“Aku tak pernah tahu kau memiliki tempat seperti ini.”
Langkah Aurora pelan, sedikit gelisah ketika menjejakkan kaki di halaman basah yang penuh dengan rumput liar. Kakinya bahkan sampai berjinjit beberapa kali untuk menghindari genangan air. Kael di depannya tampak tak terpengaruh dengan hal itu, seakan ia telah seringkali datang ke tempat ini.
“Aku tak pernah memilikinya.” Kael mendorong pintu kayu dengan banyak goresan di bagian bawah. Entah apa yang telah terjadi sebelumnya, sedangkan cat di bagian atas telah sedikit mengelupas. “Dan aku baru sekali ini datang ke tempat ini.”
“Lalu?” Aurora mengerutkan kening, masih mengikuti Kael dengan penuh pertanyaan. “Kau menerobos masuk begitu saja? Aku tidak tahu kau memiliki attitude yang jelek, Husband.”
Kael menyibak kain putih yang menutup seluruh perabot di dalam. Cukup mengejutkan ketika situasi di dalam lebih terlihat… manusiawi. “Dan aku sudah menyangka jika kau selalu protes dengan semua hal yang baru kau hadapi, My Dear.”
Dengusan kasar lolos dari Aurora. Tangannya kini ikut sibuk memungut kain putih yang dibiarkan teronggok di lantai oleh suaminya. “Kael, please… kau tidak perlu sejauh ini untuk menjauhkanku dari bahaya. Pindah tempat bukan solusi yang tepat. Kau tahu itu, kan?”
“Setidaknya kau aman untuk beberapa saat di sini, Rora. Tempat ini milik orang tua Luther. Keberadaannya tidak pernah terendus oleh keluarga Vireaux. Yang artinya, Bastien tidak akan tahu tempat ini.”
Aurora tak bisa mengabaikan nada frustrasi pria itu saat menjelaskan. Jelas ia tahu semua hal yang dilakukan Kael saat ini adalah untuk menjauhkannya dari semua rencana busuk Bastien. Namun, orang yang memiliki pikiran jahat akan terus mencari jalan dan celah untuk melumpuhkan mangsanya.
Dan dalam situasi ini, Kael dan Aurora adalah target utama.
“Tidak tahu bukan berarti tidak bisa menemukan tempat ini. Aku kira kau lebih cerdas dariku untuk membaca bagaimana pamanmu itu bisa melakukan semua hal demi meloloskan keinginannya—termasuk membunuhku.”
Kael berbalik, kedua tangannya menekan lengan atas Aurora dengan erat. Detik itu, Aurora menyadari jika ia telah salah mengucapkan kata. Tak seharusnya ia mengucap dengan santai tentang situasi yang berniat untuk melenyapkan nyawanya.
“Tak ada yang akan membunuhmu, dan Bastien tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan. Akan kupastikan itu, Rora, dengan sepenuhnya diriku.” Ucapan Kael mencapai final. Aurora tak berani untuk mendebatnya lagi, terlebih ketika sorot tajam, dingin, dan mematikan itu berhasil menusuk pandangannya.
“Ok, fine… I apologize, okay? Aku akan diam di sini, membersihkan tempat ini tanpa mengeluh dan… hei! Mungkin kita bisa menemukan harta karun peninggalan keluarga Luther di sini.” Nada ceria dari Aurora jelas sekali sedang dipaksakan.
Kael menunduk. Dalam topeng tegas yang menjadi harga diri Kael Vireaux, Aurora bisa merasakan kerapuhan yang tak lagi disembunyikan di hadapannya. “Berhentilah bersikap bahwa semua ini terasa santai dan baik-baik saja untukmu, Rora. Please… kau bebas untuk memperlihatkan rasa takutmu.”
Aurora tersenyum. Tanpa aba-aba dan sepatah kata pun ucapan, ia menenggelamkan tubuhnya pada pelukan Kael. Pria itu menegang sejenak, tapi segera membalas pelukan dengan mendekap erat tubuh istrinya itu.
“Dan kau, Husband… berhentilah bersikap seakan aku makhluk paling rapuh sedunia. Aku takut… jelas. Tapi bukan berarti aku akan menunjukkan rasa panikku setiap saat, setiap detik. Nope, aku bukan wanita seperti itu. Aku kuat, lebih kuat dari yang bisa kau bayangkan.” Aurora mengusap lembut punggung Kael. “Dan karena alasan itulah aku bisa menjadi istri dari seorang Kael Vireaux, right?”
