Setelah mendengar berita dari Kaesa. Malam itu ajeng tertidu setelah capek memikirkan sang Bunda.
Isak tangis itu terasa tidak asing. Samar-samar, seperti datang dari tempat yang sangat jauh namun begitu dekat.
Ajeng tersadar dari tidurnya yang berat ketika aroma melati dan dupa yang begitu pekat, menusuk hidungnya dengan cara yang anehnya terasa menenangkan dan familier.
Ada juga kain sutra yang terasa berat dan sejuk di kulitnya, sama sekali tidak seperti selimut katun tipis miliknya.
Ajeng membuka matanya perlahan. Bukan langit-langit kamar kosnya yang putih kusam dan penuh dengan stiker bintang-bintang yang bisa menyala dalam gelap yang ia lihat.
Melainkan langit-langit kayu berukir yang sangat rumit dengan sentuhan warna emas yang memantulkan cahaya temaram dari lentera-lentera minyak di sudut ruangan.
Ia sontak terduduk. Jantungnya mulai berdebar kencang. Seluruh sisa kantuknya lenyap seketika.
Ruangan ini … sangat asing. Dindingnya terbuat dari panel-panel kayu jati tua yang kokoh, dihiasi ukiran sulur-suluran.
Sebuah cermin besar berbingkai ukiran naga yang detail berdiri dengan megah di salah satu sudut. Dan di atas sebuah meja rias dari kayu gelap, tergeletak perhiasan-perhiasan dari emas dan batu mulia yang hanya pernah ia lihat di dalam etalase museum peninggalan kerajaan.
“Aku… aku ada di mana?” bisiknya, suaranya terdengar serak dan parau, bekas dari tangisan yang alasannya tidak ia mengerti.
"Gusti Putri…."
Sebuah suara lembut menyapanya dari arah samping.
Ajeng menoleh dengan gerakan cepat dan langsung terperanjat. Wajahnya pucat pasi.
Di lantai kayu tak jauh dari ranjangnya yang megah, dua orang perempuan sedang berlutut dengan khidmat. Mereka mengenakan kemben batik yang indah dan kebaya tipis transparan yang memperlihatkan bahu mereka. Rambut mereka disanggul dengan rapi.
Di belakang mereka, berdiri beberapa perempuan lain dengan pakaian serupa, menatapnya dengan raut wajah yang dipenuhi oleh kecemasan.
"Gusti Putri sampun enggal enjing. Wancinipun siram," ujar perempuan yang usianya tampak lebih tua, wajahnya penuh dengan kelembutan namun juga kesedihan yang tersirat.
Ia memanggil Ajeng dengan sebutan 'Gusti Putri'.
Ajeng menatap mereka dengan mata terbelalak, kebingungannya mencapai puncak.
"Gusti… Putri?" ulangnya, kata-kata itu terasa begitu aneh di lidahnya.
"Kalian ini siapa? Kenapa kalian semua memanggilku seperti itu? Dan ini di mana? Apa aku diculik?”
Para perempuan itu saling berpandangan, wajah cemas mereka kini berubah menjadi lebih panik.
Perempuan yang lebih tua, yang wajahnya begitu teduh, merangkak sedikit lebih dekat di atas lututnya. Gerakannya begitu halus dan penuh hormat.
"Gusti Putri, menapa Paduka berkata demikian?” tanyanya dengan lembut, menggunakan bahasa Jawa kromo inggil yang hanya separuh Ajeng mengerti.
“Tentu saja ini adalah dalem Keputren. Kula, Retno, emban Paduka. Apa Gusti Putri benar-benar lupa?"
"Keputren? Emban?" kepala Ajeng terasa berputar. Ia memegangi keningnya. Semuanya terasa tidak nyata.
“Aku tidak mengerti apa yang kalian bicarakan. Namaku Ajeng, bukan Gusti Putri siapapun itu. Dan aku seharusnya ada di kamar kosku.”
“Gusti Putri Dyah Ajeng Prameswari,” kata si emban bernama Mbok Retno itu dengan sabar, seolah sedang berbicara pada anak kecil yang sedang mengigau. Wajahnya penuh simpati.
“Mungkin Paduka hanya terlalu lelah karena sudah menangis semalaman. Izinkan kami menyiapkan air hangat untuk Paduka bersiram. Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Paduka.”
“Menangis?” Ajeng baru sadar. Ia menyentuh pipinya. Basah. Matanya terasa bengkak dan perih.
“Kenapa aku menangis?”
Untuk yang kesekian kalinya, perempuan-perempuan di hadapannya yang berpakaian sama itu, kembali saling berpandangan. Wajah mereka yang bingung sama sekali tidak mereka coba tutupi.
Perempuan yang lebih muda di samping Mbok Retno, yang wajahnya cantik namun tampak semuram bunga layu, kemudian menjawab dengan suara yang sangat pelan dan penuh simpati.
"Tentu saja Gusti Putri bersedih," katanya.
