"Gimana, Kak? Nggak kayak kaleng kerupuk, 'kan?"
Ajeng tertawa kecil, melirik adiknya, Putra, yang duduk di kursi penumpang depan. Putra menepuk-nepuk dashboard mobil dengan bangga, seolah itu miliknya.
"Baru juga Ayah beli sebulan, sombongnya udah selangit kamu, Put," balas Ajeng.
"Bukan sombong, Kak. Ini namanya menikmati karya teknologi," elak Putra, yang badannya kini lebih tinggi dari Ajeng sejak terakhir mereka bertemu. "Senyap banget, 'kan? Coba kalau masih pakai si Kijang tua, kita ngobrol aja mesti teriak-teriak."
Bunda, yang duduk di samping Ajeng di kursi belakang, tersenyum lembut. "Hush, kamu ini. Si Kijang itu banyak jasanya, lho. Justru karena si Kijang setia, Ayahmu bisa nabung buat ganti yang lebih nyaman."
"Betul itu," Ayah menimpali dari balik kemudi. Mobil sedan hitam metalik itu melaju mulus nyaris tanpa suara. "Yang penting itu fungsinya, bukan pamernya. Ayah beli ini biar kalau kita nengok kamu ke Jakarta, atau jenguk Eyang di kampung, punggung Ayah nggak copot."
Ajeng mengamati interior mobil. Semuanya terbungkus kulit berwarna krem yang lembut. Wangi mobil baru bercampur dengan aroma parfum melati kesayangan Bunda. Rasanya aman dan nyaman. Sangat berbeda dengan mobil Dodi dulu, yang mewah tapi mencolok dan selalu membuat Ajeng merasa terintimidasi.
"Lagian," lanjut Ayah, "rezeki itu harus dinikmati. Buat keluarga."
Mobil mewah itu berbelok dari jalan raya, memasuki jalan yang lebih sempit namun beraspal mulus, jalan menuju kompleks perumahan mereka.
"Siap-siap, Tuan Putri," goda Putra. "Gerbang istana sudah terlihat."
"Dasar!"
Mobil berhenti di depan pagar kayu jati yang tinggi. Ayah hanya menekan tombol di remote, dan gerbang itu terbuka otomatis dengan mulus.
Saat mobil memasuki halaman, Ajeng menghela napas lega. Rumahnya.
Rumah mereka memang besar, jauh lebih besar dari rata-rata rumah di kota kecil itu. Halamannya sangat luas, ditanami rumput jepang yang rapi dan puluhan pot anggrek koleksi Bunda. Garasinya bisa menampung dua mobil dengan leluasa.
Tapi rumah itu tidak terasa angkuh. Catnya berwarna putih gading yang hangat. Desainnya modern minimalis, tidak ada pilar-pilar raksasa atau patung-patung norak. Seperti kata Ayah, rumah ini dibangun untuk ditinggali, bukan untuk dipamerkan. Mewah dalam kesederhanaannya.
"Ayo, turun! Turun!" seru Bunda tidak sabar. "Sudah jam tiga sore ini. Harusnya kita makan siang dari tadi. Kamu pasti lapar banget, 'kan, Jeng?"
"Lapar, Bun. Banget," aku Ajeng.
Putra membukakan pintu untuk Bunda dan Ajeng. "Silakan, para bidadari."
"Sok manis kamu. Pasti ada maunya," cibir Ajeng, tapi dia tetap mengacak rambut adiknya.
Mereka berempat masuk ke dalam rumah. Udara sejuk langsung menyambut, kontras dengan cuaca di luar yang lumayan panas.
"Ah... rumah," desah Ajeng sambil melepas sepatunya.
"Kamarmu udah Bunda bersihin. Spreinya baru," kata Bunda sambil meletakkan tasnya.
"Nanti aja, Bun, ke kamarnya," kata Ajeng cepat. "Aku mau ke tempat yang lebih penting."
"Ke mana?"
