Kriiing... Kriiing...
Ponsel itu bergetar hebat di atas meja kayu yang reyot. Jantung Emma meloncat ke tenggorokan. Bukan. Itu bukan nada deringnya. Itu bukan panggilan dari Arsen atau Diandra. Itu adalah nada dering standar pabrikan yang belum sempat ia ubah.
Layarnya menyala. Menampilkan: NOMOR TIDAK DIKENAL.
Tangannya gemetar hebat saat ia meraih ponsel itu. Ia menekan ikon hijau dan menempelkannya ke telinga, tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
Keheningan sesaat. Lalu...
"Kau merepotkan, pengantin."
Suara itu. Suara dingin tanpa emosi yang sama, yang kini diwarnai dengan nada jengkel yang jelas.
"Sa- saya ...." Emma tergagap. "Saya minta maaf. Saya tidak punya pilihan. Mereka ... mereka ada di mana-mana. Suami saya, sahabat saya. Mereka akan curiga. Saya harus pergi."
Terdengar desahan napas di seberang sana, seolah berbicara pada anak kecil yang bodoh. "Kau pikir kami tidak tahu? Kami mengawasimu. Kami melihatmu lari seperti tikus ketakutan. Kau baru saja membuat pekerjaan kami sepuluh kali lebih sulit."
"Maafkan saya!" isak Emma. "Tolong... jangan sakiti kakak saya! Saya akan lakukan apa saja. Sungguh! Apa yang harus saya lakukan sekarang?"
"Dengar baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya," kata suara itu tegas. "Rencana 'gaun' itu batal. Terlalu berisiko. Suamimu sedang dalam perjalanan ke lokasimu sekarang. Dia cepat. Rupanya cinta membuatnya jadi pelacak yang handal."
Darah Emma terasa dingin. Arsen. Dia tahu. Dia datang.
"Ti-dak, tidak, bagaimana bisa ...."
"Jangan panik!" bentak suara itu, membuatnya terlonjak. "Ini mungkin lebih baik. Ini akan mempercepat prosesnya. Kau di Kamar 207, kan?"
"Ba- bagaimana Anda tahu?"
"Kami tahu segalanya, Emma. Sekarang diam dan dengarkan."
"Ada mobil Kijang hitam tua terparkir di gang belakang hotel. Plat nomor B 4471 XY. Kunci sudah tersedia di dalam mobil itu. Di dalam laci dasbor ada sebuah paket untukmu. Isinya: ponsel baru, sejumlah uang, dan sebuah tiket kereta."
"Tiket ... tiket kereta?"
"Stasiun Gambir. Pukul 23:15 malam ini. Tujuan Cirebon. Kau akan pergi ke sana. Sendirian. Turun dari kereta, akan ada yang menjemputmu. Jelas?"
"Tapi, suamiku ..."
"Suamimu akan tiba di hotelmu dalam ... katakanlah, tujuh menit. Jika kau masih ada di sana saat dia datang, kesepakatan batal. Kakakmu mati. Jika kau berhasil keluar dari sana dan naik kereta itu, kita bicara lagi."
Tujuh menit. Jantung Emma serasa akan meledak.
"Waktumu dimulai ... sekarang."
Klik.
Panggilan itu berakhir.
Selama sedetik, Emma membeku, lumpuh oleh teror. Tujuh menit. Arsen datang. Erlan akan mati.
Tidak!
Adrenalin membanjiri tubuhnya, menutupi rasa sakit dan pusing. Ia melompat dari ranjang, menyambar tas jinjingnya. Ponselnya yang lama ia lempar ke atas ranjang. Biarkan Arsen melacaknya. Itu akan memberinya beberapa detik tambahan.
Ia berlari ke pintu, membuka gerendelnya dengan tangan gemetar, lalu berlari menyusuri koridor reyot. Ia menuruni tangga belakang yang curam dan gelap, hampir tersandung gaunnya sendiri.
Ia membanting pintu keluar belakang, dan langsung disambut oleh gang yang gelap dan berbau busuk. Matanya liar mencari. Di sana. Di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, sebuah Kijang hitam tua terparkir, persis seperti yang dikatakan.
Ia berlari ke mobil, tangannya gemetar hebat saat mencoba memasukkan kunci ke lubang pintu. Gagal. Ia mencoba lagi. Kunci itu masuk. Ia membuka pintu, melempar dirinya ke kursi pengemudi yang robek-robek.
Napasnya memburu. Ia melirik ke spion. Belum ada siapa-siapa. Ia menyalakan mesin. Mesin tua itu berbatuk-batuk sejenak sebelum akhirnya menyala dengan deru yang kasar.
Ia membuka laci dasbor. Di sanalah paket itu. Sebuah amplop cokelat tebal. Ia tidak punya waktu untuk memeriksanya. Ia melemparnya ke kursi penumpang.
