Bab 28. Ide Licik Nadira
"Hari ini kamu akan jadi milikku Abdul, kamu akan membayar perbuatan mu yang telah menolak ku!" tekad Nadira yang berada di wastafel toilet, sembari memegang sebuah botol kaca kecil di tangannya.
Setelah itu Nadira memoleskan lipstik pada bibirnya, lalu membubuhkan sedikit lagi bedak pada wajahnya dan tak lupa dia menyemprotkan parfum ke lehernya.
Kemudian, Nadira beranjak menuju ruangan VIP tempat rombongan kantor tadi melakukan makan malam. Di sana terlihat Abdul yang tengah bersama dengan dua orang karyawan kantor dan masih tampak asik mengobrol, setibanya Nadira mendekat dia pun memberikan tatapan tajam ke arah dua karyawan kantor yang tersisa.
"Pak, kami pamit ya. Sudah terlalu malam, nanti keluarga kami khawatir!" ujar mereka pun buru-buru pamit meninggalkan tempat itu, sedangkan Nadira mulai melancarkan aksinya.
"Lho, aku datang kok mereka malah pergi!" cetus Nadira merasa heran.
"Bukannya kamu sudah dengar, mereka tak ingin keluarga mereka khawatir. Makanya mereka pulang duluan, kenapa kamu tak ikut juga bersama mereka. Mungkin keluargamu juga khawatir!" tukas Abdul menimpali.
"Aku maunya kamu bawa pulang, Mas!" gumam Nadira mendekati Abdul yang tengah memainkan ponselnya.
"Nadira, jangan dekat-dekat. Nanti kalau Ningsih lihat dia bisa salah paham!" protes Abdul mulai menjauhi Nadira.
Bukan Nadira namanya jika mendapatkan penolakan maka akan langsung berhenti, justru dia merasa lebih tertantang untuk menaklukkan pria yang saat ini sedang bersamanya.
"Ah. Jangan sok jaim kamu, Abdul. Sekarang di ruangan ini cuma ada kita berdua, kenapa mikirin yang lain sih?" goda Nadira yang mengelus punggung tangan Abdul, sementara kepala menyandar pada bahunya.
"Cukup Nadira, jaga sikapmu!" bentak Abdul seraya berdiri.
"Kamu mau kemana, Mas?" tanya Nadira lirih dengan ekspresi wajah menggoda.
"Ke toilet!" ketus Abdul berlalu tanpa menoleh.
Hal yang tak di sia-siakan oleh Nadira, segera dia menuangkan cairan yang berada dalam botol kecil tadi ke dalam air mineral Abdul. Selama ini dia selalu mengawasi, jadi dia tahu kebiasaan Abdul yang akan langsung minum air mineral ketika selesai dari toilet.
"It's show time!" ucap Nadira tersenyum menyeringai, sambil memasukkan botol tadi ke dalam tasnya.
Tak lama kemudian, yang di tunggu-tunggu datang juga. Dan sesuai dugaan, Abdul langsung menegak air mineral dalam gelas hingga tandas. Lalu terlihat dia sedang mengetik pesan dengan ponselnya, entah dengan siapa. Dan tak menunggu hingga lama, Abdul pun mulai merasakan tubuhnya panas dan agak sedikit pusing.
Samar-samar dia melihat wajah Nadira beralih menjadi wajah Ningsih, sang istri tercinta. Abdul pun begitu bahagia, merasa sang istri sudah datang menemuinya.
"Sayang, kok lama sih kamu datangnya!" racau Abdul, sembari merangkul pundak Nadira.
"Yang penting kan aku sudah datang!" sahut Nadira, yang tengah berpura-pura menjadi Ningsih.
Entah apa yang tadi dia masukkan ke dalam minuman Abdul, hingga membuat Abdul berhalusinasi melihat Nadira sebagai Ningsih. Dan tentu saja, hal itu yang akan di manfaatkan Nadira untuk menjerat Abdul.
"Sayang, aku mencintai dan menyayangimu. Kamu cantik sekali malam ini sayangku," puji Abdul yang kemudian memeluk erat Nadira.
Bersamaan dengan itu, pintu ruangan di buka yang membuat Abdul terkejut. Ternyata itu adalah sang istri, Ningsih. Yang melihat sang suami sedang berpelukan dengan wanita lain di ruangan tertutup itu.
"MAS! Kamu tega ya, sama aku!" teriak Ningsih yang sontak menatap ke arah dua manusia dihadapannya dengan mata membulat.
Hal itu seketika membuat Abdul terbelalak karena mendengar teriakan sang istri. Akan tetapi tak berlangsung lama sebab dia masih terpengaruh oleh obat yang di berikan Nadira tadi.
Sehingga dia membiarkan sang Istri pergi begitu saja, dan tidak mengejarnya sebab dia melihat istrinya ada di hadapannya. Padahal semua itu hanyalah ilusi dan orang yang kini bersamanya tak lain dan tak bukan itu adalah Nadira Nadiva.
Nadira pun tak melepaskan kesempatan itu, dia berjalan menuju pintu lalu menutupnya rapat dan kemudian berusaha membuka ujung kancing baju Abdul untuk melancarkan rencana selanjutnya, namun....
