"Tiup lilinnya, Jeng! Tiup!" seru Rere paling kencang, memecah alunan musik akustik yang lembut di kafe itu.
Ajeng tertawa kecil. Di depannya, sebuah cheesecake kecil dengan satu lilin menyala terang diletakkan di atas piring. Lia, Nia, Mita, dan Rere, keempat sahabat satu kost-nya, sudah mengepung meja bundar kecil mereka.
"Ayo, Jeng, make a wish!" kata Lia sambil tersenyum tulus.
Ajeng memejamkan mata sejenak. Pikirannya tidak meminta apa-apa. Dia hanya bersyukur. Aku bersyukur sudah sadar.
Dia membuka mata dan meniup lilin itu.
"Horeee! Selamat ulang tahun, Ajeng!"
Keempat temannya bertepuk tangan. Nia, yang paling heboh, segera menyodorkan sendok.
"Potong pertama buat siapa, Jeng?" goda Nia. "Buat kita semua dong, ya? Kan kita yang bayarin!"
"Hush, kamu ini," Mita menyikut lengan Nia. "Ini hari spesial Ajeng. Kita senang kamu udah kembali jadi Ajeng yang kita kenal."
Ajeng tersenyum. Kali ini senyumnya sedikit getir. "Kembali." Kata itu punya makna besar.
"Makasih ya, semuanya," kata Ajeng pelan. "Kalau nggak ada kalian, aku nggak tahu gimana nasibku sekarang."
"Udahlah, Jeng. Nggak usah dibahas lagi," kata Rere cepat. "Yang penting, Dodi si brengsek itu udah nggak bisa ganggu kamu lagi."
"Dan yang paling penting," Lia menimpali, suaranya serius, "cincin sialan itu udah nggak ada di jari kamu."
Ajeng menunduk, menatap jari manis kirinya yang kini sudah di gantikan oleh cincin pemberian nenek. Selama enam bulan, jarinya dilingkari cincin pemberian Dodi. Cincin yang membuatnya lupa diri.
"Enam bulan, ya," desah Ajeng. "Rasanya kayak mimpi buruk."
"Emang mimpi buruk!" ketus Nia. "Kamu ingat nggak? Kamu rela-rela jadi babunya dia! Disuruh cuci baju pakai tangan, padahal di kost ada laundry. Disuruh bersihin apartemennya yang segede lapangan bola. Kamu bahkan nggak ingat kami!"
"Nia, udah," tegur Lia pelan, karena kasihan melihat wajah sahabatnya yang sudah tak lagi bahagia.
"Nggak, Li. Ajeng harus ingat," Nia bersikeras. "Biar dia nggak kena tipu lagi. Kamu tahu apa yang paling bikin aku sakit hati, Jeng?"
Ajeng menggeleng pelan.
"Waktu itu kamu nolak telepon dari Ibumu. Kamu bilang, 'Aku sibuk, jangan ganggu.' Padahal kamu lagi nyetrika kemeja si Dodi! Aku yang dengar sendiri!"
Mata Ajeng memanas. "A-ku, aku nggak ingat itu, Ni."
"Justru itu!" seru Nia. "Peletnya kuat banget. Kamu lupa semuanya. Kamu lupa kami. Kamu lupa kuliah. Kamu bahkan -"
Nia tiba-tiba berhenti bicara. Dia melirik Mita dan Rere, lalu Lia. Suasana di meja itu mendadak tegang.
Ajeng tahu apa yang hampir Nia katakan.
"Aku bahkan lupa Yusuf," bisik Ajeng, membuat ke empat temannya yang lain saling pandang.
Keempat temannya terdiam. Itulah kerugian terbesar Ajeng. Yusuf. Pria baik hati yang sudah menemaninya sejak semester pertama. Pacarnya, yang pernah bermimpi untuk dia kenalkan pada keluarganya, namun akhirnya pria yang sama itulah yang tiba-tiba dia tinggalkan tanpa penjelasan, enam bulan lalu, tepat setelah dia menerima cincin dari Dodi.
"Jeng," Mita yang pendiam akhirnya bersuara, "Yusuf ... dia udah sangat berusahasaat itu. Dia datang ke kost. Berkali-kali."
"Aku tahu," kata Ajeng lirih. "Lia udah cerita."
"Waktu itu kamu yang usir dia," kata Lia pelan. "Kamu bilang... kamu bilang kamu nggak kenal dia. Kamu bilang dia penguntit. Kamu teriak-teriak manggil satpam."
Dada Ajeng terasa sesak. Dia melakukan itu? Pada Yusuf?
"Ya Tuhan ... aku-"
"Sstt," Rere mengusap punggung Ajeng. "Bukan salah kamu, Jeng. Kamu di bawah pengaruh sihir. Kamu sakit."
"Tapi rasanya tetap sakit, Re. Aku jahat banget sama dia."
"Yang penting sekarang kamu udah sadar," kata Lia menenangkan. "Cincin itu udah kita kembalikan. Dodi juga udah kita laporin ke universitas, walau susah buktiin peletnya, namun untung saja kita memvideokan saat Kaesa meminta membuka cincin itu."
Ajeng mengangguk. Dia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan enam bulan yang kelam itu. Hari ini ulang tahunnya. Dia harus bahagia.
"Oke. Cukup melankolisnya," kata Ajeng, mencoba ceria. "Ayo kita makan kuenya. Aku traktir kopi dan kentang deh setelah ini."
"Nah, gitu dong!" seru Nia. "Itu baru Ajeng yang kita kenal!"
