Tidak. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Ia harus mengambil risiko. Ia harus menyalakan ponselnya.
Dengan napas tertahan, ia menekan tombol power. Layar itu menyala, logo 'booting' berputar pelan. Baginya, itu bukan logo selamat datang. Itu adalah suar yang baru saja ia nyalakan di tengah lautan gelap, suar yang akan menarik kedua pihak—para penyelamat dan para predator—langsung ke arahnya.
"Saya menemukannya, Pak!"
Suara satpam itu memecah ketegangan di ruang CCTV rumah sakit. Arsen dan Diandra, yang sejak tadi menatap monitor dengan mata perih, langsung bergegas ke arahnya.
"Mana?!" tanya Arsen tidak sabar.
Satpam itu memutar ulang rekaman dari kamera di dekat tangga darurat B. "Ini, Pak. Pukul 20:14."
Di layar, sesosok figur yang mengenakan celana gelap, kaus gelap, masker, dan topi baseball terlihat keluar dari pintu tangga darurat. Sosok itu berjalan cepat, menunduk, terlihat gugup.
"Itu dia!" seru Diandra. "Itu topi Erlan!"
"Ikuti dia!" perintah Arsen. "Kamera mana lagi yang menangkapnya?"
Satpam itu berganti-ganti layar, mengikuti jejak Emma yang bergerak cepat melintasi koridor servis, menuju pintu keluar samping.
"Dan ini, Pak," kata satpam itu, beralih ke kamera di gerbang depan. "Pukul 20:19. Dia naik taksi."
Kamera itu menyorot dari jarak jauh, gambarnya agak berbintik. Tapi cukup jelas. Sosok itu membuka pintu taksi Blue Bird.
"Nomor lambungnya!" desak Arsen. "Kau bisa lihat nomor lambungnya?"
Satpam itu memperbesar gambar. "Kualitasnya pecah, Pak. Tapi ... sepertinya, 82 ... 8211. Ya, sepertinya B 1945 UJD, Blue Bird 8211."
Arsen langsung meraih ponselnya. Ia tidak menelepon ayahnya. Ia menelepon seseorang yang ia tahu bisa bergerak lebih cepat di lapangan.
"Bram," katanya begitu panggilan tersambung. "Aku butuh bantuanmu. Sekarang juga. Aku mau kau lacak taksi Blue Bird, nomor lambung 8211. Dia menjemput seorang wanita di Rumah Sakit Medika Premiere sekitar dua puluh lima menit yang lalu. Wanita itu adalah Emma. Dia istriku."
Ia berhenti sejenak, mendengarkan.
"Aku tidak peduli bagaimana caramu. Retas sistem GPS mereka, hubungi kantor pusatnya, tawarkan uang. Aku mau tahu di mana taksi itu menurunkannya. Segera!"
Arsen menutup telepon. Ia menatap Diandra, matanya menyala dengan kobaran api yang baru, campuran antara rasa bersalah yang membakar dan tekad yang dingin.
"Dia sengaja menghindari kita di koridor. Dia melihat kita," kata Diandra pelan, menyadari apa yang terjadi saat melihat rekaman di dekat lift. "Ya Tuhan, Sen ... dia benar-benar melarikan diri dari kita."
Arsen mengepalkan tangannya. "Dia melarikan diri karena dia ketakutan. Dan aku yang menaruh ketakutan itu di hatinya." Ia berbalik, berjalan cepat keluar dari ruang CCTV.
"Sen, mau ke mana?!" teriak Diandra, berlari mengejarnya.
"Menunggunya di mobil!" balas Arsen. "Begitu Bram menelepon balik dengan lokasinya, aku tidak akan membuang satu detik pun.
Di dalam mobil Mercedes-Benz S-Class yang terparkir di area VVIP rumah sakit, keheningan terasa lebih memekakkan daripada kebisingan di ruang gawat darurat.
Arsen duduk kaku di balik kemudi, tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Diandra duduk di kursi penumpang, matanya terpaku pada layar ponselnya, me-refresh log panggilannya tanpa tujuan.
"Dia bisa saja sudah jauh," bisik Diandra, lebih pada dirinya sendiri.
"Dia tidak jauh." Suara Arsen terdengar serak, sebuah getaran rendah penuh amarah dan rasa bersalah yang tertahan. "Dia ketakutan. Orang yang ketakutan tidak akan pergi jauh. Mereka bersembunyi."
