Bab 30 Kenapa

Penulis JanaIndria
30 October 2025

"Kenapa?" tanya Arsen pelan.

"Kenapa?" Ibra tertawa. "Kau tanya kenapa? Kau, dengan semua uangmu, jas mahalmu, mobilmu, kau pikir kau bisa mengambil apa saja yang kau mau, kan?"

"Ini bukan tentang uang," kata Arsen, akhirnya menoleh menatap Ibra. Matanya hampa.

"INI SEMUA TENTANG DIA!" raung Ibra, emosinya meledak. "Dia milikku! Dulu! Dia seharusnya jadi istriku! Dia sempurna! Tapi dia menolakku, sejak kau datang! Tuan Wijaya yang sempurna! Kau mencurinya dariku!"

"Jadi kau menerornya," kata Arsen, bukan sebagai pertanyaan. "Kau menculik kakaknya. Kau mengirimnya ke hotel melati. Kau yang mengatur semuanya."

"Aku ingin dia kembali padaku!" teriak Ibra. "Aku ingin dia sadar bahwa hanya aku yang bisa melindunginya! Rencananya adalah membuatmu terlihat lemah! Membuatmu terlihat tidak bisa menjaganya! Rencana awalku adalah menukarnya di pelaminan! Aku akan mengambil dia, dan kau akan dapat pengantin lain. Tapi kau, kau dan keluargamu, kalian terlalu cepat! Pernikahan di rumah sakit? Itu mengacaukan segalanya!"

"Dan di stasiun-" suara Arsen tercekat. "Kau menyuruh anak buahmu untuk membunuhnya."

"Perubahan rencana!" Ibra menyeringai, matanya berkilat gila. "Aku tidak bisa memilikinya. Kau juga tidak bisa."

Ia mencondongkan tubuhnya, seolah ingin berbagi rahasia. "Dan kemudian kau memberinya segalanya. Mas kawin triliunan! Kau membuatnya jadi Ratu! Sementara aku, aku yang mencintainya lebih dulu, aku tidak dapat apa-apa!"

Suara Ibra meninggi menjadi jeritan manik. "JADI AKU MENGAMBILNYA! JIKA AKU TIDAK BISA MEMILIKINYA, MAKA TIDAK SEORANG PUN BOLEH!"

Keheningan memenuhi ruangan. Arsen hanya menatapnya. Mati rasa.

"Dia mati," bisik Arsen. "Kau membunuhnya. Kau membunuh anakku."

Ibra tertawa. Tawa yang tinggi dan melengking, tawa orang yang sudah putus akal. "DAN ITU SETIMPAL! Melihat wajahmu sekarang! Melihat Tuan Wijaya yang hebat, hancur lebur! Itu setimpal! Aku menang! Aku yang menang! HAHAHA!"

Arsen tidak bergerak. Ia hanya menatap Ibra lama. Lalu ia berbalik, berjalan ke arah Tio.

"Bawa dia," kata Arsen, suaranya datar.

"Ke kantor polisi, Pak?" tanya Tio.

Arsen berhenti di pintu, tanpa menoleh ke belakang. "Aku tidak peduli. Pastikan dia tidak pernah melihat matahari lagi."

Saat Arsen melangkah keluar, tawa gila Ibra masih menggema di belakangnya, bercampur dengan suara benturan dan pekikan tertahan saat Tio dan anak buahnya mulai bekerja.


Sementara itu, di tempat yang terasa seperti dunia lain, kesadaran datang perlahan. Bukan seperti tersentak bangun, tapi lebih seperti muncul dari bawah air yang dalam dan berlumpur. Hal pertama yang ia rasakan adalah sakit—sakit yang tumpul di tulang rusuknya, sakit yang tajam di kepalanya.

Hal kedua adalah bau. Minyak kayu putih dan aroma jamu yang kuat.

Emma membuka matanya untuk yang kedua kali.

Langit-langit di atasnya terbuat dari kayu, rendah. Sebuah kipas angin tua berputar pelan. Dindingnya bercat biru pudar yang mengelupas. Ini bukan rumah sakit. Ini bukan hotel.

Ia mencoba bergerak, dan erangan kesakitan keluar dari bibirnya.

"Sssst, Neng. Tenang, Neng. Jangan banyak bergerak dulu."

Sesosok bayangan bergerak di sampingnya. Seorang wanita paruh baya, wajahnya penuh kerutan lembut, mengenakan daster batik. Ia sedang mengelap dahi Emma dengan handuk basah.

"Di, di mana aku?" Suara Emma serak seperti amplas. Ia langsung panik. Tangan kanannya tergerak, bukan untuk memegang kepalanya yang sakit, tapi untuk memegang perutnya.

Perut itu masih ada. Masih bulat dan keras.

"Anakku-" bisiknya, air mata langsung menggenang.

"Anaknya aman, Neng," kata wanita itu, suaranya menenangkan seperti nyanyian. "Alhamdulillah. Allah masih sayang sama Neng dan si jabang bayi. Kuat dia, Neng. Tahan banting."

Emma terisak, campuran antara rasa sakit dan kelegaan yang luar biasa. "Bagaimana... bagaimana aku bisa di sini? Aku, aku ingat, aku jatuh dari kereta."

