tiba di depan kamar Andrian, dia melihat Leon baru saja kembali dengan membawa mangkuk berisi ramuan hijau kekuningan yang tergesa-gesa.

"Leon! Apa yang terjadi?" tuntut Maulidah.

"Tuan Muda pingsan, Nyonya. Dia—"

Maulidah tidak menunggu lagi. Dia menerobos masuk. Pemandangan Andrian terbaring pucat, dengan Kaluna yang sibuk mengoleskan ramuan aneh di tangannya, membuat seluruh kontrol dirinya hilang.

"Apa yang kau lakukan padanya, Kaluna?!" raung Maulidah. "Leon! Panggil Dokter Surya sekarang juga!"

Alivia yang berdiri di belakang Maulidah, langsung menuding dengan wajah penuh kebencian.

"Aku sudah tahu! Dia hanya pura-pura mengobati! Jika terjadi sesuatu pada Andrian, aku tidak akan mengampunimu, Kaluna!" teriak Alivia.

Kaluna tidak menanggapi atau terpengaruh oleh hardikan Alivia. Fokusnya hanya tertuju pada Andrian untuk saat ini.

“Jelaskan pada Oma, apa yang terjadi, Kaluna!’ desak maulidah.

“Tuan Sugara terluka, lukanya membiru dan akan segera membusuk. Ada racun di belati itu,” ungkap Kaluna.

Mendengar pernyataan Kaluna, Maulidah mundur satu langkah. Kilatan petir menyambar tepat di ulu hatinya. Gertakan yang dia kira hanyalah ujian cinta, ternyata berubah menjadi boomerang yang akan menguji hidup Andrian.

“Apa kau bilang? Apa kau ingin dia tiada? Kenapa tidak memberitahu kami semua?” protes Martin.

“Sudah terlambat jika aku harus lebih dulu memberitahu kalian semua, Paman. Apalagi menunggu pertolongan medis. Racun ini mengandung bahan kimia yang dapat menyebabkan kelumpuhan, bahkan kematian,” ujar Kaluna, jujur,

“Omong kosong! Lihatlah betapa sok tahunya cucu menantu kesayanganmu ini, Ibu,” ejek Martin.

“Aku tidak berbicara omong kosong paman. Gelaja yang ditimbulkan racun ini sudah terlihat. Racun ini langsung bereaksi membuat kulit di area luka menghitam. Tuan Sugara mendadak pingsan, itu adalah reaksi syok neurologis yang cepat, bahkan racun ini dengan cepat telah mengganggu pembekuan darah normal,” papar Kaluna.

“Apa kita harus tetap menunggu dengan kondisinya yang seperti ini?” tanya Kaluna.

“Ini hanya permainanmu saja. Kau ingin mencelakai Tuan Muda! Kau sengaja, ‘kan? atau jangan-jangan, keadaan buruk ini akibat ulah ramuan yang kau oleskan itu!” tuding Alivia.

“Aku tidak seburuk pemikiranmu, ibu mertua! Jika aku ingin dia tiada, kubiarkan dia tiada sejak awal kami bertemu,” balas Kaluna.

“Halah! Aku heran dengan begitu banyak peranmu itu. Awalnya kau menjadi seorang desainer baju pengantinmu sendiri, lalu menjadi penyihir hutan yang menjinakkan angsa-angsa liar. Sekarang, kau tergerak untuk menjadi ahli medis juga, ya?” cibir Alivia lagi.

“Sudah cukup, Alivia! Keluar, jika hanya membuat keributan! Nak Kaluna, Oma tahu, ini kesalahan Oma. Tapi… kumohon, bisakan Andrian pulih?” sela Maulidah yang tadinya sangat keras, sekarang melemah.

“Oma tenanglah, obat ini hanyalah campuran beberapa rempah tradisional yang mengandung konsentrasi tinggi,” ujar Kaluna.

Aku meraciknya dengan kurkumin untuk detoksifikasi hati, linalool untuk menenangkan sistem saraf, dan senyawa asam dari basil tua yang secara kimiawi akan menetralkan molekul toksin di aliran darah. Keberhasilan kita terletak pada dosis dan rasio yang sangat tepat,” jelas Kaluna.

Beberapa menit kemudian, ketegangan memuncak. Dr. Surya, dokter pribadi keluarga, tiba dengan tergesa-gesa. Dia segera memeriksa luka Andrian.

Maulidah memegang tangan Kaluan penuh harapan. Alivia, Martin dan Leon berdiri tegang, mengawasi setiap gerak dokter.

Setelah memeriksa luka, pergelangan tangan, dan denyut nadi Andrian, Dr. Surya mendongak dengan ekspresi terkejut, namun penuh pujian.

"Tuan Muda Andrian sangat, sangat beruntung," kata Dr. Surya sambil menggelengkan kepala.

"Beruntung bagaimana, Dokter?" tanya Maulidah, suaranya tercekat.

"Tuan Muda tidak drop karena luka tusuk yang dalam ini, dan juga tidak kehilangan nyawa karena racun bereaksi cepat, jarang sekali ada pasien yang selamat dari racun mematikan ini," jelas Dr. Surya.

"Nyonya Maulidah... Siapa pun yang menangani luka ini, dia telah menanganinya dengan benar dan sangat cepat. Luka ini telah dibersihkan dari racun dengan penawar yang luar biasa manjur," imbuhnya.

Dokter itu menatap Kaluna dengan tatapan tidak percaya.

“Dia Kaluna, istri Tuan Muda. Dia juga yang merawat luka Tuan Muda sebelum kau datang, Dokter,” ujar Maulidah yang langsung berdiri di belakang Kaluna dan meletakkan kedua tangannya di bahu Kaluna.

Dr. Surya menatap Kaluna dengan rasa kagum.

"Nyonya Kaluna, saya harus memuji Anda. Jarang sekali ada yang bisa meracik penawar racun seampuh ini di era modern. Apalagi, di saat-saat mendesak seperti ini. Tuan Muda hanya perlu waktu untuk beristirahat, dia akan kembali sadar.” Dr. Surya terus tersenyum kagum.

Maulidah tersenyut, senyumnya kali ini adalah senyum lega, bahagia, dan penuh kebanggaan yang tulus. Dia menatap Kaluna, air mata menggenang di matanya. Dia segera membenamkan kepala Kaluna ke dadanya.

“Saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, Nyonya Mulidah. Sekali lagi, saya tidak tahu bagaimana caranya untuk memujimu, Nyonya, tapi… yang jelas, Anda telah menyelamatkan nyawanya," ujar Dr. Surya lagi.

"Kaluna, cucuku mendapatkan pasangan yang luar biasa sepertimu. Aku tidak akan khawatir lagi," bisik Maulidah.

"Gadis ini benar-benar akan membawa perubahan bagi Cassavanos. Dia bukan hanya telah memberikan penawar racun pada Andrian, tapi juga akan memberikan penawar api dendam di dada Andrian. Kau adalah kedamaian kami, Kaluna," bisik Maulidah di dalam hatinya.

Di sisi lain ruangan, Alivia bergedik kesal. Rasa benci dan frustrasinya meluap.

Lagi-lagi, Kaluna yang dia anggap lemah dan tidak berdaya, malah beberapa kali lipat lebih kuat pertahanannya.

Lagi-lagi, Alivia mengalami kekalahan karena tindakan Kaluna yang tidak terbaca olehnya sebelumnya. Rencana untuk menyingkirkan Kaluna dengan racun atau hukuman, kini justru membuat Kaluna menjadi pahlawan di mata Maulidah.