"Ayoo …!"
Panggilan Kaesa dari luar kamar, membuat Ajeng sontak berdiri dari duduknya di tepi ranjang. Perempuan yang sejak tahu kalau dirinya di peralat oleh Dodi, tak henti mengutuk kebodohannya sendiri itu pun kini memaksakan diri untuk bisa bangkit lagi.
Kemarin adalah hari pembalasan, hari ini adalah hari pertama dari sisa hidupnya yang baru.
"Ayo!" ajak Kaesa lagi, saat Ajeng sudah berada di luar pintu, merapikan kerudungnya.
"Kamu beneran mau ikut lagi ke kampus, Sa?" tanya Ajeng, sambil memakai sepatunya dengan sedikit tergesa.
"Kuliah kamu nggak terganggu kan? Dah berapa hari kamu nggak kuliah?!"
"Bismillah, nggak. Pagi ini jadwalku adalah jadi asisten pribadi sekaligus bodyguard-mu," jawab Kaesa yang menaik-turunkan alisnya berulang kali, dengan senyum menggoda.
"Lia dan Nia sudah menunggu di depan. Misi kita hari ini adalah Operasi Tumpas Tugas."
Ajeng menghela napas panjang, bukan karena ragu, tapi karena merasakan kehangatan yang luar biasa dari para sahabatnya.
"Aku takut marah yang aku pendam kemarin masih ada sisanya, Sa. Takut salah sasaran."
"Tenang saja," balas Kaesa sambil merangkul bahunya.
"Energi marah itu kita salurkan untuk melibas semua materi kuliah yang ketinggalan. Di jamin lebih produktif."
Pagi itu, mereka berempat berjalan menyusuri koridor kampus dengan formasi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Ajeng berjalan di depan, bukan lagi dengan kepala menunduk, melainkan dengan dagu terangkat. Langkahnya mantap menuju perpustakaan.
Kabar tentang insiden di kelas Dodi kemarin sudah menyebar seperti api, dan setiap pasang mata yang menatap Ajeng kini tidak lagi berisi cemoohan, melainkan campuran antara rasa kaget, simpati, dan kekaguman.
Di sebuah meja besar di sudut perpustakaan, tumpukan buku, jurnal, dan diktat menggunung. Pemandangan itu cukup untuk membuat siapa pun merasa gentar.
"Ya Tuhan..." desah Ajeng sambil memijat pelipisnya.
"Materi enam bulan lebih. Aku harus mulai dari mana ini?" sesalnya dengan mata menatap nanar ke barang di atas meja.
"Dari yang paling mudah," usul Nia sambil membuka laptopnya. "Aku sudah download semua materi presentasi dari e-learning. Kita pilah satu-satu."
"Dan aku sudah kumpulkan semua referensi untuk riset akhirmu," tambah Lia, menunjuk tumpukan jurnal yang ia bawa.
"Tinggal kau baca dan pilih yang paling relevan. Anggap saja aku sudah jadi asisten riset pribadimu."
Kaesa hanya tersenyum sambil menyodorkan selembar kertas. "Dan ini, jadwal yang sudah aku susun. Prioritas satu adalah tugas dari Bu Ratna yang tenggatnya minggu depan. Ayo, kita kerjakan kerangkanya sekarang."
Ajeng menatap sahabat-sahabatnya dengan mata berkaca-kaca. "Kalian-"
"Sssst," potong Kaesa. "Tidak ada pidato sentimental. Waktu adalah uang, dan dalam kasusmu, waktu adalah nilai A. Sekarang, buka laptopmu, Bintang Kampus. Saatnya kembali bersinar."
Ajeng tersenyum, menyeka sudut matanya, dan mulai bekerja. Awalnya terasa kaku. Otaknya seperti mesin yang lama tidak dipanasi.
Namun perlahan, seiring ia membaca dan menganalisis, sesuatu yang lama tertidur di dalam dirinya mulai bangkit.
"Tunggu," kata Ajeng tiba-tiba, menunjuk sebuah paragraf di jurnal yang sedang dibaca Lia.
"Teori ini bukannya sudah usang? Ada penelitian terbaru dari jurnal MIT tahun lalu yang membantah postulat ini."
Lia tertegun sejenak, lalu dengan cepat mengetik di laptopnya. Matanya melebar. "Benar! Gila, Jeng. Kok kamu bisa tahu?"
"Aku pernah membacanya sekilas sebelum ... yaa, sebelum itu," jawab Ajeng.
Kaesa tersenyum puas. "Nah, ini dia Ajeng yang asli. Ensiklopedia berjalan sudah kembali online."
