Diandra meraih lengan Arsen, mencengkeramnya erat. "Dia melarikan diri dari kita. Dia mencabut infusnya sendiri. Dia berdarah. Dia sedang hamil dan lemah. Kita harus menemukannya."
Kepala Arsen terasa berputar. "CCTV! Kita harus periksa CCTV!" teriaknya pada satpam. "Tutup semua pintu keluar! Cek setiap mobil yang meninggalkan area parkir!"
"Pak, tenang dulu, Pak," kata satpam itu, berusaha menahan gerakan Arsen tanpa menyentuh. "Kejadiannya mungkin sudah lebih dari dua puluh menit yang lalu, kemungkinan besar istri bapak sudah berada di luar."
"Kalau begitu jangan diam saja! Panggil kepala keamananmu! Aku mau lihat semua rekaman CCTV sekarang juga!" bentak Arsen, otoritas dalam suaranya tak terbantahkan.
Satpam itu mengangguk kaku dan segera berbicara di radionya.
Arsen berbalik menghadap Diandra, wajahnya hancur oleh rasa bersalah. "Ini salahku."
"Sen, jangan..."
"INI SALAHKU, DI!" raungnya, suaranya pecah. Ia memukul dinding dengan kepalan tangannya, tidak peduli pada rasa sakit. "Kebohonganku! Aku yang membuatnya lari! Aku bilang itu nikah siri! Dia pasti mengira aku membohonginya! Dia pasti mengira ... Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan?"
"Kamu mencoba melindunginya!" balas Diandra, mengguncang bahu Arsen untuk menyadarkannya. "Kita berdua mencoba melindunginya! Kita salah, oke? Kita salah besar! Tapi menyalahkan dirimu sendiri di koridor ini tidak akan membawanya kembali!"
"Lalu aku harus bagaimana?!"
"Berpikir!" sergah Diandra. "Jadilah suaminya! Hubungi papamu. Beliau punya koneksi. Beliau bisa membantu melacaknya lebih cepat daripada yang bisa kita lakukan. Hubungi dia. Sekarang!"
Tangan Arsen gemetar saat ia mengeluarkan ponselnya. Ia menekan panggilan cepat untuk ayahnya.
"Pak..." suaranya tercekat. "Pak... Emma... Emma hilang. Dia kabur dari rumah sakit."
Terdengar keheningan sesaat di seberang, diikuti oleh suara tegas Pak Wijaya. "Apa maksudmu hilang? Tenang, Arsen. Jelaskan pelan-pelan."
"Dia mencabut infusnya. Dia mengganti pakaiannya. Dia mematikan ponselnya. Dia pergi. Pak, dia pergi karena aku... aku berbohong padanya..."
"Berbohong soal apa?! Tidak penting sekarang!" potong Pak Wijaya. "Dengarkan Papa. Papa akan mengerahkan orang-orang Papa. Papa akan hubungi tim pelacak. Jangan ke mana-mana dari rumah sakit. Amankan rekaman CCTV. Cari tahu dia pergi naik apa. Papa akan segera ke sana."
Panggilan itu berakhir. Arsen bersandar di dinding, kakinya terasa lemas. "Papa akan ke sini. Mereka akan melacaknya."
"Bagus," kata Diandra, pikirannya bekerja cepat. "Sekarang kita ke ruang CCTV."
Sementara itu, taksi yang ditumpangi Emma melaju membelah malam. Setiap lampu merah, setiap klakson, membuat jantungnya meloncat ke tenggorokan. Ia terus menunduk, menarik topi Erlan lebih rendah, takut jika tiba-tiba di persimpangan berikutnya mobil Arsen akan muncul di sampingnya.
Perjalanan dari rumah sakit mewah di pusat kota ke lingkungan lamanya di pinggiran terasa seperti perjalanan melintasi dua dunia. Gedung-gedung pencakar langit yang berkilauan perlahan digantikan oleh ruko-ruko yang catnya memudar, jalanan yang tadinya lebar kini menyempit dan berlubang.
"Sudah sampai pertigaan toko kue, Mbak," kata sopir taksi, membuyarkan lamunan paniknya.
"Turunkan saya di depan sana saja, Pak. Dekat gang kecil itu," ucap Emma, suaranya teredam masker.
Taksi menepi. Emma menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu. "Ambil saja kembaliannya, Pak."
Ia keluar dari taksi dan langsung berjalan cepat masuk ke dalam gang yang gelap. Ia tidak menoleh ke belakang. Setelah taksi itu menghilang, ia memperlambat langkahnya, bersandar di dinding, mengatur napasnya yang pendek dan menyakitkan. Perutnya terasa kram, dan bekas infusnya berdenyut perih.
Ia berada di wilayah yang ia kenal, namun terasa begitu asing. Rumah masa kecilnya sudah tidak ada, berganti menjadi sebuah minimarket. Tapi tujuannya bukan di sana. Ia berjalan dua blok lagi, menuju jalan yang lebih kecil dan lebih gelap.
Di sanalah hotel itu berdiri. "HOTEL BUNGA KERTAS". Papan namanya yang pudar hanya menyala di beberapa huruf, berkedip-kedip seolah sekarat. Bangunannya tua, berlantai dua, dengan cat krem yang sudah mengelupas di mana-mana.
