Erlan terhuyung ke belakang. Emma, dalam refleks putus asa, melompat maju untuk meraih tangan kakaknya. Tangan mereka hampir bersentuhan.
Tapi pria besar itu tidak berhenti. Ia mendorong bahu Emma dengan sekuat tenaga.
Dunia Emma terbalik.
Ia tidak merasakan sakit. Hanya sensasi jatuh yang aneh. Ia melihat wajah Erlan yang memprihatinkan, mulutnya terbuka dalam teriakan tanpa suara. Ia melihat lampu-lampu peron yang berputar di atasnya. Ia merasakan hembusan angin kencang dari kereta yang melaju.
Ia jatuh bukan ke depan, ke atas rel. Dorongan itu membuatnya terpelanting ke samping, tepat ke celah sempit yang gelap di antara dua gerbong kereta yang sedang bergerak.
THUMP!!!
Terdengar suara benturan yang mengerikan, diikuti oleh pekikan rem kereta yang memekakkan telinga dan jeritan histeris dari para penumpang yang melihat dari jendela.
Topi baseball biru dongker yang dikenakan Emma terlepas, melayang sesaat di udara sebelum jatuh ke atas peron yang bergetar.
Di tengah kekacauan itu, saat semua mata tertuju pada kereta yang berhenti mendadak, sebuah bayangan bergerak cepat. Seseorang, dari sisi rel yang lain, memanfaatkan kepanikan itu. Di celah sempit di antara dua gerbong, saat Emma tergantung lemas, sebuah tangan kuat menariknya, menyeretnya ke dalam kegelapan di bawah peron. Cepat, senyap, dan tak terlihat.
Di atas peron, pria besar dan rekannya yang sudah berhasil bangkit, melihat apa yang terjadi. Rencana mereka hancur total. Mereka saling pandang, lalu tanpa sepatah kata pun, mereka berbalik dan lari, menghilang ditelan kerumunan yang panik.
"EMMAAAAAA!"
Jeritan Erlan merobek udara. Ia berlutut di tepi peron, menatap putus asa ke rel di bawah, di mana tidak ada apa-apa selain baja dingin dan kerikil. Adiknya telah lenyap, ditelan oleh monster besi itu.
Arsen tiba di Peron 1 tepat pada saat itu. Ia melihat kerumunan orang di ujung peron. Ia mendengar jeritan. Ia melihat petugas keamanan berlari ke arah yang sama.
Perasaan dingin yang paling buruk menjalari tulang punggungnya.
Ia mendorong orang-orang, menerobos kerumunan itu dengan kekuatan brutal. "MINGGIR! MINGGIR!"
Dan kemudian ia melihatnya.
Erlan berlutut di tanah, meraung seperti binatang yang terluka, wajahnya basah oleh air mata. Petugas keamanan berusaha menenangkannya. Di dekatnya, di atas beton yang dingin, tergeletak sebuah topi baseball biru dongker.
Topi Erlan. Topi yang Emma kenakan.
Arsen berhenti. Waktu seolah berhenti. Suara-suara di sekelilingnya meredup menjadi dengungan tak berarti.
Seorang wanita paruh baya di dekatnya berkata kepada temannya, suaranya bergetar. "Ya Allah, kasihan ... ibu hamil tadi ... jatuh ke kereta ... langsung hilang ..."
"Saya lihat sendiri," timpal yang lain. "Dia didorong! Mengerikan sekali!"
Arsen tidak mendengar sisanya. Ia hanya berjalan maju, langkahnya seperti robot. Ia berlutut di seberang Erlan, tangannya yang gemetar terulur untuk mengambil topi itu. Bahannya terasa kasar di jemarinya. Masih ada aroma samar sampo Emma yang tertinggal di sana.
Ia menatap Erlan, yang kini juga menatapnya, mata mereka bertemu dalam jurang keputusasaan yang sama. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan.
Di beton di samping topi itu, Arsen melihatnya. Setetes noda gelap. Darah. Darah Emma.
Dunia Arsen runtuh. Bukan meledak, tapi hancur menjadi debu dalam keheningan total. Kepastian itu menghantamnya tanpa ampun. Emma-nya. Istrinya. Ibu dari anaknya yang belum lahir. Hilang. Lenyap. Mati.
Semua karena dirinya. Karena kebohongannya. Karena hartanya.
Ia mencengkeram topi itu erat-erat. Ia membuka mulutnya untuk berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar. Yang ada hanyalah kehampaan yang tak berujung. Permainan telah berakhir. Dan ia telah kalah telak.
Beberapa jam kemudian, Stasiun Gambir telah berubah menjadi zona bencana. Garis polisi membentang di mana-mana. Petugas pemadam kebakaran masih menyemprotkan air ke sisa-sisa api. Tim SAR mencari korban di antara puing-puing.
Arsen duduk di lantai ambulans, tubuhnya dibalut selimut termal meskipun ia tidak merasa dingin. Tatapannya kosong, terpaku pada reruntuhan peron yang menghitam. Diandra berada di sisinya, menangis dalam diam. Tak jauh dari mereka, Pak Wijaya berdiri tegak, wajahnya mengeras seperti batu, berbicara di telepon dengan nada rendah dan mematikan.
"Kami menemukan dua korban tewas di dekat pusat ledakan, Pak," lapor seorang petugas polisi pada Pak Wijaya. "Satu pria, kemungkinan sandera. Identifikasi masih berjalan."
