Bab 28 Awas

Penulis JanaIndria
30 October 2025

Diandra menatapnya, air mata mengaburkan pandangannya. Ia melihat pria di depannya bukanlah lagi sepupunya yang tenang, tapi seorang suami yang putus asa yang berjalan ke dalam perangkap singa untuk menyelamatkan pasangannya. Ia mengangguk pelan, membuka pintu mobil.

"Hati-hati, Sen," bisiknya. "Demi Tuhan, hati-hati."

"Aku akan membawanya kembali," janji Arsen.

Begitu Diandra menutup pintu, Arsen membanting pedal gas. Mercedes itu melesat, menyatu dengan lalu lintas malam Jakarta, membawanya menuju takdirnya di Stasiun Gambir.

Sementara itu, di dalam toilet wanita Stasiun Gambir yang berbau pesing, Emma memuntahkan isi perutnya yang kosong ke dalam kloset. Tubuhnya gemetar hebat. Kram di perutnya kini menjadi gelombang rasa sakit yang konstan.

Ponsel baru di sakunya—ponsel sekali pakai—bergetar. Sebuah SMS masuk.

"Kerja bagus. Kau sudah di Pintu Selatan. Kau sudah dilihat. Sekarang, instruksi terakhir. Pergi ke Peron 1. Kereta Argo Muria tujuan Semarang akan segera tiba. Kau tidak akan naik. Kau akan berjalan ke ujung peron yang paling gelap. Seseorang akan menemuimu. Bawa kakaknya."

Lalu pesan kedua masuk. Sebuah foto.

Foto Erlan, masih hidup, matanya penuh ketakutan, berdiri di samping rel kereta yang gelap. Di belakangnya, seorang pria besar memegang lengannya.

Emma terisak. Ia menyiram kloset, membasuh wajahnya yang pucat dengan air. Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang kotor. Topi Erlan masih di kepalanya.

"Aku datang, Kak," bisiknya pada pantulan itu. "Aku datang."

Ia merapikan pakaiannya, memegangi perutnya yang sakit, dan berjalan tertatih-tatih keluar dari toilet, menuju Peron 1. Menuju ujung dari permainannya.

Di saat yang bersamaan, di Pintu Selatan, Mercedes S-Class hitam berhenti. Arsen melompat keluar, merapikan jasnya yang kusut. Ia berjalan masuk ke dalam stasiun, sendirian, matanya memindai kerumunan, mencari istrinya, tidak menyadari bahwa mereka berdua kini adalah pion di papan catur yang sama, digerakkan oleh tangan yang sama menuju dua lokasi berbeda di dalam labirin yang sama. Permainan telah memasuki babak akhir.

Begitu ia melangkah melewati Pintu Selatan, ponsel Emma yang ada di sakunya bergetar. NOMOR TIDAK DIKENAL.

Ia menjawabnya, menempelkannya ke telinga sambil terus berjalan. "Aku di sini."

"Kami melihatmu," sapa suara dingin itu. "Tampan sekali dengan jas mahalmu itu, Tuan Wijaya. Tapi kau terlihat sedikit tegang."

"Hentikan basa-basimu," desis Arsen. "Di mana dia?"

"Sabar," ejek suara itu. "Istrimu aman. Dia sedang berjalan menuju akhir dari permainan ini. Dan kau... kau punya peran kecil untuk dimainkan. Sebuah formalitas, jika kau mau."

"Apa itu?"

"Berjalan lurus. Menuju area loker penitipan barang di dekat eskalator. Kau lihat?"

Arsen melihatnya. Deretan loker besi berwarna abu-abu. "Aku melihatnya."

"Bagus. Sekarang, sebagai tanda itikad baik, buka loker nomor 117. Kodenya adalah tanggal pernikahanmu hari ini. 3010. Buka, dan masukkan kunci mobilmu ke dalamnya. Anggap saja itu uang muka."

Arsen berhenti, amarah bergejolak di dalam dirinya. Ini penghinaan. Mereka mempermainkannya. "Kau mau kunci mobilku?"

"Kami mau kepatuhanmu. Kunci itu tidak ada artinya bagi kami. Tapi itu berarti segalanya bagimu. Itu adalah bukti bahwa kau datang sendiri, dan siap untuk kehilangan segalanya. Lakukan. Sekarang. Atau istrimu tidak akan pernah melihat matahari terbit."

Arsen mengertakkan gigi. Dengan langkah berat, ia berjalan ke loker nomor 117. Ia menekan kode 3-0-1-0. Klik. Pintu loker terbuka. Kosong. Ia menarik kunci Mercedes dari sakunya, menatap logo bintang tiga sudut itu sejenak, lalu melemparkannya ke dalam loker dan menutup pintunya dengan keras.

