Bab 9 - Keok

Penulis JanaIndria
04 November 2025

"Video yang mana? Yang di kelas? Atau yang di kantin? Atau mungkin yang di tukang perhiasan? Kami punya banyak koleksi."

Ajeng menambahkan pertanyaannya dengan wajah datar, terlihat meremehkan.

Wajah Dodi mengeras. "Jangan main-main kalian! Gara-gara video TikTik sialan yang dibuat temanmu itu, hidupku hancur! Aku di-DO! Orang tuaku malu! Kalian puas sekarang?!"

"Itu bukan karena video, Dod," balas Kaesa dingin.

"Itu karena perbuatanmu sendiri. Video itu hanya cermin yang menunjukkan wajah aslimu. Masa iya sebesar ini masih harus di ajari kalau ada sebab akibat,” jawab Nia dengan senyum mengejek.

"Aku tidak peduli!" bentak Dodi, langkahnya semakin dekat.

Ia menunjuk Lia yang berdiri di belakang. "Kamu yang buat, kan?! Hapus sekarang atau-"

Aric, yang sedari tadi hanya diam mengamati, melangkah maju dengan tenang, memposisikan dirinya di antara Dodi dan para gadis.

"Mas, sepertinya di antara kalian ada masalah. Bisa kan kalau di bicarakan baik-baik?"

Dodi menatap Aric dengan pandangan meremehkan. "Nggak usah ikut campur! Ini bukan urusanmu!"

"Kalau sudah menyangkut calon istri saya, otomatis ini jadi urusan saya," balas Aric, suaranya tetap tenang namun ada nada ketegasan yang tak bisa diabaikan.

Dodi tertawa sinis. Ia merasa di atas angin karena berhadapan dengan orang yang ia anggap 'sipil biasa'. Ia menunjuk wajah Kaesa dan Ajeng dengan jarinya yang gemetar.

"Dengar ya, kalian berdua!" desisnya penuh ancaman, dan wajah yang dibuat angker.

"Kalau video itu tidak hilang dari TikTik dalam dua puluh empat jam, jangan harap kalian bisa hidup tenang di kota ini. Aku mungkin hancur, tapi aku pastikan aku tidak akan hancur sendirian. Aku akan cari kalian, dan aku akan buat kalian menyesal! Ingat itu!"

Udara di sekitar mereka seolah membeku. Ancaman itu begitu gamblang dan nyata.

Nia dan Lia tampak ketakutan, sementara Ajeng mengepalkan tangannya, siap melawan.

Namun tidak dengan Kaesa sebagai pelaku utama, dia menatap Aric yang juga tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Ia hanya menatap Dodi dengan lekat.

"Ancaman yang serius sekali, Mas."

"Aku tidak main-main!" sahut Dodi dengan kembali membentak, matanya melotot sempurna.

"Saya juga tidak," balas Aric. Nada bicaranya berubah, lebih dalam dan berwibawa. "Boleh saya tahu nama lengkap Anda?"

"Untuk apa?! Sudah kubilang jangan ikut campur!" Dodi bertanya sembari memandang lelaki di hadapannya dengan mata meremehkan.

"Karena ancaman yang baru saja Anda lontarkan kepada dua orang saksi korban dalam kasus yang sedang di proses universitas, di hadapan saya, adalah tindak pidana," kata Aric.

Kedua temannya yang tadi bersandar di mobil kini sudah berdiri tegap di sampingnya, tatapan mereka tajam mengunci pergerakan Dodi.

Aric merogoh dompet dari saku belakangnya, bukan untuk mengeluarkan uang, tapi sebuah kartu identitas.

"Perkenalkan, saya Aipda Aric Nugroho, dari Satuan Reserse Kriminal. Dan kedua rekan saya ini juga dari satuan yang sama."

“Oh Tidak!!” Dunia Dodi seakan runtuh untuk kedua kalinya dalam minggu itu.

Wajahnya yang tadi merah karena marah kini berubah menjadi pucat seperti mayat. Matanya menatap tak percaya pada tiga pria berpenampilan santai yang ternyata adalah polisi.

Ia baru saja mengancam dua orang perempuan di depan tiga orang detektif.

Salah satu teman Aric melangkah maju.

"Dodi Prasetyo, kan? Mahasiswa kedokteran yang baru saja dapat masalah karena pelet itu kan?" tanyanya, menunjukkan bahwa mereka sudah tahu siapa dia.

"Ancaman penganiayaan seperti yang tadi Mas ucapkan itu diatur dalam Pasal 335 KUHP, lho. Mau kami proses sekarang juga di kantor? Biar urusannya tidak hanya dengan rektorat, tapi juga dengan kejaksaan."

