His Contract Bride - Saling Terbuka di Bawah Senja - Bab 21

Penulis Rei_Moira
09 September 2025

Luther tidak berbohong dengan senja yang tidak seharusnya dilewatkan di halaman belakang villa tua peninggalan keluarganya. Semburat jingga dengan gradasi ungu pekat dan merah muda menyebar serentak—seakan sedang berada di dunia lain.

“Aku tidak pernah menyangka Vallmont memiliki senja yang nyaris tanpa cela.” Mata Aurora tak lepas dari gradasi langit yang terus berubah sepersekian detiknya.

Di sebelahnya, Kael duduk di kursi santai yang sama dengan Aurora. Tangan kanannya memegang cangkir kopi dan menyesapnya pelan. Hanya kopi sachet karena villa ini tidak memiliki mesin kopi canggih seperti di penthouse—tapi lucunya—rasanya terasa lebih nikmat.

“Bisa dibilang tempat ini sudah bukan wilayah Vallmont.” Kael berkata, matanya melirik pada langit yang saling berebut warna.

“Perbatasan Ravelle, i know. Tapi tetap saja… senja di sini terlihat berbeda. Padahal Vallmont dan Ravelle adalah tetangga dekat.” Aurora kini menoleh sejenak ke arah Kael—yang juga sedang menatap Aurora. “Menurutmu, apakah di Ednoar senjanya juga terlihat berbeda?”

Kael berdecak samar. Aurora mengerutkan kening saat mendengarnya. “Ini hanya tentang lokasi yang lebih lapang, Rora. Ucapanmu seolah Ednoar, Ravelle, dan Vallmont berada di semesta yang berbeda.”

Dasar pria minus romansa! Aurora balas mendecak dengan nada yang lebih tegas. “Kalau ada tempat kursus untuk mengolah hormon romantis dalam tubuh, kau harus mengikutinya. Aku serius.”

Kael tertawa kecil, tidak tersinggung sama sekali. “Kau mengatakan hal itu pada pria yang berhasil membuatmu mendesah dan melenguh berkali-kali.”

“Hei! Itu dua hal yang berbeda, Tuan Vireaux!” Aurora melengos, mulutnya mengerucut penuh.

“Dan kau menikmatinya, Nyonya Vireaux.”

Tidak salah. Kael mengatakannya tanpa berlebihan. Beberapa jam yang lalu, Aurora bahkan sampai terkulai karena ritme yang membuatnya kewalahan. Dan sialnya, itu membuatnya menginginkannya lagi dan lagi.

“Lupakan tentang itu,” ucap Aurora cepat. “Kita harus membahas tentang surat ancaman yang pernah kuterima waktu itu. Aku pikir… ada konspirasi besar di balik cerita orang tua kita.”

Ekspresi Kael menegang. Dengan beberapa hal yang terjadi belakangan ini, sejujurnya ia hampir melupakan kaitannya antara ancaman yang ditujukan pada Aurora dengan kematian ibunya.

“Kenapa aku bisa bernasib seperti mereka jika terus berada di dekatmu? Dan dengan serangan kemarin, bukankah itu berarti kematian mereka menjadi terdengar tidak wajar?”

Kael terdiam sejenak. Asumsi Aurora bisa ia pahami dengan mudah. Kenyataannya, alasan kematian Mireille Vireaux memang tidak pernah dijelaskan. Semua mengira jika Mireille mengakhiri hidupnya karena tidak tahan terhadap perselingkuhan Lucien Vireaux dan Isabelle Lambert.

“Apa yang kau ingat tentang memori terakhir dengan ibumu?” tanya Kael, setelah beberapa saat mencoba menyambungkan puzzle yang masih belum lengkap.

Aurora menghela napasnya panjang. “Tidak ada memori yang tersisa. Isabelle Lambert hanya sebatas orang yang melahirkanku, tapi tidak pernah menjadi ibuku. Well… karena itulah aku bisa maklum saat kau ingin membalas dendam atas perlakuannya. Yang aku tidak mengerti, kenapa kau ingin membalasnya padaku? Bahkan dia saja tidak pernah mengakuiku sebagai anaknya.”

Ucapan itu berhasil menampar kesadaran Kael. Rencana bodohnya waktu itu memang sangat kekanakan. “Aku tidak pernah tahu kalau kau juga korban.”

Tawa Aurora terdengar rendah. Teh chamomile yang telah dingin ia sesap pelan, seakan tak ingin momen ini berakhir hanya karena tehnya hampir habis. “Aku tidak menganggap diriku sebagai korban. Aku hanya membiasakan diri dan menerima kalau memang aku tidak pernah memiliki seorang ibu.”

Kael meraih tangan Aurora, menggenggamnya hangat, seolah menegaskan jika ia tak akan pernah membiarkan wanita itu sendiri lagi.

“Kadang aku bercanda tentang aku yang lahir dari batu.” Aurora kembali berkata.

“Tapi kini kau memiliki seorang suami.” Kael berucap lirih, tatapannya tak lepas dari wajah Aurora.

