"Siapa yang berani mengetuk pintu seperti itu?" desis Ajeng yang membuka mata dengan malas. Namun apa yang di lihatnya membuat Ajeng langsung duduk dari tidurnya.
Jantungnya mulai berdebar kencang. Seluruh sisa kantuknya lenyap seketika. Ia seperti kembali pada mimpi yang aneh menurutnya.
Seorang dayang muda membuka pintu dengan takut-takut. Di luar berdiri dua orang prajurit istana berwajah kaku dengan tombak di tangan.
"Ada apa?" tanya Mbok Retno cemas.
Salah satu prajurit itu membungkuk dalam-dalam tanpa mengangkat wajahnya. "Gusti Putri Dyah Ajeng Prameswari dipun timbali sowan dening Kanjeng Sinuwun Prabu Wijoyo wonten ing Balairung Ageng sak menika ugi." (Gusti Putri Dyah Ajeng Prameswari dipanggil untuk menghadap oleh Baginda Raja Prabu Wijoyo di Balairung Agung sekarang juga).
Jantung Mbok Retno seakan berhenti berdetak. Wajahnya pucat pasi. "Di-dipanggil ke Balairung? Sekarang juga? A-ada apa gerangan?" jawab si Mbok, seperti berbisik.
Para dayang yang lain saling berpandangan dengan ketakutan. Seorang putri dipanggil secara mendadak ke Balairung Agung, tempat raja menerima tamu negara dan memutuskan perkara penting, bukanlah pertanda baik.
Namun, di tengah kepanikan itu, Ajeng masih terdiam, dia seperti mengingat kejadian apa yang terjadi saat mimpi pertama.
"Bagus," bisik Ajeng pada diri sendiri. Setelah akhirnya mulai ingat.
"Gusti Putri?" Mbok Retno menatapnya tidak percaya. "Apanya yang bagus? Ini pertanda buruk, Gusti. Pasti ada yang sudah melaporkan perilaku aneh Paduka pagi ini kepada Kanjeng Sinuwun."
"Justru itu, Mbok," jawab Ajeng sambil berdiri, merapikan selendang sutranya dengan gerakan yang anehnya terasa alami. "Daripada aku menunggu takdir datang menjemputku di kamar ini, lebih baik aku yang menjemput takdirku sendiri. Aku akan bicara langsung pada sumber masalahnya."
"Jangan, Gusti!" pekik Mbok Retno, ia sampai memegang ujung selendang Ajeng.
"Jangan membantah! Hamba mohon, apapun titah Kanjeng Sinuwun nanti, Paduka hanya perlu menjawab 'Sendika dawuh, Kanjeng Rama.' (Saya laksanakan perintah, Ayahanda Raja). Jangan berkata lebih. Nyawa kita semua bisa jadi taruhannya, Gusti."
Ajeng menatap wajah tua yang tulus itu dengan iba. Ia mengerti ketakutan Mbok Retno. Tapi ia bukan Dyah Ajeng Prameswari yang penurut. Ia adalah Ajeng yang tidak akan membiarkan hidupnya di dikte.
"Tenang saja, Mbok," kata Ajeng lembut sambil melepaskan pegangan si emban. "Aku tahu apa yang aku lakukan."
Perjalanan dari Keputren menuju Balairung Agung terasa seperti berjalan di lorong waktu. Koridor-koridor istana yang megah dan senyap, pilar-pilar kayu raksasa yang menopang atap joglo, dan tatapan para penjaga yang lurus ke depan tanpa ekspresi, semua itu dirancang untuk membuat siapa pun merasa kecil dan tidak berarti di hadapan kekuasaan raja.
Namun, Ajeng tidak merasa kecil. Ia merasa seperti sedang berjalan menuju ruang sidang untuk mempresentasikan hasil risetnya. Ia gugup, tentu saja, tapi ia sudah menyiapkan argumen di kepalanya. Logika adalah senjatanya.
Pintu Balairung Agung yang tingginya dua kali lipat tubuhnya terbuka tanpa suara. Di dalamnya, ruangan itu begitu luas dan agak gelap, dengan cahaya matahari yang masuk dari celah-celah ukiran di bagian atas. Di ujung ruangan, di atas sebuah panggung bertingkat, duduklah seorang pria gagah berusia akhir empat puluhan di atas singgasana emas. Dialah Sinuwun Prabu Wijoyo, ayahnya di dunia ini.
