Dia melangkah mendekat. Perlahan. Takut suaranya akan mengganggu Eyang.
"Yang... ini Ajeng..."
Dia berdiri di samping ranjang. Dia menatap tangan Eyangnya yang terikat pelan ke sisi ranjang agar tidak menarik selang. Tangan yang keriput itu penuh bercak lebam keunguan.
Dengan tangan gemetar, Ajeng mengulurkan tangannya. Dia ingin menyentuh Eyang.
"Eyang ... bangun, Yang-" isak Ajeng. "Ajeng pulang. Ajeng kangen. Maafin Ajeng, Yang ... Maafin Ajeng-"
Ajeng menggenggam tangan Eyangnya erat. Dia menunduk, membiarkan air matanya yang panas menetes ke punggung tangan Eyang yang dingin.
Saat itulah, cincin di jari manis kirinya entah kenapa tiba tiba terasa sedikit hangat hingga menusuk kulitnya.
Ajeng mengabaikannya. Dia pikir itu hanya perasaannya saja, mungkin karena tangannya gemetar.
"Yang ... Ajeng mohon... jangan pergi..."
Dia merasakan sesuatu.
Sangat-sangat pelan.
Bukan di tangannya, tapi di tangan Eyang yang digenggamnya.
Ajeng mengangkat kepalanya. Dia menatap tangan Eyangnya. Tidak ada apa-apa. Masih kaku dan pucat.
"Pasti cuma perasaanku," gumam Ajeng. Sembari menarik napas panjang yang gemetar, mencoba menenangkan isaknya.
Dia baru saja akan melepaskan genggamannya, berpikir mungkin dia terlalu berharap.
Kedut.
Sangat jelas.
Jari telunjuk Eyangnya, yang tadi kaku dan dingin di dalam genggamannya, bergerak sepersekian detik.
Ajeng menahan napas. Matanya membelalak, terpaku pada tangan itu. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
"Bun... Bunda!" panggilnya, suaranya tercekat, lebih mirip bisikan panik.
Dia tidak berani berteriak. Dia menoleh ke pintu kaca ICU. Bunda, Ayah, dan Putra sedang menatapnya dari luar, wajah mereka penuh duka.
Ajeng memberi isyarat panik agar mereka masuk. Menggerakkan tangannya, menunjuk-nunjuk ke arah ranjang.
"Kenapa, Jeng?" Ayah mendorong pintu masuk dengan wajah tegang. "Kamu nggak apa-apa? Kamu pusing?"
"Yang... Eyang, Yah!" kata Ajeng, suaranya bergetar hebat.
"Eyang kenapa?!" Bunda berlari ke sisi ranjang yang lain, matanya langsung tertuju ke monitor. "Monitornya... Astagfirullah, kenapa, Jeng?!"
"Lihat!" tunjuk Ajeng. "Tangan Eyang! Jarinya!"
Hening.
Hanya ada suara bip... bip... bip... mesin monitor jantung. Dan desisan pelan dari ventilator.
Tidak ada yang bergerak.
"Nggak ada apa-apa, Jeng," kata Ayah pelan, suaranya sarat kekecewaan. "Kamu mungkin... kamu mungkin kecapekan. Terlalu berharap."
"Nggak, Yah! Tadi beneran gerak! Aku ngerasain!" protes Ajeng.
KEDUT.
Kali ini lebih jelas. Jari telunjuk Eyang Surtikanti bergerak lagi. Seperti tersentak kecil.
Ayah, yang baru saja menunduk, langsung mengangkat kepalanya. Matanya membelalak.
"Tadi... tadi gerak," bisik Ayah, tidak percaya.
"Benar kan , Yah?" tanya Ajeng dengan senyum bahagia.
"Gerak!" pekik Ajeng tiba-tiba. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Ya Allah... AYAH! LIHAT ITU! JARINYA GERAK!"
"lagi?!" Ayah mendekat, matanya membelalak tidak percaya.
"Yang?! Ini Ajeng, Yang! Sama Ayah!" panggil Ajeng lagi, lebih keras, suaranya pecah. "Eyang dengar Ajeng, 'kan?!"
"Dokter! Suster! PANGGIL DOKTER!" teriak Ayah panik bercampur bahagia. Dia berbalik dan berlari ke pintu ICU, menggedor-gedor pos perawat. "SUSTER! DOKTER! PASIEN KAMI SADAR!"
Bunda menangis histeris, tapi kali ini tangis bahagia. "Ibuku... Ibuku kembali... Ya Allah... Alhamdulillah..."
Seorang perawat berlari masuk, wajahnya panik. "Ada apa, Pak? Kenapa teriak-teriak? Pasiennya..."
"Lihat, Sus! Ibuku!" seru Bunda.
Dokter Hidayat, dokter muda yang tadi memberi kabar buruk, masuk dengan langkah cepat di belakang perawat.
"Pak, Bu, tolong tenang!" kata dokter itu tegas. "Keluarga harap tunggu di luar! Biar kami-"
"Tapi, Dok! Jarinya gerak!" potong Ayah.
"Pak, itu bisa saja hanya refleks kejang pasca-trauma," jelas dokter itu sabar, sambil berjalan cepat ke sisi ranjang. "Biar saya periksa-"
Dokter Hidayat menyalakan senter penanya dan membuk kelopak mata Eyang yang terkulai. "Pupil masih-"
"Bukan refleks, Dok!" desak Ajeng. "Tadi Eyang..."
