“Kumohon, diamlah sebentar, Maya.” Adrian menggeram seakan ia tengah menahan sesuatu. Matanya terpejam dan ia tak ingin melepaskan Maya dari pelukannya walau sedetik pun.
Maya pun mengerti, dia tahu bahwa Adrian sedang berusaha mengendalikan dirinya. Melihat lelaki itu memejamkan mata dan mengatur napas, dia hanya bisa patuh dan diam di tempatnya.
Setelah beberapa waktu, Adrian akhirnya membuang napas panjang dan kasar. Wajahnya kini tampak lebih tenang dari sebelumnya, pun matanya tak lagi berkabut oleh hasrat yang menggelegak keluar.
“Maya, ayo kita menikah,” ajaknya santai, seolah-olah ia tengah mengajak anak kecil membeli permen.
“Ha?” Maya bangun dari lamunannya dan terperanjat ketika mendengar ucapan Adrian yang begitu ringan.
Dia berdiri, melihat pada Adrian yang akhirnya mau melepaskannya dari belenggu tubuh rampingnya yang kuat.
“Kenapa? Apa kau keberatan denganku? Kalau aku berat, kau bisa di atas, bukan?” tanya Adrian. Pun masih dengan suara dan ekspresi yang santai nan ringan seperti sebelumnya.
“Emm, bukan. Aku tidak begitu,” sanggah Maya cepat-cepat. Tahu kemana arah ucapan Adrian.
“A-aku harus segera kembali, Kakak pasti akan mencariku.” Maya berlalu begitu saja meninggalkan Adrian, dengan wajahnya yang masih tersipu dan takut.
Hal itu membuat Adrian terkekeh geli. Namun tetap membiarkan Maya pergi. Ketika dia mengingat sesuatu kemudian, barulah ia segera beranjak dari sofa itu dan mengejar Maya.
Adrian melangkah lebar dengan kaki panjangnya, tak lama dia telah sampai pada anak tangga terakhir dan menghentikan Maya dari langkahnya.
“Maya tunggu!” Dia menatap Maya dengan penuh kecemburuan dan khawatir.
Saat ini, Maya berdiri di tengah ruang tamu, mengambang karena dia menghentikannya. Baju Maya masih setengah basah di beberapa bagian setelah dipeluk olehnya tadi. Tentu saja kalau dilihat dengan jeli akan nampak tembus apa yang ada di dalam pakaian itu.
Selain tidak ingin Maya pulang sendiri, tentu saja Adrian juga tidak rela jika bagian dari diri Maya terlihat oleh orang lain. Apalagi bagian sensitif, seperti yang dirinya lihat saat ini.
“Aku akan mengantarmu,” katanya melangkah maju lagi.
Tanpa bicara, Maya hanya menatap seluruh penampilan Adrian dengan salah tingkah. Dan berhasil, itu membuat Adrian berubah pikiran.
“Oh, Jode akan mengantarmu,” putusnya lagi dengan berat hati tentunya.
Tetapi setidaknya, Jode adalah orang yang sangat ia percaya. Dan dia yakin, lelaki itu tak akan memiliki pikiran kurang ajar pada Maya yang merupakan calon istri dari bosnya.
“Baik, Tuan.” Jode langsung menampakan diri entah dari mana orang itu bersembunyi tadi.
Maya tak bisa menolak ketika Adrian memerintah Jode untuk mengantarnya tadi. Dan tentu saja karena dia juga butuh, maka Maya hanya bisa patuh.
“Emmm … bisakah kita berhenti di minimarket sebentar?” Maya bertanya dengan ragu.
“Tentu saja, Nona.” Jode menjawab cepat, dan segera mengambil jalur kiri untuk bersiap berhenti kemudian.
Jalanan yang mereka lewati kali ini memang berada di kompleks ruko tempat orang-orang membuka usaha toko ataupun minimarket yang menjual segala macam kebutuhan lengkap dari makanan hingga pakaian. Sehingga begitu Maya meminta berhenti, Jode tak perlu mencari terlebih dulu di mana letak minimarket.
“Terima kasih,” ucap Maya saat mobil itu sudah berhenti dan akan segera turun.
Ketika melihat Maya hendak turun, lelaki itu segera menyodorkan sebuah kemeja berwarna putih.
“Ini baju tuan Adrian. Anda bisa memakainya, Nona.” Dia berkata dengan senyuman yang sopan. Tak ingin menyinggung perasaan Maya sedikit pun.
