Detoksifikasi Hati

Penulis Yoonna
29 October 2025

Ketika Dokter Surya masih memberikan instruksi terakhir kepada Maulidah tentang perawatan Andrian, Leon bergerak diam-diam.

Dengan anggukan persetujuan dari Kaluna, Leon tahu prioritasnya telah bergeser dari pertolongan pertama menjadi penuntutan balas.

Leon melangkah keluar dari kamar, meninggalkan hiruk pikuk emosional di belakangnya. Di luar pintu, dia segera menekan earpiece di telinganya.

"Segera mulai operasi pencarian! Subjek utama adalah pelayan yang bertugas di tangga utama malam ini," perintah Leon, suaranya kembali dingin dan profesional.

"Gunakan semua sumber daya, mulai dari rekaman CCTV gerbang hingga pelacakan panggilan telepon di area itu. Cari tahu siapa yang membiayai dan siapa yang mempekerjakan pelayan itu," ujar Leon sebelum kembali menekan earpiece-nya.

Leon berjalan cepat menyusuri lorong. Pikirannya dipenuhi rasa bersalah yang menusuk. Belati itu miliknya, racun itu miliknya. Dia telah melukai tuannya sendiri. Penyesalan itu diubah menjadi fokus yang mematikan.

Dia berhenti di tengah tangga.

"Sabotase listrik, jebakan di Perpustakaan Timur, dan pelayan yang melarikan diri. Dan sekarang, Tuan Muda terluka karena belatiku yang mengandung racun. Aaarrghh! Kenapa kekacauan selalu terjadi belakangan ini?" gumam Leon pada dirinya sendiri.

Kaluna yang sedang dalam perjalanan kembali ke kamar utama, tidak sengaja melihat pemandangan di ruang keluarga dari balik pilar tengah.

Maulidah terlihat berbicara serius dengan Dokter Surya, sementara Alivia masih memancarkan aura kegagalan yang pahit bersama Rayyan masih berada di ruangan yang lain.

Tiba-tiba, Alivia mengalihkan perhatian Kaluna dengan memaki putranya itu.

“Diam! Siapa suruh kau berbicara. Atas semua tindakanmu selama ini, aku membebaskanmu, Rayyan. Tapi untuk Kaluna, aku akan mengutukmu jika kau terus membicarakannya!” bentak Alivia.

Kaluna mencurigai sifat Rayyan yang langsung meringkuk. Ekspresi wajah Rayyan bukan sekadar ketakutan seorang anak yang dimarahi ibu.

Itu adalah ketakutan yang jauh lebih dalam, sebuah teror yang memicu respons defensif.

Rayyan terlihat menunjukkan trauma yang dalam terhadap ibunya sendiri, seolah takut pada ancaman yang mungkin bisa mencelakainya kapan saja.

“Rayyan terlihat sangat menghindari kontak fisik dengan ibunya, ada apa ini? Rayyan seperti korban yang ditahan. Ada yang jauh lebih gelap di balik hubungan mereka,” batin Kaluna.

Kaluna bertekad untuk menyelidikinya nanti. Dia memutuskan untuk tidak mengganggu adegan itu dan melanjutkan perjalanannya.

Tak lama setelah insiden itu, Maulidah berbalik dan melihat Kaluna berdiri di dekat pintu, membawa wadah air hangat. Maulidah segera menghampirinya, wajahnya kini menunjukkan kombinasi kelegaan dan kelembutan.

"Nak Kaluna, apa yang kau lakukan di sini? Kau seharusnya beristirahat," tanya Maulidah, suaranya kini hangat.

"Saya hanya mengambil air hangat untuk Tuan Sugara, Oma. Saya ingin membersihkan lukanya lagi dan memastikan suhu tubuhnya stabil." Kaluna tersenyum tipis, memegang wadah air hangat itu erat-erat.

Maulidah memegang lengan Kaluna dengan kasih sayang.

"Andrian sangat beruntung memilikimu. Pergilah, Nak. Jaga dia baik-baik. Semua urusan di rumah ini, biarlah Oma yang atur."

Kaluna mengangguk, merasakan dukungan yang tulus dari Maulidah. Dengan tekad yang baru dan misi rahasia untuk mengungkap trauma Rayyan, Kaluna kembali ke kamar utama, tempat Andrian terbaring.

Kaluna melangkah masuk ke kamar utama. Udara di dalam kamar terasa hening dan berat. Andrian masih tertidur pulas di ranjang besar, wajahnya yang biasanya kaku dan penuh perhitungan kini terlihat tenang dan damai.

Dia mendekat, duduk perlahan di sebelah tempat tidur. Sambil memandanginya, Kaluna merasakan gelombang kelegaan.

“Kenapa kau sampai terluka seperti ini, Tuan Sugara?” Dia meraih tangan Andrian yang terbalut rapi, lalu mengusap lembut area di sekitar lukanya.

“Ah, aku akan bertanya padamu nanti. Yang terpenting saat ini adalah buka matamu dulu, sadarlah, Mesin Pendinginku. Hanya itu yang saat ini aku harapkan,” sambung Kaluna.

Dia menggenggam tangan Andrian erat-erat, menyalurkan kehangatan dan kekuatannya. Lantunan denting jam malam memaksa mata berat Kaluna untuk tertidur. Perlahan, Kaluna mulai tenggelam dalam tidurnya.

Saat pagi menjelang, tiba-tiba, Kaluna merasakan jari Andrian bergerak di bawah pipinya, dalam genggamannya tangannya.

