Melihat sang putri kembali menangis histeris, Mbok Retno dengan sigap memberi isyarat pada dayang-dayang lain untuk mundur dan meninggalkan mereka bertiga.
Ia kemudian mendekati Ajeng, berlutut di sampingnya, dan dengan lembut menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi berukir yang indah.
“Gusti Putri, saya tahu ini semua sangat berat bagi Paduka,” ujar Mbok Retno sambil meraih dan memijat lembut tangan sang putri yang dingin. Wajahnya penuh dengan empati.
“Menjadi seorang putri keraton memang tidak pernah mudah. Sejak lahir, takdir kita bukanlah milik kita sendiri. Takdir kita adalah milik keraton dan milik seluruh rakyat,” lanjutnya, mencoba menghibur dengan doktrin yang sudah mendarah daging.
“Tapi ini tidak adil, Mbok!” isak Ajeng, wajahnya menelungkup di telapak tangannya.
“Aku … aku punya kehidupanku sendiri! Aku punya mimpi, aku punya cita-cita! Aku mau jadi seorang Dokter, lulus dengan nilai terbaik, lalu bekerja di sebuah rumah sakit! Bukan menjadi istri seorang pangeran antah berantah yang tidak aku kenal!”
Mbok Retno menatapnya dengan wajah bingung. “Dokter? Apa itu, Gusti?”
Mendengar pertanyaan itu, Ajeng berhenti menangis. Ia mendongak. Ia sadar. Percuma saja ia menjelaskan konsep dunia modern pada mereka.
Percuma ia berteriak tentang hak asasi atau kebebasan memilih. Mereka tidak akan mengerti. Mereka hanya akan menganggapnya semakin gila.
Ajeng menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan detak jantungnya yang menggila. Ia mengusap air matanya. Wajahnya yang tadi dipenuhi keputusasaan kini perlahan berubah menjadi lebih tenang, lebih penuh perhitungan.
“Baiklah, Mbok. Baiklah,” katanya, suaranya kini tidak lagi histeris.
“Mungkin aku hanya… terkejut dengan semua ini.”
Melihat perubahan sikap sang putri, wajah Mbok Retno menunjukkan kelegaan. “Tentu, Gusti. Tentu saja. Siapapun akan terkejut.”
“Mbok,” panggil Ajeng, suaranya kini tenang. “Ceritakan padaku tentang pria itu. Kanjeng Pangeran Suryo Baskoro. Seperti apa sebenarnya orangnya?”
Mbok Retno tersenyum. Wajahnya menunjukkan sedikit kelegaan karena topik pembicaraan beralih ke hal yang lebih ‘normal’.
“Menurut semua kabar baik yang sampai ke telinga saya, Gusti, beliau adalah seorang pangeran yang sangat gagah perkasa, pandai dalam olah kanuragan dan ilmu perang, dan juga dikenal sangat bijaksana dalam memimpin rakyatnya.”
“Jawaban yang sangat politis dan membosankan,” batin Ajeng.
“Laras,” panggilnya. “Kamu pasti sering mendengar gosip-gosip yang beredar di antara para dayang di dapur atau di taman. Ceritakan padaku yang sebenarnya. Jangan ada yang ditutupi.”
Laras tampak ragu-ragu. Ia melirik takut-takut ke arah Mbok Retno.
“Tidak apa-apa, Laras. Bicaralah,” kata Ajeng, mencoba menggunakan pendekatan yang lebih personal.
Wajahnya ia buat seramah mungkin. “Anggap saja aku ini temanmu, bukan Gusti Putrimu. Aku hanya ingin tahu siapa pria yang akan kunikahi.”
Mendapat dorongan itu, Laras akhirnya angkat bicara, suaranya kini hanya bisikan.
“Yang hamba dengar dari para abdi dalem yang pernah berkunjung ke Kadipaten Wetan, Gusti…” bisiknya.
