Bab 29. Obsesi Nadira

Penulis regular20
04 November 2025

Bab 29. Obsesi Nadira

"Baik, Aku tunggu secepatnya!" imbuh pria itu menutup telepon.

"Sebentar lagi kamu akan kehilangan Ningsih untuk selamanya Abdul. Kita lihat kamu bisa apa!" gumam Nadira dengan senyuman menyeringai. Sesuai dengan rencana yang telah disusun Nadira dan orang suruhannya, mereka pun segera menjalankan niat jahat tersebut.

Nadira sudah mengirimkan foto dirinya dan juga Abdul yang paling cocok untuk melancarkan aksinya, agar hasil editing foto itu terlihat bagus dan alami. Yang akan menunjukkan gambaran seolah-olah dirinya dan Abdul, tengah melakukan perbuatan terlarang.

Lalu kemudian, nantinya foto itu akan di kirimkan kepada Ningsih dan juga Abdul. Setelah menunggu beberapa jam lamanya, akhirnya Nadira mendapatkan kiriman sebuah foto di aplikasi hijau.

Gegas Nadira langsung mengunduh file tersebut, lalu melihat satu-persatu foto editan yang dikirimkan orang suruhannya. Lantas, senyumnya pun langsung mengembang.

"Bagus, hasil yang sangat sempurna. Dan ini pasti akan berhasil untuk mengelabuhi Ningsih, lalu dia pasti akan langsung meninggalkan Abdul!" gumam Nadira puas.

Tak lama kemudian, Nadira segera menghubungi nomor dari pengirim foto tadi.

"Kerja kamu bagus sekali, aku suka dengan hasilnya!" puji Nadira saat panggilan teleponnya telah dijawab oleh sang pengirim foto.

"Terima kasih, aku pun merasa senang jika klien ku suka dengan hasil karyaku!" timpal pria di ujung telepon.

"Apa foto itu sudah kamu cetak, sesuai dengan permintaanku tadi?" tanya Nadira kemudian.

"Foto itu bahkan sudah aku kirimkan ke alamat tujuan, dengan paket kilat. Sebentar lagi pasti akan sampai di tempat tujuan." Imbuh pria itu.

"Pastikan mereka menerima dan membuka foto yang kamu kirim, setelah kamu menyelesaikan tugas itu akan segera aku kirimkan sisa pembayarannya!" terang Nadira.

"Tenang, kurir ku profesional dan tepat waktu."

Nadira pun lantas menutup teleponnya, dan dia pun mulai memainkan musik favoritnya seraya berbaring lalu memejamkan mata.

* Malam hari pun tiba, terdengar berisik dering ponsel yang ada di nakas. Terlihat tulisan pada layar benda pipih itu, di situ tertera nama Abdul sedang memanggil. Dan itu membuatnya senang, karena sepertinya rencananya untuk memisahkan Abdul dan Ningsih akan segera terwujud.

Dia pun mengacuhkan panggilan dari Abdul, dia akan menunggu laki-laki yang dicintainya itu datang sendiri kepada dirinya. Meski dia tahu kedatangan pria bukan seperti yang ia inginkan. Satu jam kemudian Nadira mengintip dari celah gorden yang ada di kamarnya untuk memastikan kedatangan Abdul.

Dari kejauhan dia melihat mobil Abdul memasuki halaman rumahnya setelah dibukakan gerbang oleh security, senyumannya pun mulai mengembang. Dia pun segera bersiap, dia mengganti pakaiannya dengan baju yang kurang bahan dan terlihat transparan. Dari luar terdengar gedoran keras di pintu, Nadira pun bergegas membuka pintu itu untuk Abdul.

"Sayang!" seru Nadira seketika saat dia telah membuka pintu, tak lama setelah Abdul masuk. Nadira langsung menutup rapat pintu rumahnya.

"Akh!" pekik Abdul seraya menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Nadira menggoda sembari berusaha membuka telapak tangan yang menutupi mata Abdul.

"Jangan sentuh aku, Nadira. Apakah kamu tidak merasa malu memakai baju yang kurang bahan begitu!" tukas Abdul yang masih bersikeras menutupi pandangan matanya.

"Aku berpakaian begini hanya untukmu, Sayang!" desah Nadira membisikkan kata-kata tepat di telinga Abdul.

"Jangan panggil aku sayang!" sentak Abdul yang berusaha menjauhi Nadira. Sementara itu Nadira semakin bertindak begitu agresif dan terus merapatkan tubuhnya ke Abdul.

"Cukup, Nadira!" ucap Abdul yang kemudian membuka jas yang di pakainya, lalu menggunakan nya untuk menutupi badan Nadira.

"Cih, sok alim dan jaim!" celetuk Nadira yang kemudian menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa, dengan menyilangkan kakinya.

"Jadi, ada perlu apa kamu datang kemari?" ucap Nadira seolah-olah tidak tahu apa yang membuat Abdul datang ke rumahnya.

"Kamu jangan pura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi!" hardik Abdul sembari melemparkan amplop yang dari dalamnya berhamburan foto-foto syur antara dirinya dan Nadira.