"Sudah," katanya ke telepon.

"Anak baik," puji suara itu. "Sekarang, bagianmu selesai. Berbalik, dan berjalan keluar dari stasiun ini. Istrimu dan kakaknya akan diantar ke mobilmu dalam satu jam."

"APA?!" pekik Arsen tidak percaya. "Kau mau aku pergi begitu saja?!"

"Itu kesepakatannya. Kau menunjukkan kepatuhan, kami menunjukkan belas kasihan. Jangan membuat kami berubah pikiran."

Arsen membeku. Ini tidak mungkin. Ini terlalu mudah. Ini jebakan. "Aku tidak akan pergi sebelum melihatnya."

Terdengar desahan jengkel di seberang sana. "Kau keras kepala. Baiklah. Kau mau bukti? Pergi ke Peron 1. Tapi jangan salahkan aku atas apa yang kau lihat."

Klik.

Panggilan itu mati.

Peron 1. Jantung Arsen serasa dihantam palu godam. Sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia berbalik dan berlari, menerobos kerumunan orang, mengabaikan teriakan dan makian mereka.


Di tempat yang sama namun beda arah, Emma berjalan tertatih di sepanjang peron, memegangi perutnya yang sakit, matanya terpaku pada ujung peron yang gelap, di luar jangkauan cahaya lampu neon yang terang.

Di sana, di bawah bayang-bayang, ia melihat mereka.

Erlan. Kakaknya berdiri dengan bahu merosot, wajahnya pucat dan penuh memar. Di sampingnya, seorang pria besar berjaket kulit mencengkeram lengannya erat-erat.

"Kak!" bisik Emma, air mata mengalir deras.

Ia mempercepat langkahnya. Rasa sakit di perutnya ia abaikan. Hanya ada Erlan di matanya.

Saat ia mendekat, pria besar itu tersenyum miring, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Selamat datang, pengantin. Tepat waktu."

"Lepaskan kakakku," pinta Emma, suaranya bergetar. "Aku sudah melakukan semua yang kalian minta."

"Oh, tentu saja," kata pria itu. "Dan suamimu juga sangat penurut. Dia baru saja menyerahkan kunci mobilnya yang bagus itu. Seperti anak anjing yang patuh."

Tiba-tiba, dari balik sebuah tiang beton, sosok kedua muncul. Pria ini lebih kurus, matanya licik. Ia melangkah untuk memblokir jalan Emma kembali.

"Sekarang, mari kita selesaikan ini," kata pria kurus itu. "Kau ikut kami dengan tenang, Nyonya Wijaya. Dan kakakmu boleh pergi."

"Tidak!" teriak Erlan, mencoba melawan. "Jangan sentuh dia! Emma, lari!"

Pria besar itu memukul perut Erlan, membuat Erlan terbungkuk kesakitan. "Diam!"

Peluit panjang ditiup oleh petugas peron. Roda-roda kereta mulai berderit, bergerak maju dengan sangat perlahan.

"Waktunya pergi," kata pria kurus itu, melangkah maju untuk meraih Emma.

Emma mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. Ia menatap Erlan yang kesakitan, lalu pada pria yang mendekatinya. Ini adalah akhirnya.

Tapi kemudian, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Dari arah belakang pria kurus itu, sebuah troli barang yang sarat dengan kardus-kardus berat meluncur dengan kecepatan tinggi, tanpa ada yang mendorong.

"AWAS!" teriak pria besar itu.

Pria kurus itu berbalik, tapi sudah terlambat. Troli itu menghantamnya dengan keras, membuatnya terhuyung dan jatuh, kakinya terjerat di antara tumpukan kardus.

Dalam sepersekielan detik kekacauan itu, pria besar yang memegang Erlan teralihkan perhatiannya. Cengkeramannya sedikit melonggar. Erlan, melihat kesempatannya, menggunakan sisa tenaganya untuk menyikut perut pria itu dan melepaskan diri.

"EMMA!" teriaknya, berlari ke arah adiknya.

Kereta kini sudah bergerak lebih cepat, suara roda besinya bergemuruh memekakkan telinga.

Pria besar itu, marah karena rencananya berantakan, mengabaikan rekannya yang terjatuh dan menerjang ke depan. Tujuannya bukan lagi menangkap Emma, tapi memastikan tidak ada saksi. Ia mendorong Erlan dengan brutal.

"KAK!" pekik Emma.