Tepat saat itu, seorang lelaki menghampiri meja mereka.
"Permisi ... kamu Ajeng, kan?"
Ajeng mendongak. Itu Fajar, teman lama yang dulu sering menjadi partner diskusi. "Iya, Jar. Ada apa?"
Fajar meletakkan setumpuk map tebal di meja.
"Jeng, aku dengar soal kejadian kemarin. A-ku ... aku ikut marah dengarnya. Aku nggak nyangka Dodi bisa seketerlaluan itu."
"Terima kasih, Jar," jawab Ajeng tulus.
"Ini ...." Fajar menunjuk map itu. "Ini catatan lengkapku selama dua bulan terakhir. Tulisan tanganku memang jelek, tapi isinya dijamin lengkap, sampai ke lelucon garing dosen juga aku catat. Pakai saja, fotokopi atau apalah. Siapa tahu bisa bantu kamu mengejar ketinggalan."
Ajeng terperangah. "Jar, ini serius? Terima kasih banyak!"
"Santai saja, Jeng. Dulu kamu juga sering bantu aku jelaskan materi yang aku nggak paham," kata Fajar sambil tersenyum.
"Anggap saja balas budi. Semangat ya!"
Setelah Fajar pergi, seolah bendungan telah jebol. Satu per satu teman sekelas dan bahkan beberapa senior mulai menghampiri meja mereka.
"Jeng! Untuk mata kuliah Ilmu penyakit dalam dan biologi seluler, kelompokku sudah buat rangkuman semuanya. Nanti aku kirim PDF-nya!" seru seorang perempuan bernama Tina dari meja seberang.
"Ajeng! Kalau butuh tentang mata kuliah Profesi dan Kesehatan Masyarakat, pakai data dari penelitian kelasku saja! Sudah diolah, tinggal kau analisis dari sudut pandangmu!" timpal seorang senior yang kebetulan lewat.
"Jeng, jangan lupa nanti sore ada kelas pengganti dari Pak Budi. Jangan sampai ketinggalan lagi!"
Meja mereka yang tadinya hanya berisi tumpukan buku, kini juga dipenuhi oleh catatan, rangkuman, dan tawaran bantuan. Ajeng sampai kewalahan untuk sekadar mengucapkan terima kasih.
Kaesa menatap pemandangan itu dengan takjub. "Gila," bisiknya pada Lia. "Aku baru sadar betapa berpengaruhnya Ajeng di kampus ini."
"Dia bukan sekadar pintar, Sa," balas Lia. "Dia baik. Dia tidak pernah pelit ilmu. Inilah yang dia tuai sekarang."
Tiba-tiba, ponsel Ajeng bergetar. Sebuah pesan masuk dari dosen pembimbing akademiknya, Bu Anisa.
Dari: Ibu Anisa Selamat pagi, Ajeng. Bisa temui saya di ruangan saya jam 11 nanti? Ada beberapa hal penting yang perlu kita diskusikan. Terima kasih.
"Mampus," desah Ajeng. "Pasti soal kasus kemarin."
"Hadapi, Jeng," kata Kaesa menenangkan. "Ini bagian dari proses. Kami tunggu di sini."
Dengan jantung berdebar, Ajeng berjalan menuju ruang dosen. Ia mengetuk pintu dengan ragu.
"Masuk."
Bu Anisa, seorang dosen paruh baya yang terkenal tegas namun bijaksana, menyambutnya dengan senyum tipis. "Silakan duduk, Ajeng."
"Terima kasih, Bu," jawab Ajeng sambil duduk di kursi di hadapan dosennya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Bu Anisa, nadanya terdengar tulus, dengan mata menatap penuh ke ibuan tepat di mata Ajeng.
"Sudah lebih baik, Bu."
"Syukurlah," kata Bu Anisa, yamh seketika itu pula menarik napas panjang.
"Saya sudah menerima laporan lengkap dari Pak Arya, dosen dari kelas Dodi, dan juga laporan awal dari komite etik. Ini kasus yang sangat serius, Ajeng. Pihak universitas tidak akan menoleransi tindakan seperti ini."
Ajeng menunduk. "Saya minta maaf, Bu, jika saya sudah membuat kegaduhan."
"Angkat kepalamu, Ajeng," ujar Bu Anisa tegas. "Kamu adalah korban. Kamu tidak perlu minta maaf. Kamu justru pahlawan karena sudah berani bersuara. Berkat laporanmu, ada satu mahasiswi lain dari fakultas berbeda yang akhirnya juga berani melapor. Modusnya sama persis, parfum."
Mata Ajeng melebar. "Jadi benar ada korban lain, Bu?"