Bab 14 - Masih untukmu

Penulis JanaIndria
05 November 2025

"Enam bulan, Jeng," potong Yusuf. Suaranya rendah, penuh rasa sakit yang coba ditahannya. "Enam bulan aku coba hubungi kamu. Kamu blokir nomorku. Aku datang ke kost, kamu lempar aku pakai vas bunga."

Ajeng tersentak. Dia melempar vas? Separah itu kah aku dulu?

"Yusuf, itu-"

"Aku datang ke kampusmu," lanjut Yusuf, tatapannya kosong, menerawang. "Kamu bilang ke satpam aku mau culik kamu. Kamu teriak. Di depan lobi."

Mata Ajeng memanas lagi. Gambaran-gambaran buram mulai muncul di kepalanya. Bukan ingatan jelas, lebih seperti mimpi buruk yang samar. Dia ingat rasa benci yang meluap-luap pada Yusuf, tapi dia tidak tahu kenapa.

"Aku minta maaf, Yusuf. Aku tidak merasa melakukannya. Tapi –"

“Aku tahu nggak ada kata maaf yang cukup," sambung Ajeng setelah tadi terdiam karena tak tahu harus mengucapkan apa lagi. Air matanya mulai menggenang.

Yusuf menarik napas panjang. Dia menatap Ajeng, dan kali ini, sedikit kelembutan muncul di matanya.

"Bukan salahmu," kata Yusuf pelan, kata-kata yang tidak diduga Ajeng. "Mungkin jika itu terjadi padaku, maka aku pun akan bernasib sepertimu, melupakan segalanya karena guna-guna."

Ajeng mendongak. "Kamu... kamu tahu?"

"Semua orang tahu, Jeng," kata Yusuf getir. "Cerita soal cincin itu... soal bagaimana kamu 'nurut' sama Dodi. Aku awalnya tidak percaya. Aku kira kamu... kamu hanya bosan padaku."

"Nggak!" sanggah Ajeng cepat. "Nggak, Suf. Aku nggak pernah bosan sama kamu. Aku..."

"Aku tahu," potong Yusuf. "Aku tahu sekarang." Dia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Pertanyaanku cuma satu."

Yusuf menatap lurus ke mata Ajeng.

"Tapi kamu sekarang sudah bebas kan?"

Pertanyaan itu menggantung di udara. "Bebas." Kata itu punya banyak makna. Bebas dari Dodi. Bebas dari cincin. Bebas dari sihir.

Ajeng mengangguk pelan, sembari menatap mata Yusuf yang saat itu juga tengah menatap wajahnya dengan tatapan dalam.

"Bebas, Suf. Cincinnya milik Dodi sudah aku kembalikan ... udah nggak ada. Lia dan yang lain-"

Yusuf mengangguk, paham kenapa Ajeng tak sanggup melanjutkan ucapannya, senyum, di wajahnya, menggambarkan bagaimana dia seakan lega mendengar konfirmasi itu.

"Suf, aku beneran minta maaf," ulang Ajeng. "Aku udah jahat banget sama kamu."

"Kamu bukan jahat, Jeng. Kamu sakit," kata Yusuf. "Yang jahat itu Dodi."

Lia berdeham pelan. "Mungkin... ini bukan tempat yang pas buat ngobrolin ini?"

Yusuf melirik sekilas ke sekeliling kafe. Memang benar. Obrolan mereka terlalu pribadi untuk tempat seramai ini.

Yusuf berdiri. "Kamu benar, Li."

Dia kembali menatap Ajeng. "Jeng, bisa kita bicara? Berdua."

Ajeng tertegun sejenak, lalu mengangguk cepat. "Bisa. Bisa."

"Kita ke luar," kata Yusuf.

Ajeng buru-buru mengambil tasnya. "A-ku ... aku pergi dulu ya," katanya pada teman-temannya.

"Hati-hati, Jeng," bisik Mita.

"Telepon kita kalau ada apa-apa," tambah Rere.

Lia hanya tersenyum dan mengangguk. "Selesain baik-baik, Jeng."

Ajeng mengikuti Yusuf keluar dari kafe. Udara malam yang sedikit dingin langsung menerpa wajahnya. Mereka berjalan tanpa bicara, berhenti di area taman kecil di samping kafe, di bawah lampu taman yang temaram. Jauh dari keramaian.

Suara jangkrik dan lalu lintas di kejauhan mengisi keheningan di antara mereka.

"Jadi..." Yusuf memulai, menyandarkan tubuhnya ke pagar kayu. "Gimana rasanya?"

"Apa?" tanya Ajeng bingung.

"Bebas."

Ajeng menunduk. "Aneh, Suf. Rasanya... kayak bangun dari mimpi panjang. Mimpi buruk. Enam bulan hidupku hilang. Aku nggak ingat tugasku. Aku nggak ingat sidang skripsi Mita. Aku... nggak ingat kamu."

"Aku ingat," kata Yusuf pelan.

"Apa?"

"Aku ingat semuanya," kata Yusuf. "Aku ingat hari pertama kamu pakai cincin itu. Kamu datang ke kosku. Bukan buat ketemu. Tapi buat balikin semua barangku."

Dada Ajeng terasa sesak. "A-ku ... aku lakuin itu?"

"Iya," Yusuf tersenyum pahit. "Kamu lempar hoodie-ku ke wajahku. Kamu bilang... 'Jangan pernah temui aku lagi, pengganggu'."

"Ya Tuhan, Yusuf..." Ajeng menutup mulutnya. Air mata yang tadi ditahannya akhirnya tumpah. "Maafin aku..."

