Bab 8- Pamit

Penulis JanaIndria
04 November 2025

"Benar. Dan itu memperkuat posisimu dan memperberat posisi saudara Dodi," jelas Bu Anisa.

"Mengenai statusnya, pihak rektorat sedang memproses skorsing permanen, yang kemungkinan besar akan berujung pada pencabutan status mahasiswanya. Terutama karena ini bukan hanya kasus personal, tapi sudah masuk ranah kecurangan akademik yang terstruktur."

Sebuah beban besar terasa terangkat dari pundak Ajeng. Ada rasa keadilan yang menenangkan hatinya.

"Sekarang, mari kita bicarakan tentangmu," lanjut Bu Anisa.

"Saya sudah lihat transkrip nilaimu sebelum semester ini. IPK-mu 3.95. Kamu adalah salah satu mahasiswa terbaik di angkatanmu. Sangat disayangkan jika semua itu hancur karena satu semester yang bermasalah ini."

"Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk mengejar ketinggalan, Bu," kata Ajeng sungguh-sungguh.

"Saya tahu kamu pasti bisa. Tapi universitas juga akan membantumu," kata Bu Anisa. "Saya sudah bicara dengan semua dosen pengampumu. Kamu akan diberikan perpanjangan waktu untuk semua tugas yang terlewat. Kamu juga diizinkan untuk mengikuti ujian susulan. Dan-"

Bu Anisa mengambil sebuah berkas. "Saya sudah menugaskan Yusuf dari angkatan atas sebagai mentormu selama sisa semester ini. Dia akan membantumu merangkum materi dan memandumu dalam riset akhir. Kamu kenal dia, kan? Ketua Himpunan Mahasiswa yang dulu-."

"Kenal, Bu. Dia sangat pintar." Ajeng seketika tak tenang, Yusuf adalah pacar yang terlupakan gegara Dodi.

"Tepat. Saya ingin kamu kembali ke performa terbaikmu, Ajeng. Jangan biarkan insiden ini mendefinisikan siapa dirimu. Jadikan ini pelajaran berharga, dan buktikan pada semua orang, terutama pada dirimu sendiri, bahwa cahayamu tidak bisa dipadamkan begitu saja."

Ajeng tidak bisa menahan air matanya lagi. Kali ini, air mata haru dan syukur yang meluap-luap. "Terima kasih banyak, Bu. Sungguh, terima kasih." Satu jam kemudian, Ajeng kembali ke meja di perpustakaan dengan wajah yang sama sekali berbeda. Ada optimisme dan semangat baru yang terpancar dari matanya.

"Gimana?" tanya Kaesa tak sabar.

Ajeng menceritakan semua hasil pertemuannya dengan Bu Anisa. Ketiga sahabatnya bersorak lega.

Malam itu, kamar kos Ajeng berubah menjadi pusat komando. Buku-buku dan catatan yang tadi mereka kumpulkan dari teman-teman kini tertata rapi di meja dan lantai. Papan tulis putih kecil dipenuhi dengan jadwal dan daftar prioritas.

"Gila, Jeng," celetuk Lia sambil menempelkan catatan post-it di papan tulis.

"Dalam waktu kurang dari dua belas jam, kamarmu sudah berevolusi. Dari kamar korban patah hati menjadi markas besar seorang calon peraih cumlaude."

"Dan operator utamanya sudah kembali dengan performa penuh," timpal Nia sambil menyusun jurnal-jurnal riset.

Kaesa datang membawa empat cangkir cokelat panas. Ia memberikan satu untuk Ajeng dan menatap sahabatnya dengan bangga.

"Selamat datang kembali, Bintang Kampus," ujar Kaesa sambil mengangkat cangkirnya.

Ajeng tersenyum, senyum yang tulus, percaya diri, dan penuh harapan. Ia melihat ke sekeliling kamarnya, pada tumpukan buku yang menjadi tantangannya, dan pada wajah sahabat-sahabatnya yang menjadi kekuatannya.

"Aku kembali," jawab Ajeng mantap. "Dan aku siap untuk bersinar lebih terang dari sebelumnya."

“Dan aku akan kembali ke kostku besok, Aric bakalan jemput, semuanya dah fine kan?”

Ucapan Kaesa sontak membuat atmosfer produktif di kamar itu menguap seketika. Ajeng, Nia, dan Lia yang sedang sibuk dengan tugas masing-masing, langsung terdiam.

Tanpa ada aba-aba, ketiganya bangkit dan mengerubungi Kaesa, menariknya ke dalam sebuah pelukan kelompok yang erat dan hening. Hanya ada suara isak tangis yang ditahan.

