Bab 17 - Eyang

Penulis JanaIndria
05 November 2025

Bunda tidak menjawab Ayah. Dia masih mendengarkan, tubuhnya menegang.

"Iya... iya... Makasih banyak kabarnya, Bu Lastri. Makasih... Saya... saya ke sana sekarang juga! Sekarang! Tolong titip Eyang dulu, ya, Bu... Iya... Waalaikumsalam..."

Bunda menutup telepon. Tapi ponsel itu tidak diletakkan. Ponsel itu terlepas dari genggamannya yang gemetar dan jatuh ke lantai dengan bunyi 'bluk' yang pelan di atas karpet.

Air mata Bunda langsung tumpah. Bukan menangis pelan, tapi langsung terisak hebat.

"Ayah... Eyang, Yah... Eyang..."

"Eyang?!" pekik Ajeng dan Putra bersamaan, keduanya langsung berdiri dari kursi makan.

"Eyang kenapa, Bun?! Jawab Ayah!" Ayah sedikit mengguncang bahu Bunda yang terkulai.

"Eyang jatuh!" isak Bunda. "Di kamar mandi!"

"Ya Allah!" seru Ayah, wajahnya langsung pucat.

"Tadi Bu Lastri yang telepon," lanjut Bunda di sela tangisnya yang memilukan. "Bu Lastri curiga... dari pagi Eyang nggak keluar rumah. Pintunya dikunci dari dalam. Digedor-gedor nggak ada jawaban."

"Lalu?" desak Ajeng, jantungnya serasa diremas.

"Akhirnya... didobrak sama Pak RT. Eyang... Eyang udah tergeletak di lantai kamar mandi, Jeng! Nggak sadar!"

"Astagfirullah!" Putra terduduk kembali di kursinya, lemas. Rawon di piringnya seakan mengejeknya.

"Sekarang di mana?" tanya Ayah, nadanya berubah tegas. Mode paniknya hilang, digantikan mode siaga seorang kepala keluarga.

"Di Rumah Sakit Hidayah! Kata Bu Lastri... Eyang belum sadar dari tadi. Kepalanya kebentur lantai, Yah... Ya Allah, Ibuku..."

Bunda hampir luruh ke lantai, tapi Ayah menahannya.

Semua kebahagiaan dan kehangatan lima menit yang lalu lenyap seketika.

"Oke. Tenang," kata Ayah, suaranya kini mantap dan dalam. "Kita nggak bisa diam di sini."

Ayah menatap Bunda. "Bunda, ambil dompet. Nggak usah ganti baju. Ambil kerudung aja!"

"Iya, Yah," Bunda berlari tertatih ke kamar, menyeka air matanya dengan punggung tangan.

"Putra!" panggil Ayah.

"Iya, Yah!" Putra langsung siaga, mengelap mulutnya yang masih berminyak.

"Ambil kunci mobil lagi! Nyalakan mesinnya! Kita semua berangkat ke Rumah Sakit Hidayah! Sekarang!"

"Tapi... makanannya, Yah?" tanya Putra ragu, matanya melirik ke meja yang masih penuh dengan hidangan lezat.

"TINGGALKAN!" bentak Ayah. Ini pertama kalinya Ajeng mendengar Ayah membentak sekeras itu. "Eyang lebih penting dari rawon!"

"Siap, Yah!" Putra berlari menyambar kunci di meja TV dan melesat keluar rumah. Suara mesin mobil mewah itu terdengar menyala, garang.

"Ajeng!" panggil Ayah.

"Iya, Yah?" Ajeng berdiri, tangannya juga ikut gemetar.

"Ambil tas Bunda di sofa! Kita berangkat!"

"Aku ikut, 'kan, Yah?"

"Tentu saja kamu ikut!" kata Ayah. "Eyangmu butuh kita semua."

Bunda keluar dari kamar, sudah memakai kerudung instan, wajahnya basah oleh air mata dan terlihat sangat kacau.