"Ssh," Yusuf bergerak maju. Tangannya terulur, seolah ingin mengusap air mata Ajeng, tapi kemudian dia ragu dan menurunkannya lagi. "Aku udah bilang. Itu bukan kamu."

"Tapi rasanya tetap salahku!" isak Ajeng. "Selama enam bulan aku jadi babunya, Suf! Aku selesaikan semua tugas kuliahnya, nyetrika kemejanya, bersihin apartemennya. Aku kayak robot. Nggak punya pikiran sendiri. Dan bagian terburuknya adalah ... aku nggak ngerasa apa-apa. Nggak sedih, nggak marah. Kosong."

Yusuf mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. "Dia harusnya di penjara seumur hidup."

"Dia udah dapat balasan," kata Ajeng pelan. "Tapi yang aku pikirin ... kamu. Aku udah nyakitin kamu separah itu. Aku nggak mungkin bisa-"

"Bisa apa?" tanya Yusuf.

"Bisa minta kamu kembali," cicit Ajeng, dengan wajah yang kembali menunduk, entah kenapa rasa takut dan malu kini meraja di hatinya.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Yusuf menatap Ajeng yang menangis dalam diam. Dia melihat gadis yang sama yang dulu dia temui di perpustakaan. Gadis yang sama yang tertawa paling keras saat nonton film komedi. Gadis yang sama yang selalu panik sebelum ujian.

Dia masih di sana. Terluka, tapi masih di sana.

"Kenapa menunduk? Aku nggak pernah benci kamu, Jeng. Aku marah. Aku bingung. Aku hancur. Tapi aku nggak pernah benci kamu."

Yusuf mengambil satu langkah lagi. Sekarang mereka berdiri sangat dekat. Dia akhirnya memberanikan diri, mengangkat tangannya, dan dengan lembut mengusap air mata di pipi Ajeng dengan ibu jarinya.

Sentuhan itu ….

Hati Ajeng berdesir. Ini nyata. Kehangatan kulit Yusuf di pipinya. Ini adalah perasaan yang seratus kali lebih kuat daripada apa pun yang pernah dia rasakan.

"Selama enam bulan ini," bisik Yusuf, "aku tiap hari berharap. Berharap kamu bangun. Berharap kamu sadar. Berharap kamu ingat aku."

"Aku ingat kamu sekarang, Suf," bisik Ajeng. "Aku ingat semuanya."

"Bagus," kata Yusuf. Dia menarik napas dalam. Ini saatnya.

"Jeng," katanya.

"Ya?"

"Aku tahu ini gila. Aku tahu kamu baru aja 'bangun'. Kamu baru aja bebas."

"Ke mana arah omongan ini, Suf?"

Yusuf tersenyum kecil. "Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Jeng. Aku udah ngerasain gimana rasanya hidup tanpa kamu. Dan itu nggak enak."

Jantung Ajeng berdebar kencang.

"Dodi udah ngambil enam bulan dari kita," kata Yusuf tegas. "Aku nggak mau dia ngambil satu hari pun lagi."

Yusuf meraih kedua tangan Ajeng. Menggenggamnya erat.

"Ajeng," katanya, menatap lurus ke mata Ajeng yang masih basah. "Aku nggak mau kita 'mulai dari awal'. Aku nggak suka ide itu."

Ajeng bingung. "Lalu?"

"Aku mau kita melanjutkan. Tepat di tempat kita berhenti sebelum cincin sialan itu merusak segalanya."

"Melanjutkan?"

"Iya," kata Yusuf. "Aku masih pacar kamu. Aku nggak pernah merasa kita putus. Aku cuma merasa pacarku diculik."

Mata Ajeng membelalak. Dia tidak percaya ini.

"Dan sekarang," lanjut Yusuf, senyumnya kini lebih lebar, "pacarku udah kembali. Jadi..."

Dia berdeham, mendadak terlihat sedikit gugup.

"Ajeng ... Kamu... mau kan, jadi pacarku lagi? Secara resmi. Mulai detik ini. Nggak ada Dodi. Nggak ada sihir. Cuma kita."

Ajeng tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa mengangguk, air mata kembali mengalir, tapi kali ini air mata bahagia.

"Nggak bisa ngomong?" goda Yusuf.

"Aku mau!" pekik Ajeng, lalu dia tertawa bercampur isak. "Aku mau, Yusuf! Aku mau banget!"

Tanpa pikir panjang, Ajeng menghambur ke pelukan Yusuf. Memeluknya erat, seakan takut Yusuf akan hilang jika dia melepaskannya.

Yusuf membalas pelukan itu tak kalah erat. Dia menenggelamkan wajahnya di rambut Ajeng yang wangi stroberi. Aroma yang sangat dia rindukan.

"Selamat datang kembali, Sayang …," bisik Yusuf di telinga Ajeng.

"Aku pulang, Suf," isak Ajeng di dadanya. "Aku pulang."

Mereka berdiri di sana, di bawah lampu taman, berpelukan disertai kecupan Yusuf di kening Ajeng untuk waktu yang lama.

Di seberang taman, dari balik jendela kaca kafe, empat pasang mata mengawasi mereka.

"Mereka pelukan!" pekik Nia tertahan, mengguncang-guncang lengan Lia.

"Baguslah," kata Mita, tersenyum lega.

"Kayaknya... ini ulang tahun terbaik Ajeng," kata Rere.

Lia mengangguk. Dia mengangkat cangkir kopinya yang sudah dingin. "Untuk Ajeng. Dan untuk akhir yang bahagia."

"Akhir?" Nia mendengus. "Ini bukan akhir, Li. Ini baru permulaan."