"Kamu yakin tiketnya udah di aplikasi?"
Ajeng tertawa kecil, menutup ritsleting koper kecilnya. "Udah, Yusuf. Ini kamu udah nanya yang kelima kalinya pagi ini."
Yusuf yang sedang bersandar di pintu kamar kos Ajeng, tersenyum sedikit malu. "Ya, habis. Aku cuma mau mastiin semuanya lancar."
"Semuanya lancar, Suf." Ajeng berdiri dan menatapnya. "Makasih ya, udah mau anterin pagi-pagi buta."
"Jam tujuh pagi dibilang pagi buta," Yusuf terkekeh. Dia mengambil koper kecil itu dari tangan Ajeng. "Nggak seberapa dibanding kamu harus sendirian ke stasiun."
"Biasanya juga sendiri," kata Ajeng.
"Itu 'biasanya'," kata Yusuf. "Sekarang beda. Sekarang ada aku."
Hati Ajeng menghangat. Dua minggu telah berlalu sejak malam ulang tahunnya di kafe. Dua minggu sejak Yusuf "resmi" memintanya kembali. Semuanya terasa ... normal. Normal yang indah.
Mereka berjalan menuruni tangga kos. Lia dan Nia, yang kebetulan piket masak sarapan di dapur, melambai.
"Woi, Jeng! Jadi pulang?" seru Nia sambil mengacungkan spatula.
"Jadi, dong! Mau ketemu calon pengantin!" balas Ajeng.
"Hati-hati di jalan, Jeng!" kata Lia. "Salam buat Afrin dan Kaesa!"
"Siap! Nanti aku kirim foto-fotonya!"
"Yusuf!" panggil Nia.
"Ya?" Yusuf berhenti di pintu depan.
"Jagain temen kita bener-bener ya. Awas kalau lecet!"
Yusuf tertawa. "Siap, Komandan. Cuma nganter ke stasiun kok, nggak ke medan perang."
Perjalanan ke stasiun pagi itu lancar. Jakarta belum sepenuhnya bangun, atau mungkin sedang sibuk di jalur yang lain. Di dalam mobil Yusuf yang sejuk, hanya terdengar lagu-lagu pelan dari radio.
"Masih gugup?" tanya Yusuf, melirik Ajeng di sebelahnya.
"Sedikit," aku Ajeng.
"Karena keretanya?"
"Bukan." Ajeng memilin-milin ujung kausnya. "Karena pulang. Ketemu keluarga dan sahabat ..."
Yusuf mengangguk paham. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"A-ku ... aku nggak tahu harus jelasin apa nanti ke Bunda. Masa aku bilang, 'Maaf ya, Bun, kemarin aku kena pelet'?" kata Ajeng, suaranya terdengar getir.
Yusuf mengulurkan tangan kanannya dari kemudi, meraih tangan Ajeng, dan menggenggamnya.
"Hei," katanya lembut. "Dengar. Kamu nggak perlu jelasin apa-apa kalau kamu belum siap."
"Tapi Keluargaku pasti nanya."
"Bilang aja kamu lagi ada masalah kampus. Bilang kamu lagi stres skripsi. Apa aja. Tapi kalau kamu mau jujur, itu lebih baik," kata Yusuf. "Keluargamu, sahabat kamu itu bakal ngerti."
"Gimana kalau mereka nggak ngerti?"
"Nggak, aku yakin mereka ngerti. Mereka semua pasti kangen banget sama kamu."
Ajeng tersenyum. "Makasih ya, Suf."
"Buat?"
"Buat... ini. Buat jadi kamu lagi."
"Aku selalu jadi aku, Jeng. Cuma kamu aja yang kemarin lagi 'liburan'," canda Yusuf.
"Liburan di neraka," desis Ajeng, dengan mencibir, dan memasang wajah sedih.
"Sstt," Yusuf meremas tangan Ajeng lebih erat. "Nggak usah dibahas lagi. Sekarang kita fokus ke Stasiun Gambir. Fokus ke pernikahan Afrin. Fokus ke rawon buatan Bunda kamu."
"Kok kamu tahu Bunda mau masak rawon?" Ajeng kaget.
"Tadi malam kamu ngigo. 'Bunda... rawon... kangen...'. Aku jadi ikut lapar," kata Yusuf, berbohong hanya agar Ajeng kembali tertawa, lagi.