"Kula Laras, dan kula juga sangat mengerti perasaan Gusti. Siapapun pasti akan bersedih jika harus dhaup dengan seseorang yang bahkan belum pernah ditemui seumur hidupnya.”
“Dhaup?” tanya Ajeng, matanya menyipit ke arah Laras. Kata itu terdengar asing.
“Apa itu dhaup?”
“Menikah, Gusti Putri,” jawab Mbok Retno, memperjelas.
Satu kata itu. Bagaikan sambaran petir di siang bolong. Jantung Ajeng seakan berhenti berdetak selama beberapa detik. Seluruh darah seolah surut dari wajahnya.
“MENIKAH?!” pekiknya, suaranya yang tadi serak kini melengking karena syok dan horor. “Menikah dengan siapa?! Aku tidak mau menikah dengan siapapun!”
Teriakan Ajeng yang tiba-tiba dan penuh amarah itu membuat semua dayang di ruangan itu tersentak kaget.
Mereka serempak menundukkan kepala dalam-dalam, tak berani menatap wajah putri mereka yang kini tampak begitu murka.
“Gusti Putri, mohon tenang, Gusti,” bujuk Mbok Retno, suaranya kini sedikit bergetar. Ia kembali merangkak lebih dekat.
“Ini adalah titah langsung dari Kanjeng Sinuwun Ayahanda Paduka. Pernikahan ini sangat penting, demi mempererat tali persaudaraan antara kadipaten kita dengan Kadipaten Wetan.”
“Kanjeng Sinuwun? Ayahanda?” pekik Ajeng frustrasi, kepalanya terasa seperti akan pecah.
“Aku tidak punya ayah seorang raja atau sinuwun! Ayahku itu seorang kepala sekolah di desa! Dan aku tidak mau menikah dengan siapapun untuk alasan politik bodoh apapun! Aku bahkan tidak kenal siapa orangnya!”
“Beliau adalah Kanjeng Pangeran Suryo Baskoro, Gusti,” sahut Laras dengan suara pelan, mencoba membantu.
“Putra mahkota, pewaris takhta dari Kadipaten Wetan.”
“Aku tidak peduli dia itu pangeran atau presiden atau bahkan dewa sekalipun!” tegas Ajeng, kini ia turun dari ranjangnya yang tinggi. Kakinya yang telanjang terasa aneh saat menapak di lantai kayu yang dingin dan halus.
“Aku tidak mau! Titik!”
Matanya yang liar menangkap bayangannya di cermin besar di sudut ruangan. Dengan langkah marah, ia berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas.
Dan kemudian, napasnya tercekat di tenggorokan. Seluruh amarahnya lenyap, digantikan oleh sebuah kengerian yang membekukan.
Yang menatapnya dari balik cermin itu bukanlah wajahnya.
Bukan Ajeng, mahasiswi semester akhir dengan rambut sebahu yang sedikit berantakan dan tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.
Yang ada di dalam cermin adalah seorang gadis asing. Seorang gadis dengan kecantikan khas putri Jawa yang lembut dan melankolis.
Kulitnya kuning langsat mulus, matanya besar dan hitam legam dengan sorot yang begitu sendu, bibirnya penuh dan merah alami, dan rambutnya yang hitam legam disanggul dengan begitu rapi, dihiasi oleh untaian bunga melati segar.
Wajah ini- wajah ini adalah wajah seorang putri dari lukisan-lukisan kuno di keraton. Wajah yang sedang menangis.
“I-ni … ini bukan aku,” bisiknya ngeri dengan suaranya bergetar.
Tangannya yang terasa kaku terangkat, menyentuh pipi basahnya. Dan gadis di dalam cermin itu melakukan hal yang sama persis. Ini nyata.
“Ini pasti mimpi,” desisnya. “Aku pasti sedang bermimpi. Mimpi yang sangat buruk.”
“Gusti Putri, apa Paduka baik-baik saja?” tanya Mbok Retno cemas dari belakangnya. Ia kini sudah berdiri, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa.
Ajeng berbalik dengan gerakan cepat, menatap wajah-wajah asing di sekelilingnya. Wajahnya dipenuhi oleh kepanikan.
“Katakan padaku ini semua hanya mimpi! Cepat katakan ini tidak nyata!”
Mbok Retno menatapnya dengan pandangan sedih. “Ini nyata, Gusti. Dan hari pernikahan Paduka … tinggal tiga hari lagi.”
Tiga hari lagi.
Kalimat itu adalah vonis mati. Ajeng merasa dunianya runtuh. Kakinya lemas, ia jatuh terduduk di lantai yang dingin.
Ia terjebak. Terjebak di dalam tubuh orang lain, di sebuah masa yang terasa seperti ratusan tahun yang lalu, dan di dalam sebuah takdir perjodohan yang bukan miliknya.
Ajeng kembali terisak, namun kali ini tangisannya adalah tangisannya sendiri. Tangisan seorang gadis modern yang kehilangan seluruh identitas dan kebebasannya.