"Ayo, Yah, cepat!"

Mereka bertiga bergegas keluar rumah. Ajeng menoleh sekilas ke meja makan.

Nasi di piringnya masih setengah. Kuah rawonnya mulai menggenang, tidak lagi mengepulkan asap. Tempe mendoan yang tadi jadi rebutan, kini teronggok di piring, mulai dingin.

Makan siang yang terlambat itu, kini harus ditinggalkan begitu saja.

Mereka bertiga melompat masuk ke dalam mobil mewah yang baru sepuluh menit lalu membawa mereka pulang dengan tawa.

"Pindah ke depan, Put! Biar Bunda sama Ajeng di belakang!" perintah Ayah sambil mengambil alih kemudi.

"Iya, Yah!"

Ayah menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil hitam itu melesat keluar dari gerbang yang belum sempat tertutup sempurna, memutar di jalan sempit, dan kembali menuju jalan raya.

Rumah mewah yang sunyi dan hidangan lezat itu ditinggalkan begitu saja, menjadi saksi bisu kebahagiaan yang direnggut paksa.


Perjalanan satu setengah jam itu terasa seperti neraka.

Ayah menyetir dengan kecepatan yang mungkin sedikit di atas batas wajar. Tapi tidak ada yang peduli. Mobil yang biasanya senyap dan menenangkan itu, kini terasa pengap.

Hanya ada satu suara di dalam mobil: isak tangis Bunda.

"Ya Allah, Ibuku... sendirian, Yah... di kamar mandi... pasti dingin..." racau Bunda di pelukan Ajeng.

Ajeng memeluk Bundanya erat. Dia sendiri bingung harus berkata apa. Lidahnya kelu.

"Sabar, Bun, sabar," hanya itu yang bisa Ajeng ucapkan, berulang-ulang. "Kita berdoa. Eyang kuat. Eyang pasti kuat."

"Kenapa harus Eyang?" isak Bunda. "Kenapa harus Ibuku? Dia sendirian di rumah tua itu... Aku udah bilang suruh tinggal sama kita, dia nggak pernah mau..."

Ayah yang fokus menyetir, ikut bersuara. "Sudah, Bun. Jangan menyalahkan diri sendiri. Yang penting sekarang kita cepat sampai."

"Cepat, Yah! Lebih cepat lagi!" pinta Bunda.

"Ini sudah paling cepat, Bun. Sabar," balas Ayah tegang.

Ajeng menatap ke luar jendela. Pemandangan kota kecilnya berlalu begitu cepat, berganti menjadi jalan antar kota yang dipenuhi truk. Dia baru saja tiba, dengan hati yang mulai tertata setelah mimpi buruk enam bulan bersama Dodi. Sekarang, mimpi buruk baru seakan dimulai.

Dia meremas kedua tangannya. Jempol kanannya tanpa sadar mengusap sebuah cincin di jari manis kirinya.


"Ajeng!" Suara Bunda membuyarkan lamunannya.

"Iya, Bun?"

"Telepon Bu Lastri! Tanya di UGD atau di mana!"

"Oh, iya, Bun!" Ajeng buru-buru mengambil ponselnya.


Satu setengah jam kemudian, mobil mewah itu berhenti mendadak di depan lobi Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Hidayah. Rumah sakit ini tidak besar, tapi terlihat bersih.

"Putra! Kamu urus parkir!" perintah Ayah.

"Siap, Yah!"

Ayah, Bunda, dan Ajeng melompat keluar dari mobil bahkan sebelum mobil itu berhenti sempurna. Mereka berlari masuk ke lobi.

Bau karbol dan obat-obatan langsung menusuk hidung.

"Sus! Permisi, Sus! Pasien atas nama Surtikanti! Pasien jatuh di kamar mandi!" seru Bunda panik ke meja perawat.

"Sebentar, Bu-" Perawat itu mengecek komputer.

"Mbak! Mbak Arum!"