"Ih, nyebelin!" Ajeng tertawa dan memukul pelan lengan Yusuf. Tawa yang tulus. Tawa yang sudah lama tidak dia keluarkan saat bersama seorang pria.
Stasiun Gambir ramai seperti biasa. Pengumuman kedatangan dan keberangkatan kereta bersahutan.
"Kereta kamu Argo Dwipangga," kata Yusuf, membaca papan informasi besar. "Peron 1. Masih tiga puluh menit lagi."
"Oke."
"Mau minum dulu? Beli kopi?" tawar Yusuf, tangannya tak lepas menggenggam perempuannya.
"Nggak usah. Duduk aja," kata Ajeng, menggeleng, sembari memberikan senyum manisnya.
Mereka menemukan dua kursi kosong di ruang tunggu. Yusuf meletakkan koper Ajeng di dekat kakinya.
"Berapa lama kamu di sana?" tanya Yusuf, menyandarkan bahunya, tetap menggenggam namun dengan mata datar ke depan.
"Totalnya mungkin empat hari. Kan acaranya padat. Besok siraman, lusa akad, terus resepsi."
"Wah, sahabat sejati emang," puji Yusuf.
"Harus dong. Dia udah kayak saudara perempuanku sendiri."
"Jaga diri baik-baik ya di sana," kata Yusuf, seolah tak rela.
"Pasti, Suf. Cuma pulang kampung kok, bukan ke luar negeri."
"Iya, tahu." Yusuf terdiam sejenak. "Cuma... rasanya aneh aja."
"Apanya yang aneh?"
"Baru juga kamu 'kembali' dua minggu. Sekarang udah ditinggal pergi lagi."
Ajeng tersenyum lembut. Dia menggeser duduknya lebih dekat. "Cuma empat hari, Yusuf. Aku janji, selesai resepsi, aku langsung balik."
"Bawain oleh-oleh."
"Mau apa? Getuk?"
"Boleh," kata Yusuf serius. "Yang banyak."
"Dasar!"
Pengumuman untuk kereta Argo Dwipangga tujuan Solo Balapan terdengar. Para penumpang mulai berbaris menuju peron.
"Itu keretaku," kata Ajeng.
"Ayo," Yusuf berdiri dan mengambil koper Ajeng.
Mereka berjalan beriringan menuju gerbang peron. Suasananya sibuk, orang-orang berpamitan, ada yang berlari kecil.
Di depan gerbang pemeriksaan tiket, Ajeng berhenti.
"Sampai sini aja, Suf," kata Ajeng. "Makasih banyak ya."
"Sama-sama."
Keduanya berdiri canggung sejenak.
"Ya udah, aku masuk ya," kata Ajeng.
"Jeng, tunggu."
"Kenapa?"
Yusuf maju satu langkah. Tanpa mempedulikan keramaian, dia menarik Ajeng ke dalam pelukan singkat yang erat. Lalu mengecup kening Ajeng sekilas.
"Langsung kabari begitu sampai," bisik Yusuf di telinga Ajeng.
Jantung Ajeng berdebar. "Iya."
"Telepon aku kalau butuh apa-apa. Atau kalau kangen."
Ajeng tertawa kecil di dada Yusuf. "Pasti."
Yusuf melepaskan pelukannya, tapi tangannya masih memegang bahu Ajeng. "Selamat bersenang-senang di pernikahan sahabat kamu. Jangan mikirin yang di sini. Nikmati waktu kamu di rumah."
"Iya, Suf. Kamu juga hati-hati pulangnya."
"Pasti."
Ajeng tersenyum, lalu berbalik dan menunjukkan tiketnya kepada petugas. Dia melambaikan tangan sekali lagi pada Yusuf sebelum menghilang di balik pintu peron.
Yusuf tidak langsung pergi. Dia berdiri di sana, menatap pintu yang baru saja dilewati Ajeng, sampai pengumuman keberangkatan kereta itu terdengar.
Perjalanan kereta terasa menenangkan. Ajeng duduk di dekat jendela, membiarkan pemandangan kota yang berganti menjadi hamparan sawah hijau menyejukkan matanya. Dia mengirim pesan singkat ke Yusuf bahwa kereta sudah berangkat.
Balasannya datang seketika. [Yusuf]: Oke, sayang. Hati-hati. Jangan lupa makan.
Ajeng tersenyum membaca panggilan 'sayang' itu. Hatinya terasa penuh. Dia memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, dia tidur nyenyak di perjalanan.