“Aku pasti akan merindukan kalian,” ujar Kaesa pertama kali, suaranya sedikit serak. Ia mengusap sudut matanya yang basah.

"Sesekali datanglah ke Jogja, aku yang akan menjadi guide kalian, janji!"

"Kamu yang harusnya sering-sering ke sini," sahut Nia sambil melepaskan pelukannya.

"Mengecek 'proyek' yang sudah kamu mulai ini. Pastikan IPK Ajeng tidak turun lagi."

"Enak saja!" protes Ajeng sambil tertawa kecil di sela-sela air matanya.

"Lihat saja, semester depan aku yang akan mengajarimu statistik, Ni."

"Aku pegang janjimu!" balas Nia.

Lia, yang paling cengeng di antara mereka, masih sibuk menyeka air matanya.

"Nanti siapa lagi yang akan memberiku ide-ide brilian untuk konten investigasiku? Siapa lagi yang akan jadi komandan operasi dadakan kita?"

"Kamu sendiri sudah jadi sutradara yang hebat, Li," puji Kaesa tulus.

"Hanya saja, pastikan kontenmu berikutnya lebih ceria. Mungkin tutorial makeup atau review makanan, jangan kasus pelet lagi."

Mereka semua tertawa, melepaskan ketegangan. Ajeng menatap lekat sahabat yang telah menjadi penyelamatnya itu.


"Kamu sudah janji dengan Mas Aric?" tanyanya lembut, menyebut nama tunangan Kaesa.

"Sudah. Dia kebetulan ada tugas di kota ini, jadi sekalian jemput," jawab Kaesa sambil melirik jam.

"Sebentar lagi juga sampai, sepertinya."

"Akhirnya kita bertemu langsung dengan calon Bapak Polisi," goda Lia, sengaja menyenggol Kaesa dengan lirikan mata mengerling jenaka.

"Selama ini cuma lihat fotonya. Aslinya segagah di foto nggak, Sa?"

"Lebih!" jawab Kaesa cepat dengan rona merah di pipinya, membuat teman-temannya kembali tertawa.

Benar saja, tak lama kemudian ponsel Kaesa berdering. Panggilan dari Aric.

Setelah percakapan singkat, Kaesa mulai merapikan barang-barangnya yang tak seberapa. Tas ranselnya sudah siap di dekat pintu.

"Dia sudah di depan," kata Kaesa. "Ayo, aku kenalkan kalian."

Mereka berempat turun dari kamar kos. Di depan gerbang, sebuah mobil hitam terparkir. Di sampingnya berdiri seorang pria tegap, tinggi, dengan senyum ramah di wajahnya.

Di belakangnya, dua pria lain dengan perawakan serupa sedang bersandar di mobil sambil berbincang santai. Semuanya mengenakan pakaian kasual, kemeja dan celana jins, sama sekali tidak tampak seperti aparat.

"Sayang!" sapa Aric sambil melambaikan tangan, senyumnya semakin lebar melihat Kaesa.

"Mas Aric!" balas Kaesa. "Kenalkan, ini sahabat-sahabatku yang sering aku ceritakan. Ajeng, Nia, dan Lia."

Aric mengangguk sopan pada ketiganya. "Aric. Senang akhirnya bisa bertemu langsung. Saya sudah banyak dengar cerita kepahlawanan kalian."

"Bukan kami, Mas. Kaesa komandannya," sahut Ajeng sambil tersenyum.

"Benar, Mas. Calon istrinya Mas ini otaknya brilian, cocok jadi detektif," timpal Lia.

Suasana terasa ringan dan hangat. Mereka saling bercanda sementara Aric dan teman-temannya membantu memasukkan tas Kaesa ke dalam bagasi.

Tepat saat mereka hendak berpamitan, sebuah suara yang penuh dengan keputusasaan dan kemarahan memecah suasana.

"KAESA!"

Semua menoleh ke sumber suara. Dodi berdiri di ujung gang, penampilannya kacau balau. Wajahnya kuyu, rambutnya berantakan, dan matanya memerah.

Ia berjalan cepat ke arah mereka, tatapannya terkunci pada Kaesa dan Ajeng. Dibelakangnya ada beberapa pria yang terlihat seperti preman, berjalan pentangtang pentengteng bagaikan jagoan pasar.

"Kamu! Kalian semua!" geram Dodi, dengan tangan menunjuk ke arah semua orang yang berada di hadapannya dengan wajah memerah.

"Hapus video itu sekarang juga! Hapus!" bentak Dodi lagi dengan suara keras.

"Video apa, Dod?" tanya Ajeng tenang, ia refleks berdiri sedikit di depan Kaesa.