Bab 27 Sendiri

Penulis JanaIndria
30 October 2025

Terdengar keheningan sesaat di seberang. Nada bicara Pak Wijaya langsung berubah dari ayah yang khawatir menjadi seorang eksekutif yang dingin. "Bagus. Sesuatu yang berguna, kuharap?"

"Ponsel lamanya," kata Arsen. "Dia meninggalkannya. Disengaja. Aku yakin itu. Ada panggilan dari 'Nomor Tidak Dikenal' tepat sebelum dia kabur dari sini, dan panggilan yang sama kemarin malam di rumah sakit."

"Nomor Tidak Dikenal," ulang Pak Wijaya. "Arsen, dengar. Ini bukan lagi sekadar kabur. Ini terencana. Ini terorganisir. Mereka memancingmu. Jangan gegabah."

"Aku akan mengejarnya, Pak. Aku punya nomor platnya."

"Kau akan melakukan apa yang Papa perintahkan," bentak Pak Wijaya, suaranya tak terbantahkan. "Tim Papa sedang melacak plat nomor itu sekarang. Tim pelacak siber sedang mencoba membongkar nomor tak dikenal itu. Aku mau kau kembali ke rumah sakit. Atau pulang. Biar kami yang urus."

"Istriku ada di mobil itu!" raung Arsen, cengkeramannya pada setir menguat.

"Istri yang baru kau nikahi beberapa jam dan sekarang kabur dengan cara yang sangat mencurigakan!" balas Pak Wijaya, nadanya menusuk. "Kau baru saja menyerahkan miliaran aset padanya, Arsen! Dan sekarang dia hilang! Kau terlihat seperti orang bodoh! Apa kau sadar?"

"Aku tidak peduli!"

"Kalau begitu pedulikan ini!" potong Pak Wijaya lagi. "Kau akan membuatnya terbunuh jika kau bertindak bodoh! Mereka profesional. Kau amatir yang sedang emosional. Mundur, Arsen! Itu perintah!"

Arsen terdiam, rahangnya mengeras. Ia melirik Diandra, yang menatapnya dengan cemas, lalu kembali menatap jalanan yang gelap.

"Aku mengerti, Pak," katanya pelan, sebelum mematikan panggilan itu.

Diandra menatapnya ngeri. "Kamu mematikannya?"

"Dia menyuruhku mundur."

"Mungkin dia benar, Sen," bujuk Diandra lembut. "Mungkin kita harus menyerahkan ini pada ahlinya. Mereka profesional. Kita-"

Ponsel pribadi Arsen berdering lagi. Bukan ayahnya. 'Bram'.

"Ya, Bram," jawab Arsen.

"Bos, aku dapat pergerakan di plat B 4471 XY," lapor Bram, suaranya cepat. "Kamera ETLE menangkapnya lima menit lalu. Dia masuk Tol JORR, mengarah ke Timur. Ke arah Cikampek."

"Cikampek-" ulang Arsen. Ia menatap Diandra. "Mereka membawanya keluar kota."

"Jawa Barat? Puncak? Bandung?" tebak Diandra, pikirannya berpacu. "Apa ada properti keluargamu di sana?"

"Tidak ada," kata Arsen. Ia menghidupkan mesin, tapi tidak bergerak. Sesuatu terasa salah. "Kenapa Cikampek? Kenapa meninggalkan jejak yang begitu mudah dilacak?"

Kriiing... Kriiing...

Jantung mereka berdua serasa melompat. Bukan ponsel Arsen.

Ponsel Emma yang ada di genggaman Arsen.

Ponsel yang seharusnya mati, yang seharusnya menjadi petunjuk, kini bergetar hebat di tangannya. Layarnya menyala, menampilkan tiga kata yang sama: NOMOR TIDAK DIKENAL.

Arsen dan Diandra saling berpandangan, udara di dalam mobil terasa menipis.

"Itu mereka," bisik Diandra, suaranya bergetar. "Mereka menelepon lagi. Mereka tahu kau yang memegangnya. Mereka pasti-"

"Jawab, Sen," kata Diandra, lebih tegas. "Nyalakan speakernya. Jawab."

Arsen menatap layar itu. Ini dia. Kesempatannya. Suara di balik semua teror ini. Dengan tangan yang ia paksa untuk stabil, ia menggeser ikon hijau dan menekan tombol loudspeaker.

Keheningan. Hanya suara statis yang samar.

"Halo," ucap Arsen. Suaranya adalah es yang membeku.

Terdengar keheningan sesaat di seberang sana. Lalu, sebuah tawa kecil yang kering dan dingin. Tawa yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Tuan Wijaya. Arsen. Akhirnya," sapa suara itu. Suara yang sama yang didengar Emma. Datar, serak, dan penuh kendali. "Kami sudah menunggumu bergabung dalam permainan ini."

"Siapa kau," desis Arsen, setiap otot di tubuhnya menegang. "Apa maumu dari istriku."

"Harusnya kau tanya, apa yang istrimu mau dari kami?" balas suara itu, nadanya mengejek. "Dia sangat kooperatif, kau tahu. Dia mencabut infusnya sendiri, berdarah-darah, demi menepati janji pada kami. Itu dedikasi. Kau harus bangga padanya."

"LEPASKAN DIA!" raung Arsen, memukul dasbor. "Berapa harganya! Aku bayar! Berapa pun!"

"Harganya?" Suara itu tertawa lagi. "Harganya adalah pengantin pengganti. Dan kami sudah mendapatkannya. Kau tahu, mas kawinmu itu sangat besar, Tuan Wijaya. Triliunan. Itu membuat nilai taruhnya jadi sangat, sangat tinggi. Kau pada dasarnya baru saja membiayai operasi kami."

