BAb 6 - Pelet itu Vitamin?

Penulis JanaIndria
04 November 2025

"Salah paham, apa? Aku punya salah apa sama kamu? Aku punya salah apa?"

Ajeng bertanya dengan penuh tekanan, matanya menatap nanar ke arah Dodi. Ia mengambil satu langkah lebih dekat, suaranya kini turun menjadi bisikan yang tajam dan dingin, cukup keras untuk didengar oleh Dodi dan ketiga sahabatnya yang berdiri terpaku di dekat pintu.

"Kamu mau tahu salahmu apa, Dod?" bisik Ajeng.

"Coba lihat ke dalam kelasmu itu. Lihat teman-temanmu yang sekarang berbisik sambil menatapmu dengan jijik. Lihat Rika yang menunduk, menahan malu karena namanya kusebut. Lihat wajah Pak Dosen yang kecewa karena murid yang dia kira cerdas ternyata seorang penipu ulung. Itulah salahmu. Kamu menghancurkan reputasimu sendiri."

Dodi menelan ludah. Gambaran yang dilukiskan Ajeng begitu nyata dan menyakitkan. Kepanikan mulai menjalari dirinya.

"Jeng, jangan begini... Aku... aku bisa jelaskan pada mereka semua. Aku bisa perbaiki ini."

"Perbaiki?" Ajeng tertawa, tawa getir tanpa humor.

"Apa yang mau kamu perbaiki? Mau bilang pada mereka kalau pelet itu vitamin? Atau mau bilang kalau tugas-tugasku itu hasil kerja kelompok kita? Jangan bermimpi, Dod. Panggung sandiwaramu sudah runtuh."

"Cukup, Ajeng! CUKUP!" bentak Dodi, tangannya kembali terulur hendak mencengkeram lengan Ajeng.

Namun sebelum tangannya berhasil menyentuh, tiga sosok bergerak serempak. Kaesa, Nia, dan Lia maju, membentuk barikade hidup di antara Ajeng dan Dodi.

"Mundur, Dod," ucap Kaesa dengan nada datar yang mengintimidasi. Tangannya dengan tenang menyingkirkan tangan Dodi. "Jangan sentuh sahabatku."

"Kalian jangan ikut campur!" seru Dodi frustrasi, menatap ketiga perempuan itu dengan marah.

"Ini urusanku dengan Ajeng!"

"Dulu mungkin ini hanya urusanmu dengan Ajeng," sahut Lia sambil mengangkat ponselnya sedikit, layarnya yang masih menyala seolah menjadi senjata. "Sekarang, ini jadi urusan kami juga. Dan urusan seluruh fakultas kalau rekaman ini aku unggah."

Wajah Dodi pucat pasi melihat ancaman itu. Ia terjebak. Di belakang ada teman teman kelasnya yang penuh dengan cemoohan, di depannya ada empat perempuan yang siap melawannya.

Pintu kelas tiba-tiba terbuka. Pak Dosen muda berkacamata itu melangkah keluar, raut wajahnya sangat serius. Ia menatap keributan kecil di depannya dengan tatapan tajam.

"Dodi Prasetyo!" panggil Pak Dosen, suaranya tenang namun berwibawa, membuat semua orang terdiam.

"Keributan ini sudah cukup. Ikut saya ke ruangan saya. Sekarang juga."

"Tapi, Pak..." Dodi mencoba memohon. "Saya bisa jelaskan. Ajeng hanya salah paham..."

"Tidak ada penjelasan di koridor," potong Pak Dosen dengan tegas.

"Penjelasanmu akan kamu berikan di hadapan komite etik fakultas. Semua bukti yang Mbak Ajeng berikan, termasuk cincin ini, akan kami proses. Jalan sekarang."

Otoritas dalam suara Pak Dosen tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. Dodi menatap Ajeng dengan tatapan memohon yang menyedihkan, namun yang ia dapatkan hanyalah tatapan dingin.

Dengan langkah gontai seperti terpidana mati, Dodi berjalan mengikuti Pak Dosen menuju ruangannya.

Setelah Dodi menghilang di belokan koridor, Pak Dosen itu berhenti sejenak dan berbalik menatap Ajeng dan kawan-kawannya. Wajahnya yang tadi keras kini melembut.

"Mbak Ajeng," sapanya. "Saya turut prihatin atas apa yang menimpa Anda. Universitas sangat serius menanggapi kasus seperti ini, terutama yang menyangkut kecurangan akademik dan... hal-hal seperti ini."

Ia melirik kantong plastik berisi cincin rusak di tangannya. "Terima kasih atas keberanian Anda untuk melapor. Tidak banyak yang berani melakukannya."

"Saya hanya tidak mau ada korban lain, Pak," jawab Ajeng lirih, energinya seakan terkuras habis.

"Saya mengerti," kata Pak Dosen.

"Saran saya, segera temui dosen pembimbing akademik Anda. Ceritakan semua kronologinya, termasuk bagaimana ini berdampak pada studi Anda. Surat keterangan dari saya dan bukti video yang Anda sebutkan tadi akan sangat membantu untuk meringankan sanksi akademik yang mungkin Anda hadapi karena tugas yang terbengkalai."

"Baik, Pak. Terima kasih banyak atas sarannya," ucap Kaesa, mewakili Ajeng yang masih terpukul.

Pak Dosen itu mengangguk. "Kalau begitu saya permisi dulu. Ada mahasiswa yang harus saya interogasi." Ia pun berlalu, meninggalkan keempat sahabat itu dalam keheningan koridor.