Ia harus pergi.
"TIGA MENIT LAGI!" teriak Arsen, matanya terpaku pada GPS.
Mercedes itu melesat di jalanan sempit Jalan Kenanga, membunyikan klakson pada angkot yang menghalangi jalan.
"Sen, pelan-pelan!" pekik Diandra, berpegangan erat pada gagang pintu. "Kita akan menabrak!"
"Aku tidak peduli!" geram Arsen. "Aku melihatnya! Itu hotelnya! Bunga Kertas!"
Ia membanting setir, mobil itu berbelok tajam dan berhenti dengan decit yang memekakkan telinga tepat di depan lobi hotel yang remang-remang.
Tanpa mematikan mesin, Arsen dan Diandra melompat keluar dari mobil. Pria resepsionis yang tadi melayani Emma terlonjak kaget melihat dua orang kaya yang tampak panik menyerbu masuk.
"Seorang wanita!" bentak Arsen, menggebrak meja resepsionis yang reyot. "Baru saja check-in! Pakai topi dan masker! Di mana dia?!"
"Sa-saya tidak tahu, Mas!" gagap pria itu, ketakutan. "Tadi memang ada, tapi-"
"Kamar berapa?!" desak Diandra.
"Kamar 207! Tapi saya-"
Arsen tidak menunggu lagi. Ia melompati meja resepsionis dalam satu gerakan, berlari menuju tangga. "EMMA!"
"Sen, tunggu!" teriak Diandra, berlari di belakangnya.
Arsen menaiki dua anak tangga sekaligus, berlari menyusuri koridor lantai dua yang sempit. "205... 206... 207!"
Ia menendang pintu kamar 207. Pintu kayu lapuk itu langsung hancur, terlepas dari engselnya, dan terbanting ke dalam.
Ruangan itu kosong.
Seprai kusut. Bau pengap. Dan di atas tempat tidur, tergeletak ponsel Emma, layarnya masih menyala.
"Tidak-" bisik Arsen, melangkah masuk.
"Arsen!" panggil Diandra dari jendela yang menghadap ke gang belakang. "Lihat!"
Arsen berlari ke jendela. Di bawah sana, di gang gelap, sebuah Kijang hitam tua baru saja menyalakan lampu depannya. Mobil itu mundur dengan cepat, lalu berbelok tajam, melaju kencang menjauhi mereka.
"MUNGKIN DIA DI MOBIL ITU!" raung Arsen.
Mereka berdua berbalik, berlari kembali menuruni tangga, melompati meja resepsipnis yang kini kosong—si penjaga sudah kabur ketakutan. Mereka melompat kembali ke dalam Mercedes.
"Ke mana dia?!" pekik Diandra.
"Aku tidak tahu! Dia pergi ke arah jalan raya!"
Arsen membanting setir, memutar mobilnya, dan melesat mengejar. Tapi Kijang itu sudah hilang, ditelan oleh persimpangan yang ramai.
Arsen membanting setirnya dengan frustrasi. "Sial! Sial! SIAL!"
Ia berhenti di tengah jalan, tidak peduli pada klakson yang memekik di belakangnya. Ia meraih ponsel Emma yang ia bawa dari kamar hotel. Ia membukanya—tidak terkunci.
"Apa yang dia sembunyikan-" gumamnya, membuka log panggilan.
Panggilan terakhir. NOMOR TIDAK DIKENAL.
Diandra menatapnya. "Ada apa?"
Arsen menunjukkan layar itu pada Diandra. "Dia tidak kabur begitu saja. Dia dijemput. Atau lebih tepatnya ... mungkin dia diperintahkan."
Ia menatap ke jalanan gelap di depannya. Ini bukan lagi sekadar pelarian seorang istri yang ketakutan. Ini adalah sebuah penculikan yang terencana. Atau lebih buruk lagi, sebuah penyerahan diri yang terpaksa.
"Sen, papamu menelepon," kata Diandra pelan, menunjuk layar dasbor.
Arsen menatap nama 'Papa' yang berkedip di layar, lalu menatap jalanan di depannya. Ia kini berada di persimpangan. Mengejar hantu di jalanan Jakarta, atau menggunakan sumber daya keluarganya yang tak terbatas.
Ia menekan tombol jawab. "Pa," katanya, suaranya dingin dan terkendali.
"Arsen! Apa yang terjadi?! Orang-orangku di rumah sakit bilang kau lari seperti orang gila! Di mana kau?!" Suara Pak Wijaya terdengar marah dan cemas.
"Aku gagal menghentikannya. Dia ada di dalam Kijang hitam, B 4471 XY. Dia baru saja kabur dari Hotel Bunga Kertas. Tapi mereka meninggalkan sesuatu."
Ia memegang ponsel Emma erat-erat. "Dia meninggalkanku petunjuk."