Bahu yang tegang, kini sedikit mengendur. Kael menarik napas dalam-dalam, membiarkan rasa hangat dari pelukan Aurora menyusup perlahan, meringankan rasa khawatir yang berlebihan. “Kau benar. Hanya kau yang mampu menjadi istriku. Tapi, izinkan aku untuk menunjukkan rasa khawatirku padamu.”
“Aku mengizinkan. Tapi jangan berlebihan.” Aurora melepas pelukannya, menatap lekat-lekat wajah pria yang beberapa waktu lalu masih menjadi musuh terbesarnya. Dan kini dengan anehnya, menjadi seorang yang paling berharga untuknya.
“Ok, I accepted.” Kael menunduk, menautkan bibirnya tanpa permisi.
Tangan Aurora terangkat, mengalung erat pada leher Kael dan sedikit berjinjit untuk membalasnya. Gerakan pelan itu membuat Kael memutuskan untuk mengangkat tubuh ringan Aurora dan mendudukkannya di atas meja tanpa melepaskan sesapan candunya. Sentuhan Kael pada tiap lekuk wajah, usapan lembut Aurora yang menjelajah dada bidang Kael, kembali mengobarkan bara yang tak mampu mereka tahan.
Erat, perlahan, saling mendekap. Sampai…
“Tuan, semua barang yang ada di mobil telah kuletakkan di depan.” Suara berat Luther dalam sekejap menjadi jarak di antara mereka. Keduanya saling mengerjap saat pria itu memasuki pintu utama villa.
Luther terdiam sejenak saat merasakan kecanggungan yang kentara. “Dan… aku akan segera pergi. Semua hal sudah kuurus. Tidak akan ada yang tahu kalian di sini untuk sementara waktu. Tapi aku tidak menjamin untuk hari-hari selanjutnya, kita tahu Bastien Vireaux terlalu jeli untuk membaca situasi.”
Kael mengusap belakang lehernya. “Ya… ya… kau benar. Aku menghargai bantuanmu ini, Luther. Kami akan baik-baik saja di sini.”
Aurora terkekeh pelan, ia bahkan tak ada niat untuk turun dari atas meja. Dan posisinya saat ini, jelas membuat Luther menahan senyum.
“Very well, Tuan. Aku akan pergi sekarang. Aku akan terus memberi kabar untuk pergerakan Bastien.” Luther mengangguk, lalu berbalik cepat.
“Kau tidak mau tinggal sebentar untuk makan malam?” tanya Aurora, sambil menyunggingkan senyum lugunya.
Luther kembali menoleh, lalu terkekeh dan menggelengkan kepala. “Kalian harus menikmati waktu berdua untuk malam pertama di villa ini. Di halaman belakang, suasananya sangat cantik menjelang senja.”
“Baiklah, kami akan melihatnya nanti. Thanks, Luther,” ucap Aurora lagi.
Luther mengangguk, lalu tersenyum dan benar-benar pergi. deruman halus mobilnya menjauh, Aurora menatap Kael dan keduanya tertawa bersama.
“Oh, God. Kita seperti anak sekolah yang ketahuan sedang melakukan hal terlarang oleh orang tua kita.” Aurora menyibak rambutnya. Rona wajahnya memerah, menyadari bahwa kini hanya ada mereka berdua di tempat ini.
Sementara Kael, ia merasakan situasi yang sangat baru baginya. Tertawa lepas seperti ini bukanlah bagian dari dirinya. Banyak hal yang telah berubah semenjak Aurora berada di sisinya. Dan semua perubahan itu, membuatnya merasa menjadi lebih sedikit… normal.
“Kau bahkan tetap duduk di atas sana, Rora.” Sisa tawa masih terdengar dari pria itu.
Aurora kini tersenyum, matanya lembut memandang Kael yang kembali mendekat. Kedua tangannya mengukung tubuh Aurora yang tetap duduk di pinggir meja. “Baru kali ini aku melihatmu tertawa lepas seperti ini, Husband.”
Kael terdiam, sudut bibirnya masih melengkung. Tatapannya dalam, menyusuri wajah sang istri yang masih berbicara.
“Aku menyukainya. Kau terlihat lebih tampan saat tidak menahan perasaanmu.” Aurora melanjutkan.
Wajah Kael mendekat, mengecup lembut sebelah pipi Aurora sambil menarik pinggang wanita itu dan merengkuhnya mendekat. Tanpa sadar Aurora mendesah, semakin mengaburkan batas ego sang Tuan Vireaux.
“Dan aku tidak akan menahan untuk yang satu ini juga, Rora. Kau benar-benar milikku sekarang.” Suara itu… semakin dalam, dan berakhir hanya dengan sesapan tanpa jeda.