“Bertemu lagi?” tanya Ajeng. “Kapan, Nek? Di mana?”
Si nenek kembali tersenyum, senyum yang paling misterius dan penuh arti. "Tepat di saat umurmu sudah cukup."
Ajeng terbelalak. Wajahnya semakin bingung. "Cukup? Cukup untuk apa, Nek? Tapi… saya kan masih anak SMA."
"Waktu adalah sebuah sungai yang terus mengalir tanpa henti, Cah Ayu," kata si nenek. "Hari ini dan hari esok hanyalah sebuah kedipan mata. Simpan saja semua pesanku ini di dalam hatimu yang paling dalam."
Setelah mengucapkan kalimat puitis itu, perempuan tua itu berdiri dari duduknya. Tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah yang anehnya begitu ringan dan cepat untuk orang seusianya.
Ia berjalan ke arah belakang sebuah pendopo tua, dan dalam sekejap, seolah lenyap begitu saja ditelan oleh bayangan bangunan.
Keempat gadis itu terdiam membeku, mencoba mencerna kejadian sureal yang baru saja mereka alami.
"Gila," ucap Santi pertama kali, memecah keheningan. Wajahnya pucat. "Itu tadi … aneh banget. Sumpah, aku merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki."
Afrin mendekati Ajeng dan langsung memeriksa cincin di jarinya. Wajahnya menunjukkan campuran antara takut dan penasaran.
“Siapa sih, nenek itu? Datang dan pergi seperti hantu. Tapi cincinnya bagus juga. Kelihatan antik dan simpel.”
"Serius, Jeng, jangan-jangan cincinnya itu ada ‘isinya’!" celetuk Santi lagi, wajahnya serius. “Jangan-jangan ada jin-nya!”
“Santi, jangan bicara sembarangan!” tegur Kaesa, meskipun wajahnya sendiri menunjukkan ketegangan. Ia adalah orang yang paling tidak percaya pada hal-hal takhayul, namun kejadian tadi benar-benar di luar logikanya.
“Aku tidak percaya pada hal-hal mistis,” kata Kaesa.
“Tapi nenek tadi… auranya memang berbeda. Sangat kuat. Dan kata-katanya juga sangat aneh. Simpan saja cincin itu baik-baik, Jeng. Anggap saja sebagai sebuah suvenir unik dari perjalanan kita ke Madura.”
Ajeng menunduk, menatap cincin emas yang kini melingkar dengan pas di jari manisnya. Rasanya dingin saat disentuh, namun entah kenapa, ada sebuah kehangatan aneh yang menjalar dari cincin itu ke seluruh tubuhnya. Sebuah perasaan aman yang tak bisa ia jelaskan.
Kilas Balik Selesai
“Sumpah, Jeng,” kata Nia, mengusap lengannya. Saat Ajeng menyelesaikan ceritanya
“Mendengar cerita lengkap saja, dah membuat bulu kudukku berdiri.”
“Jadi… nenek itu benar-benar bilang kalian akan ketemu lagi… saat usiamu sudah cukup?” tanya Lia, memastikan. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.
Ajeng mengangguk pelan. Wajahnya serius. “Iya. Persis seperti itu. Dan sampai sekarang aku masih tidak tahu apa maksudnya.”
“Tunggu, tunggu dulu,” sela Nia, yang sedari tadi paling bingung. Wajahnya mengerut dalam.
“Oke, oke. Aku sekarang paham asal-usul cincinmu yang aneh itu. Aku terima ceritanya. Tapi itu sama sekali belum menjawab pertanyaanku yang tadi.”
“Kalau cincin ini memang sesakral itu, kalau memang tidak boleh pernah dilepaskan,” lanjut Nia, “terus bagaimana bisa ada dua? Cincin yang dipakai Dodi itu kenapa bisa sama persis dengan punyamu? Aku lihat sendiri dengan mata kepalaku waktu ke toko emas untuk bedah cincin yang dari Dodi. Desainnya, batunya, kilaunya, semuanya identik!”
Ajeng tersenyum, namun senyumnya kali ini adalah senyum yang pahit, penuh dengan penyesalan. Wajahnya menunduk menatap cincin di jarinya.
“Karena…,” jawabnya pelan. “Pernah ada satu hari di mana aku melanggarnya. Aku melepaskannya dari jariku.”
“Dan di hari itu,” lanjutnya, “aku kehilangannya.”
Sebuah desahan kaget terdengar serempak dari teman-temannya. Wajah mereka menunjukkan keterkejutan yang luar biasa.
“APA?! HILANG?!” seru Nia.
“Kapan? Bagaimana ceritanya?” tanya Lia, wajahnya serius.