"Bajingan-"

"Tapi ... karena kau suaminya dan karena kau sudah bersusah payah melacak, kami akan memberimu kesempatan," lanjut suara itu. "Kau ingin istrimu kembali? Kau ingin melihat kakak idiotnya itu hidup-hidup?"

"Katakan," geram Arsen.

Ponsel pribadi Arsen—yang masih dipegang Diandra—bergetar. Sebuah pesan masuk dari Bram. Diandra membacanya dan matanya membelalak ngeri.

"Kau pasti sedang bertanya-tanya soal Kijang di Cikampek, kan?" kata suara di telepon, seolah bisa membaca pikiran mereka. "Itu hanya hadiah kecil dari kami. Sebuah pengalih perhatian. Kami tahu ayahmu akan melacaknya."

Diandra menunjukkan pesan dari Bram pada Arsen. Tertulis: 'Bos, Kijang B 4471 XY ditemukan di rest area KM 19. Terbakar hebat. Tim pemadam sedang ke sana. Tidak ada tanda-tanda korban di dalam. Ini jebakan.'

Arsen menelan ludah, amarahnya tergantikan oleh rasa dingin ketakutan. Mereka membakar mobil itu. Mereka selangkah di depan.

"Di mana dia?" tanya Arsen, suaranya nyaris berbisik.

"Dia ada di tempat yang seharusnya dia tuju sejak awal. Kau ingin bermain, Tuan Wijaya? Mari kita bermain."

"Stasiun Gambir," kata suara itu. "Pukul sebelas malam ini. Tepat pukul 23:00. Datang ke Pintu Selatan. Sendirian."

"Gambir?" ulang Arsen, otaknya berpacu.

"Sendirian," tekan suara itu. "Jika aku melihat sahabat cantikmu itu, jika aku melihat satu saja orang dari tim ayahmu, jika aku mencium bau polisi, maka permainan selesai. Erlan mati, detik itu juga. Dan Emma, yah …, kami akan carikan dia suami baru. Mungkin seseorang yang lebih menghargai kesepakatan."

"Bagaimana aku tahu kau tidak berbohong? Bagaimana aku tahu mereka masih hidup?"

Ponsel pribadi Arsen bergetar lagi. Sebuah video masuk. Dari Bram. "Bos, ini rekaman CCTV terbaru dari Gambir, baru saja."

Arsen membukanya, masih dengan suara penculik di loudspeaker. Video itu menunjukkan Pintu Selatan Stasiun Gambir. Dan di sana, sosok yang ia kenali, berjalan tertatih-tatih. Mengenakan kaus gelap, celana training, topi Erlan, dan masker. Emma. Dia terlihat pucat, memegangi perutnya, tapi dia berjalan. Dia hidup. Dia ada di sana.

"Kau lihat?" kata suara itu, seolah sedang menonton rekaman yang sama. "Dia menunggumu. Jangan terlambat, Tuan Wijaya. Tiga puluh menit lagi."

Klik.

Panggilan itu berakhir.

Arsen membeku. Diandra menutup mulutnya, air mata mengalir di pipinya. "Ya Tuhan, Sen-, dia di Gambir. Dia, dia- "

Arsen tidak membuang waktu. Ia membanting setir, memutar balik mobilnya dengan paksa, dan melesat menuju pusat kota.

"Sen, apa yang kau lakukan?!" pekik Diandra. "Ini jebakan! Kau dengar dia! Dia tidak boleh melihatku! Dia tidak boleh melihat siapa pun!"

"Aku tahu!" teriak Arsen. "Kijang itu pengalih perhatian. Mereka membakarnya untuk membuang waktu kita. Mereka ingin kita mengejar ke Cikampek, sementara mereka membawa Emma ke Gambir!"

"Tapi dia bilang 'sendirian'!"

"Aku akan pergi sendiri!"

"Kau gila?! Kau tidak tahu apa yang menunggumu di sana! Ini jebakan, Sen! Mereka akan mengambilmu juga!"

Arsen menepi dengan kasar di persimpangan yang ramai, beberapa meter dari halte bus. Ia menatap Diandra dengan tatapan yang belum pernah dilihat gadis itu sebelumnya. Dingin, putus asa, namun penuh tekad baja.

"Dengar, Di. Aku akan mengantarmu sampai sini. Kau turun. Ambil taksi, kembali ke rumah sakit, atau pulang. Jangan hubungi aku. Jangan hubungi papaku. Jangan lakukan apa-apa."

"Tidak!" tolak Diandra. "Aku tidak akan meninggalkanmu! Kau mau bunuh diri?"

"Ini bukan bunuh diri!" sergah Arsen. "Ini satu-satunya kesempatanku. Mereka menginginkanku di sana. Kau dengar? Mereka mengundangku. Ini bukan lagi hanya tentang Emma. Ini tentang mas kawin itu. Mereka ingin aku."

Ia meraih kedua bahu Diandra. "Aku butuh kau aman. Aku butuh kau di luar. Jika ... jika sesuatu terjadi padaku, kau satu-satunya yang tahu cerita lengkapnya. Kau satu-satunya yang bisa memberitahu papaku apa yang sebenarnya terjadi."

"Sen, jangan bicara begitu-" isak Diandra.

"Turun, Diandra!" perintahnya, kali ini tanpa kelembutan. "Pergi! Sekarang! Waktuku tinggal dua puluh menit!"