"Wah, foto yang bagus!" celetuk Nadira seraya mengambil beberapa foto yang berserakan di meja.

"Gara-gara foto ini, aku harus kehilangan Ningsih!" ucap Abdul sembari menggebrak meja.

"Terus... Kenapa sekarang kamu menyalahkan aku? Memangnya, apa salahku?" tukas Nadira yang sama sekali tidak merasa bersalah dengan apa yang baru saja ia lakukan.

"Kamu kan yang membuat foto-foto itu, dan mengirimkannya pada Ningsih? Karena kita tidak pernah dan gak akan mungkin melakukan perbuatan hina itu!" ujar Abdul.

"Tidak pernah bukan berarti hal itu tak akan terjadi!" cetus Nadira memulai aksinya, dia membuka jas yang tadi di pakai Abdul untuk menutupi tubuhnya.

"Percuma aku berusaha untuk bicara baik-baik sama kamu. Dasar, wanita murah*n!" tukas Abdul seraya beranjak akan keluar dari rumah Nadira.

Namun hal yang terduga terjadi. Tiba-tiba Nadira merobek bajunya sendiri, lalu dia mulai berteriak.

"Tolong... Tolong, ada orang jahat!" teriaknya dengan mata yang mulai berembun.

"Hei, apa yang mau kamu lakukan? Kamu sudah hilang akal?" hardik Abdul dengan mata membulat.

"Tolooong... Dia berusaha melecehkan ku!" teriaknya lagi, yang membuat security serta beberapa orang yang kebetulan lewat di depan gerbang rumah Nadira pun seraya berkumpul dan menghampiri sumber suara.

Mereka pun sempat akan menghakimi Abdul, jika saja Pak RT tak segera datang untuk melihat apa yang telah terjadi. Abdul yang berusaha meyakinkan semua orang bahwa dia tak bersalah tidak punya kekuatan sebab sudah banyak bukti di depan mata yang memberatkannya.

Tidak ada seorangpun dari mereka yang percaya sebab mereka lebih percaya ketika melihat Nadira dengan baju yang robek sana sini juga uraian air mata palsu yang mengalir di pipi Nadira.

Mudah bagi wanita itu untuk berakting, sebab dia adalah seorang aktris dengan bayaran termahal yang tidak dapat diragukan lagi aktingnya, menangis adalah hal paling mudah dilakukannya.

Padahal baju yang dikenakan Nadira cukup menggoda, akan tetapi hal itu tidak membuat para warga berpikiran jika wanita itu yang terlebih dahulu menggoda Abdul dan malah mempercayai wanita itu.

Akhirnya setelah dilakukan musyawarah, di putuskan bahwa Abdul dan Nadira akan di nikahkan saat itu juga agar menjaga kehormatan Nadira yang telah ternoda.

Abdul hanya bisa pasrah menerima keadaan ini, sekarang hidupnya telah benar-benar hancur. Kehilangan istri yang sangat di cintai ya, dan juga harus terjebak pernikahan dengan wanita yang telah menghancurkan hidupnya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Nadiva binti Sutarman dengan mas kawin uang sebesar seratus ribu rupiah di bayar tunai!" ucap Abdul mengikrarkan ijab kabul, yang di saksikan warga masyarakat yang berkumpul di rumah itu.

"Sah!" jawab warga serempak.

Terlihat wajah Nadira tersenyum puas dengan sedikit menunduk, tak ada yang tahu bahwa Abdul adalah korban sesungguhnya dari kejadian ini. Korban dari seorang wanita yang begitu terobsesi dan tergila-gila pada seorang pria, setelah prosesi itu para warga pun membubarkan diri dan tinggallah Abdul dan Nadira di rumah itu.

"Sudah puas kamu menghancurkan hidupku!" bentak Abdul ketika mereka hanya tinggal berdua dalam rumah.

"Itu salahmu, kenapa selalu menolak ku. Jika kamu mau menerima ku, aku akan menjalani hubungan kita diam-diam dan tanpa suara. Kamu bisa tetap bahagia bersama istrimu, dan aku juga akan bahagia bersamamu meski hanya simpanan. Tapi kamu tak memberikan pilihan itu, jadi aku melakukannya dengan caraku sendiri!" cecar Nadira yang merasa puas karena merasa telah mendapatkan Abdul saat ini.

"Kamu sudah tidak wa*as Nadira," jawab Abdul seraya ingin pergi dari rumah itu.

"Kamu mau pergi ke mana Abdul, ini malam pernikahan kita!" ucap Nadira mencekal lengan Abdul.

"LEPAS!" sergah Abdul, lantas dia segera pergi meninggalkan rumah Nadira.

"Aaaakhhh...!" pekik Nadira berteriak histeris.

Namun tak berlangsung lama dia sudah bisa menguasai dirinya dan kembali bersikap tenang. Segera setelah menutup rapat pintu rumahnya, terlihat dia sedang menelepon seseorang.

"Sudah kamu dapatkan semuanya?" ucapnya bertanya kepada lawan bicaranya.