Bab 10 - Telpon dari Tante

Penulis JanaIndria
04 November 2025

Malam di Jogja terasa berbeda. Udara yang lebih sejuk dan ritme kota yang lebih santai menjadi kontras yang nyata dari hiruk pikuk kehidupan di kota tempat teman-temannya berada.

Kaesa sedang duduk di salah satu café bersama Aric, menikmati teh hangat dan keheningan yang nyaman. Sudah hampir seminggu sejak ia kembali.

"Kamu dari tadi senyum-senyum sendiri lihat ponsel, lagi lihat apa sih?" tanya Aric sambil meletakkan cangkirnya.

"Ini," jawab Kaesa sambil menunjukkan layar ponselnya. Terpampang foto Ajeng, Nia, dan Lia yang sedang wefie di perpustakaan dengan tumpukan buku yang menggunung di belakang mereka.

"Lia barusan kirim. Katanya 'Markas Besar Operasi Tumpas Tugas' hari ini panen besar. Ajeng dapat nilai A untuk kuis dadakan."

Aric tersenyum. "Syukurlah. Dia benar-benar sudah kembali, ya."

"Sudah," jawab Kaesa bangga. "Aku tahu dia pasti bisa. Hanya saja kemarin cahayanya sempat tertutup awan gelap. Awan gelap bernama Dodi."

"Awan gelapnya sudah disambar petir, kan?" canda Aric, merujuk pada insiden di depan kosan tempo hari.

"Benar," Kaesa tertawa. "Berkat Buser yang menyamar jadi tukang angkut barang."

Mereka kembali tertawa bersama. Keheningan yang nyaman kembali menyelimuti, hingga dering ponsel Kaesa memecahnya. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layar.

"Siapa, Sa?"

"Nggak tahu, nomor baru," jawab Kaesa ragu. Biasanya ia malas mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal. Tapi entah kenapa, perasaannya tidak enak. Dengan sedikit ragu, ia menggeser tombol hijau.

"Halo, selamat malam."

Hening sejenak di ujung telepon, hanya terdengar helaan napas yang berat. Lalu sebuah suara serak yang terdengar familier menyapa.

"Halo, Nak Kaesa? Ini... ini ibunya Ajeng, Nak."

Kaesa sontak duduk tegak. Jantungnya berdebar kencang. "I-iya, Tante? Ada apa, Tante? Apa Ajeng baik-baik saja?"

Aric yang melihat perubahan ekspresi Kaesa langsung menatapnya dengan cemas.

Di seberang telepon, terdengar isak tangis yang ditahan.

"Maaf sekali, Nak Kaesa, mengganggu malam-malam begini. Tante... Tante dan Om khawatir sekali dengan Ajeng. Tadi ketenu nak Afrin, bilangnya sekarang Ajeng lagi bareng nak Kaesa ya?"

"Khawatir kenapa, Tante? Apa Ajeng ada cerita sesuatu?" tanya Kaesa hati-hati, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

"Justru itu masalahnya, Nak. Ajeng tidak pernah cerita apa-apa," suara Ibu Ajeng terdengar semakin bergetar.

"Setiap kali Tante telepon, jawabannya selalu sama, 'Ajeng baik-baik saja, Bu'. Tapi suaranya... suaranya beda, Nak. Kosong. Tidak seperti Ajeng anak Tante yang biasanya selalu ceria."

Kaesa terdiam. Ia tahu persis suara 'kosong' yang dimaksud. Suara Ajeng saat masih berada di bawah pengaruh Dodi.

"Lalu, kiriman uang dari Bapaknya juga selalu habis di awal bulan. Padahal biasanya Ajeng itu paling pintar mengatur uang. Saat ditanya untuk apa, jawabannya selalu tidak jelas," lanjut Ibu Ajeng.

"Dan puncaknya kemarin, Tante dapat kabar dari kerabat di kampus, katanya nilai-nilai Ajeng anjlok sekali semester ini. Ajeng yang kami kenal tidak mungkin seperti itu, Nak. Dia anak yang paling semangat kalau urusan kuliah."

Hati Kaesa terasa perih mendengarnya. Ia bisa merasakan betapa besar kekhawatiran seorang ibu.

"Tante mohon, Nak Kaesa. Tolong jujur sama Tante. Ajeng kenapa sebenarnya? Apa dia ada masalah? Apa dia sakit? Kenapa dia menutupi semuanya dari kami, orang tuanya sendiri? Kalau Tante telepon dia langsung, Tante yakin jawabannya akan sama saja, 'tidak ada apa-apa'. Tante hanya percaya pada Nak Kaesa."

Kaesa menelan ludah. Bagaimana mungkin ia menjelaskan tentang pelet, tentang Dodi? Orang tua mana yang siap mendengar cerita seperti itu?

Ia melirik ke arah Aric, yang menatapnya dengan tatapan mendukung, seolah berkata, 'kamu pasti bisa'.

