Bab 26. Oma Rinda

Penulis regular20
04 November 2025

Bab 26. Oma Rinda

Brian bergegas menuju pintu, lalu membukanya. Ketika pintu di buka, ternyata itu adalah Oma nya sendiri.

"Oma?!" ucap Brian tergagap.

"Kenapa, kok kamu seperti kaget kalau Oma datang?" cecar Oma memasuki ruang apartemen Brian.

"Ah. Tidak kok, Oma!" kilah Brian mencoba mengatur napasnya.

"Brian, kenapa kode pintu apartemen kamu di ganti? Oma jadi tidak bisa langsung masuk kan, makanya tadi Oma pencet bel dulu!" tutur Oma sembari duduk di sofa.

"Oh iya, Oma tumben tiba-tiba datang kesini tapi gak kabari dulu? Ada keperluan penting apa Oma?" tanya Brian mengalihkan topik pembicaraan sebab tidak ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Tumben! Apa gak boleh. Apartemen ini juga dibeli dengan uangku, kenapa juga aku harus laporan ke kamu kalau mau kesini. Ada yang kamu sembunyikan dari Oma, Brian?" cecar Oma Rinda dengan tatapan tajam kepada cucu satu-satunya tersebut.

"Emm,,, nggak ada kok, Oma!" ujar Brian kikuk, tak berani menatap mata sang nenek.

Dalam hati Brian khawatir jika sang nenek mengetahui jika dirinya tengah menghadapi masalah yang cukup pelik, entah apa yang akan Oma Rinda lakukan saat mengetahui kenyataan itu.

"Oh ya, Oma dapat kabar jika pacarmu yang desainer itu sudah menikah. Apa benar?" cetus Oma Rinda bertanya karena merasa penasaran dengan kabar tentang pernikahan Mona yang notabene merupakan kekasih dari cucunya.

"Iya, Oma. Bagaimana Oma bisa tahu?" tanya Brian heran, tidak menyangka jika sang nenek mengetahui kabar itu.

"Kamu gak perlu tahu Oma dapat info dari sumber mana. Yang jelas yang ingin Oma tanyakan adalah bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Bukankah dia pacarmu? Kenapa malah meninggalkanmu dan malah menikah dengan orang lain?" Kembali Oma Rinda melemparkan pertanyaan kepada Brian sembari menatap ke arah pria muda itu dengan intens.

"Itu salah Brian, Oma!" ucap Brian yang membuat Oma Rinda mengernyitkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Memang apa salahmu, sehingga Mona meninggalkanmu untuk menikah dengan pria lain?" tanya Oma Rinda dengan rasa penasaran yang menyelimuti pikirannya.

"Aku telah meninggalkan Mona di hari pernikahan kami, aku tidak datang saat prosesi akad nikah itu terjadi. Jadilah Mona di nikahkan dengan sopir pribadi ayahnya, yang sekarang menjadi suaminya!" tutur Brian menjelaskan.

"Kenapa kamu mengambil keputusan sebesar ini tanpa memberitahu Oma? Dan kenapa itu kamu lakukan Brian? Oma tidak pernah mengajarkanmu menjadi seorang pria yang pengecut, kenapa juga kamu tidak mau datang di hari pernikahanmu sendiri?" ungkap Oma Rinda heran.

"Itu karena aku belum siap untuk menjadi seorang ayah Oma, jadi aku putuskan untuk tidak datang ke acara pernikahan itu!" tutur Brian.

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Brian yang seketika membuatnya merasa terkejut, sebab selama ini sang nenek tidak pernah memperlakukan hal itu pada dirinya.

"Jadi, Mona sekarang tengah mengandung anakmu? Darah daging mu? Cucu kandung Oma!" bentak Oma Rinda penuh emosi.

Brian hanya terdiam saat Oma Rinda membentaknya, dia tahu jika dirinya memanglah bersalah dalam hal ini. Kini, dia pun telah menyesal dengan segala perbuatannya yang saat itu menuruti apa kata Mariska untuk meninggalkan Mona untuk menghadapi pernikahan yang seharusnya terjadi di antara mereka. Atas perbuatannya yang membuat Mona berbadan dua, namun kini penyesalan itu seperti sudah tiada artinya.

"Iya Oma, maafkan aku. Aku memang bersalah dalam hal ini, tapi sekarang aku sedang berusaha untuk mendapatkan Mona kembali bagaimanapun caranya!" ujar Brian yang sedari tadi menunduk lesu, lalu memandang wajah sang nenek.

"Lantas, apa menurutmu Mona akan menerimamu kembali? Setelah kamu membuangnya, di hari pernikahan yang seharusnya indah dan menjadi impian bagi semua gadis di dunia? Sedangkan kamu malah menaburkan garam di atas lukanya! Kamu pikir dia akan bertahan dengan cinta yang sudah di khianati? Kamu sudah menjatuhkan dan merendahkan harga dirinya, setelah kamu mendapatkan semuanya dan pergi meninggalkannya. Di saat itu juga, kamu sudah kehilangan dia untuk selamanya!" cecar Oma Rinda yang membuat mulut Brian diam tak berkutik, karena semua yang telah di ucapkan sang nenek benar adanya.