“Kanjeng Pangeran itu memang benar sangat tampan. Wajahnya tegas, tubuhnya tinggi tegap. Tapi-”
“Tapi apa?” desak Ajeng.
“Tapi beliau juga terkenal sangat, sangat dingin dan tegas,” lanjut Laras. “Wajahnya jarang sekali tersenyum. Beliau lebih banyak diam dan mengamati. Dan beliau juga dikenal sangat keras, pernah menolak beberapa perjodohan dari kadipaten lain sebelumnya.”
Alis Ajeng terangkat. Wajahnya menunjukkan minat. Ini adalah informasi yang jauh lebih menarik. “Oh, ya? Kenapa beliau menolaknya? Apa putri-putrinya tidak cukup cantik?”
“Hamba tidak tahu pasti, Gusti. Tapi gosipnya,” Laras melihat sekeliling sebelum melanjutkan bisikannya, “beliau hanya mau menikah jika pernikahan itu benar-benar membawa keuntungan strategis yang paling besar bagi kadipatennya. Beliau tidak peduli pada kecantikan atau perasaan.”
Ajeng mencerna informasi itu. Seorang pangeran yang dingin, pragmatis, dan ambisius.
“Jadi, pernikahanku dengannya ini dianggap sebagai keuntungan terbesar?” tanyanya.
“Benar sekali, Gusti Putri,” sahut Mbok Retno, mengambil alih percakapan.
“Kadipaten kita saat ini membutuhkan sekutu militer yang sangat kuat untuk menghadapi ancaman bajak laut dari seberang lautan yang semakin merajalela. Dan Kadipaten Wetan memiliki angkatan laut terkuat di seluruh tanah Jawa.”
Ajeng akhirnya melihat gambaran besarnya dengan jelas. Ini bukan sekadar perjodohan. Ini adalah sebuah aliansi politik dan militer.
Dan dirinya, atau lebih tepatnya, tubuh Putri Dyah Ajeng Prameswari ini, adalah mahar dari aliansi itu. Ia sedang dikorbankan. “Mbok, apa seorang putri di sini benar-benar tidak punya hak untuk menolak sama sekali?” tanya Ajeng, sebuah pertanyaan terakhir yang penuh harapan.
Wajah Mbok Retno berubah sedih. Ia menatap sang putri dengan penuh simpati. “Titah dari Kanjeng Sinuwun adalah sabda, Gusti. Itu adalah hukum tertinggi. Menolaknya sama artinya dengan menentang takdir, dan akan membawa aib yang tak terhingga bagi seluruh keluarga dan keraton.”
Ajeng terdiam. Ia benar-benar terjepit dari segala sisi. Melawan secara terbuka berarti bunuh diri sosial, atau mungkin lebih parah dari itu. Ia tidak bisa lari. Ia tidak bisa berteriak ‘tidak mau’. Ia tidak punya pilihan.
Atau mungkin… ada.
“Baiklah,” kata Ajeng akhirnya setelah hening yang panjang. Sebuah keputusan nekat mulai terbentuk di dalam benaknya. Wajahnya yang tadi penuh perhitungan kini berubah menjadi sangat tenang. Terlalu tenang.
“Siapkan air mandiku, Mbok, Laras,” pintanya dengan nada lirih.
Mbok Retno dan Laras saling berpandangan. Wajah mereka menunjukkan kebingungan sekaligus kelegaan melihat perubahan sikap sang putri yang begitu drastis.
“Baik, Gusti Putri. Segera kami laksanakan,” jawab Mbok Retno sigap.
Saat para dayang itu sibuk mempersiapkan prosesi siraman di bagian lain ruangan, Ajeng berjalan kembali ke hadapan cermin besar itu.
Ia menatap lekat-lekat pantulan wajah cantik yang asing itu. Ia menatap dalam-dalam mata sendu milik sang putri.