Kaesa menarik napas dalam-dalam. "Tante, Om... sebelumnya saya minta maaf," mulainya dengan hati-hati.

"Beberapa bulan terakhir ini, Ajeng memang sedang menghadapi masalah yang cukup berat, Tante," lanjut Kaesa, memilih kata-katanya dengan cermat.

"Masalah... pertemanan. Ada seseorang yang memberikan pengaruh sangat buruk padanya. Pengaruh itu membuat konsentrasi Ajeng di kampus pecah, dan... membuatnya jadi bukan seperti dirinya sendiri."

'Pertemanan' adalah kata paling aman yang bisa ia pikirkan.

"Ya Allah... jadi benar," lirih Ibu Ajeng.

"Tapi, Tante, Om, ada satu hal yang paling penting yang harus Tante dan Om tahu," kata Kaesa cepat, nadanya kini penuh keyakinan. "Masalah itu... sudah selesai. Sudah kami bereskan."

"Selesai bagaimana, Nak?" kini terdengar suara Bapak Ajeng, dalam dan penuh kekhawatiran.

"Orang yang memberi pengaruh buruk itu sudah tidak ada lagi di kehidupannya, Om. Sudah di urus oleh pihak kampus juga. Dan sekarang, Ajeng sedang dalam proses untuk bangkit lagi. Dia sedang berjuang sangat keras untuk mengejar semua mata kuliahnya yang tertinggal. Dia tidak sendirian, Om, Tante. Ada saya, Nia, dan Lia yang selalu mendampinginya setiap saat."

"Lalu kenapa dia tidak cerita pada kami, Nak?" tanya Ibu Ajeng lagi, masih dengan nada sedih.

"Mungkin... mungkin dia malu, Tante. Dia merasa sudah mengecewakan Tante dan Om. Dia butuh waktu untuk bisa memaafkan dirinya sendiri dulu sebelum bisa terbuka pada orang lain, termasuk pada orang tuanya."

Keheningan menyelimuti percakapan itu selama beberapa saat. Kaesa hanya bisa berdoa semoga penjelasannya cukup untuk menenangkan mereka tanpa menimbulkan kepanikan.

"Baiklah, Nak Kaesa," ujar Bapak Ajeng akhirnya. "Terima kasih banyak sudah jujur pada kami. Hati kami sedikit lebih tenang sekarang. Tolong... tolong jaga Ajeng untuk kami ya, Nak. Bilang padanya, kami tidak pernah kecewa. Kami hanya rindu pada putri kami yang dulu."

"Pasti, Om. Pasti," jawab Kaesa dengan suara tercekat.

Setelah beberapa pesan dan ucapan terima kasih lagi, panggilan itu berakhir. Kaesa meletakkan ponselnya di meja, tubuhnya terasa lemas.

"Berat, ya?" tanya Aric lembut sambil mengusap bahunya.

"Berat sekali, Mas," jawab Kaesa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aric. "Aku merasa seperti penipu. Aku tidak menceritakan bagian terburuknya. Bagaimana bisa aku bilang pada mereka, 'Anak Tante kemarin kena guna-guna, makanya jadi seperti orang linglung'? Mereka bisa langsung naik kereta ke sini malam ini juga."

Aric memeluknya. "Kamu bukan penipu, Sa. Kamu bijaksana. Kamu memberi mereka kebenaran yang bisa mereka cerna saat ini. Kebenaran yang paling penting adalah: satu, anak mereka memang punya masalah. Dua, masalah itu sudah selesai. Tiga, anak mereka sedang dalam proses pemulihan dan tidak sendirian. Untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup."

"Tapi mereka harus tahu yang sebenarnya, kan?"

"Nanti," kata Aric. "Dan bukan kamu yang harus menceritakannya. Tapi Ajeng sendiri. Saat dia sudah siap."

Kaesa mengangguk. "Kamu benar. Aku harus bicara dengan Ajeng."

Tanpa menunggu lama, Kaesa langsung melakukan panggilan video, mengundang Ajeng, Nia, dan Lia sekaligus. Tak lama, tiga wajah sahabatnya muncul di layar.

"Halo, Komandan! Kangen, ya?" sapa Lia ceria. "Malam-malam video call, ada apa, Sa?" tanya Nia. Ajeng hanya tersenyum menatapnya. "Ada apa, Sa?"

"Operasi Tumpas Tugas hari ini lancar?" tanya Kaesa, memulai dengan basa-basi.

"Lancar jaya!" jawab Ajeng antusias.

Melihat semangat di mata Ajeng, membuat hati Kaesa sedikit lebih mudah untuk menyampaikan pesannya.

"Jeng..." panggil Kaesa lembut. "Aku mau bicara serius." Ketiga sahabatnya langsung terdiam, merasakan perubahan nada bicara Kaesa.

"Barusan ... ibumu telepon aku."