Bab 9a - Nenek Misterius

Penulis JanaIndria
04 November 2025

“Saat itu…,” Ajeng memulai ceritanya. Suaranya terdengar pelan, matanya menatap kosong ke cangkir teh di hadapannya, seolah sedang memutar kembali sebuah film lama di dalam kepalanya.


Kilas Balik

Terik matahari di atas Pulau Madura terasa begitu menyengat, seolah ingin memanggang semua yang ada di bawahnya. Udaranya berat dan lembap.

"Panas banget, ya ampun! Riasan wajahku luntur semua ini!" keluh Santi, tak henti-hentinya mengoceh sambil terus mengipas-ngipasi wajahnya yang memerah dengan brosur wisata.

Mereka berempat—Ajeng, Kaesa, Afrin, dan Santi sedang berdiri di halaman depan Keraton. Arsitekturnya yang unik, sebuah perpaduan yang aneh namun indah antara gaya Jawa, Eropa, dan Tiongkok, membuat sebagian besar dari mereka berdecak kagum.

"Santi, Afrin, bisa diam sebentar tidak? Perhatikan penjelasan dari pemandunya. Bukan malah sibuk dengan riasan wajah,” tegur Kaesa, seperti biasa, menjadi yang paling serius di antara mereka.

Ia berdiri sedikit di depan, buku catatan kecil dan pena sudah siap di tangannya, wajahnya fokus mendengarkan setiap kata sang pemandu.

"Justru karena ini tempat bersejarah yang akan kita abadikan, penampilan kita harus maksimal dong, Sa," balas Afrin tak mau kalah.

Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kamera depan, dan mulai merapikan poninya. Wajahnya begitu serius, seolah sedang bersiap untuk pemotretan majalah.

"Biar nanti fotonya bagus dan kekinian sekali! Ayo, Jeng, San, kita foto di depan gerbang putih itu! Kelihatannya bagus!”

Santi, mendengar kata ‘foto’, langsung melupakan keluhannya soal panas. Wajahnya kembali bersemangat. “Ayo! Ayo!”

Namun, Ajeng hanya tersenyum tipis. Entah kenapa, hari itu ia tidak terlalu tertarik untuk berfoto. Ada sesuatu di keraton ini, sebuah aura kuno dan magis yang terasa begitu kental, yang seolah menariknya untuk menjelajah lebih dalam, jauh dari keramaian dan celoteh teman-teman sekelasnya.

Wajahnya menatap ke arah sebuah sudut yang lebih teduh, matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang besar.

"Kalian duluan saja," kata Ajeng. "Aku mau lihat-lihat ke sebelah sana sebentar. Nanti aku menyusul."

“Yah, kamu ini! Tidak asyik!” gerutu Santi, namun ia tetap menarik lengan Afrin dan mereka berdua berlari kecil menuju gerbang, mulai mencari sudut foto terbaik.

Kaesa hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka, lalu kembali fokus pada catatannya.

Saat teman-temannya sibuk berpose, Ajeng berjalan seorang diri. Ia melangkah menjauhi rombongan, menuju bagian keraton yang lebih sepi dan terasa lebih tua.

Sebuah area taman yang tidak terlalu terawat, dengan sumur tua yang bibirnya sudah ditumbuhi lumut tebal, dan sebuah pohon beringin raksasa yang usianya mungkin sudah ratusan tahun.

Akar-akarnya yang besar dan kokoh menjuntai ke bawah seperti tirai alam, menciptakan sebuah ruangan yang teduh dan sedikit menyeramkan. Suasananya begitu tenang, kontras dengan keriuhan di halaman depan.

Di bawah naungan pohon beringin itu, di atas sebuah dipan bambu kecil, duduk seorang wanita sepuh. Ia mengenakan kebaya kutu baru berwarna kusam dan kain batik dengan corak parang yang warnanya sudah memudar.

Rambutnya yang seluruhnya telah memutih digelung dengan sederhana namun rapi. Ia tidak melakukan apa-apa.

Ia hanya duduk diam, tangannya tertangkup di pangkuan, matanya yang sayu menatap lurus ke kejauhan, seolah sedang menatap sebuah dimensi lain yang tak bisa dilihat oleh Ajeng.

Ajeng seketika berhenti melangkah. Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Ada campuran antara rasa takut dan penasaran yang aneh di dalam dirinya. Ia hendak berbalik, berpikir lebih baik kembali ke keramaian teman-temannya.

Namun, tepat saat ia akan memutar badannya, perempuan tua itu menoleh padanya. Gerakannya begitu pelan, namun tatapannya seolah sudah tahu keberadaan Ajeng sejak tadi.

"Nduk Ajeng, sini, Nak. Mendekatlah."

Suara perempuan tua itu serak dan berat, namun terdengar begitu jelas dan penuh wibawa di tengah kesunyian taman.

Jantung Ajeng serasa berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya meremang. Bagaimana… bagaimana mungkin nenek ini bisa tahu namanya? Wajahnya pucat pasi.