“Tapi… sayangnya hubungan kita hanya bernasib pada selembar kontrak.” Senyum Aurora samar, hatinya penuh gejolak. “Jika masanya telah habis, hubungan ini juga akan berakhir, benar?”

“Tidak!”

Aurora menoleh cepat. Sorot tajam Kael membuatnya terdiam.

“Hubungan kita tidak akan pernah berakhir, Rora. Kontrak itu… telah kubakar sejak aku menciummu untuk pertama kalinya.”

Tunggu…

Ciuman pertama mereka… bukankah itu berada di ruangan rahasia?

“Kael… itu—”

“Benar. Saat itu aku kalut karena takut kau melihat sisi rapuhku. Tujuanku telah berubah sejak kau menindihku pada malam pertama. Aku tidak lagi melihatmu sebagai alat balas dendam, tapi ada sesuatu yang masih kusangkal sampai kau mendobrak sisi terdalamku.”

Pengakuan itu, sangat tiba-tiba. Meskipun mereka telah saling menegaskan bahwa diri mereka saling memiliki, tapi kalimat Kael itu berhasil membuat Aurora terdiam sejenak.

“Kau…” Aurora menggantung kalimatnya. “... kau berniat balas dendam tapi langsung luluh hanya dalam beberapa jam setelah kita resmi menikah?”

“Memalukan, right?” Kael mengakuinya, tawanya parau dan samar di ujung. “Sorot matamu yang mengkhawatirkanku, aku tidak pernah mendapatkannya dari siapa pun.”

Aurora mencoba mengingat—sorot mata mana yang dimaksud oleh suaminya itu. “Wait… jangan bilang, saat aku menanyakan apakah kau merasa sakit setelah aku menindihmu malam itu?”

Kael menunduk, pundaknya bergetar pelan karena tawa miris yang tak bisa ditahan. “Kau benar. Saat itu niatku mulai goyah.”

Sangat tidak bisa dipercaya. Seorang Kael Vireaux yang dingin dan penuh misteri, dengan gaya petantang-petenteng ketika menawarkan kontrak pernikahan, tapi ternyata….

Aurora berdiri, membuat Kael tersentak saat wanita itu lalu duduk di pangkuannya. Kedua tangan Aurora merengkuh lembut wajah tegas itu, dan menatapnya lekat-lekat.

“Seberapa banyak penderitaan yang kau alami selama ini, Kael? Seberapa lelah kau berpura-pura kuat di balik hati yang rapuh?”

Kael tercekat. Pandangannya bergoyang. Pertanyaan sederhana itu… entah kenapa membuatnya menunduk dalam. Aurora tak bertanya lagi. Sebagai gantinya, ia mendekap Kael dan menepuk-nepuk pelan pundak pria itu. Tegang yang tadi sempat membuat Kael terdiam, perlahan mulai melemas. Pelukan itu… berhasil menghancurkan seluruh dinding tebal yang menutupi sisi Kael Vireaux yang sebenarnya.

“Maafkan aku,” lirih kael.

“No need to sorry,” ucap Aurora. “Kau hanya pria yang terluka. Dan aku adalah korban yang menggoda, ya, kan?”

Kael tertawa pelan saat menegakkan badannya. Aurora tersenyum, dengan kedua tangan yang masih mengalung di leher pria itu. “Aku tidak pernah menyangka korbanku seliar ini.”

“Oh, well…,” Aurora memiringkan kepalanya. “Kau telah salah memilih korban, Tuan Vireaux. Sekarang tanggung sendiri akibatnya.”

Kael mengecup singkat bibir Aurora, sementara langit telah menggelap sepenuhnya. Siluet mereka terlihat sempurna, di tengah ketidaksempurnaan yang membentuk luka mereka selama ini.

“Aku akan menanggungnya, dan mari kita cari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada masa lalu orang tua kita. Aku jadi ikut berpikir ada yang janggal setelah mendengar asumsimu tadi.” Kael mengeratkan tangannya di pinggang Aurora.

“Deal, aku rasa kita berhak tahu agar bisa menyembuhkan luka masing-masing, well… lukamu.”

“Kenapa hanya lukaku?” Kael mengerutkan keningnya.

“Karena lukaku telah sembuh karena mencintaimu. Aku tidak peduli dengan semua masa laluku dan apa saja yang telah dilakukan ibuku. Aku hanya peduli dengan apa yang kau rasakan. Karena jika sampai apa yang dilakukan ibuku benar-benar telah membentuk rasa sakitmu sampai sekarang, kurasa… aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.”

“Hei….” Kael membelai lembut wajah Aurora. “Bahkan jika itu benar terjadi, yang bersalah adalah Isabelle Lambert, bukan Aurora Vireaux. Kau tidak perlu merasa bersalah atas lukaku, Rora.”

Aurora tersenyum, kali ini lebih lega dari sebelumnya. “Terima kasih, Husband.”

“Anytime, Love. Sekarang… mau kita lanjutkan di dalam? Tenagaku sudah pulih.”

Aurora tertawa mendengarnya. “Kenapa harus bertanya? Aku tidak akan pernah menolaknya.”