Lima jam kemudian, kereta berhenti di stasiun kecil di kota kelahirannya. Udara terasa berbeda. Lebih panas, tapi lebih segar. Aroma tanah sehabis hujan ringan menyambutnya.
Sambil menyeret kopernya, Ajeng berjalan keluar dari stasiun. Matanya langsung mencari-cari.
"KAKAK!"
Sebuah teriakan melengking terdengar dari arah parkiran. Ajeng menoleh dan tertawa.
Adik laki-lakinya, Putra, yang baru masuk SMA, berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan heboh.
"Putra!"
Putra langsung mengambil alih koper Ajeng. "Gila, Kak. Lama banget nggak pulang. Makin kurus aja deh!"
"Enak aja! Ini namanya langsing!" balas Ajeng, menjitak pelan kepala adiknya. "Bunda mana?"
"Tuh, di mobil. Nggak sabar mau meluk Putri Salju-nya yang hilang," goda Putra.
"Sialan kamu."
Mereka berjalan ke mobil Kijang lama kebanggaan keluarga mereka. Sosok wanita yang paling dirindukannya sudah berdiri di samping pintu mobil, dengan senyum terentang lebar.
"BUNDA!" Ajeng berlari kecil.
"Ya Allah, Nak!"
Ajeng menghambur ke pelukan Bundanya. Pelukan itu adalah segalanya. Hangat, aman, dan beraroma campuran bawang dan minyak kayu putih. Aroma rumah.
"Kangen banget, Bun..." isak Ajeng pelan.
"Bunda lebih kangen!" kata Bunda, mengelus punggung putrinya. "Ya Tuhan, kamu beneran kurusan, Jeng! Tulang pipi kamu sampai kelihatan gini! Kamu di Jakarta makan apa, toh?"
Ajeng tertawa di pelukan Bundanya. "Makan, Bun. Makan ati."
"Hush, ngomongnya!" Bunda melepaskan pelukannya, tapi tangannya menangkup pipi Ajeng. "Matamu kelihatan capek. Tapi udah segeran. Alhamdulillah."
"Ayah mana, Bun?"
"Itu, di dalam," kata Bunda sambil menunjuk ke dalam mobil.
Ajeng melihat ke dalam. Ayah tersenyum lebar dari kursi kemudi. "Selamat datang kembali, srikandi Ayah."
"Ayah!" Ajeng masuk ke mobil dan mencium tangan Ayahnya.
"Gimana, tadi perjalanannya lancar?" tanya Ayah.
"Kayak biasa, alhamdulillah," jawab Ajeng.
"Ayo, buruan jalan!" seru Putra dari kursi belakang. "Lapar! Katanya Bunda masak enak!"
"Dasar kamu, Dik! Mikirnya makan terus!" omel Bunda, tapi dia juga ikut masuk ke mobil.
Perjalanan pulang ke rumah diiringi obrolan seru.
"Itu si Afrin," Bunda memulai ceritanya, "udah kayak setrikaan bolak-balik nanyain kamu. Kemarin dia ke rumah, mastiin kamu jadi datang."
"Pasti datang dong, Bun. Sahabat dari orok gitu." Sang ayah ikut menggoda dari belakang kemudi, membuat suasana dalam mobil menghangat karena tawa.
"Dia bilang, kamu susah banget dihubungin beberapa bulan ini. Bunda bilang aja kamu sibuk skripsi," kata Bunda.
Ajeng menelan ludah. "Iya, Bun. Sibuk banget."
"Ya, tapi sekarang udah di rumah," kata Ayah. "Lupa dulu sama skripsi. Bantu temen kamu nikah."
"Siap, Yah!"
"Nanti mampir ke rumah Afrin dulu?" tanya Bunda.
"Nggak, Bun," kata Ajeng cepat. "Pulang dulu. Aku mau makan!"
"Nah, gitu dong!" seru Putra, bahagia. serasa mendapatkan pendukung.
"Tenang," kata Bunda sambil menepuk paha Ajeng. "Bunda udah masak rawon daging kesukaan kamu. Sambel terasinya juga baru bikin. Sama tempe mendoan anget."
Ajeng memejamkan mata. "Ya Allah, Bun... Itu baru namanya sambutan."
Mobil berbelok ke gang kecil menuju rumah mereka. Rumah yang tidak besar, tapi penuh tawa. Ajeng melihat ke luar jendela, ke pohon mangga di depan rumahnya.
Dia pulang. Benar-benar pulang. Dan rasanya... luar biasa.