Ini adalah tempat yang sempurna untuk bersembunyi. Tidak ada yang akan mencarinya di sini. Nyonya Wijaya yang baru saja menikah dengan mas kawin triliunan, kini berdiri di depan sebuah hotel melati yang tarif per malamnya mungkin tidak lebih dari harga secangkir kopi di restoran rumah sakit. Ironi itu terasa pahit.
Ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, dan melangkah masuk.
Area lobi berbau rokok dan pengap. Seorang pria paruh baya yang kurus dengan kaus singlet kotor duduk di belakang meja resepsionis, matanya terpaku pada televisi tabung tua yang menyiarkan pertandingan bola.
Pria itu melirik Emma dari atas ke bawah saat ia mendekat. Tatapannya penuh selidik, melihat masker dan topi yang menutupi tamunya.
"Ya, Mbak?" tanyanya, suaranya serak.
"Saya... saya mau pesan kamar. Untuk satu malam," kata Emma, berusaha agar suaranya tidak gemetar.
Pria itu menguap lebar. "Sendirian, Mbak? Tengah malam begini?"
"Saya baru dari luar kota. Ketinggalan bus terakhir," bohong Emma. "Saya hanya butuh istirahat."
"Boleh lihat KTP-nya?"
Jantung Emma berdebar. KTP. Tentu saja. Itu akan mencatat namanya. "Dompet saya... sepertinya ketinggalan di bus, Pak," katanya, kebohongan lain menyusul. "Saya hanya bawa uang tunai. Ini," ia mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu dari sakunya. "Tolong, Pak. Saya sangat lelah. Ini saja tidak cukup untuk satu malam? Tanpa KTP?"
Pria itu menatap uang di tangan Emma, lalu kembali menatap wajahnya yang tertutup. Di tempat seperti ini, uang tunai seringkali lebih penting daripada identitas. Ia mengambil uang itu dengan gerakan cepat.
"Standar, kipas angin. Kamar 207. Di atas," katanya, menyerahkan sebuah kunci kuno dengan gantungan kayu besar. "Jangan berisik."
"Terima kasih," bisik Emma.
Ia menaiki tangga kayu yang berderit di setiap langkah. Koridor di lantai dua remang-remang, beraroma lembap. Ia menemukan kamar 207 di ujung. Memasukkan kunci ke lubang, pintu terbuka dengan engsel yang berdecit memilukan.
Ia masuk dan langsung mengunci pintu dari dalam, menggeser gerendel besinya hingga berbunyi klik keras.
Ruangan itu persis seperti yang ia duga. Kecil, pengap, dengan satu tempat tidur beralas seprai yang warnanya meragukan, sebuah lemari reyot, dan kipas angin di langit-langit yang berputar pelan dengan suara berisik. Kamar mandi di dalamnya berbau karbol yang menyengat.
Ini adalah penjara barunya. Sebuah penjara yang ia pilih sendiri.
Emma melempar tasnya ke lantai. Topi dan maskernya ia lepaskan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin retak di atas wastafel. Wajahnya pucat pasi, matanya membelalak karena ketakutan dan kelelahan. Ia adalah seorang pengantin yang kabur. Seorang istri yang membohongi suaminya. Seorang adik yang sedang mempertaruhkan segalanya untuk kakaknya.
Ia duduk di tepi ranjang yang berderit. Keheningan di ruangan itu dipecahkan oleh suara-suara dari luar—tawa kasar, deru motor, musik dangdut dari kamar sebelah. Ia sendirian. Benar-benar sendirian.
Tiba-tiba, sebuah kesadaran menghantamnya. Bagaimana mereka akan menghubungiku?
Pikirannya berputar. Mereka bilang 'gaun akan diantar'. Ke mana? Ke rumah sakit?
Tentu saja ke rumah sakit! Mereka tidak tahu aku kabur!
Panik kembali menjalari dirinya. Apa yang sudah kulakukan?
Apa aku baru saja mengacaukan rencana mereka? Apa aku baru saja membunuh kakakku?
Ia merogoh tasnya, tangannya gemetar hebat saat menyentuh ponselnya yang dingin dan mati. Satu kata saja pada suamimu...
Ia tidak berkata pada siapa pun. Tapi ia melarikan diri. Apakah itu melanggar aturan?
Ia tidak punya pilihan. Ia harus memberi tahu mereka bahwa ia ada di sini. Ia harus memberi tahu mereka bahwa ia masih 'bermain'. Tapi bagaimana? Ia tidak punya nomor mereka.
Satu-satunya harapan dan satu-satunya jembatan antara dirinya dan para penculik adalah ponsel ini. Mereka pasti akan mencoba menghubunginya ketika 'gaun' itu tidak bisa diantar. Mereka pasti akan meneleponnya.
Dan bagaimana dengan Arsen? Tim pelacak mereka pasti sedang berusaha melacak sinyalnya.
Ini adalah sebuah dilema yang mematikan. Jika ia menyalakan ponselnya, Arsen bisa menemukannya. Jika ia membiarkannya mati, para penculik tidak bisa menemukannya, dan Erlan akan-