“Dengar, Dyah Ajeng Prameswari,” bisiknya pada bayangannya sendiri, suaranya dingin dan penuh tekad.
“Aku tidak tahu kenapa aku bisa ada di sini, di dalam tubuhmu ini. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa kembali ke duniaku. Tapi satu hal yang pasti, aku bersumpah padamu…”
“Aku tidak akan membiarkan hidupmu, ataupun hidupku, berakhir dalam sebuah pernikahan paksa yang menyedihkan ini,” desisnya. “Jika aku tidak bisa menolak takdir ini, maka aku akan menghancurkannya.”
RRRRIIIIINNNGGGG! RRRRIIIIINNNGGGG! Sebuah suara melengking yang sangat keras dan sangat familiar tiba-tiba memekakkan telinga.
Ajeng tersentak. Matanya terbuka lebar.
Ia terengah-engah, jantungnya berdebar begitu kencang. Aroma melati dan dupa yang tadi begitu pekat kini hilang, digantikan oleh aroma kamper dari lemari dan sedikit bau apek khas kamar kos.
Langit-langit kayu berukir emas telah lenyap, kembali menjadi langit-langit putih kusam dengan stiker-stiker bintang.
Ia melihat sekeliling. Dinding kamarnya yang dipenuhi poster-poster artis korea. Meja belajarnya yang berantakan. Tumpukan buku-buku tebal. Ia kembali.
Ia menunduk, melihat tubuhnya sendiri. Piyama bergambar kucing yang ia kenakan. Tangannya … tangannya sendiri. Dan di jari manisnya, melingkar cincin emas warisan nenek misterius di Madura.
Semuanya hanya mimpi.
Sebuah mimpi yang terasa begitu nyata, begitu detail, hingga membuatnya berkeringat dingin.
RRRRIIIIINNNGGGG! RRRRIIIIINNNGGGG! Suara itu lagi. Ponselnya. Tergeletak di atas nakas di sebelah tempat tidurnya. Layarnya menyala, menampilkan sebuah nama yang langsung membuat hatinya menghangat. ‘Bunda’.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu.
“Halo, Bun?” suaranya terdengar serak.
“AJENG! Ya Tuhan, Nak! Kenapa baru diangkat?! Bunda telepon dari tadi tidak diangkat-angkat, Bunda khawatir sekali!” sembur suara ibunya dari seberang, nadanya panik.
Ajeng tersenyum. Kepanikan ibunya adalah musik terindah di telinganya saat ini.
“Maaf, Bun,” katanya sambil mencoba duduk. “Ajeng … Ajeng baru bangun. Tadi malam begadang kerjakan skripsi, jadi tidurnya pulas sekali.”
“Pulas sekali sampai Bunda kira kamu kenapa-napa,” gerutu ibunya. “Sudah sarapan belum? Jangan lupa makan. Jangan hanya minum kopi.”
“Belum, Bunda,” jawab Ajeng.
“Jangan mi instan terus! Tidak sehat! Nanti Bunda kirimkan uang tambahan, beli makanan yang benar, ya?”
Mendengar semua omelan dan perhatian ibunya, Ajeng merasakan air matanya kembali mengalir. Tapi kali ini, air mata itu adalah air mata kelegaan dan rasa syukur yang tak terhingga.
“Ajeng?” panggil ibunya, bingung mendengar isakan pelan dari putrinya. “Kamu kenapa, Nak? Kamu sakit?”
“Tidak, Bun,” isak Ajeng. “Ajeng tidak apa-apa.”
Wajahnya basah oleh air mata, namun senyum paling lebar terukir di bibirnya. “Ajeng hanya … tiba-tiba kangen sekali sama Bunda.”
Ia sangat, sangat bersyukur. Bersyukur atas kamar kosnya yang sempit. Bersyukur atas skripsinya yang memusingkan. Dan yang paling penting, bersyukur atas kebebasannya untuk bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Mimpi buruk itu telah berakhir.