Bab 30. Akhir Kisah
"Aaaakhhh...!" Pekik Nadira berteriak histeris.
Namun tak berlangsung lama dia sudah bisa menguasai dirinya dan kembali bersikap tenang. Segera setelah menutup rapat pintu rumahnya, terlihat dia sedang menelepon seseorang.
"Sudah kamu dapatkan semuanya?" ucapnya bertanya kepada lawan bicaranya.
"Beres, semua sudah ku atur dan telah siap untuk di cetak!" tutur orang di ujung telepon.
"Cetak lah secepat yang kamu bisa, lalu segera kirimkan pada Abdul!" perintah Nadira.
"Baik, akan segera ku kerjakan!" tukas pria itu mengakhiri panggilan.
"Kali ini, kamu tidak akan bisa lagi untuk menolak diriku Abdul. Kamu akan jadi milikku selamanya, karena ini menyangkut reputasi dan masa depan nama perusahaan-perusahaanmu. Apakah kamu masih akan mempertahankan ego sendiri dan mengorbankan nama baik serta nasib seluruh karyawan!" ucap Nadira.
Kini rencana jahat Nadira sudah melewati batas, dia berencana menyebarkan foto dan video antara Abdul dan dirinya ketika di nikahkan secara paksa oleh warga karena di duga melakukan perbuatan tidak senonoh.
Namun jika Abdul mau menuruti perintahnya, dia tidak akan menyebarkan video ataupun foto dan Nadira akan langsung menghapus seluruh file tersebut.
Setelah menunggu seharian, Abdul masih belum menunjukkan tanda-tanda akan menghubunginya. Untuk mengusir rasa bosan, Nadira menyalakan layar datar yang menempel di dinding kamarnya. Dan dia tiba-tiba ingin menonton acara siaran berita, namun tiba-tiba Nadira menjadi penasaran dengan isi berita yang tengah berlangsung.
"Pemirsa, berita terkini datang dari sebuah maskapai penerbangan. Pesawat dengan tujuan Australia kehilangan kendali dan mengalami kecelakaan, di informasikan bahwa seluruh awak pesawat dan para penumpang tewas dalam peristiwa tersebut. Berikut adalah data-data nama para korban jiwa dalam tragedi ini," papar News anchor dari salah stasiun televisi tersebut.
Lalu Nadira memicingkan matanya, karena penasaran dengan nama yang menjadi korban dalan kecelakaan pesawat itu. Tiba-tiba dia berhenti pada satu nama, dan matanya langsung terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"ABDUL JAELANI?!" pekik Nadira spontan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
Dia tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini, dia tidak menduga jika dia akan kehilangan pria yang ia cintai tersebut dalam sebuah tragedi kecelakaan pesawat.
"Tidak mungkin, ini pasti bohong. Itu bisa saja Abdul yang lain," ucapnya berusaha meyakinkan diri sendiri dan menolak percaya. Lantas dia segera mengambil ponselnya, lalu cepat-cepat menghubungi nomor dari sekretaris Abdul yang bernama Wina.
"Wina, apa Pak Abdul ada di kantor sekarang?" tanya Nadira, ketika panggilan teleponnya telah di terima oleh yang bersangkutan.
"Bapak Abdul sedang tidak berada di tempat Bu, beliau sedang melakukan perjalanan bisnis ke Australia!" tutur Wina.
"APA?!" Ke Australia? Kamu yakin?" tanya Nadira dengan nada suara panik.
"Tentu saja, Bu. Saya sendiri yang memesankan tiket perjalanan untuk beliau. Harusnya saat ini, beliau sudah sampai di tempat tujuan!" tukas sang sekretaris menjelaskan.
"Apa kamu tidak nonton berita yang ada di televisi?" tanya Nadira lagi.
"Berita apa Bu?" Wina balik bertanya, tidak mengerti dengan arah pembicaraan lawan bicaranya.
"Berita mengenai kecelakaan pesawat terbang, dengan tujuan Australia. Dan tadi aku sempat membaca data para korban yang di tampilkan pada layar saat berita berlangsung, ada nama Abdul Jaelani di situ!" tukas Nadira menjelaskan.
"Apa, Bu! Kecelakaan?" Wina memekik tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya, sekarang coba kamu segera hubungi Pak Abdul. Nanti jika sudah ada kabar, tolong segera hubungi aku secepatnya!" tukas Nadira mengakhiri obrolan.
"Baik, Bu. Nanti saya akan memberi kabar kepada Ibu jika Pak Abdul sudah bisa di hubungi!" tutur Wina menutup telepon.
Malam itu Nadira tidak bisa memejamkan matanya, sebab dia memikirkan keadaan Abdul saat ini. Akan tetapi karena keadaan tubuhnya yang teramat letih, membuatnya terpejam tanpa sadar hingga terlelap dalam tidurnya.
Keesokan pagi kemudian, dering ponsel yang berada di meja samping ranjangnya berbunyi. Yang membuat Nadira terkejut dan membangunkannya dari mimpi yang tak jelas, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi.