"Meja makan!"
Putra tertawa. "Nah, ini baru Kakakku!"
Ruang makan adalah jantung rumah mereka. Meja kayu jati solid yang panjang itu sudah penuh dengan hidangan.
Mata Ajeng langsung berbinar.
"Ya Allah, Bunda... Ini-!"
"Rawon!" seru Ajeng dan Putra hampir bersamaan.
Di tengah meja, semangkuk besar rawon mengepulkan asap tipis. Kuahnya hitam pekat, dan potongan dagingnya terlihat sangat empuk. Di piring-piring kecil di sekelilingnya, ada tauge pendek yang segar, telur asin, sambal terasi merah menyala, dan—kesukaan Ajeng—tempe mendoan yang baru diangkat, masih dilapisi tepung yang setengah basah.
"Ayo, ayo, cuci tangan dulu!" perintah Bunda. "Ini kita makannya telat banget. Gara-gara nungguin kereta kamu yang molor."
"Cuma lima belas menit, Bun," kata Ajeng sambil terkekeh.
Keluarga itu segera mengambil tempat duduk mereka. Ayah di ujung meja, Bunda di seberangnya, dan Ajeng berhadapan dengan Putra.
"Doa dulu," kata Ayah.
Setelah doa singkat, keriuhan dimulai. Suara sendok dan piring beradu.
"Gila, Bun. Dagingnya empuk banget!" puji Putra dengan mulut penuh.
"Pelan-pelan makannya, Put," tegur Bunda. "Jeng, gimana?"
Ajeng baru saja menyuap sendok pertama. Campuran kuah gurih yang kaya rempah, nasi hangat, dan pedasnya sambal. Rasanya seperti surga.
"Nggak ada duanya, Bun," kata Ajeng tulus. "Rawon di Jakarta nggak ada yang kayak gini."
"Tentu saja," kata Bunda bangga. "Di sana itu rawon instan semua. Ini bumbunya Bunda ulek sendiri dari subuh."
Bunda mengambil centong, menambahkan lagi potongan daging ke piring Ajeng.
"Makan yang banyak, Jeng. Lihat badan kamu ini." Bunda menatap putrinya dengan tatapan menyelidik. "Kurus banget. Pipi kamu sampai tirus begini. Mata kamu juga kayak orang kurang tidur."
Ajeng sedikit kaku. Dia berhenti mengunyah.
"Masa sih, Bun? Perasaan Ajeng biasa aja," kilah Ajeng.
"Biasa gimana?" omel Bunda. "Bunda yang ngelahirin kamu. Bunda tahu. Enam bulan lalu kamu pulang pas liburan semester, pipimu masih tembam. Sekarang ... kayak orang disiksa."
Jleb.
Ucapan Bunda terlalu tepat sasaran. Ajeng memang disiksa, walau bukan secara fisik. Dia disiksa secara mental, dijadikan babu oleh Dodi di bawah pengaruh pelet cincin itu.
"Uhuk..." Ajeng buru-buru meraih gelas air putih.
"Tuh, 'kan! Dibilangin," kata Bunda.
"Bunda," Ayah menengahi dengan tenang. "Namanya juga mahasiswa tingkat akhir. Stres skripsi itu wajar. Ayah dulu juga gitu."
"Stres skripsi ya stres skripsi, Yah. Tapi ini beda," desak Bunda. "Dan kamu, Jeng. Kenapa beberapa bulan kemarin susah banget dihubungin? Bunda telepon nggak diangkat. Ayah WA cuma dibaca. Kamu tahu nggak, Bunda sama Ayah khawatir setengah mati!"
Ajeng meletakkan sendoknya. Nasi di mulutnya tiba-tiba terasa hambar.
"Maaf, Bun, Yah," kata Ajeng pelan. "Kemarin ... kemarin Ajeng lagi ada masalah besar."
"Masalah apa?" tanya Bunda, nadanya langsung berubah cemas. "Masalah uang? Kamu nggak bilang kalau uang bulanan kurang? Atau kamu..."
