Bab 19 - Makan telat

Penulis JanaIndria
05 November 2025

Ajeng masih membeku. Dia menatap genggaman tangannya pada Eyang. Lalu dia menatap cincin di jari manis kirinya.

Cincin itu kini terasa adem lagi. Normal. Seolah tidak terjadi apa-apa.

Dia teringat Nenek yang memberinya saat di keraton beberapa tahun yang lalu.

Bukan Eyang Surtikanti, Eyangnya yang kini terbaring. Tapi Nenek lain. Seorang Nenek ningrat, bersanggul rapi dan berkebaya, yang ditemuinya saat study tour ke Keraton.

"Ajeng! Ayo!" panggil Ayah, membuyarkan lamunannya. "Kita ikuti Eyang pindah ke kamar!"

Para perawat sudah masuk, mulai melepaskan beberapa kabel yang tidak lagi vital dan mendorong ranjang Eyang keluar dari bilik ICU.

Ajeng mengangguk. Dia melepaskan genggaman Eyang dengan lembut.

"Ajeng di sini, Yang. Ajeng nggak akan ke mana-mana," bisiknya.

Keluarga itu berjalan beriringan di belakang ranjang Eyang. Rasanya seperti parade yang aneh.

Mereka keluar dari pintu kaca ICU, meninggalkan ruangan dingin yang penuh dengan suara bip... bip... bip... yang menakutkan itu.

Suara roda ranjang Eyang yang didorong perawat terdengar berirama. Ndet... ndet... ndet... Bunda berjalan di sisi ranjang, memegangi pagar ranjang Eyang, seolah takut Eyang akan diambil lagi. Ayah berjalan di sebelahnya, tangannya di punggung Bunda, menguatkan.

Putra dan Ajeng berjalan di belakang. "Gila, Kak," bisik Putra. "Tadi itu... beneran, 'kan? Eyang gerak?"

"Beneran, Put," bisik Ajeng. "Aku yang pegang."

"Kayak di film-film," gumam Putra, masih takjub.

Mereka masuk ke lift, naik ke Lantai 3. Pintu lift terbuka, menunjukkan sebuah area yang sangat berbeda dari ICU.

Di sini lebih hangat. Cat dindingnya berwarna krem, bukan putih steril. Baunya seperti sabun dan lantai yang baru dipel, bukan bau obat yang menyengat. Ada poster-poster tentang kesehatan dan foto-foto pemandangan.

"Ini dia," kata Suster Rina. "Ruang Rawat Mawar, Kamar 302."

Mereka masuk ke sebuah kamar privat. Jauh lebih besar dari bilik ICU tadi. Ada sofa panjang untuk penunggu, kamar mandi dalam, dan yang terpenting, jendela besar yang menghadap ke taman kecil di bawah.

"Wah, ini baru enak," celetuk Putra pelan.

Para perawat dengan sigap memindahkan Eyang dari ranjang dorong ke ranjang kamar. Mereka memasang kembali tiang infus dan monitor kecil di samping ranjang.

Suara bip... bip... bip... kembali terdengar, tapi kali ini lebih pelan, lebih tenang. Ritmenya terdengar ramah di telinga.

"Nah, sudah selesai," kata Suster Rina sambil tersenyum. "Kondisi Eyang sudah stabil. Nanti Dokter Hidayat akan mampir lagi untuk menjelaskan rencana perawatannya. Silakan, Pak, Bu, ditunggu."

"Makasih banyak, Sus," kata Ayah.

"Terima kasih, Suster," tambah Bunda, suaranya masih serak tapi jauh lebih tenang.

Para perawat itu mengangguk dan keluar ruangan, menutup pintu pelan.

Hening. Keheningan yang sangat berbeda. Bukan hening yang mencekam, tapi hening yang melegakan.

Bunda langsung mengambil kursi, menariknya ke samping ranjang Eyang, dan duduk. Beliau mengambil tangan Eyang lagi, mengusapnya, dan tidak berkata apa-apa. Hanya menatap wajah Ibunya yang masih tertidur.

Putra menjatuhkan diri di sofa. "Huuuh... Gila. Jantungku kayak habis lari maraton."

Ayah berdiri di tengah ruangan. Dia memandang istrinya, lalu kedua anaknya, lalu ke ranjang Eyang. Dia menghela napas panjang dan berat, melepaskan semua ketegangan.

"Alhamdulillah," kata Ayah pelan.

Lalu, perut Putra berbunyi. Keras sekali.

Kruuuk...

Putra memegangi perutnya, wajahnya memerah. "Eh, maaf. Lapar."

Ayah menoleh dan tertawa kecil. Tawa pertama setelah berjam-jam.

"Benar juga," kata Ayah. "Ayah juga lapar. Kita... kita belum selesai makan."

Ajeng baru sadar. Perutnya juga perih. "Rawonnya-"

"Sudahlah, lupakan rawonnya," kata Ayah. "Yang penting Eyang sudah aman. Kita semua harus isi tenaga. Apalagi Bunda."

Bunda menggeleng, matanya tidak lepas dari wajah Eyang. "Bunda nggak lapar, Yah. Bunda mau di sini. Nanti Eyang bangun, Bunda nggak ada-"

"Bun," panggil Ayah lembut. Dia menghampiri Bunda dan berjongkok di sampingnya. "Eyang masih akan istirahat lama. Kata dokter, beliau koma, tapi koma yang stabil. Beliau butuh kita kuat."