"Tetangga Ibu yang menemukan Neng," jelas wanita itu, yang memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Suti, seorang bidan kampung. "Namanya Jaka. Di-dia pemulung, Neng. Tempat tinggalnya di kolong jembatan rel kereta."

Kilasan ingatan menghantam Emma: Kekacauan di peron. Wajah Erlan yang ngeri. Dorongan yang keras. Sensasi jatuh, lalu, tepat sebelum kegelapan mengambilnya, ia merasakan sepasang tangan kasar menariknya, menyeretnya ke celah sempit di bawah peron.

"Seorang pria menarikku?"

"Betul," kata Ibu Suti. "Dia menarik Neng ke bawah peron, ke kolong. Dia sembunyikan Neng di sana. Dia bilang dia lihat orang-orang jahat yang mendorong Neng itu masih mengawasi dari jauh. Setelah mereka lari, dan setelah banyak polisi datang, Jaka takut, Neng. Dia pikir Neng ini terlibat masalah besar. Jadi dia bawa Neng ke sini lewat jalan tikus. Dia tidak mau lapor polisi, takut dia yang dituduh."

"Dia menyelamatkan hidupku," isak Emma. "Dia menyelamatkan anakku-"

"Neng beruntung. Cuma memar parah dan dua tulang rusuknya retak. Tapi si jabang bayi terlindungi dengan baik. Kuat sekali."

"Aku harus pergi," kata Emma tiba-tiba, mencoba bangkit. Rasa sakit kembali menghantamnya.

"Arsen, suamiku Kak Erlan, mereka pikir aku mati! Mereka ... Ya Tuhan ... mereka pasti hancur! Aku harus menelepon mereka! Aku harus memberi tahu mereka!"

Ia meraba-raba, mencari ponselnya. Tentu saja, tidak ada. Hanya tas kecil berisi kartu dan amplop coklat yang ada di atas nakas

"Mereka ... mereka pasti sudah yakin kalau aku mati," bisik Emma, dunianya serasa kembali runtuh.

"Neng, dengar," kata Ibu Suti, nadanya serius. "Jaka bilang, orang yang mendorong Neng itu, dia melihatnya dengan jelas. Dan dia bilang, kalau mereka tahu Neng masih hidup, mereka pasti akan kembali untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Benar?"

Emma terdiam. Ia teringat pada suara dingin di telepon. Ia teringat pada Ibra. Obsesinya. Kegilaannya. Jika aku tidak bisa memilikinya-

"Ya," bisik Emma, teror dingin menjalari dirinya. "Ya, Ibu benar. Dia akan kembali."

"Kalau Neng menelepon sekarang," lanjut Ibu Suti, seolah bisa membaca pikirannya, "mereka akan tahu. Orang-orang kaya dan berkuasa seperti mereka, yang bisa melacak telepon dalam sedetik. Neng hanya akan membahayakan suamimu, kakakmu, anakmu dan kami sekeluarga."

Sebuah dilema yang mengerikan terpampang di depannya. Arsen dan Erlan sedang berduka atas kematiannya. Tapi jika mereka tahu ia hidup, nyawanya akan kembali terancam.

"Jadi- jadi aku harus bagaimana?" isak Emma, hatinya hancur. "Aku tidak bisa ... aku tidak bisa membiarkan bayiku-"

"Untuk saat ini," kata Ibu Suti lembut, "Neng harus diam di sini. Sampai Neng cukup kuat. Sampai Neng tahu musuh Neng sudah ditangkap. Di sini, Neng aman. Neng bisa melahirkan dengan selamat. Setelah itu, Neng bisa putuskan."

Emma menatap tangannya yang kosong. Cincin kawinnya yang indah, tanda cintanya, pasti sudah hilang di rel kereta. Ia kini adalah seseorang yang bukan siapa siapa.

Ia memejamkan mata. Arsen. Wajah Arsen yang hancur pasti terbayang di benaknya. Erlan. Jeritan kakaknya.

Ia menyentuh perutnya. Rasa sakit di rusuknya adalah pengingat bahwa ia masih hidup. Dan di dalam dirinya, ada detak jantung lain yang juga berjuang untuk hidup.

"Berapa lama sampai aku melahirkan?" tanya Emma, suaranya kini berubah. Kerapuhannya menghilang, digantikan oleh nada baja yang dingin.

"Ibu perkirakan, mungkin dua, tiga bulan lagi, Neng."

Tiga bulan. Tiga bulan dalam persembunyian. Tiga bulan untuk merencanakan kembali atau -

"Baik, Bu," kata Emma, membuka matanya. Tidak ada lagi air mata. Hanya ada tekad yang membara.

"Jika di ijinkan, aku akan tinggal. Aku akan jadi keponakan Ibu dari kampung. dan aku harap Ibu memberiku janji untuk bantu aku tetap kuat. Bantu aku dan anakku."

Ibu Suti tersenyum, senyum seorang pejuang yang mengenali pejuang lainnya. Ia menggenggam tangan Emma. "Itu baru namanya semangat. Sekarang, Neng istirahat. Minum jamu ini. Biar kuat."