Pintu dibanting dengan keras oleh seseorang, dan pria itu pun lantas menghentikan aksi Nadira yang akan berbuat lebih jauh.
"CUKUP! Hentikan perbuatan biadap mu, Nadira!" pekik pria yang baru saja masuk dalam ruang VIP tersebut.
"Jangan ikut campur urusanku, Andi Permana!" hardik Nadira menatap tajam dengan tangan yang masih memegang erat tangan.
"Tentu aku harus ikut campur, Abdul adalah sahabat baikku. Jangan kamu berani menghancurkan keluarganya, atau...." Ancam Andi menunjuk wajah Nadira, yang kini tengah berdiri di hadapannya.
Sementara Abdul terlihat kepanasan dan wajahnya yang memerah karena efek dari obat yang di berikan Nadira tadi, dengan napasnya yang terdengar memburu sedang terbaring di sofa ruangan itu.
"Atau apa? Hah! Kamu mau mukul perempuan?" tanya Nadira menantang, sambil menepuk pipinya di depan wajah Andi Permana.
"Huh, jangankan memukulmu. Menyentuhmu pun aku tak sudi, dasar wanita jala*g tak tahu diri!" hardik Andi, yang kemudian menghampiri Abdul. Lalu merangkul tubuh sahabatnya tersebut untuk pergi dari tempat itu.
"Andi sial*n, dia mengacaukan semua rencana yang sudah ku atur!" umpat Nadira.
Rencana Nadira untuk memperdaya Abdul telah gagal, karena kedatangan Andi Permana yang entah bagaimana caranya bisa datang ke restoran itu tepat waktu dan menggagalkan usaha Nadira. Tak lama Nadira sedikit menyunggingkan senyumnya, karena telah berhasil membuat Ningsih salah paham.
"Rencana ku tak sepenuhnya gagal, meski sedikit berantakan karena ulah Andi Permana itu. Tunggu saja kehancuran mu Abdul!" tukas Nadira dengan tangan bersedekap dan senyum menyeringai menghiasi bibirnya.
Keesokan harinya Nadira berniat menelepon Abdul, untuk mengetahui kabar hubungan Ningsih dan Abdul. Setelah dia mencari nomor telepon Abdul, Nadira pun segera menghubunginya.
"Hai Sayang, ketemuan yuk!" ajak Nadira, setelah teleponnya di angkat oleh Abdul.
"Apa mau mu? Tak puas kah kamu membuatku bertengkar hebat dengan Ningsih!" tukas Abdul.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," ujar Nadira.
'Bagus, mereka ternyata sudah bertengkar hebat semalam. Tunggu rencana ku selanjutnya Abdul, Ningsih!' batin Nadira.
"Jangan pura-pura bdh, Andi sudah menceritakan semua kejadian yang terjadi semalam!" berondong Abdul.
"Memang apa salahku? Kamu sendiri yang semalam mendekatiku, lalu...." kilah Nadira.
"Jangan mengada-ada Nadira! Aku tak melakukan apapun padamu!" sergah Abdul.
"Jadi, kamu lupa hal yang kita lakukan semalam? Teganya kamu!" tukas Nadira, berusaha menyudutkan Abdul.
"Itu karena kamu telah memasukkan sesuatu pada minumanku, Nadira. Dan aku tidak merasa telah melakukan sesuatu padamu, juga Andi menjadi saksi jika aku tak bersalah!" kilah Abdul.
"Benarkah jika aku yang salah? Apa kamu punya buktinya? Jangan menuduh tanpa bukti Abdul, nanti jatuhnya fitnah. Kamu tak mau kan terancam pasal pencemaran nama baik, karena menuduhku tanpa bukti!" tantang Nadira.
"Aku gak mau berurusan denganmu lagi Nadira, dan Aku harap kamu mengundurkan diri sebagai Brand Ambassador produk perusahaan kami!" ucap Abdul memberi perintah.
"Mana bisa seperti itu Sayang, Aku kan sudah terikat kontrak dan tidak bisa berhenti di tengah jalan meski ingin!" timpal Nadira.
"Sl, dasar wanita mrh*n!" kesal Abdul seraya menutup teleponnya.
Sementara itu Nadira tersenyum puas, karena telah berhasil membuat pasangan yang terkenal harmonis itu jadi bertengkar hebat. Dalam pikiran liciknya dia telah merencanakan hal lain untuk Abdul dan Ningsih, agar mereka berpisah untuk selamanya. Tak berselang lama, dia menelepon seseorang.
"Halo, ada pekerjaan untukmu!" ucap Nadira.
Setelah itu Nadira menceritakan rencananya panjang lebar, kepada lawan bicaranya.
"Bagaimana? Kamu bisa kan?" cetusnya.
"Gampang, itu bisa diatur. Asal harganya cocok!" sambut lawan bicaranya.
"Kalau soal itu, kamu tenang saja. Semuanya sudah aku siapkan!" ujar Nadira.
"Oke, aku akan langsung menjalankan rencana sesuai perintah. Setelah kamu sudah mentransfer sebagian uang sebagai tanda jadi, dan jangan lupa kirimkan foto orang yang kamu maksud!"
"Siap, akan segera Aku kirimkan semuanya."
"Baik, Aku tunggu secepatnya!" imbuh pria itu menutup telepon.