"Bukan, Bun. Bukan uang."
"Terus apa?" Putra ikut menimpali. "Kakak berantem sama teman kos?"
"Bukan-" Ajeng bingung harus memulai dari mana. Tidak mungkin dia menceritakan soal pelet di meja makan ini.
"Kamu ... putus sama Yusuf?" tanya Bunda tiba-tiba.
Ajeng mendongak, kaget.
"Bunda tahu dari mana?"
"Lho, Bunda ini ibumu. Waktu itu kamu cerita kelihatan serius sekali sama dia. Anak baik, sopan. Terus pas Bunda tanya kapan mau diajak ke rumah, kamu bilang nanti. Habis itu kamu nggak pernah nyebut-nyebut dia lagi," kata Bunda. "Jadi, beneran putus?"
Ajeng menatap Ayah, lalu Bunda. Dia menarik napas. "Sempat, Bun. Sempat ... pisah. Ribet ceritanya. Tapi sekarang udah baikan lagi."
"Lho, labil banget," celetuk Putra.
"Putra," tegur Ayah.
"Jadi, kamu kurus kering begini gara-gara galau putus cinta?" tanya Bunda.
"Bukan, Bun! Ceritanya panjang. Nanti Ajeng janji, Ajeng cerita semuanya. Tapi nggak sekarang, ya? Ajeng lagi lapar banget. Mau nikmatin rawon Bunda dulu."
Bunda menatap Ajeng lekat-lekat. "Awas kamu kalau bohong. Bunda tahu kalau kamu lagi nutupin sesuatu."
"Iya, Bunda-"
Ajeng baru saja akan menyuap lagi, berusaha mengembalikan suasana hangat yang tadi sempat hilang.
Kring... Kring... Kring...
Ponsel Bunda yang tergeletak di meja berdering nyaring, memecah keheningan.
"Siapa lagi, sih, telepon pas jam makan," gerutu Bunda. Dia melirik layar ponselnya. "Nomor nggak dikenal, Yah. Kode areanya kayak ... nomor kampung."
"Angkat aja, Bun. Siapa tahu penting," kata Ayah.
Bunda menyeka tangannya yang sedikit berminyak ke serbet dan menggeser tombol hijau.
"Halo, Assalamualaikum ... Dengan siapa, ya?"
Ajeng, Ayah, dan Putra melanjutkan makan mereka dalam diam, tapi telinga mereka terpasang awas, mendengarkan obrolan Bunda.
Bunda terdiam lama, mendengarkan. Alisnya berkerut.
"Oh ... Bu Lastri? Bu Lastri tetangganya Eyang?"
Hening lagi.
Tiba-tiba, wajah Bunda berubah. Sangat cepat. Dari bingung, menjadi pucat pasi. Sendok yang masih dipegangnya di tangan kiri, jatuh berdentang ke atas piring keramik.
TANG!
Suara itu membuat semua orang di meja terlonjak kaget.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." Suara Bunda terdengar bergetar hebat.
Ayah langsung meletakkan sendoknya. "Bun? Ada apa?"
Putra membeku. Ajeng merasakan firasat buruk menjalari punggungnya.
"Ya Allah... Kapan kejadiannya, Bu?" tanya Bunda, suaranya meninggi, setengah panik.
"... Di kamar mandi?!"
Bunda terhuyung, dia hampir jatuh dari kursinya kalau tidak cepat berpegangan pada meja.
"Terus... terus sekarang gimana keadaannya?! Eyang sadar?!"
"... Astagfirullahaladzim... Di rumah sakit mana, Bu? Rumah sakit mana?!"
Ayah segera bangkit dari kursinya, menghampiri Bunda dan memegang kedua bahunya.
"Bun, tenang! Tenang! Ada apa?!" tanya Ayah dengan suara keras, mencoba menyadarkan Bunda dari kepanikannya.