"Tapi, Yah-"

"Nggak ada tapi," kata Ayah tegas, tapi penuh kasih. "Bunda harus makan. Kalau Bunda sakit, siapa yang jaga Eyang nanti? Kita semua harus sehat."

Ayah berdiri. "Kalian tunggu di sini. Jaga Eyang. Ayah ke kantin sebentar. Beli apa saja yang ada."

"Putra ikut, Yah!" seru Putra, langsung bangkit. "Sekalian cari minum! Tadi haus banget!"

"Boleh. Jaga Bundamu ya, Jeng," kata Ayah. "Jangan tinggal Eyang sendirian."

"Iya, Yah," kata Ajeng.

Ayah dan Putra pun keluar ruangan, meninggalkan Ajeng dan Bunda berdua dengan Eyang yang terbaring tenang.

Ajeng menarik kursi lain, duduk di seberang Bunda.

Dia mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya terasa kaku. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Afrin dan satu pesan dari Yusuf.

Dia memutuskan menelepon Yusuf dulu.

"Halo, Jeng? Ya Allah, akhirnya. Kamu nggak apa-apa?" Suara cemas Yusuf langsung terdengar.

"Suf..." suara Ajeng pecah. "Maaf baru kabarin."

"Hei, hei... kamu kenapa? Kamu nangis?"

"Eyangku, Suf. Eyangku masuk rumah sakit," kata Ajeng lirih.

"Apa?! Innalillahi... Gimana ceritanya?"

Ajeng menceritakan semuanya dengan singkat. Kejadian di meja makan, perjalanan ke rumah sakit, ruang ICU, sampai jarinya yang bergerak.

"Ya Allah, Jeng... Aku ikut sedih. Tapi... alhamdulillah kalau sekarang sudah stabil," kata Yusuf, suaranya terdengar tulus. "Kamu yang sabar, ya. Nggak apa-apa, kamu fokus ke Eyang dulu. Nggak usah mikirin aku. Kalau butuh apa-apa, butuh cerita, telepon aku kapan aja. Aku doain Eyang cepat sembuh."

"Makasih ya, Suf," kata Ajeng, hatinya sedikit lebih ringan.

"Sama-sama. Udah, sekarang kamu temani Bundamu, ya. Kabari aku terus."

Telepon ditutup. Ajeng menatap Bundanya.

"Yusuf?" tanya Bunda pelan.

Ajeng mengangguk. "Dia titip doa buat Eyang."

Bunda tersenyum tipis. "Anak baik."

"Bunda tadi takut sekali, Jeng," bisik Bunda. "Waktu dokter bilang pendarahan di otak... Bunda kira... Bunda kira Eyang udah-"

Bunda tidak sanggup melanjutkan.

Ajeng bangkit, pindah ke kursi di sebelah Bunda. Dia memeluk bahu ibunya. "Ssh... Eyang udah di sini, Bun. Eyang kuat. Tadi Eyang genggam tangan Ajeng."

"Iya, Nak. Iya..."

Pintu kamar terbuka. Ayah dan Putra masuk. Putra membawa kantong kresek besar yang penuh, sementara Ayah membawa nampan dengan tiga gelas teh hangat.

Aroma makanan langsung tercium. Nasi rames.

"Nih," kata Ayah, meletakkan nampan di meja kecil. "Maaf, di kantin adanya cuma ini. Nasi rames ayam sama tempe orek. Sama Ayah belikan soto buat Putra."

"Asiiik," kata Putra, mengeluarkan bungkusan-bungkusan nasi.

Ayah mengambil satu bungkus nasi dan satu teh hangat, memberikannya pada Bunda.

"Makan, Bun," perintah Ayah lembut. "Paksakan. Tiga suap aja, yang penting keisi."

Bunda menatap nasi bungkus itu, lalu menatap Ayah. Akhirnya, beliau mengangguk pelan.

"Ajeng juga, nih," Ayah memberikan bungkusan lain.

Keluarga itu duduk di sofa, di sudut Ruang Mawar 302. Jauh dari kemewahan meja makan di rumah mereka. Tidak ada rawon daging empuk atau tempe mendoan hangat.

Hanya ada nasi bungkus kantin rumah sakit.

Mereka makan dalam diam. Tapi ini adalah makanan terenak yang mereka makan sepanjang hari.

Bukan karena rasanya, tapi karena mereka makan dengan hati yang jauh lebih tenang. Mereka makan dengan rasa syukur.

"Alhamdulillah..." kata Ayah setelah menghabiskan suapan terakhirnya dan minum teh hangat. "Perut sudah keisi. Hati sudah tenang."

"Lumayan, Yah. Sambelnya nendang," kata Putra, sudah menghabiskan mangkuk sotonya.

"Makasih, Yah," kata Ajeng.

Bunda juga sudah menghabiskan setengah porsi nasinya. "Cukup, Yah."

"Sudah, nggak apa-apa. Yang penting masuk," kata Ayah.

Ayah berdiri, membereskan bungkus-bungkus nasi itu ke dalam kantong kresek lagi.

"Baik. Rencana malam ini adalah-," kata Ayah, nadanya kembali tegas.