"Bersembunyi dari kita, Sen?" tanya Diandra, akhirnya menoleh menatapnya. "seperti itukah kita sekarang di matanya? Ancaman?"
Arsen memejamkan matanya, pukulan kata-kata Diandra terasa telak. "Aku bilang itu nikah siri. Aku merendahkan janji yang kuucapkan di depan Tuhan, di depan keluargaku. Dan aku melakukannya dengan sangat meyakinkan."
"Kau mencoba-"
"Aku mencoba apa, Di?" potongnya, suaranya meninggi. "Melindunginya? Dengan kebohongan? Aku melihatnya kabur di rekaman CCTV itu. Dia mencabut infusnya sendiri. Dia berdarah! Dia mengorbankan kesehatannya, kesehatan anak kami, hanya untuk lari dariku!"
Arsen menundukkan kepalanya, membenturkannya pelan ke setir. "Aku seharusnya memberitahunya yang sebenarnya. Aku seharusnya bilang, 'Iya, ini sah. Ini nyata. Aku memberimu semua sahamku. Kau aman. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.' Aku seharusnya begitu."
"Dan dia akan histeris," sahut Diandra logis. "Dan dia akan tahu bahwa kita juga berbohong tentang rencana awal. Tidak ada jalan yang mudah di sini, Sen."
Sebelum Arsen bisa menjawab, ponselnya yang terhubung ke dasbor mobil berdering nyaring, menampilkan nama 'Bram'. Arsen langsung menekan tombol jawab di setir.
"Bicara," perintahnya singkat.
"Aku dapat, Bos," suara Bram terdengar cepat dan efisien. "Taksi Blue Bird 8211. Aku meretas data GPS internal mereka. Ada satu penjemputan di RS Medika Premiere pukul 20:19. Sesuai rekaman."
"Ke mana?" desak Arsen.
"Drop-off pukul 20:51. Di Jalan Kenanga, Cilandak. Tepatnya di depan sebuah minimarket di pertigaan."
Arsen dan Diandra saling berpandangan. "Jalan Kenanga?" ulang Diandra. "Itu... itu kan lingkungan rumah lamanya?"
"Apa yang ada di sana? Rumahnya sudah tidak ada siapa siapa," gumam Arsen. Ia kembali menekan interkom. "Bram, dia tidak punya apa-apa lagi di sana. Lacak ponselnya. Kau bilang Papa sedang mengurus pelacakan sinyalnya."
"Sudah kulakukan, Bos. Sinyalnya baru saja menyala. Sekitar lima menit yang lalu. Sangat lemah, tapi stabil."
Jantung Arsen serasa berhenti berdetak. "Di mana?"
"Sebuah penginapan murah di jalan yang sama. Hotel Bunga Kertas. Aku kirimkan lokasinya ke GPS-mu sekarang."
Ping. Peta di layar dasbor mobil langsung diperbarui, menunjukkan sebuah titik merah yang berjarak sekitar tiga puluh menit dari lokasi mereka.
"Dia menyalakan ponselnya," bisik Arsen, tatapannya terkunci pada titik merah itu. "Kenapa dia menyalakan ponselnya? Itu bodoh. Itu-"
"Itu sebuah jebakan," potong Diandra, wajahnya pucat. "Atau ... sebuah undangan. Dia ingin ditemukan."
"Atau dia sedang menunggu panggilan dari orang lain," balas Arsen, dan kesadaran itu menghantamnya seperti truk.
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menyalakan mesin. Raungan mesin V8 itu memecah kesunyian malam.
"Sen, papamu bilang tunggu-"
"Papaku tidak sedang hamil dan berdarah di hotel melati!" geram Arsen. Ia membanting tuas persneling ke mode 'Drive'. "Pegang erat-erat."
Mobil mewah itu melesat keluar dari tempat parkir, bannya berdecit di aspal, meninggalkan rumah sakit itu di belakang mereka.
Di kamar 207 Hotel Bunga Kertas, Emma duduk meringkuk di atas ranjang yang berderit. Ponsel itu tergeletak di depannya, layarnya yang menyala terasa seperti bom waktu. Setiap detik yang berlalu tanpa dering terasa seperti satu jam penyiksaan.
Apa aku salah? Apa seharusnya aku tetap di rumah sakit? Apa mereka marah karena aku kabur?
Kram di perutnya semakin menjadi. Ia memegangi perutnya, napasnya terengah. "Sabar ya, Nak... Mama janji ini akan cepat berlalu. Kita akan selamat. Kita dan Paman Erlan..."