Dengan langkah yang terasa sangat berat dan ragu, Ajeng perlahan menghampiri sosok misterius itu.

"Permisi, Nek...," sapanya, suaranya sedikit gemetar. "Nenek... kenal saya?"

Perempuan tua itu tersenyum. Senyuman yang membuat ribuan keriput di wajahnya semakin dalam, seperti peta kehidupan yang panjang.

Namun matanya... matanya sama sekali tidak terlihat tua. Mata itu jernih, hitam pekat, dan bersinar dengan kearifan yang luar biasa dalam.

"Aku tidak mengenal ragamu yang sekarang ini, Nduk," jawab si nenek. "Tapi aku mengenali takdir yang kau bawa di dalam jiwamu."

Ajeng semakin bingung. Wajahnya menunjukkan ketidakpahaman total. "Takdir? Takdir apa, Nek?"

"Ulurkan tangan kirimu," perintah si nenek, tidak menjawab pertanyaan Ajeng.

Meskipun bingung dan sedikit takut, ada sesuatu dalam kewibawaan nenek itu yang membuat Ajeng menurut. Ia mengulurkan tangan kirinya.

Perempuan tua itu memegang telapak tangannya. Jemarinya yang kurus dan penuh keriput terasa dingin saat menyentuh kulit Ajeng, namun tidak ada perasaan mengancam.

Ia tidak membaca garis tangan Ajeng seperti peramal pada umumnya. Ia hanya menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk-angguk pelan seolah menemukan sebuah konfirmasi.

Dari dalam sebuah kantong kain kecil yang usang di pinggangnya, si nenek mengeluarkan sesuatu. Sebuah cincin. Cincin emas sederhana namun bentuknya unik, dengan sebuah batu kecil berwarna gelap yang terbenam di tengahnya.

Meskipun desainnya simpel, cincin itu memancarkan kilau lembut yang hangat di bawah cahaya matahari yang temaram.

"Ini," katanya sambil meletakkan cincin itu di telapak tangan Ajeng yang terbuka. "Untukmu."

Ajeng terkesiap kaget. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. "Untuk… untuk saya, Nek?" tanyanya.

"Tapi… tapi kenapa? Saya tidak punya uang untuk membayarnya. Saya hanya anak sekolah."

Si nenek tertawa pelan, tawa yang terdengar seperti gemerisik daun kering.

"Hahaha… Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dinilai atau dibeli dengan uang, Cah Ayu. Anggap saja ini adalah sebuah hadiah."

"Hadiah untuk apa, Nek?"

Wajah si nenek kembali menjadi serius. Matanya menatap Ajeng dalam-dalam. "Untuk perjalanan hidupmu nanti," jawabnya misterius.

"Dengarkan pesanku baik-baik, Nduk," lanjutnya.

"Cincin ini bukan sekadar perhiasan biasa. Ia adalah seorang penjaga. Di dalam jalan hidupmu yang nanti akan sangat berliku dan penuh dengan badai, ia akan menjadi perisaimu. Perisai dari semua niat jahat dan energi kegelapan yang mencoba mendekat dan menyentuhmu."

"Jangan sesekali kau lepaskan cincin ini dari jarimu, ya. Apapun alasannya," pesannya dengan nada yang sangat tegas.

“AJENG! KAMU DI MANA? DICARIIN GURU, NIH!”

Suara cempreng Santi terdengar dari kejauhan, memecah suasana magis di taman itu. Tak lama kemudian, Santi, Afrin, dan Kaesa muncul dari balik sebuah bangunan.

Mereka berhenti melangkah saat melihat Ajeng sedang bersama nenek misterius itu. Wajah mereka menunjukkan kebingungan dan kecurigaan.

"Itu siapa, Jeng?" bisik Santi dari jarak beberapa meter, tangannya menutupi mulutnya. "Awas, jangan-jangan orang jahat mau hipnotis kamu!"

Kaesa menatap nenek itu dengan tatapan yang tajam dan penuh selidik. Wajahnya serius. "Hati-hati, Jeng. Jangan sembarangan bicara dengan orang asing."

Nenek itu seolah tidak terganggu sama sekali dengan kehadiran mereka. Wajahnya tetap tenang, tatapannya masih terkunci pada Ajeng.

Ia meraih kembali tangan Ajeng dan dengan gerakan yang mantap, ia memakaikan cincin itu di jari manis tangan kanan Ajeng. Ajaibnya, ukurannya pas sekali, seolah memang dibuat khusus untuknya.

"Jagalah cincin ini baik-baik, seperti kamu menjaga nyawamu sendiri," lanjut si nenek dengan suara yang lebih serius. "Jangan pernah kau lepaskan dari jarimu. Ia adalah bagian dari dirimu sekarang."

Ia berhenti sejenak, matanya menatap lebih dalam lagi, seolah mencoba menanamkan pesannya ke dalam jiwa Ajeng. "Kita akan bertemu lagi nanti, Nduk."