Erlan. Hati Arsen mencelos.
"Dan satu lagi, kami minta maaf, Pak. Kondisinya sangat parah. Terbakar hebat. Hampir tidak bisa dikenali. Tapi dari sisa-sisa pakaian dan perhiasan, kami yakin korban adalah seorang wanita."
Arsen sontak berdiri. "Perhiasan apa?!"
Petugas itu tampak ragu. "Sebuah cincin berlian, Pak. Desainnya sangat unik."
Arsen membeku. Ia menatap tangannya sendiri, membayangkan cincin yang sama yang ia pasangkan di jari Emma pagi tadi. Cincin pernikahan mereka.
Itu adalah paku terakhir di peti matinya.
Ia tidak mendengar Diandra yang memanggil namanya. Ia tidak merasakan tangan ayahnya di bahunya. Dunianya runtuh menjadi keheningan yang memekakkan. Ia berlutut di aspal yang dingin, debu dan abu mengotori celana mahalnya. Raungan tanpa suara keluar dari tenggorokannya.
Emma-nya. Istrinya. Ibu dari anaknya yang belum lahir, telah tiada.
Malam itu, semua orang berduka. Arsen Wijaya kehilangan istrinya. Diandra kehilangan sahabat terbaiknya. Keluarga Wijaya kehilangan calon menantu dan cucu mereka. Berita menyebar dengan cepat: seorang wanita hamil yang baru menikah tewas secara tragis dalam sebuah ledakan di stasiun kereta, bersama dengan kakaknya yang diculik. Sebuah kisah yang memilukan.
Di seluruh kota, semua orang yang mengenalnya menduga Emma telah mati, menjadi korban tak berdosa dari sebuah permainan kejam yang tidak seorang pun mengerti.
Mereka semua salah.
Jauh dari sana, di sebuah klinik kecil dan tersembunyi di pinggiran kota, Emma membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat bukanlah langit-langit kamar rumah sakit yang familier, melainkan wajah seorang pria asing berjaket kulit yang menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Selamat datang di rumah saya," kata perempuan separuh baya itu, suaranya tenang dan dalam. "Jangan banyak gerak dulu, anda sedang dalam perawatan saya."
Ruang kerja Pak Wijaya telah berubah menjadi pusat komando perang. Bau kopi kental dan asap rokok (Pak Wijaya sudah berhenti 10 tahun, tapi hari ini ia merokok lagi) bercampur dengan dengung pelan server dan laptop yang bekerja keras. Papan tulis putih dipenuhi foto-foto buram, diagram koneksi, dan catatan-catatan yang ditulis dengan spidol merah.
Arsen duduk di sana, tapi juga tidak di sana. Ia adalah cangkang kosong yang mengenakan jas mahal. Diandra duduk di sudut, menolak pulang, matanya bengkak dan merah. Erlan yang ternyata selamat, sudah ditenangkan dan dibawa ke sayap tamu rumah utama, ia pingsan karena kelelahan dan kesedihan setelah berjam-jam diinterogasi polisi.
"Sudah dapat, Pak. Dia punya bisnis logistik kecil. Tapi sinyal ponsel utamanya ... aktif di apartemen Kuningan yang sama dengan burner phone itu. Dia masih di sana."
"Tio," kata Pak Wijaya.
"Saya mengerti, Pak." Tio mengangguk, mengumpulkan timnya, dan bergerak keluar ruangan.
"Aku ikut," kata Arsen, berdiri. Energi yang mengerikan kini mengalir di nadinya. Kesedihan telah mengkristal menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang mematikan.
"Arsen, kau tetap di sini," perintah Pak Wijaya.
"Dia mengambilnya dariku, Pak," balas Arsen, menatap mata ayahnya. "Aku akan menjadi orang terakhir yang dia lihat."
Apartemen itu jauh dari mewah, berantakan. Botol-botol alkohol kosong berserakan. Sebuah layar televisi besar menyiarkan berita pagi—gambar Stasiun Gambir, foto pernikahan Arsen dan Emma yang buram (diambil oleh tamu rumah sakit), dan judul "TRAGEDI PENGANTIN BARU WIJAYA".
Ibra duduk di sofa, tertawa pelan sambil mengangkat gelas sampanye ke arah layar. "Untukmu, Nyonya Wijaya."
BRAAAKKK!
Pintu apartemennya meledak terlepas dari engselnya. Tio dan tiga anak buahnya menyerbu masuk seperti pasukan bayangan. Ibra terlonjak kaget, sampanye tumpah di kemejanya.
"Apa-apaan ini?! Siapa kalian?!"
Tio tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberi isyarat. Dua orang memegangi Ibra, yang lain mengamankan ruangan. Beberapa detik kemudian, Arsen melangkah masuk. Ia tidak berlari. Ia berjalan pelan, seolah punya waktu tak terhingga.
Mata Ibra membelalak saat melihat Arsen. Ketakutan sesaat, lalu digantikan oleh ekspresi sombong yang sinting.
"Tuan Wijaya," sapa Ibra, mencoba merapikan kemejanya. "Datang untuk mengucapkan selamat? Aku baru saja menonton beritamu. Turut berduka cita atas kehilanganmu."
Arsen berhenti satu meter di depannya. Ia tidak menatap Ibra. Ia menatap layar televisi, di mana foto Emma yang tersenyum sedang ditampilkan.