Ajeng berjalan perlahan, setiap langkahnya terasa menggema di keheningan ruangan. Ia berhenti di jarak yang ditentukan, lalu berlutut dan menyembah dengan gerakan yang terasa janggal bagi tubuhnya, namun mengalir begitu saja seolah ada memori otot yang membimbingnya.
"Hamba sowan menghadap, Kanjeng Sinuwun Rama Prabu," ucapnya, suaranya terdengar jelas dan tenang.
Prabu Wijoyo menatapnya tajam. Wajahnya kaku dan berwibawa. "Prameswari, putriningsun," suaranya berat dan menggema. "Duduklah."
Ajeng duduk bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Semua yang dia lakukan benar benar alamia.
"Aku memanggilmu ke sini karena telingaku mendengar kabar yang tidak mengenakkan," lanjut sang raja, langsung ke pokok permasalahan.
"Kudengar hatimu gundah gulana, kau meratapi perjodohanmu dengan Pangeran Suryo Baskoro."
"Ampun, Kanjeng Sinuwun Ayahanda," jawab Ajeng, mengangkat wajahnya untuk menatap sang raja. "Bukan hati hamba yang gundah, melainkan nalar hamba yang bertanya."
Alis Prabu Wijoyo sedikit terangkat. "Nalar? Nalar apa yang kau maksud?"
"Hamba hanya berpikir, Rama Prabu," kata Ajeng, memulai argumennya.
"Perjodohan ini demi mempererat persekutuan dengan Kadipaten Wetan, bukan begitu?"
"Tentu saja. Apa lagi tujuan sebuah pernikahan putri raja jika bukan untuk kepentingan negara?"
"Hamba setuju, kepentingan negara adalah yang utama," balas Ajeng. "Namun, sebuah persekutuan yang dibangun di atas ketidakbahagiaan salah satu pihaknya, apakah akan menjadi persekutuan yang kokoh dan tulus, Rama Prabu?"
Wajah sang raja mengeras. "Kebahagiaanmu adalah perkara kecil di hadapan keamanan dan kemakmuran ribuan rakyatku, Prameswari."
"Hamba mengerti," Ajeng tidak mundur.
"Tetapi, hamba juga mendengar bahwa Kanjeng Pangeran Suryo Baskoro adalah seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Pemimpin bijaksana mana yang akan menghargai sebuah persembahan berupa istri yang diberikan tanpa keikhlasan hati? Bukankah itu justru akan menjadi bibit penghinaan dan kecurigaan di masa depan? Persekutuan kita bisa dianggap cacat sejak awal."
"Omong kosong apa ini?!" suara Prabu Wijoyo mulai meninggi.
"Kau pikir kau siapa bisa menganalisis politik kerajaan? Kau pikir aku tidak memikirkan hal itu?!"
"Hamba hanya menyuarakan isi kepala hamba, Rama Prabu. Hamba tidak ingin pernikahan yang membawa nama Keraton kita ini justru menjadi bumerang. Hamba tidak ingin dianggap sebagai putri yang tidak tulus, yang hanya patuh karena terpaksa. Itu akan merendahkan martabat Paduka juga."
"CUKUP!" bentak Prabu Wijoyo, suaranya menggelegar di seluruh ruangan.
"Tugasmu bukan untuk bernalar! Tugasmu bukan untuk menganalisis! Tugas seorang putri adalah PATUH! Pernikahan ini sudah aku putuskan, dan ini akan tetap berjalan!"
Ajeng tahu, logika telah menemui jalan buntu. Dinding kekuasaan absolut tidak bisa ditembus dengan nalar. Hanya ada satu jalan tersisa.
Ia menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu, dengan segala hormat dan ampun yang sebesar-besarnya, Rama Prabu-"
Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke mata ayahnya yang menyala karena marah.
"Hamba tidak bisa."
Keheningan yang jatuh setelah kalimat itu terasa lebih berat dari apa pun. Bahkan suara angin di luar seolah berhenti berembus.