Ajeng tidak tahu apa yang mendorongnya. Dia kembali menggenggam tangan Eyang lebih erat. Cincin hijau lumut itu kembali terasa hangat.
"Yang," panggil Ajeng, mengabaikan sang dokter. "Kalau Eyang dengar Ajeng, genggam tangan Ajeng, Yang... Genggam-"
Dokter Hidayat baru saja akan menegur Ajeng.
Tiba-tiba, dia berhenti. Matanya terpaku pada tangan Eyang yang digenggam Ajeng.
Perlahan... sangat perlahan... jari-jari Eyang yang tadi kaku, mulai melengkung. Menutup. Mencengkeram lemah tangan Ajeng.
Bukan kedutan. Bukan refleks.
Itu sebuah genggaman.
"Astagfirullah ...." Dokter Hidayat bergumam pelan.
"Ayah! Bunda! Lihat!" pekik Ajeng.
Semua orang di ruangan itu membeku.
"Dok ...?" panggil perawat di sebelahnya, suaranya bingung.
Dokter Hidayat tidak menjawab. Dia menatap monitor di atas kepala Eyang.
"Suster Rina, lihat vitalnya," kata dokter itu, suaranya nyaris berbisik.
"Tekanan darah 110/70, Dok. Stabil," lapor Suster Rina, matanya tidak lepas dari layar. "Saturasi oksigen 97%. Detak jantung 80. Stabil."
"Stabil?" Dokter Hidayat menggelengkan kepalanya. "Lima belas menit yang lalu tekanan darahnya 70/40. Saturasi oksinya 85% dengan ventilator penuh. Ini ... ini nggak mungkin."
"Eyang ," bisik Ajeng lagi.
Kelopak mata Eyang Surtikanti bergetar hebat. Seperti orang yang berusaha keras untuk bangun dari mimpi yang sangat dalam. Sebuah erangan pelan terdengar dari balik selang ventilator.
"Ya Allah, Ibuku-" Bunda bersimpuh di lantai, bersujud syukur.
Dokter Hidayat menatap keluarga itu, lalu menatap pasiennya, lalu kembali ke monitor. Wajahnya yang tadi serius dan muram, kini berubah total. Dia terlihat bahagia, sekaligus sangat kaget. Bingung.
"Pak... Bu..." Dokter Hidayat melepaskan stetoskopnya. "Saya... saya dokter sudah lima tahun. Saya tidak pernah melihat yang seperti ini."
"Maksudnya gimana, Dok?" tanya Ayah, maju selangkah, masih tidak berani berharap terlalu banyak.
Dokter Hidayat tertawa kecil. Tawa yang terdengar gugup dan takjub.
"Maksud saya, selamat, Pak, Bu. Ini keajaiban," katanya. "Saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya secara medis. Pendarahan di otaknya pasti sangat parah. Tapi, respons ini ... beliau kembali."
"Jadi... Eyang... Eyang bakal sembuh?" tanya Putra, suaranya bergetar.
"Jalannya masih sangat panjang, Dik," kata Dokter Hidayat, kini lebih tenang. "Tapi beliau sudah melewati masa kritisnya. Jauh lebih cepat dari yang bisa dibayangkan siapa pun. Beliau merespon. Beliau stabil."
Dokter itu menatap Suster Rina.
"Suster, siapkan pemindahan."
Bunda mendongak. "Pemindahan? Mau dipindah ke mana, Dok?"
"Ke ruang perawatan biasa, Bu," kata dokter itu sambil tersenyum lebar.
"Ruang perawatan?" Ayah mengulang, kaget. "Bukannya... bukannya masih kritis?"
"Kritis itu lima belas menit yang lalu, Pak," kata Dokter Hidayat. "Sekarang, beliau sudah stabil. Beliau tidak perlu lagi ventilator se-intensif ini. Kita akan coba lepas ventilatornya secara bertahap. Beliau butuh lingkungan yang lebih tenang untuk pemulihan, bukan di ICU yang berisik ini."
"Sekarang, Dok? Dipindah sekarang?"
"Sekarang juga," kata Dokter Hidayat. "Saya akan siapkan kamar di Ruang Mawar, lantai 3. Suster, tolong urus administrasinya dengan Bapak ini. Saya akan panggil tim untuk memindahkan pasien."
Dokter itu menepuk bahu Ayah. "Selamat sekali lagi, Pak. Doa keluarga Anda... luar biasa."
Dokter dan perawat itu bergegas keluar ruangan, meninggalkan keluarga yang masih membeku di tempat.
Hening sejenak, lalu...
"ALHAMDULILLAH!" Ayah berteriak, suaranya menggema. Dia langsung memeluk Bunda, mengangkat tubuh istrinya itu.
"Ibuku selamat, Yah! Ibuku selamat!" tangis Bunda bahagia.
Putra melompat-lompat kecil. "Gila! Gila! Eyang hebat! Eyang keren!"
Putra berbalik dan memeluk Ajeng erat. "Kak! Eyang nggak apa-apa, Kak!"
Ajeng membalas pelukan adiknya, tapi matanya masih terpaku pada tangan Eyang yang masih menggenggam tangannya.
Di tengah keriuhan bahagia itu, Ajeng diam-diam menatap cincin di jari manis kirinya.
Cincin itu kini terasa adem lagi. Normal. Seolah tidak terjadi apa-apa.
"A-pa ... apa ini ada hubungannya?" bisik Ajeng pada dirinya sendiri.