Tentu saja Jode menyadari penampilan Maya. Bahkan lelaki itu terlalu jeli, untuk sekedar melihat tanda merah gelap di leher Maya yang sedari tadi berusaha Maya tutupi dengan rambutnya. Pastilah Jode mengerti kenapa ada tanda merah di leher Maya.
Jode bukanlah remaja belasan tahun yang naif. Dia juga pernah tertarik pada seorang wanita dan memaklumi apa yang bosnya lakukan pada gadis itu. Hanya saja, malihat bahwa Maya sepertinya terpaksa, dia sedikit merasa iba.
Wajah Maya memerah menyadari apa maksud Jode memberikan baju itu, sementara tangannya segera menerima kain kemeja itu. Tanpa pikir panjang Dia pun memakainya. Walaupun terlalu besar hingga Maya tampak tenggelam olehnya, setidaknya itu cukup mampu menyelamatkan Maya dari pandangan buruk orang lain yang akan ditemuinya nanti.
Baju Maya yang basah sudah tertutup oleh kemeja itu. Dan Maya dengan percaya diri turun dan masuk ke dalam minimarket itu.
Saat keluar, tampak Maya membawa sekantung kresek makanan dan minuman. Membuat Jode mengerutkan kening walaupun hanya memilih diam pada akhirnya. Sepertinya, Maya berencana membawa makanan itu pulang.
“Kenapa?”
Ketika Jode sudah terlihat dan berdiri di dekatnya, pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Adrian.
Tadi sepulang mengantar Maya, Jode langsung mengetuk pintu kamar tuannya dan mendapati Adrian tengah berkutat dengan laptopnya di ranjang.
Tentu saja Adrian tahu bahwa kedatangan Jode adalah untuk menyampaikan informasi. Sehingga dirinya segera membiarkan anak buahnya itu masuk saat itu juga.
“Saya melihat Nona Maya tadi membeli beberapa makanan instan dan beberapa sayuran dari minimarket saat dalam perjalanan pulang,’’ lapor Jode, menundukkan kepala merasa bersalah.
Adrian langsung melemparkan bantal ke arah Jode dengan ekspresi setengah marah. “Kau bahkan tidak melakukan apapun?”
“Anda tidak memerintahkan saya, Tuan. Saya tidak ingin bertindak lancang,” bantah Jode.
Mengingat beberapa waktu lalu saat mengantarkan Maya pulang Jode malah mendapatkan hukuman 573 kali push-up - hanya karena dia membelikan Maya makanan mewakili bosnya, kali ini Jode tidak ingin mengulanginya lagi. Tetapi meskipun begitu, sepertinya Jode masih juga terkena marah oleh Adrian.
“Aku tidak memerintahmu, bukan berarti kau tidak harus melakukannya. Bukankah sudah kubilang bahwa selagi tidak ada aku, kau harus menjaga Maya bahkan dari hal sekecil dan seremeh-temeh makanan,”celetuk Adrian lagi sambil berdiri dan berkacak pinggang, sementara sebelah kakinya berayun guna menendang tulang kering Jode.
“Membiarkannya memakan-makanan instan sama saja berarti bahwa kau membahayakannya, dasar kau lajang tua!” Adrian sudah menarik jaket tebalnya saat berkata. Bergegas pergi dan dengan sengaja menabrak sebelah bahu Jode saat melewatinya. Namun dirinya hanya bisa mengambang di tengah pintu, ketika tiba-tiba ponselnya berdering dan muncul sebuah nama tak asing di sana.
“Katakan!” ucapnya tegas ketika memerintah seseorang di seberang sana untuk segera bicara.
“Tuan, Rowman Dhon dan istrinya memang belum pernah melakukan pembelian tiket untuk pulang kembali. Sepertinya memang mereka belum berencana kembali,” kata si penelpon melapor.
Adrian mengerutkan keningnya dalam-dalam. Baru saja dirinya berencana memblokir perjalanan pulang mereka untuk sementara waktu, tetapi malahan mereka sendiri yang tidak mau pulang.
Satu sisi Adrian lega karena dia bisa mengulur waktu dan berlama-lama bersama Maya. Tetapi di sisi lain, dia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres di antara keluarga Maya.
Kalau begitu, keputusannya untuk kembali meng-aktifasi kamera di rumah Maya adalah keputusan yang tepat. Dia juga sangat ingin tahu, kenapa kedua orangtua Maya meninggal di tahun itu?
Bersambung ….