Wajah Prabu Wijoyo berubah dari merah menjadi ungu karena amarah yang tak tertahankan. "Apa... apa katamu?" desisnya.
"Hamba menolak perjodohan ini," ulang Ajeng, suaranya kini mantap tanpa getar.
"Hamba tidak akan menikah dengan pria yang tidak hamba kenal dan tidak hamba cintai, sekalipun itu adalah titah Paduka."
"MENOLAK?!" raung sang raja sambil berdiri dari singgasananya.
"KAMU BERANI MENOLAK TITAHKU?! SEORANG PUTRI WIJOYO BERANI MEMBANTAH SABDA RAJA?!"
"Hamba bukan membantah, Rama. Hamba hanya memperjuangkan satu-satunya hal yang hamba miliki, yaitu diri hamba sendiri."
"ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG!" murka Prabu Wijoyo.
"Kamu telah mencoreng arang di wajahku! Kamu telah menghina kehormatan keraton ini di hadapan para leluhur! Jika kamu tidak mau menjadi putri yang berbakti, maka kamu bukan lagi putriku!"
Mbok Retno, yang menunggu dengan cemas di luar pintu, terisak ngeri mendengar raungan rajanya.
"Aku tidak sudi melihat wajah pembangkang sepertimu di istana ini!" lanjut sang raja, jarinya menunjuk lurus ke arah Ajeng.
"Mulai detik ini, Dyah Ajeng Prameswari, kamu kuusir dari Keraton! Tanggalkan semua perhiasan dan pakaian kebesaranmu! Pergi dari sini dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di tanah istana! Kamu bukan lagi bagian dari keluarga Wijoyo!"
"Prajurit!" panggilnya.
Dua prajurit yang tadi mengantar Ajeng segera masuk dan berlutut.
"Bawa dia kembali ke Keputren! Pastikan dia menanggalkan semua yang melekat di badannya yang merupakan milik istana! Beri dia pakaian dayang yang paling biasa, dan antarkan dia keluar dari gerbang utama! SEKARANG!"
"Sendika dawuh, Kanjeng Sinuwun!"
Ajeng tidak melawan saat kedua prajurit itu menggiringnya berdiri dan membawanya keluar dari Balairung. Hatinya bergemuruh, antara takut dan anehnya, lega.
Di Keputren, suasana sudah seperti rumah duka. Para dayang menangis tanpa suara. Mbok Retno menyambutnya dengan tubuh gemetar.
"Gusti, Gusti Putri ... apa yang telah Paduka lakukan?" isaknya pilu sambil membantu Ajeng melepaskan perhiasan-perhiasan berat dari rambut dan lehernya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan, Mbok," jawab Ajeng tenang, meskipun tangannya sedikit gemetar.
"Tapi ... diusir? Gusti akan tinggal di mana? Makan apa? Dunia di luar tembok istana ini kejam, Gusti."
Ajeng menatap wajah tua yang tulus menyayanginya itu. "Jangan panggil aku Gusti lagi, Mbok. Aku bukan putri lagi. Panggil saja Ajeng."
Ia berganti pakaian. Kebaya sutra dan kain batik yang indah digantikan oleh kain lurik kusam dan kebaya sederhana milik dayang rendahan. Tidak ada lagi perhiasan, tidak ada lagi alas kaki yang empuk.
Saat ia berjalan keluar dari Keputren untuk terakhir kalinya, Mbok Retno mengejarnya dan menyelipkan sebuah kantong kain kecil ke tangannya.
"Ini... ini simpanan hamba, Ajeng. Tidak banyak, tapi cukup untuk makan beberapa hari. Pergilah ke arah pasar, cari penginapan yang murah."
Ajeng memeluk si emban tua itu dengan erat. "Terima kasih, Mbok. Terima kasih untuk semuanya."
Langkahnya terasa berat saat melewati gerbang utama istana yang megah. Gerbang itu kemudian ditutup di belakangnya dengan bunyi debam yang keras, seolah menutup satu babak dalam hidupnya.
Braaakk!!
Ajeng terbangun saat tubuhnya terjatuh dari sofa, ternyata yang di dengarnya bukanlah bunyi gerbang tapi bunyi tubuhnya yang jatuh.