Sebuah suara memanggil Bunda. Seorang wanita paruh baya berkerudung sederhana berlari kecil menghampiri mereka. Itu Bu Lastri.

"Lastri! Ya Allah! Gimana Ibuku?" Bunda langsung memegang kedua lengan Bu Lastri.

"Sabar, Mbak... Tadi... tadi dokter bilang harus segera masuk ICU," kata Bu Lastri, wajahnya prihatin.

"ICU?!" Kaki Bunda lemas. Ayah langsung memapahnya.

"Di mana dokternya? Saya mau bicara!" kata Ayah tegas.

"Masih di dalam, Pak. Tadi sedang ditangani. Katanya ... kritis."

Hati Ajeng mencelos. Kritis.

"Kritis gimana, Bu?" tanya Ajeng pelan.

Bu Lastri menatap Ajeng. "Kata dokter, ada pendarahan di otak, Nduk. Karena kepalanya kebentur keras."

Bunda menangis sejadi-jadinya.

"Sabar, Bun, sabar!" Ayah mencoba menenangkan istrinya, walau suaranya sendiri bergetar. "Kita harus kuat. Ajeng, temani Bunda duduk dulu. Ayah mau urus administrasi."

Ajeng memapah Bundanya ke kursi tunggu besi yang dingin. Putra datang berlari.

"Gimana, Kak?"

"Eyang di ICU, Put. Kritis."

Putra terdiam. Wajahnya yang tadi tegang kini berubah pias.

Selama hampir satu jam mereka menunggu dalam ketidakpastian. Ayah bolak-balik antara ruang administrasi dan ruang tunggu ICU. Akhirnya, seorang dokter muda keluar.

"Keluarga Ibu Surtikanti?"

"Saya suaminya, Dok!" Ayah langsung berdiri. "Ah, bukan, saya menantunya. Ini putrinya."

Dokter itu mengangguk. Wajahnya serius. "Begini, Pak, Bu. Kondisi Ibu Surtikanti sangat serius. Beliau mengalami pendarahan hebat di otak akibat benturan. Kami sudah berusaha menghentikannya, tapi-"

"Tapi apa, Dok?!" desak Bunda.

"Kondisinya belum stabil. Beliau koma. Kami harus memantau beliau secara intensif. Jujur saja, kemungkinannya sangat kecil. Kita hanya bisa berharap pada keajaiban."

Dunia Ajeng serasa runtuh, apalagi saat melihat bunda yang terlihat lemas dalam pelukan Ayah.

"Kita hanya bisa berdoa," lanjut dokter itu. "Beliau sudah bisa dijenguk, tapi mohon satu per satu, dan jangan lama-lama. Kondisi beliau sangat rapuh."

Bunda yang pertama masuk. Lima menit kemudian, dia keluar dengan tangisan yang lebih pilu, dipapah oleh Ayah.

"Sekarang giliran kamu, Jeng," kata Ayah pelan. "Lihat Eyangmu."

Ajeng mengangguk kaku. Kakinya terasa seperti jeli.

Dia mendorong pintu berat ruang ICU. Suara bip... bip... bip... yang monoton langsung menyambutnya. Ruangan itu dingin sekali.

Dan di sana, di ranjang paling sudut, terbaring sosok yang sangat dia kenal.

Tapi sekarang, Ajeng nyaris tidak mengenalinya.

Eyangnya, yang dulu selalu cerewet, selalu memarahinya karena pakai celana sobek, selalu membawakannya oleh-oleh tape ketan, kini terbaring diam.

Wajahnya pucat. Sebuah selang besar masuk ke mulutnya, dihubungkan ke mesin ventilator yang berdesis. Sekujur badannya penuh dengan kabel. Kabel monitor jantung di dadanya, kabel sensor di kepalanya yang sebagian dicukur, dan selang infus di kedua tangannya.

Eyangnya terlihat sangat kecil dan rapuh di balik semua peralatan medis itu.

Air mata Ajeng mengalir deras tanpa suara.

"Eyang ..." bisiknya.