Bab 27. Buah Jatuh Tak Jauh Dari Pohonnya
Sementara itu di tempat lain, ada seorang wanita tua yang sedang duduk dengan raut muka sedih. Lalu ada perempuan muda yang datang menghampirinya, dia tersenyum lalu mengelus punggung tangan wanita tua tersebut.
"Ibu, ada panggilan telepon untuk Ibu!"
"Apakah itu dari putriku?" tanya wanita tua itu terlihat sumringah.
"Bukan Bu, itu telepon dari kepolisian!" jawab wanita muda itu.
"Kepolisian? Ada apa ya!" ujar Ibu tua itu khawatir.
"Saya kurang tahu Bu, mari saya antar ke sana!"
"Baiklah, suster."
Tak berapa lama mereka tiba di kantor pengurus panti jompo, lalu suster menyerahkan gagang telepon yang ada di meja kepada Ibu itu.
"Ini Bu, saya tinggal dulu ya!" pamit sang suster.
"Iya, terima kasih suster Ana!" sahutnya.
"Halo, apa benar ini dari kepolisian?" tanya Ibu itu.
"Iya benar, apa betul ini dengan Ibu Nadira Nadiva?" tanya suara bariton dari ujung telepon.
"Iya, saya sendiri. Ada keperluan apa ya Pak?"
"Jadi benar, putri Ibu Nadira yang bernama Mariska!"
"Iya Pak, benar. Ada apa? Apa yang terjadi pada putri saya?"
"Putri Ibu terlibat kasus sebuah tindak kejahatan, sekarang dia adalah tersangka dan menjadi tahanan sementara di kantor polisi kami. Sampai adanya sidang tuntutan, yang akan memberikan vonis berapa tahun dia akan mendekam dalam jeruji besi." Terang Pak polisi menjelaskan.
"Kasus apa yang dilakukan oleh putri saya Pak? Setahu saya, dia tidak pernah terlibat kasus apapun!" tukas Bu Nadira.
"Saudari Mariska terlibat dalam sebuah kasus penculikan, yang di rencanakan oleh kekasihnya Jerry sebagai otak dalam kasus ini!" jelas Pak polisi.
"Kasus penculikan! Bagaimana mungkin," ucap Nadira sembari menutup mulutnya dengan tangan.
"Dan saya ada satu berita lagi."
"Apalagi, Pak?" tanya Nadira pasrah.
"Putri Ibu sekarang sedang berbadan dua!" papar Pak polisi.
"HAMIL?!" pekiknya terkejut mendengar berita itu.
Bu Nadira tak habis pikir, kenapa bisa ini terjadi pada putri semata wayangnya? Kenapa hal yang dulu pernah dia lakukan, sekarang juga di lakukan oleh sang putri. Kenapa kesalahan yang sama terulang kembali, apa ini karma baginya karena telah memisahkan dua orang yang saling mencintai.
Sekarang, apa yang harus dia lakukan. Dia tak ingin putrinya masuk ke dalam jeruji besi, tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun. Mengingat keadaannya yang tidak mampu berbuat apapun, dia hanya bisa pasrah menerima keadaan ini.
"Cukup begitu saja, Bu. Hanya itu info yang ingin saya sampaikan. Nanti akan kami kabari kembali jika putri Ibu akan menjalani sidang," ucap Pak polisi.
"Baik, Pak. Terima kasih atas informasinya!" jawab Nadira menutup teleponnya.
Tak berselang lama, Suster Ana datang menghampiri Nadira yang tengah bersedih setelah mendengar kabar tentang putrinya.
"Ibu kenapa menangis?" tanya Suster Ana heran.
"Saya tidak apa-apa, Suster," jawab Nadira sembari mengusap jejak air matanya.
"Benar?" imbuh suster khawatir.
"Iya, Suster!" ucap Nadira lirih.
"Baiklah jika Ibu tidak mau cerita, tidak apa-apa. Oh iya, di ruang tamu ada orang yang ingin bertemu dengan Ibu!" tukas suster Ana.
"Siapa, Suster?" tanya Bu Nadira.
"Saya tidak tahu Bu, mereka dua orang anak muda yang tampan!" tutur suster Ana dengan pipi bersemu merah.
"Baiklah, saya akan temui mereka," ucap Bu Nadira hendak memajukan kursi rodanya.
"Biar saya bantu dorong sampai ke sana, Bu!" tawar suster Ana.
"Terima kasih, Suster."
Tak berapa lama mereka berdua sampai di ruang tamu pengunjung panti jompo tempat tinggal Nadira, di sana telah menunggu dua anak muda tampan yang di sebutkan sang suster tadi.
"Siapa sebenarnya kalian? Sepertinya aku tidak mengenal kalian! Kenapa kalian ingin menemui ku?" papar Bu Nadira sesaat setelah tiba di hadapan dua pria muda itu, sementara itu suster Ana pamit meninggalkan mereka bertiga agar lebih leluasa mengobrol.
"Perkenalkan, saya Ahmad Jaelani!" ucap Ahmad seraya mengulurkan tangannya kepada wanita tua yang ada di depannya.