Mereka mulai memotong kue dan mengobrol ringan. Membicarakan dosen, tugas kuliah yang menumpuk, dan rencana liburan semester. Ajeng mencoba fokus pada teman-temannya. Dia tertawa saat Rere menceritakan lelucon garing. Dia mendengarkan keluhan Mita soal revisi skripsi.
Tapi hatinya tidak tenang. Nama 'Yusuf' yang tadi disebut, terus terngiang di kepalanya.
Di mana dia sekarang? Apa kabarnya? Apa dia sudah punya pengganti? Tentu saja, pikir Ajeng. Siapa yang mau menunggu perempuan gila yang menuduhnya penguntit?
"Eh, Jeng," panggil Mita, menyadarkan Ajeng dari lamunannya. "Itu ... di belakang kamu."
"Apaan?" Ajeng menoleh.
"Jangan menoleh!" cegah Lia cepat, matanya membelalak panik.
"Kenapa sih, Li?" Ajeng bingung.
"Kayaknya ... kayaknya itu-" Nia tergagap.
"Itu Yusuf, Jeng," kata Rere blak-blakan.
Dunia Ajeng seakan berhenti berputar. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga terasa sakit.
"Di-a, dia di sini?" tanya Ajeng, suaranya bergetar.
"Dia lagi antri di kasir," bisik Mita. "Dia sendirian."
"Dia lihat kita?"
"Belum," kata Lia. "Astaga, Jeng. Gimana ini?"
Ajeng menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "A-ku ... aku harus ngomong sama dia."
"Sekarang?" pekik Nia. "Di sini? Yakin kamu siap?"
"Aku nggak tahu," kata Ajeng jujur. "Tapi kapan lagi, Ni? Aku utang penjelasan sama dia."
"Jeng, lihat aku," Lia memegang kedua bahu Ajeng, memaksanya berbalik menghadap Lia. "Dengar. Kalau kamu mau pergi, kita pergi sekarang. Lewat pintu belakang."
Ajeng menatap Lia. Lalu menatap ketiga teman lainnya. Mereka semua terlihat cemas.
"Nggak," kata Ajeng mantap. "Aku nggak mau lari lagi."
Ajeng menarik napas dalam-dalam. Dengan keberanian yang dia kumpulkan susah payah, dia perlahan memutar kursinya.
Dan di sanalah Yusuf.
Dia berdiri di depan kasir, hanya berjarak sekitar lima meter dari meja mereka. Dia terlihat sedikit lebih kurus. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali Ajeng ingat. Dia masih memakai kemeja flanel kotak-kotak yang selalu jadi favoritnya.
Jantung Ajeng serasa diremas.
Yusuf membayar pesanannya dan mengambil secangkir kopi. Dia berbalik, matanya menyapu kafe, mencari tempat duduk.
Lalu, mata mereka bertemu.
Selama sepersekian detik, tidak ada yang bergerak.
Ajeng melihat keterkejutan di mata Yusuf. Lalu kebingungan. Lalu ... sesuatu yang lain. Sesuatu yang mirip luka lama.
Yusuf membeku di tempat. Cangkir kopi di tangannya sedikit bergetar.
"Dia lihat kita," bisik Rere. Entah pada siapa.
Yusuf mulai berjalan. Bukan ke meja kosong di sudut. Tapi lurus ke arah mereka.
"Mati kita," desis Nia.
Setiap langkah Yusuf terasa seperti satu jam bagi Ajeng. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri di telinga. Apa yang harus dia katakan? 'Hai, Yusuf. Maaf, aku kena pelet enam bulan terakhir'?
Yusuf berhenti tepat di samping meja mereka.
Tidak ada yang bersuara. Suara musik akustik dan obrolan orang-orang di sekitar mereka seakan menghilang.
"Ajeng?"
Suara Yusuf terdengar berat. Serak.
Ajeng mendongak. Ini adalah pertama kalinya dia menatap mata Yusuf setelah dia "sadar".
"Yusuf," balas Ajeng. Suaranya nyaris tak terdengar.
"Ka-mu ... ngapain di sini?" tanya Yusuf. Pertanyaan bodoh, Ajeng tahu. Tapi Yusuf mungkin sama bingungnya.
"Aku-" Ajeng melirik teman-temannya. "Aku lagi ... ulang tahun."
Yusuf terdiam sejenak. Matanya menatap kue di atas meja. Lalu kembali ke Ajeng. "Oh. Selamat ulang tahun."
"Makasih," cicit Ajeng.
Keheningan yang canggung menyelimuti mereka. Lia, Nia, Mita, dan Rere menahan napas.
"Jadi-" Yusuf memulai lagi. "Kamu udah sehat?"
Pertanyaan itu menusuk Ajeng. Sehat. Yusuf pasti sudah tahu tentang masalah itu, karena saat ini masih hangat hangatnya.
Yusuf juga pasti sudah tahu, alasan kenapa Ajeng tiba-tiba membencinya, mengusirnya, dan berpacaran dengan Dodi, pria kaya yang jelas-jelas memperlakukannya seperti pembantu.
"Aku ... Ya. Aku udah lebih baik," kata Ajeng, memberikan senyum yang terlihat di paksakan.
"Syukurlah," kata Yusuf. Dia tidak tersenyum. "Aku sudah mendengarnya, dan aku turut bersedih, aku harap kamu kembali bersemangat."
"Iya," kata Ajeng cepat. "Udah."
"Baguslah."
Lagi. Hening.
Ajeng tidak tahan lagi. "Yusuf. Aku-"