“Aaarrgghh…” Andrian mengerang pelan, kelopak matanya bergetar.

Andrian perlahan membuka matanya. Pandangannya buram sesaat, lalu fokus pada langit-langit kamar yang familier. Dia merasakan nyeri yang tumpul di tangan kanannya dan ada kehangatan yang lembut di tangan kirinya.

Dia menoleh. Wajah Kaluna yang sembab dan penuh khawatir adalah hal pertama yang dilihatnya. Dia duduk sangat dekat dengannya, memegang tangannya seolah takut dia akan menghilang.

"Kaluna," bisik Andrian, suaranya parau.

Kaluna terbangun dari tidurnya dan tersentak. Dia langsung bangkit dan mencondongkan tubuhnya. Air mata yang sudah susah payah ia tahan, kembali menggenang.

"Tuan Sugara! Kau sadar," ucap Kaluna, lega.

Andrian tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus, tanpa ada kepura-puraan atau arogansi.

"Kepalaku masih sedikit sakit. Maaf… aku membangunkanmu," ujar Andrian pelan.

Dia merasakan cengkeraman Kaluna di tangannya. Andrian mengusap punggung tangan Kaluna dengan ibu jarinya yang lemah.

"Maaf, aku tidak bermaksud…" ujar Kaluna sembari menarik lembut tangannya.

Andrian menahan lembut tarikan Kaluna. "Jangan, jangan lepaskan. Biarkan saja seperti ini," bisiknya, matanya yang lelah memohon.

Kaluna membiarkan tangannya tetap di tempatnya, menatap Andrian dengan mata penuh penyesalan.

“Apa yang terjadi padamu, Tuan Sugara?” tanya Kaluna dengan hati-hati.

Andrian mengangkat tangannya yang terluka. "Kau memecahkan warisan leluhur Cassavanos, Oma berkata akan menghukummu dengan mematahkan jari-jarimu, sebagai penebusan untuk vas itu. Tapi aku..."

Kaluna tersentak. Mematahkan jari-jari? Ancaman itu lebih buruk dari yang bisa dia bayangkan.

"Aku bilang padanya, bahwa aku yang membawamu ke rumah ini. Aku yang akan menanggungnya," lanjut Andrian, suaranya sedikit bergetar karena emosi dan rasa sakit.

Andrian mencoba tersenyum, meski gagal.

Kaluna membeku. Andrian bukan lagi Tuan Sugara yang berjarak dengannya, dia adalah seorang suami yang secara brutal mempertaruhkan dirinya demi keselamatannya.

"Kenapa... kenapa kau melakukan hal gila ini?" bisik Kaluna, air mata menggenang di matanya, kini bukan karena ketakutan, tetapi karena rasa sakit yang dia lihat di mata Andrian.

"Karena aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu," jawab Andrian.

Kaluna menggeleng tegas. Dia mengangkat tangannya yang bebas, meletakkannya di pipi Andrian. Kehangatan kulitnya menenangkan Andrian.

Wajah Kaluna yang semula penuh tekad kini kembali menunjukkan kerentanan dan ketakutan yang baru saja dia rasakan.

"Mengapa kau bertindak tanpa berpikir, Tuan Sugara? Kau tahu? Kau hampir mati karena hal ini," ucap Kaluna, suaranya tercekat oleh emosi.

"Kau tahu betapa takutnya aku? Bagaimana jika kau tidak bangun lagi, apa yang harus kulakukan setelahnya? Kau sama sekali tidak memikirkan itu," keluh Kaluna.

Air mata Kaluna kembali menetes. Bukan karena dirinya sendiri, melainkan ada hal lain yang tanpa dia sadari. Itu karena rasa takut kehilangan Andrian.

Andrian memejamkan mata sejenak, menahan rasa nyeri di tangannya. Kekhawatiran Kaluna terasa lebih nyata dan berharga daripada semua kekayaan Cassavanos.

Andrian meraih tangan Kaluna yang menangkup pipinya, membalas sentuhannya.

"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Andrian pelan.

Bukan sebagai pertanyaan, melainkan sebagai penegasan yang penuh kelegaan. Dia menatap dalam-dalam mata Kaluna, berusaha mencari kebenaran mutlak di sana.

"Apakah kau juga mengkhawatirkanku... seperti aku mengkhawatirkanmu?" ulang Andrian sekali lagi.

Suaranya sangat rendah dan rapuh, mencerminkan kejujuran yang langka. Ini adalah pertama kalinya dia meletakkan ego dan kekuasaannya, meminta validasi dari istrinya.

Kaluna tidak bisa menahan diri lagi. Rasa marah, takut, dan syoknya hancur menjadi gelombang emosi yang murni. Dia mendorong tubuhnya ke dalam pelukan Andrian yang erat, takut jika dia melepaskan, pria itu akan hancur berkeping-keping.

"Jangan pernah lakukan ini lagi," bisik Kaluna di bahu Andrian, air matanya membasahi jas Andrian.

Andrian membalas perlukannya erat dengan tangan kirinya. Rasa sakit fisik di tangan kanannya terasa jauh lebih ringan dibandingkan dengan kehangatan yang kini dia rasakan.

Dia telah mendapatkan waktu untuk memenangkan kembali hati Kaluna.

Senyum tulus kembali terukir di wajah Andrian, senyum yang mencapai matanya. Luka di tangannya tidak lagi terasa menyakitkan.