Kota Indahpura

Penulis Levanter
05 November 2025

Malam yang terasa begitu sunyi dan dingin, menyelimuti sebuah kamar di salah satu hotel di Kota Indahpura. Kota yang terkenal bagi para pelancong lokal dengan pemandangan yang indah, tetapi juga menyimpan banyak rahasia.

***tap tap tap

Langkah kaki terdengar samar mendekat, hingga akhirnya pintu kamar hotel tersebut terbuka, dan sosok yang muncul berhasil mencuri fokus seorang wanita yang sejak tadi hanya terarah pada ponselnya.

"Lo dari mana aja sih, Sar?" tanya Dilla, wanita itu, sambil melihat ke arah Sarah, temannya, yang sedang berjalan mendekatinya.

"Cuma jalan-jalan aja kok sebentar. Yang lain mana, Dil?" jawab Sarah yang kemudian kembali bertanya.

"Di *rooftop."

"Ngapain? Ngopi? Lo gak ke sana?"

Dilla mengangguk, lalu mengarahkan pandangannya ke arah tangan Sarah. "Iya. Nunggu lo balik dulu. Ngomong-ngomong, itu apaan di tangan lo?"

"Oh, ini?" Sarah mengangkat benda yang sejak tadi ia genggam, lalu tersenyum. "Waktu jalan-jalan tadi gue gak sengaja lewat toko barang antik gitu, terus ngeliat cermin ini. Lucu, kan?"

Dilla mengangguk sambil tersenyum mengiyakan. "Iya, lucu. Ya udah yuk ke rooftop. Anak-anak pasti udah pada nungguin."

Dilla beranjak dari kasur dan mengambil dompetnya di atas nakas. Sementara Sarah menganggukkan kepala, lalu mengikuti Dilla dari belakang.

Setibanya di kafe atap hotel, Sarah dan Dilla langsung berjalan mendekati dua temannya yang sedang duduk sambil berbincang ditemani dua cangkir kopi dan satu batang rokok di masing-masing celah jemari tangan.

"Nah yang ditungguin dari tadi baru pada dateng." Kenji, salah satu teman mereka, langsung membenarkan posisi duduknya.

Sarah cengengesan, lalu menarik bangku kosong yang berada di dekat Kenji. "Hehe sorry. Gue habis jalan-jalan sebentar tadi, terus nemu ini." Sarah menunjukkan cermin yang baru ia beli kepada teman-temannya.

Reza, temannya yang lain, mengernyitkan dahinya. "Apaan? Cermin?"

Sarah mengangguk. "Iya. Lucu banget kan cerminnya."

Ia pun kembali memutar cermin itu, bermaksud melihat pantulan dirinya sendiri. Namun, yang ia lihat bukan wajahnya, melainkan wajah orang lain. Wajah pucat yang nampak menyedihkan.

Lalu karena terkejut, Sarah pun refleks melemparkan cermin tersebut.

***Prang!

"Lah... kenapa lo, Sar?" tanya Reza yang sedikit kebingungan.

"Iya kenapa dah? Perasaan baru bilang kalau cerminnya lucu." Kenji ikut bertanya sambil membantu Sarah mengambil kembali cerminnya. "Nih, untung gak pecah."

"*T-thanks." Sarah terlihat panik, sambil langsung memasukkan kembali cermin itu ke dalam saku celananya.

"Kenapa sih, Sar?" tanya Dilla cemas.

Sarah menggeleng sambil memaksakan senyumnya. "E-enggak. Enggak ada apa-apa kok. Cuma gak sengaja kelempar pas ada serangga tadi di tangan."

Dilla menghela napasnya. "Gue kirain kenapa."

Dilla dan juga kedua temannya langsung percaya dengan ucapan Sarah barusan. Mereka pun melanjutkan obrolan dan bercanda tawa seperti biasanya. Namun, tidak dengan Sarah. Ia terus merasa gelisah dan sering melamun sehingga tidak fokus dengan obrolan teman-temannya. Terlebih saat ia menatap Kenji, kepalanya langsung terasa pusing dan berputar.


Keesokan harinya.

"Sar! Sarah!" Dilla menggoyangkan sedikit tubuh Sarah yang masih berbaring di atas kasur.

Dengan mata yang masih terpejam, Sarah mulai menggeliat, lalu perlahan mengucek sebelah matanya.

"Bangun! Ken masuk rumah sakit!"

"Hah?!"

Mendengar ucapan Dilla barusan, Sarah langsung membuka mata dan bangun dari posisi tidurnya. "Ken masuk rumah sakit? Jangan bercanda, Dil! Baru semalem kita ngobrol, kan?"

Dilla menghela napasnya berat. "Siapa yang bercanda sih? Ayo buruan! Nanti gue jelasin di jalan."