Hening sejenak. Suara-suara dari dalam kelas yang ditinggalkan mulai terdengar lagi. Kaesa, Nia, dan Lia serempak menoleh pada Ajeng.

"Jeng... kamu nggak apa-apa?" tanya Nia lembut.

Ajeng tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung. Lalu, bahunya mulai bergetar. Bukan karena marah, tapi karena ledakan emosi yang akhirnya menemukan jalan keluar. Isak tangis yang dalam dan lega keluar dari bibirnya.

"Aku... aku... melakukannya..." ucapnya di sela-sela isak tangis.

Tanpa komando, ketiga sahabatnya langsung memeluknya erat. Membentuk sebuah lingkaran kekuatan di tengah koridor yang sibuk.

"Kamu hebat, Jeng. Kamu sangat hebat," bisik Kaesa sambil mengusap punggungnya.

"Lebih hebat dari pahlawan di drama Korea mana pun," tambah Lia, yang matanya juga ikut berkaca-kaca.

Mereka berdiri di sana selama beberapa saat, membiarkan Ajeng melepaskan semua beban yang telah dipendamnya.

"Sudah?" tanya Kaesa setelah tangis Ajeng mereda.

Ajeng mengangguk, melepaskan pelukan mereka dan menyeka wajahnya. "Sudah. Aku lega."

"Bagus," kata Kaesa sambil tersenyum. "Kalau begitu, misi selanjutnya adalah menghadap dosen wali dan dekanat."

"Sekarang?" tanya Ajeng kaget. "A-ku ... aku belum siap, Sa. Wajahku sembab begini."

"Kaesa benar, lebih cepat lebih baik," timpal Nia. "Tapi mungkin tidak hari ini. Kamu butuh istirahat. Kita kumpulkan dulu semua amunisinya. Video dari Lia, foto-foto, kalau perlu kita minta kesaksian tertulis dari bapak reparasi perhiasan kemarin."

"Ide bagus," dukung Lia. "Kita susun kronologinya serapi mungkin. Biar tidak ada celah bagi si Dodi itu untuk berkelit. Anggap saja ini tugas akhir kita bersama."

Ajeng menatap sahabat-sahabatnya dengan penuh rasa terima kasih. "Aku tidak tahu bagaimana aku bisa melewati ini semua tanpa kalian."

"Hei, tidak ada kata 'terima kasih' di antara kita," potong Kaesa. "Yang ada hanya 'traktirannya kapan?'."

Lelucon Kaesa berhasil membuat senyum kecil terukir di bibir Ajeng.

"Aku setuju dengan bagian traktiran!" seru Lia antusias. "Otakku butuh asupan gizi setelah merancang strategi dan merekam semua ini. Perutku juga butuh pelampiasan. Bagaimana kalau kita ke warung soto legendaris dekat alun-alun?"

"Setuju!" sahut Nia. "Kita rayakan kemerdekaan Ajeng!"

"Aku-" Ajeng ragu sejenak. "Aku ikut."

Perjalanan mereka menjauhi gedung Fakultas Kedokteran terasa seperti sebuah pawai kemenangan kecil. Tidak ada lagi ketakutan di langkah Ajeng. Yang ada hanyalah kelegaan yang luar biasa.

Di warung soto yang ramai, mereka memilih meja di pojok. Semangkuk soto hangat dengan kepulan asapnya terasa seperti obat penenang bagi jiwa Ajeng yang lelah.

"Jadi," kata Lia sambil menyeruput es tehnya. "Apa rencanamu setelah ini, Jeng? Selain membereskan urusan akademik, tentunya."

Ajeng terdiam sejenak, mengaduk kuah sotonya. "Aku ingin fokus pada diriku sendiri. Selama ini aku terlalu sibuk memikirkan Dodi, sampai aku lupa pada diriku, pada kuliahku, bahkan pada kalian."

Ia menatap sahabat-sahabatnya satu per satu. "Aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau lulus dengan nilai yang bagus. Dan aku mau jadi sahabat yang lebih baik untuk kalian."

"Kamu sudah jadi sahabat terbaik, Jeng," kata Nia tulus.

"Hanya saja kemarin sempat sedikit tersesat," canda Kaesa. "Tapi sekarang GPS-nya sudah kembali online."

Mereka semua tertawa. Suasana menjadi ringan dan hangat.

"Aku janji," kata Ajeng dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak akan pernah lagi membiarkan orang lain, siapa pun itu, mengendalikan hidupku dan membuatku meragukan diriku sendiri."

Kaesa mengangguk puas. "Itu yang ingin kami dengar."

"Nah, untuk merayakan janji itu," kata Lia sambil mengangkat mangkuk sotonya. "Mari kita bersulang! Untuk Ajeng yang baru! Untuk persahabatan kita! Dan untuk soto yang enak ini!"

Mereka mengangkat mangkuk dan gelas mereka, menyatukannya di tengah meja dengan denting pelan. Di tengah aroma soto yang gurih dan tawa sahabat-sahabatnya, Ajeng merasa babak baru dalam hidupnya telah resmi dimulai.

“Tapi Jeng, aku penasaran dengan cincin itu, kok kamu bisa punya dua dengan model yang sama, gimana ceritanya?”

“Dari putri keraton jaman dulu!!?” jawab Kaesa dengan lirih terdengar seperti berbisik.