"Ahmad Jaelani?" kata Bu Nadira mengernyitkan keningnya.
"Ibu memang tidak kenal dengan saya, tapi mungkin Ibu akan ingat dengan nama yang akan saya sebut. Apa Ibu ingat nama Abdul Jaelani dan Ningsih Puspita?" lanjut Ahmad, sementara itu Adi hanya duduk diam menunggu agak jauh dari Ahmad dan Bu Nadira.
"Abdul Jaelani, Ningsih Puspita. Apa hubunganmu dengan mereka?" sahut Bu Nadira.
"Jadi anda mengingat mereka?" ucap Ahmad bertanya dengan sabar.
"Iya, aku sangat mengenal mereka. Apa mereka baik-baik saja?" tanya Nadira kemudian, dia merasa penasaran dengan apa yang terjadi dengan kedua nama yang disebutkan Ahmad.
"Iya, mereka baik. Jadi, apa benar di masa lalu Abdul Jaelani adalah suami dari Ningsih Puspita? Dan apa penyebab perpisahan mereka?" tukas Ahmad.
"Benar, Abdul memang suami dari Ningsih. Sahabatku, dan aku adalah penyebab dari perpisahan mereka!" sesal Bu Nadira lirih sembari menundukkan kepalanya.
"Bisakah anda menceritakan semuanya kepada saya?" tanya Ahmad.
"Tunggu, kamu siapa nak? Kenapa ingin tahu masalah ini!"
"Aku adalah putra dari Bapak Abdul dan Ibu Ningsih, aku ingin tahu kebenarannya. Jika memang Ayahku tidak bersalah, aku ingin mereka bersatu kembali!" terang Ahmad.
"Jadi, kamu adalah putra dari Ningsih?" ucap Bu Nadira dengan ekspresi terkejut.
"Kenapa Bu?" tanya Ahmad bingung.
"Syukurlah kamu hidup nak, maafkan Ibu!"
"Apa maksud Ibu?"
"Baiklah, karena kamu sudah ada di sini. Ibu akan menceritakan semuanya, sebuah kesalahan yang telah aku lakukan di masa lalu dan membuatku menyesal hingga hari ini!" ucap Bu Nadira mulai bercerita.
"Semua berawal dari 26 tahun lalu, saat itu aku baru saja merintis karir modeling. Dan saat itu aku yang baru saja selesai pemotretan, bertemu Abdul di sebuah restoran!" "Aku yang melihatnya, begitu terpesona akan ketampanan dan juga auranya yang begitu karismatik. Aku merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama, dan aku ingin memiliki dia seutuhnya."
"Lalu," sahut Ahmad.
"Aku mulai mendekatinya, namun dia tak pernah menggubris ku. Aku berupaya menarik perhatiannya, namun tak pernah berhasil dia hanya menganggap ku sebagai teman dan ternyata itu ada sebabnya. Baru aku tahu, dia ternyata telah memiliki istri. Dia Ningsih Puspita, Ibumu. Wanita sederhana, namun begitu di cintai oleh Abdul."
* Flashback, 26 tahun yang lalu.
Suatu ketika Nadira Nadiva diminta oleh Abdul Jaelani untuk menjadi Brand Ambassador dari produk baru yang akan segera di rilis. Dengan suka cita Nadira menerima tawaran itu, ini adalah kesempatan untuk bisa dekat dengan Abdul.
Setelah selesai pemotretan, seperti biasa seluruh staf kantor di ajak untuk makan malam di sebuah restoran untuk memberikan apresiasi karena mereka telah bekerja keras dan melakukan tugas dengan baik. Hal itu pun sangat di sambut baik oleh semua staf, dan karena itulah mereka selalu bersemangat dalam bekerja. Di tambah lagi, saat produk sudah launching dan memenuhi target penjualan. Pak Abdul tak segan untuk memberikan bonus bagi seluruh karyawannya.
Mereka begitu menghormati dan mengagumi atasan mereka, terutama Nadira. Mungkin bisa di bilang dia terobsesi memiliki Abdul, walau dia tahu Abdul sudah memiliki istri.
Seperti malam itu, saat acara makan malam di restoran VIP yang tertutup. Dia akan melakukan aksinya, menunggu saat yang tepat untuk menjerat. Satu persatu karyawan memohon pamit untuk pulang, sementara sang atasan masih menunggu telepon dari sang istri yang katanya akan menyusul ke acara tersebut.
"Mas Abdul, gak ikut makan!" rayu Nadira sembari merapatkan tubuhnya pada Abdul.
"Nadira! Jaga sikapmu, aku ini sudah beristri!" sentak Abdul kepada Nadira, sehingga membuat sebagian karyawan yang masih ada di tempat itu menjadi canggung karena melihat kejadian tersebut. Tindakan Abdul kepada Nadira membuatnya geram dan ingin segera menuntut balas, dia pun segera berdiri lalu pergi ke toilet restoran.
"Hari ini kamu akan jadi milikku Abdul, kamu akan membayar perbuatan mu yang telah menolak ku!" tekad Nadira yang berada di wastafel toilet, sembari memegang sebuah botol kaca kecil di tangannya.