Lutut Dodi terasa lemas. Ia gemetar hebat. Arogansinya lenyap tak bersisa, digantikan oleh ketakutan yang luar biasa.

"Ma-maaf, Pak... Sa-saya tidak tahu..." ia tergagap, suaranya nyaris tak terdengar.

"Saya... saya hanya emosi sesaat. Saya hanya ingin menakut nakuti saja, tidak akan benar benar melakukannya. Tolong, Pak..."

Ia menatap Aric dengan tatapan memelas, memohon belas kasihan.

Aric menatapnya dingin. "Emosi sesaatmu bisa membawa orang lain ke dalam bahaya. Dan kami tidak menoleransi itu." Ia memberi isyarat pada teman-temannya.

"Untuk kali ini, kami berikan peringatan terakhir, karena calon istri saya meminta saya untuk tidak memperpanjang urusan,” ujar Aric yang memang sebelumnya mendapati sang pujaan hati mengelengkan kepala ke arahnya.

"Hapus pikiran untuk mengganggu mereka lagi. Dalam bentuk apa pun, jangan coba coba muncul di dekat kost ini, apalagi sampai mengirim pesan, atau menyuruh orang lain," lanjut Aric, setiap katanya penuh penekanan.

"Sekali lagi Anda mencoba mengusik ketenangan mereka, saya pastikan Anda tidak akan hanya berhadapan dengan kami bertiga, tapi dengan institusi kepolisian. Anda paham?" sentak Aric yang walaupun bersuara datar namun terdengar seperti di bentak oleh harimau di telinga Dodi dan teman temannya.

"Pa-paham, Pak! Paham!" jawab Dodi cepat, mengangguk-angguk seperti boneka pajangan.

"Sekarang, pergi," perintah Aric.

Tanpa menunggu detik berikutnya, Dodi berbalik dan lari terbirit-birit, menghilang dari pandangan mereka, meninggalkan jejak kepengecutan yang memalukan.

Keheningan pecah oleh tawa lega Lia.

"Ya Tuhan, itu ... itu adalah adegan penutup paling epik yang pernah aku saksikan secara langsung! Aku menyesal tidak merekamnya!"

Bereda dengan yang di rasakan oleh Nia dan Ajeng, terlihat di wajah mereka berdua ketegangan dengan sedikit syok, Namun kemudian ikut tersenyum lega mendengar tawa Lia. Ajeng menatap Aric dengan penuh kekaguman.

"Terima kasih banyak, Mas Aric. Aku nggak tahu akan bagaimana tadi jika nggak ada mas dan teman temannya," ucap tulus Ajeng pada Aric dan dua lelaki yang menemaninya.

Aric tersenyum ramah kembali.

"Sama-sama. Sudah tugas saya." Ia menoleh ke Kaesa. "Timing-ku pas, kan, Sayang …?"

"Selalu," jawab Kaesa sambil tersenyum bangga.

“Aaah aku jadi pengin juga di romantisin polisi,” bisik Lia pada Kaesa yang hanya di jawab dengan mata yang membeliak sempurna ke arahnya.

Perpisahan mereka kini terasa berbeda. Ada lapisan rasa aman dan kepastian yang baru. Dodi bukan lagi ancaman. Ia hanyalah masa lalu yang menyedihkan bagi mereka, terutama Ajeng.

"Baik-baik ya kalian di sini," kata Kaesa sambil memeluk ketiga sahabatnya untuk terakhir kali. "Kalau ada apa-apa, telepon aku. Atau langsung telepon Mas Aric juga boleh."

"Siap, Mbak Komandan!" sahut ketiganya serempak.

Kaesa dan Aric masuk ke dalam mobil. Saat mobil itu perlahan menjauh, Ajeng, Nia, dan Lia masih berdiri di sana, melambaikan tangan hingga mobil itu hilang di tikungan.

Mereka bertiga saling berpandangan.

"Sepi, ya," kata Nia.

"Banget," timpal Lia.

Ajeng menarik napas dalam-dalam, menatap gedung-gedung kampusnya yang terlihat dari kejauhan.

"Oke," katanya dengan semangat baru.

"Operasi Tumpas Tugas belum selesai. Saatnya kembali berperang ... dengan buku."

Nia dan Lia tersenyum. Mereka tahu, meskipun satu komandan telah pergi, pasukan mereka tetap kuat. Dan sang bintang kampus, kini benar-benar bebas untuk kembali meraih langit

“Kamu masih belum mau cerita bagaimana bisa mendapatkan cincin itu, Jeng?” tanya Lia dengan wajah sangat penasaran.