"Baik. Rencana malam ini," kata Ayah, nadanya kembali tegas.
"Malam ini, Ayah yang jaga di sini. Di sofa ini."
"Bunda juga di sini!" potong Bunda cepat, tidak mau kalah.
"Bun," kata Ayah sabar. "Dengar dulu. Bunda, Ajeng, sama Putra, pulang dulu ke rumah. Istirahat. Mandi. Tidur yang benar. Di rumah cuma ada bibi, nggak baik."
"Tapi Ayah sendirian..."
"Nggak apa-apa," kata Ayah. "Besok pagi, habis Subuh, Putra antar Bunda ke sini lagi. Bawa baju ganti buat Ayah. Khusus besok, Putra boleh tidak masuk sekolah."
"Ajeng aja yang jaga, Yah," usul Ajeng. "Ganti-gantian sama Ayah. Biar Ayah bisa tidur di sofa, nanti Ajeng jaga di kursi."
Ayah menimbang-nimbang. "Itu ide bagus. Kamu yakin kuat, Jeng? Kamu baru sampai."
"Kuat, Yah. Demi Eyang," kata Ajeng mantap.
Ayah tersenyum bangga. "Baik. Keputusan final. Ayah dan Ajeng jaga malam ini. Bunda dan Putra pulang. Habis Subuh, Putra antar Bunda ke sini bawa kopi."
"Siap, Yah!" kata Putra.
Bunda terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. Beliau menatap Ayah, lalu Ajeng. "Titip Eyang, Yah, Jeng. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Bunda."
"Pasti, Bun," kata Ajeng.
"Ya sudah. Kalian pulang sekarang. Hati-hati di jalan, Put. Jangan ngebut," kata Ayah.
Bunda mencium kening Eyang lama sekali. "Bunda pulang dulu, Bu. Besok Bunda ke sini lagi."
Lalu beliau memeluk Ajeng. "Jaga Eyang, ya."
"Iya, Bun."
Setelah Bunda dan Putra pergi, kamar itu kembali hening. Ayah duduk di kursi samping ranjang Eyang, melanjutkan membaca buku doa kecilnya. Ajeng duduk di sofa, menatap ponsel di tangannya.
Dia melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Afrin.
"Yah..." panggil Ajeng pelan.
"Iya, Jeng?" Ayah mendongak dari buku doanya.
"Ajeng... belum kabarin Afrin," kata Ajeng lirih. "Tadi ada missed call banyak banget."
Wajah Ayah terlihat teringat sesuatu. "Ya Allah, iya. Sahabatmu yang mau nikah itu. Kasihan dia, pasti nunggu-nunggu. Telepon dia sekarang, Jeng."
"Tapi... Ajeng bingung mau ngomong apa," kata Ajeng. "Besok kan acara siramannya. Aku... aku janji mau bantu pasang dekorasi malam ini."
"Telepon saja," kata Ayah bijak. "Bilang apa adanya. Jujur. Sahabat yang baik pasti akan mengerti."
"Iya, Yah."
Ajeng menarik napas panjang. Dia mencari nama "Afrin" di kontaknya dan menekan tombol panggil. Jantungnya berdebar. Dia merasa sangat bersalah.
Telepon berdering dua kali, lalu langsung diangkat.
"JENG! Astaga, akhirnya! Kamu di mana? Aku teleponin dari tadi nggak diangkat! Aku di rumah nungguin kamu, lho! Katanya mau bantu ngeramein!"
Suara Afrin di seberang sana terdengar ceria, nyaring, dan penuh semangat.
Hati Ajeng langsung mencelos mendengarnya.
"Rin..." Suara Ajeng tercekat. "Rin, maaf... maafin aku,"
Keceriaan di seberang sana langsung lenyap.
"Lho, lho? Jeng? Kenapa suaramu?" tanya Afrin, nadanya berubah cemas. "Kamu kenapa? Kamu nangis? Kamu nggak jadi pulang? Kamu batal ke nikahanku?!"
"Bukan! Bukan gitu, Rin!" kata Ajeng cepat, air matanya mulai menggenang. "Aku udah di kampung. Aku udah sampai dari tadi siang."
"Terus? Kenapa nggak ke rumahku? Aku kan nungguin!"
"Aku di rumah sakit, Rin."
Hening. Selama beberapa detik, tidak ada suara dari Afrin.
"Rin? Halo?"
"Rumah sakit? Kamu?!" Suara Afrin terdengar panik. "Kamu kenapa, Jeng?! Kamu kecelakaan di jalan?!"
"Bukan aku, Rin. Nenekku," Ajeng tidak kuat lagi. Dia mulai terisak pelan. "Eyangku jatuh di kamar mandi. Tadi siang, kritis."