Sarah terlihat kebingungan, tetapi tetap menuruti perkataan Dilla. Ia pun bergegas mengganti pakaiannya tanpa mandi terlebih dahulu.

Kemudian, keduanya berjalan keluar kamar hotel dan segera menuju ke rumah sakit tempat Ken dirawat.

"Jadi, gimana ceritanya Ken bisa masuk rumah sakit?" tanya Sarah, yang berhasil memecah keheningan.

"Gue gak tau pasti cerita detailnya gimana. Tapi dari ceritanya Reza, semalem Ken muntah-muntah setelah dari kafe. Dan anehnya, dia muntah darah."

Wajah Dilla terlihat sangat khawatir saat menjelaskannya.

"M-muntah darah?!"

Dilla mengangguk mengiyakan. "Gue sama Reza ngiranya dia ada penyakit TBC atau apa gitu kan. Tapi ternyata gak ada apa-apa setelah diperiksa dokter."

Sarah mengernyitkan dahinya bingung. "Gak ada apa-apa?"

"Iya, tubuhnya sehat. Dokter ngiranya dia cuma kelelahan aja."

"Hm... terus keadaan Ken gimana sekarang?"

"Gue udah nanya Reza, tapi belum dibales. Kayaknya dia lagi sibuk ngurus administrasi sama ngehubungin keluarganya Ken juga."

Sarah terdiam selama beberapa saat. Hingga tidak lama kemudian, keduanya sudah tiba di tujuan. Mereka pun segera membawa langkah masing-masing ke dalam rumah sakit.

"Mba, pasien atas nama Kenji Gutama, dirawat di mana ya?" tanya Dilla begitu sampai di meja administrasi.

"Sebentar, saya cek dulu ya," jawab petugas administrasi.

Dilla mengangguk.

Sementara Sarah yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, mulai mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

"Ada di kamar Tulipe nomor 11 ya," ucap petugas administrasi begitu selesai mengecek daftar pasien di rumah sakit tersebut.

"Oke, terima kasih, Mba."

Setelah mendapatkan anggukan dan senyuman sebagai jawaban dari petugas administrasi, Dilla langsung membawa langkahnya pergi. Namun, menyadari tidak ada Sarah yang berjalan bersamanya, ia pun menghentikan langkah dan berbalik menghampiri Sarah yang sedang bengong berdiri di tempatnya.

"Sar, ayo! Jangan bengong di sini!"

"Oh? I-iya."

Dilla menghela napasnya berat, lalu menggandeng tangan Sarah dan langsung mengajaknya ke kamar Tulipe nomor 11, tempat di mana Kenji dan Reza berada.

"Dilla, Sarah!" Reza yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar, langsung bisa bernapas lega setelah melihat dua temannya sudah datang.

"Za, sorry lama. Gimana keadaan Ken?" tanya Dilla sambil berusaha mengintip ke dalam kamar melalui jendela kecil di pintu.

"Tadi sempat siuman. Terus sekarang tidur lagi setelah minum obat," jawab Reza yang disertai helaan napas. "Kalian mau masuk? Jam besuknya masih ada sampai tiga jam ke depan."

Dilla dan Sarah mengangguk, lalu mengikuti langkah Reza yang baru saja membuka pintu kamar, dan menghampiri Kenji yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

"Ya ampun, Ken. Padahal semalem masih haha hihi sama kita," ucap Dilla sambil duduk di dekat ranjang Kenji.

Sementara itu, Sarah terus memandangi wajah Kenji dari tempatnya berdiri. Ia kembali teringat kejadian semalam, di mana wajah pucat dan terlihat menyedihkan yang ia lihat di cerminnya adalah wajah Kenji.

"Sarah! Kenapa lo bengong terus sih dari tadi?" Dilla menepuk lengan Sarah, yang berhasil menyadarkannya.

"Ah... maaf."

Dilla menghela napasnya berat. "Udah lah. Gue sama Reza mau ke kantin rumah sakit sebentar. Lo jagain Ken bentar ya? Kalau ada apa-apa langsung telepon kita."

"Oh, oke." Sarah mengangguk mengiyakan.

"Sekalian lo mau nitip apa? Tadi belum sempat sarapan kan?"

"Hm... kopi sama roti aja, Dil."

Dilla mengangguk, lalu berjalan ke luar kamar bersama Reza.

Sementara itu, Sarah langsung duduk di dekat ranjang dan terus menatap Kenji yang matanya masih terpejam.

"Apa ini ada hubungannya sama cermin itu? Gak mungkin, kan?" gumam Sarah yang kemudian menggelengkan kepalanya.

Lalu, tiba-tiba saja Kenji tersadar, dan membuka matanya secara perlahan. Dengan suara yang serak, Kenji langsung memanggil nama Sarah yang kini berada di dekatnya. Namun, belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, cairan kental berwarna merah kembali keluar dari mulutnya.

"Sa...rah? Tolong gu- huekkk!"