"Oma tekankan, jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang akan mempermalukan kamu dan juga Oma. Apalagi kalau sampai berurusan dengan pihak berwajib, Oma tidak akan membelamu. Kamu sudah melepaskan wanita sebaik Mona, dan kini kamu juga telah kehilangan hak atas anak yang tengah di kandung Mona. Meski Oma kecewa, sebab tidak bisa merawat dan membesarkan anak kamu. Tapi Oma tidak bisa berbuat apa-apa, jadi Oma harap kamu sadar akan kesalahan yang telah kamu perbuat dan tidak kembali melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya!" tutur Oma Rinda panjang lebar.

"Tapi Oma!"

"Tidak ada tapi-tapian, dan Oma tidak akan pernah mendukungmu jika kamu masih mau mengejar cinta Mona kembali. Biarkan dia bahagia dengan keluarga barunya, jangan pernah kamu usik kehidupan mereka!" hardik Oma Rinda yang membuat nyali Brian menciut.

"Walau mungkin kita hanya bisa memperhatikan perkembangan anakmu dari jauh, karena ini semua kesalahanmu. Nasi telah menjadi bubur, sekarang lebih baik kamu merelakan semua yang sudah terlanjur terjadi!"

"Baiklah, aku akan menuruti semua perkataan Oma. Aku tidak akan mengganggu Mona dan keluarganya lagi," sahut Brian dengan berat hati, berat untuknya untuk merelakan Mona begitu saja.

Kemudian Oma Rinda pun mengelus punggung cucunya dengan lembut, namun dia tidak mengetahui jika Brian tengah melakukan kesalahan yang sama lagi untuk kedua kalinya.

"Sekarang mari kita lupakan masalah ini, Oma mau kamu fokus untuk mengurus perusahaan. Bisa kan Brian?" tanya Oma lembut.

"Iya Oma, Brian akan menurut apa kata Oma!" sahut Brian.

"Jadi begini, Oma akan ada sebuah proyek kerjasama dengan perusahaan besar. Oma mau, kamu yang menghandle proyek ini, kamu harus berubah Brian. Jangan selalu mengandalkan Oma, Oma tidak tahu sampai kapan akan terus menemanimu!" desah Oma Rinda, yang membuat hati Brian terasa nyeri.

"Oma, jangan bicara begitu. Oma akan hidup panjang bersama Brian," jawab Brian sembari menggenggam tangan sang nenek.

"Bagaimana? Kamu bersedia Brian?"

"Iya Oma, Brian janji akan berubah dan menuruti perintah Oma!" jawab Brian.

* Sementara itu di kantor YP Grup, Mona yang tengah mengamati Ayah dan Suaminya dari balik jendela kaca ruangan Adi kini tengah berdiri di depan pintu.

Tok... Tok... Tok....

"Mas Ahmad, apa aku boleh masuk?" tanya Mona dari balik pintu.

"Oh, iya Mona. Masuklah!" seru Ahmad dari dalam ruangan itu.

"Lho, Ayah ada di sini juga?" tanya Mona berpura-pura terkejut.

"Iya sayang, Ayah baru saja masuk kok. Kamu tumben ada di sini! Tadi setelah dari kantor polisi gak ke butik nak?" tanya Pak Andi kepada putri tersayangnya itu.

"Aku sedang tak semangat pergi ke butik Yah, jadi semua pekerjaan aku serahkan ke Gladis. Dan aku memutuskan untuk stay di kantor ini, aku pengen nemenin Ayah dan pengen makan siang bareng juga sama Ayah!" ujar Mona bergelayut manja di lengan sang Ayah.

"Duh anak Ayah, sudah menikah kok masih manja sama Ayahnya!" ujar Pak Andi mencubit hidung putri semata wayangnya.

"Sekarang ayo kita pergi ke ruangan Ayah dulu, jangan ganggu Suamimu yang sedang bekerja," ucap Pak Andi yang kemudian merangkul pundak sang putri untuk mengajaknya menuju ruangannya. Sebelum keluar Pak Andi sempat menoleh ke arah Ahmad dan mengedipkan sebelah matanya, yang lalu kemudian di balas dengan anggukan oleh Ahmad.

Mona, yang melihat hal itu seketika mengernyitkan keningnya. Dia heran dan penasaran dengan sikap Ayah serta Suaminya, namun dia berusaha bersikap biasa seperti tak tahu apa-apa. Mona juga menekan rasa keingintahuan dan penasarannya, dia memilih untuk menunggu Ayah atau sang Suami yang akan menjelaskan padanya tentang apa yang sebenarnya terjadi.

**

Sementara itu di tempat lain, ada seorang wanita tua yang sedang duduk dengan raut muka sedih. Lalu seseorang perempuan muda datang menghampirinya, dia tersenyum lalu mengelus punggung wanita tua.

"Ibu, ada telepon untuk ibu!"

"Apakah itu dari putriku?" tanya wanita tua itu terlihat sumringah.