"Astagfirullahaladzim." Suara Afrin terdengar lemas. "Ya Allah, Jeng ... Eyang Surtikanti?"
"Iya," isak Ajeng. "Maafin aku, Rin, aku .... Tadi kami panik banget. Aku baru ingat kabarin kamu sekarang."
"Jeng, Jeng, dengerin aku," kata Afrin cepat, nadanya kini serius. "Kamu jangan nangis. Tarik napas. Sekarang gimana keadaan Eyangmu?"
"Alhamdulillah tadi ada keajaiban. Eyang udah stabil. Udah pindah ke ruang perawatan biasa. Tapi... tapi masih koma."
"Ya Allah... Syukurlah kalau udah stabil," Afrin terdengar ikut lega. "Terus kamu di mana sekarang?"
"Aku lagi jaga Eyang di rumah sakit. Di Ruang Mawar. Malam ini aku jaga sama Ayah."
"Ya ampun, Jeng... Pasti capek banget," kata Afrin penuh simpati.
"Rin," kata Ajeng pelan, merasa sangat tidak enak. "Acara siraman kamu besok, aku kayaknya nggak bisa datang. Aku harus jaga Eyang di sini."
"Ya Allah, Ajeng!" Suara Afrin tiba-tiba meninggi, membuat Ajeng kaget.
"Maaf, Rin, aku beneran-"
"Kamu ngomong apa, sih!" potong Afrin. "Ya jelas kamu nggak usah datang ke siraman! Kamu pikir aku bakal marah, gitu? Jeng, Eyangmu itu prioritas! Jauh lebih penting dari siraman!"
Air mata Ajeng tumpah. Kali ini karena terharu.
"Tapi aku kan bridesmaid utama kamu ...."
"Bisa diatur itu!" kata Afrin tegas. "Nanti aku minta tolong sepupuku. Gampang itu. Yang nggak gampang itu lihat Eyangmu sakit. Udah," suara Afrin melembut. "Kamu nggak usah mikirin nikahan aku. Serius. Kamu fokus aja jaga Eyang. Temani Bundamu. Itu yang paling penting."
"Makasih ya, Rin," bisik Ajeng. "Kamu baik banget. Aku merasa bersalah banget."
"Nggak ada yang perlu disalahin. Ini musibah," kata Afrin. "Nanti... kalau pas hari H resepsi Eyangmu udah mendingan, kamu datang. Kalau belum, nggak usah dipaksa. Aku ngerti. Aku ngerti banget. Yang penting doanya ya, buat Eyangmu dan buat aku."
"Pasti, Rin. Pasti aku doain," kata Ajeng. "Maaf sekali lagi ya, dan makasih banyak."
"Sama-sama, Jeng. Udah, jangan nangis lagi. Kamu yang kuat, ya. Salam buat Ayah sama Bunda. Bilang, Afrin ikut doain Eyang Surtikanti."
"Iya, Rin. Disampein."
Telepon ditutup. Ajeng menyeka air matanya. Dia menoleh ke Ayahnya.
Ayah tersenyum lembut. "Gimana?"
"Afrin ngerti, Yah. Dia... dia baik banget. Ajeng jadi makin merasa nggak enak."
"Itulah gunanya sahabat, Jeng," kata Ayah. "Sudah. Satu urusan selesai. Hati kamu udah tenang."
Ajeng mengangguk. Dia merasa lega, walau sedih.
"Nah, sekarang," Ayah berdiri dan mengambil selimut tipis dari lemari, lalu memberikannya pada Ajeng.
"Kamu coba tidur dulu di sofa, Jeng. Biar Ayah yang jaga," kata Ayah.
"Ayah aja dulu. Ajeng belum ngantuk."
"Nggak," kata Ayah. "Ayah yang lebih tua. Kamu tidur. Kamu baru sampai, perjalanan jauh, terus kena kaget. Badan kamu butuh istirahat."
Ajeng akhirnya mengalah. Dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan Ayah. Dia berbaring di sofa yang lumayan nyaman itu, memakai selimut.
Ayah duduk di kursi yang tadi diduduki Bunda, di samping ranjang Eyang. Beliau kembali membuka buku doa kecilnya, membacanya dengan suara berbisik yang pelan.
Malam itu panjang. Lampu kamar diredupkan. Hanya ada suara bip... bip... monitor yang stabil dan bisikan doa Ayah.
Untuk pertama kalinya sejak tadi siang, Ajeng bisa bernapas lega. Eyangnya aman. Keluarganya utuh. Sahabatnya mengerti.
Ajeng memejamkan mata, tangan kirinya tanpa sadar menggenggam cincin itu. Perjalanannya pulang baru saja dimulai, tapi rasanya sudah sangat panjang.