Wajah Ajeng kini menunjukkan ekspresi mengenang yang menyakitkan. “Waktu itu mungkin semester lima. Ada jadwal praktikum kimia anorganik yang dosennya terkenal galak sekali. Peraturannya sangat ketat, kami tidak boleh memakai perhiasan dalam bentuk apapun di dalam laboratorium. Cincin, anting, kalung, semuanya dilarang.”
“Aku ingat sekali,” lanjutnya, “pagi sebelum masuk lab, aku berdiri di depan pintu, ragu-ragu sekali mau melepas cincin ini. Pesan nenek itu tiba-tiba terngiang lagi di kepalaku. Rasanya berat sekali.”
“Tapi karena lebih besar takut kehilangan poin, aku jadi melanggar pesan itu,” kata Ajeng.
”Dengan sangat terpaksa, aku akhirnya melepas cincin ini. Aku membungkusnya dengan tisu dan memasukkannya dengan hati-hati ke dalam saku jas laboratoriumku.”
“Praktikum hari itu berjalan sangat kacau. Ada beberapa reaksi kimia yang gagal dan kami harus mengulang. Akhirnya selesai jauh lebih lambat dari jadwal. Aku ingat sekali, setelah praktikum selesai, aku langsung lari tunggang langgang karena sudah terlambat untuk kelasku yang selanjutnya. Aku benar-benar lupa soal cincin itu.”
“Aku baru sadar saat aku sudah di rumah malam harinya,” lanjutnya, suaranya kini bergetar.
“Saat aku mau mandi, aku baru sadar jari manisku terasa kosong. Aku panik setengah mati. Aku membongkar seluruh isi tasku, menggeledah setiap sudut kamarku, tapi tidak ada.”
“Aku kembali lagi ke kampus malam itu juga. Aku mencari di sepanjang jalan yang kulalui, aku meminta izin pada penjaga untuk masuk ke laboratorium. Aku mencarinya di bawah setiap meja, di setiap sudut. Tapi hasilnya nihil. Cincin itu benar-benar hilang.”
“Aku menangis semalaman,” bisiknya. “Aku merasa begitu bodoh dan bersalah. Aku merasa sudah mengkhianati sebuah janji penting.”
Teman-temannya hanya bisa diam mendengarkan dengan wajah prihatin.
“Lalu besok paginya,” kata Ajeng, wajahnya kini sedikit lebih cerah.
“Saat aku sedang duduk termenung di taman kampus, Dodi tiba-tiba datang menemuiku. Wajahnya aneh sekali waktu itu, sangat serius. Tanpa banyak bicara, dia hanya mengulurkan telapak tangannya. Dan di sana… ada cincin ini.”
“Jadi Dodi yang menemukannya?!” seru Lia.
“Iya,” jawab Ajeng. “Aku senang sekali, tentu saja. Rasanya seperti mendapatkan keajaiban. Aku langsung memeluknya, menangis, dan berterima kasih berkali-kali. Tapi kemudian, saat aku sudah lebih tenang, aku bertanya padanya, ‘Kamu menemukannya di mana, Dod? Aku sudah mencarinya semalaman’.”
“Dan di situlah keanehannya dimulai,” kata Ajeng.
“Wajahnya langsung berubah menjadi aneh lagi. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan bilang, ‘Itu tidak penting. Yang paling penting sekarang cincinnya sudah kembali padamu. Jangan pernah dilepas lagi, ya’.”
“Aku tentu saja tidak puas. Aku terus mendesaknya. Di mana dia menemukannya? Di laboratorium? Di jalan? Di kantin? Tapi dia tidak pernah mau menjawab. Setiap kali aku bertanya, dia selalu mengalihkan pembicaraan, atau hanya tersenyum dengan sangat misterius. Sampai hari ini, setelah bertahun-tahun, aku masih tidak tahu bagaimana persisnya proses dia bisa menemukan kembali cincin yang hilang itu.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Cerita itu hanya menambah lapisan misteri yang baru.
“Tunggu,” kata Nia, wajahnya masih bingung. “Oke, jadi cincinmu yang hilang ditemukan oleh Dodi. Misteri nomor satu. Tapi itu tetap belum menjawab pertanyaanku. Lalu cincin yang kamu pakai sekarang itu bagaimana bisa kamu dapatkan Kembali?”
“Ini aku dapatkan dari orang pintar yang di titipkan ke Afrin, saat sahabatku itu menikah, dan aku tidak tahu bagaimana cincin ini bisa nyebrang ke sana dan tahu kalau aku adalah sahabat dari Afrin.”
Lia dan Nia hanya bisa terdiam, dengan kedua mata yang sama sama membulat sempurna karena tak percaya.