Nadira pun bangun, lalu kemudian menyandarkan tubuhnya. Setelah melihat layar dari benda pipih itu, tertulis nama Wina sedang melakukan panggilan. Gegas Nadira mengangkat telepon itu, dan menempelkannya di telinganya.
"Bagaimana, Wina? Kamu sudah dapat kabar dari Pak Abdul?" tanya Nadira dengan nada khawatir.
"Begini Bu, ternyata memang benar kalau Pak Abdul ada dalam data penumpang dari penerbangan yang menjadi korban kecelakaan pesawat tadi!" ucap Wina lirih.
Seketika itu pun, tubuh Nadira melemas hingga membuat ponsel yang ada dalam genggaman tangannya terjatuh ke lantai. Dunianya seakan runtuh, hilang sudah harapannya untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang Abdul. Kini usahanya selama ini terasa sia-sia, bahkan segala upaya untuk memisahkan Abdul dan Ningsih pun menjadi percuma.
Hari demi hari, Minggu berganti menjadi bulan, hingga bulan menjadi tahun. Nadira yang sempat kehilangan sosok Abdul, akhirnya menemukan seseorang yang mirip dengan Abdul. Karena Nadira yang sempat menikah di bawah tangan dengan Abdul, tapi dia sama sekali tidak pernah mendapatkan nafkah lahir maupun batin sebab Abdul telah tiada. Jadi otomatis sudah jatuh talak untuknya, dan dia memutuskan membuka hatinya untuk pria lain.
Akhirnya dia pun menikah dengan pria itu, lalu lahirlah Mariska. Meski tak ada cinta di hatinya, tetapi karena rasa bersalahnya kepada Abdul. Dia pun berusaha untuk berubah, dengan menjadi istri dan baik untuk suami serta anaknya.
Karena rasa bersalahnya, dia berusaha mencari Ningsih untuk meminta maaf juga meluruskan masalah yang telah dia sebabkan. Tapi usahanya sia-sia, Ningsih tetap tak dapat di temukan keberadaannya.
Flashback end.
** "Begitulah ceritanya Nak, semuanya salahku. Aku terlalu terobsesi untuk mendapatkan Abdul, ayahmu. Hingga aku menghalalkan segala cara, agar bisa memilikinya. Namun nasib tidak pernah memihak padaku, hingga mendapatkan ayahmu telah meninggal dalam kecelakaan pesawat itu!" sesal Nadira setelah menceritakan semua yang terjadi di masa lalu kepada Ahmad.
"Jadi, sekarang Ibu menyesal?" tanya Ahmad menatap tajam pada mata yang sudah nampak keriput pada sudut matanya tersebut.
"Sangat! Bahkan aku baru tahu sekarang, jika ayahmu masih hidup. Tapi bagaimana mungkin dia masih hidup, setelah kecelakaan?" tanya Nadira bingung.
"Saya tidak tahu, Ayah belum sepenuhnya menceritakan secara lengkap semua kejadian yang menimpanya!" tutur Ahmad menimpali.
"Maukah kamu mempertemukan aku dengan mereka? Aku ingin meminta maaf secara langsung pada Abdul dan juga Ningsih, sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang selama ini membuat hidupku tidak bisa tenang!" pinta Nadira kepada Ahmad.
"Baik, nanti akan saya atur waktunya. Terima kasih atas waktu dan informasinya, kalau begitu saya pamit!" ujar Ahmad seraya berdiri dan berlalu menghampiri Adi.
Setelah itu Ahmad dan Adi bergegas untuk menuju ke mobil, sesampainya di mobil mereka berdua sama-sama mengeluarkan ponsel.
** Sementara itu di kantor, tepatnya di kantin. Mona sedang makan siang bersama dengan sang ayah, tapi Mona hanya mengaduk-aduk mie ayam yang ada di hadapannya. Sebab saat ini pikirannya hanya tertuju pada Ahmad, entah dimana dan sedang apa suaminya itu sekarang.
"Mon, Mona...." Panggil Pak Andi.
"Iya, Mas. Eh, Yah. Maaf!" jawab Mona kikuk.
"Oh... Putri kecilku sudah bukan milikku lagi sekarang!" goda Pak Andi sembari tersenyum.
"Ayah...!" rengek Mona dengan pipi memerah.
"Kamu kenapa sih, Sayang? Cerita saja sama Ayah, jangan di pendam sendiri. Lihat tuh, mie di depan kamu sampai mengembang gitu karena kamu cuekin!" tukas Pak Andi.
"Sebenarnya, aku penasaran dengan apa yang Ayah dan Mas Ahmad bicarakan tadi di ruangan Adi!" tutur Mona.
"Oh itu, kalau soal pembicaraan tadi. Ayah tidak bisa memberitahumu, biar suamimu sendiri yang menjelaskan semuanya."
"Baiklah, Ayah!" sahut Mona menunduk lesu.
"Tenang, Sayang. Semuanya baik-baik saja kok!" ucap Pak Andi mengelus kepala putrinya.
Dari kejauhan terlihat seseorang sedang memperhatikan Mona, bertepatan dengan kepala Mona yang mendongak dan pandangan mereka pun bertemu.